Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Pernikahan


__ADS_3

Seorang wanita tampak cantik menggunakan gaun pengantin putih dengan sedikit belahan di dada memperlihatkan dua bahu putih, rambut di capol dan beberapa aksesoris melekat sebagai penyempurna di kala wajah yang sudah di make up tipis,  Layla tampak cantik dan juga anggun. 


Pantulan bayangan yang ada di cermin besar, Layla menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Gaun yang sangat indah dan juga pas di tubuhnya yang ramping, tersenyum saat pernikahan kali ini bukan karena keadaan melainkan perasaan cinta pada sang mempelai pria. 


Setelah selesai bersiap, kini dirinya menghampiri kedua bayi kembar yang sedang digendong oleh baby sitter. "Jangan rewel ya Sayang, Ibu dan Ayah akan segera menikah." Layla mengusap pelan wajah kedua bayinya. 


"Apa pengantinnya sudah siap?" tanya seseorang yaitu John, mengintip di balik pintu untuk memastikan keamanan dari mempelai wanita, takut kejadian dulu terulang kembali. 


"Aku sudah siap." Jawab Layla tersenyum, segera mengalihkan pandangan pada kedua bayinya itu. "Aku ingin kalian mengurus mereka dengan sangat baik, aku percaya menitipkan mereka untuk sementara waktu." 


"Baik Nona." Jawab kedua baby sitter dengan kompak. 


Alex lirik jam yang melingkar di tangannya, terus menatap ke arah tangga berharap melihat pengantinnya. Roy memang sudah meninggal dunia, tapi momok menakutkan itu terus terbayang dan berharap jika pernikahan kali ini lancar tanpa halangan apapun. Tanpa menunggu lama, Layla perlahan menuruni tangga dengan perlahan dan sangat anggun, wajahnya yang cantik semakin berseri saat memperlihatkan senyum memukau semua orang. 


Alex tertegun melihat Layla yang sangat cantik walau wanita itu sudah melahirkan, namun auranya tak pernah berubah. Dia lupa untuk berkedip, beruntung asisten Dinu menepuk punggungnya dan menyadarkannya. 


"Jangan lupa berkedip Tuan." Bisik asisten Dinu yang berdiri di belakang sang atasan, menahan senyum melihat tingkah Alex. 


"Huss diamlah, kau tidak akan mengerti hal ini." Balas Alex. 


Semua tamu undangan hadir memenuhi Mansion Yudistira, mulai dari kolega bisnis, rekan bisnis, dan para pemilik perusahaan dari berbagai negara ikut serta meramaikan tempat itu. Semua orang sangat puas dengan pelayanan yang ada, dekorasi yang begitu indah sangat serasi di acara sakral dari dua pewaris keluarga. 


Alex sangat bahagia dan menyambut kedatangan Layla, membawanya menuju altar pernikahan untuk mengucapkan sumpah ikrar janji sehidup semati. 


Keduanya saling melirik sebelum mengucapkan janji suci, menganggukkan kepala saat pernikahan kali ini bukan paksaan melainkan cinta yang bersemi di hati keduanya. 


Semua orang sangat terharu dan ikut bahagia, mereka bertepuk tangan melihat sepasang suami istri yang telah sah menjalin ikatan pernikahan. Alex dan Layla segera meraih kedua bayi kembar dan menggendongnya untuk mengambil foto bersama. 


Semua orang bahagia, bahkan Alex perlahan mengurangi kebencian di hatinya mengenai nasib buruk. Lembaran baru dan identitasnya yang baru dapat di rasakan oleh semua orang. 


"Identitas baru akan aku jalani setelah pernikahan, aku berjanji akan menyayangi keluarga kecilku ini." Gumam Alex di dalam hati, menatap ke kamera seraya berpose senyum menawan sambil menggendong Fiona. 


Acara sudah usai, satu persatu tamu pergi meninggalkan tempat itu, Alex melihat suasana tampak sepi dan dengan sengaja menarik lengan Layla menuju kamar pengantin dan mengunci pintu, setelah dia memberikan kode pada asisten Dinu untuk mengawasi baby twins. 


"Kenapa tergesa-gesa?" tanya Layla, padahal dia ingin menidurkan kedua anak mereka terlebih dulu. 


"Aku sudah tidak tahan lagi, memang kita pernah melakukannya tapi itu tanpa kesadaran. Aku ingin mengulanginya lagi!" bisik Alex memojokkan tubuh ramping itu ke dinding dan memblokir celah menggunakan kedua tangannya. 


"Aku harus memastikan Flo dan Fio terlebih dulu." 


"Aku sudah mengurus segalanya, jangan mencari alasan karena malam ini kau menjadi milikku dengan kesadaran penuh." 

__ADS_1


Deru hembusan nafas yang dapat dirasakan oleh keduanya, jantung yang berpacu lebih cepat saat pria itu mengecup bibirnya sangat lembut. 


Alex semakin memperdalam ciumannya dan memberikan rasa kenyamanan kepada Layla, tangan yang tak tinggal diam terus merayap masuk ke dalam gaun pengantin putih, sedari tadi dia jengkel banyak para tamu pria yang menatap istrinya apalagi gaun yang di pakai memperlihatkan sedikit belahan dada. 


Layla menikmati permainan itu dan juga melakukan hal yang sama demi kepuasan keduanya, semakin liar saat melakukan pemanasan hingga penyatuan dengan memainkan irama tempo sesuai keinginan masing-masing. 


Permainan panas di malam hari terus berlanjut sampai pagi, tanpa memikirkan nasib asisten Dinu yang menjaga kedua bayi kembar. Tidak ada pengalaman membuatnya sedikit kesulitan, baby sitter juga tak bisa di andalakan. 


"Ck, aku sangat yakin jika mereka menikmati malam ini dengan penuh gairah. Apa nasib bawahan yang jomblo ini akan selamanya menjaga dua bayi?" gerutu asisten Dinu menghela nafas, memang Alex memberikan penawaran yang baik untuk menjaga twins F. "Apa aku akan selalu begadang hanya untuk melihat kedua bayi ini? Sudah jelas baby sitter ada disini, lalu apa fungsi ku berada disini?" sambungnya menghela nafas jengah. 


Alex mencium bibir Layla sekali lagi, berbaring di sebelahnya seraya mengatur nafas yang tersengal-sengal akibat permainan yang menguras tenaga. "Terima kasih." 


"Tidak perlu mengucapkan terima kasih, ini sudah kewajibanku untuk melayanimu." 


"Aku mencintaimu." 


"Aku juga mencintaimu." 


Di siang hari yang indah, sepasang suami istri masih terlelap di atas ranjang. Permainan semalam hingga pagi menimbulkan reaksi seperti sekarang, kedua mata bahkan enggan terbuka dan masih mengantuk. 


Perlahan Layla membuka kedua matanya, tersenyum seraya menggeliatkan tubuh dan sesekali menguap. Pandangannya langsung beralih pada sang suami yang belum bangun, dia merasa beruntung jika pria itu mau menerima anak dari pria lain tanpa mengurangi cinta. 


"Eh, kau sudah bangun?" 


"Hem, kau mau kemana?" tanya Alex dengan suara khas bangun tidur. 


"Aku ingin mandi." 


"Mandi?" seketika mata kantuk Alex berubah semriwing, tersenyum tipis untuk mengulangi kejadian semalam. Dirinya menjadi candu, dan ingin melakukan lagi dan lagi. "Aku juga ikut." 


"Tidak, harus bergantian!" tegas Layla yang tahu bagaimana isi otak Alex. 


"Ayolah, aku juga ingin mandi bersamamu." Bujuk Alex membalikkan tubuh Layla. 


"Tidak. Aku hanya perlu waktu lima belas menit, kalau kau masuk akan bertambah menjadi satu jam. Ini sudah siang, apa yang akan dikatakan kakek nanti." Jelas Layla berharap Alex memahami keadaannya. 


"Sekali saja, aku ingin mengetahui rasanya jika di kamar mandi. Aku berjanji ini tidak akan lama, lagi pula Flo dan Fio membutuhkan kita terutama dirimu." 


lelah hanya mengangguk pasrah dengan permintaan suaminya, mereka masuk kedalam kamar dan mengulang kembali momen romantis. Menikmati suasana yang berbeda ketika bercinta di bawah guyuran air, Alex begitu menyukainya dan melakukan lagi hingga dua ronde memakan beberapa jam. 


Setelah bersiap-siap, pasangan pengantin baru akhirnya keluar dari kamar. Alex tersenyum bahagia dengan wajah berseri-seri, sangat puas bisa merasakan surga dunia yang begitu nikmat. Lain halnya dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Layla, wajahnya cemberut saat sang suami tidak menepati janji. 

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanya Alex yang berpura-pura tidak tahu. 


"Kau masih tanya aku kenapa? Setelah apa yang kau lakukan di kamar mandi. Gara-gara kau kita terlambat!" ucap Layla jengkel. 


Alex meraih pinggang Layla dan tersenyum tipis, menempelkannya semakin dekat seraya berbisik. "Karena kau sangat nikmat, Sayang. Sepertinya aku candu dengan tubuhmu, walaupun kau sudah dua kali bongkar melahirkan dua bayi kembar yang imut dan juga sangat lucu." 


"Berhentilah membual!" 


Yudistira melihat kedatangan sepasang pengantin baru, dia hanya tersenyum saat hal itu juga pernah di laluinya. "Cinta anak muda sekarang, turun tanpa melihat waktu dan orang lain yang menunggu." 


"Ya, dan aku sudah lelah menunggu cucu sialan itu." Sambung David menatap Alex tajam. 


"Eh, aku baru saja sampai tapi Kakek terlihat marah. Memang apa yang aku lakukan!" 


"Kau masih tanya apa yang aku lakukan? Biar ku perjelas, yaitu menunggumu dari tadi. Untung saja kebosananku menghilang saat menggendong baby twins F, kalau tidak usiaku semakin pendek." Cetus David. 


"Ayolah, kenapa Kakek marah? seperti tidak pernah muda saja." 


"Dasar cucu durhaka, kau sudah berani padaku?" 


"Hentikan ini, mereka pengantin baru dan wajar saja terlambat." Yudistira tertawa memakluminya, menengahi perdebatan kakek dan cucu. 


David menghela nafas berat, menyerahkan dua bayi kembar terhadap kedua sepasang pengantin baru. "Nah, sekarang giliran kalian yang merawat mereka." 


"Maaf telah merepotkan Kakek." Ucap Layla yang merasa sungkan.


Yudistira melihat penampilan Layla dan juga Alex sudah rapi. "Kalian terlihat rapi sekali, mau kemana?" 


"Ingin jalan-jalan menghabiskan waktu." Jawab Alex tersenyum sambil merangkul pinggang istri tercintanya. 


"Eh, baru saja kalian turun dan sekarang pergi lagi?" tanya Yudistira penasaran.


"Sekalian kami ingin imunisasi Flo dan Fio, cek kondisi mereka." Jelas Layla. 


"Baiklah, kalian boleh pergi." 


Alex dan Layla berpamitan dan membawa kedua bayi kembar untuk ikut bersama mereka, masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit untuk konsultasi mengenai kondisi dan cek kesehatan baby twins. 


"Wajah mereka lebih dominan mirip denganmu." Ucap Alex memecahkan keheningan, fokusnya selalu tertuju pada kedua bayi mungil yang berada dalam gendongan mereka. 


"Ya, tapi mata mereka sangat mirip denganmu." 

__ADS_1


__ADS_2