
Layla kembali ke apartemen untuk mengambil beberapa dokumen miliknya, segera berangkat ke luar negeri menghindari masalah yang menimpanya. Bulir bening yang menetes membasahi kedua pipi, menyekanya dengan kasar seraya menatap tempat itu.
Setelah mengumpulkan semua dokumen juga identitas dirinya, memasukkan ke dalam koper berisi surat-surat penting.
Tak sengaja Layla memandang dirinya di depan cermin yang berukuran sedang, beberapa bekas keganasan Roy masih membekas di tubuh. Kejadian yang memalukan membuatnya di liputi rasa amarah dan melempar vas bunga, hingga cermin itu pecah berderai.
Layla berlari ke kamar mandi menggosok tubuhnya hingga memerah, tangisan yang menjadi pelipur lara saat terjebak skandal dengan Alex juga Roy. Setelah puas, dia mengenakan pakaian dan bersiap-siap mengemasi baju dan keperluan lain, memasukkannya ke dalam satu koper besar berwarna merah.
"Aku harus cepat sebelum mereka menyadarinya." Dengan langkah terburu-buru, dia mencegat taksi untuk segera membawanya ke bandara, melarikan diri merupakan bagian yang sangat tepat yang terpikirkan olehnya.
Layla memainkan gawainya memasang tiket pesawat menuju Australia, menginap beberapa hari di apartemen milik temannya yang bernama Zoya.
"Halo."
"Layla, tumben kau meneleponku."
"Maaf soal itu, aku memerlukan bantuanmu."
"Ya, katakan saja."
"Aku sudah memesan tiket ke Australia, dan berencana untuk menginap di tempatmu. Bolehkah?"
"Kenapa kau bertanya lagi, pintu apartemenku terbuka lebar untukmu. Datang dan menginap lah sesukamu, aku pasti menyambutmu dengan sangat baik."
"Kau sahabatku yang terbaik, jangan katakan siapa pun jika aku menelepon mu. Jaga rahasia ini hanya kau dan aku!"
"Siap bos, rahasia aman terkendali."
Layla bisa bernafas lega, mematikan ponsel dan mencabut sim card m, membuangnya ke jalanan agar tidak ada yang bisa melacak lokasinya. "Aku harus menenangkan diri dari dua pria yang sangat aku benci."
Layla tidak tahu jika Skandal di antara dua pria akan mempengaruhinya di masa depan, terutama jika dinyatakan hamil yang tidak tahu siapa ayah dari bayi. "Ini tidak boleh terjadi, jangan sampai aku hamil." Pikiran yang selalu menghantuinya, berharap semua akan kembali tenang.
__ADS_1
Baik Alex dan Roy sama-sama terluka parah, tidak ada yang ingin mengalah menyebabkan luka di sekujur tubuh. Pertarungan terpaksa berhenti saat mereka mulai menyadari Layla yang tidak ada di ruangan itu dan segera mencarinya.
Di sepanjang perjalanan, Roy mengusap wajahnya penuh gelisah. Layla yang kabur akibat dirinya dan Alex yang sudah memperk*sa wanita itu.
"Ternyata Alex pria beruntung yang beruntung." Batinnya sambil mengacak-acak rambut frustasi, pantas saja dia merasakan ada yang berbeda. "Dimana kamu berada Lala?" gumamnya seraya mengeluarkan ponsel menghubungi beberapa teman dekat sang mantan kekasih, dan juga melacak keberadaannya.
Bukan hanya Roy, bahkan Alex juga merasakan frustasi melihat kejadian tadi. Tubuh polos calon istrinya dinikmati pria lain, ingin sekali marah namun pada siapa? Dia hanya bisa bersikap sabar menunggu waktu yang tepat.
Layla menyeret koper berwarna merah, langkahnya terhenti di saat tangan menghalangi jalannya. Sangat terkejut mendapati Alex, padahal dia sudah berusaha kabur diam-diam. "Kau mau apa? Menyingkirlah!" ketusnya.
"Kau tidak boleh pergi kemana pun." Halang Alex yang tidak memberikan Layla jalan.
"Kenapa? Kau bukan siapa-siapa, kita hanya menikah atas dasar tanggung jawab saja. Sekarang bukan hanya kau saja yang menikmati tubuhku, tapi juga Roy. Apa itu artinya dia juga bertanggung jawab dengan apa yang terjadi?" tutur Layla yang menerobos.
Alex terdiam, bingung dengan kisah mereka yang begitu sulit.
"Jangan pergi!" pekik Roy yang baru saja sampai juga menghalangi langkah Layla. "Kau tidak boleh pergi!"
"Jangan membuang waktu, sebaiknya kau kembali dan kita lanjutkan pernikahan ini." Sentak Alex menarik tangan Layla.
"Bukan kau tapi akulah yang akan menikah, aku bertanggung jawab dengan apa yang terjadi." Roy menatap Alex tajam seraya menyeret sebelah tangan Layla satunya lagi. Keduanya saling menatap bengis, sebuah dendam yang tersimpan masih membakar mereka.
"Bagaimana jika dia hamil anakku?" ucap Alex bersikeras.
"Dan pertanyaan yang sama kau tujukan padaku."
Layla merasa jijik dengan kondisinya saat ini, dihadapkan pada dua orang pria yang telah memperk*sanya.
"Aku tidak akan pergi, asal kalian tidak berdebat seperti seorang anak kecil!" Layla meninggikan suara, melepaskan genggaman tangan pada koper merah bawaannya. "Aku akan kabur nanti," batinnya mencari celah berikutnya.
Alex sangat tidak menyukai kehadiran Roy, apalagi satu mobil yang terhalang tubuh Layla di tengahnya. Tatapan yang saling bersahutan tajam memberikan ancaman, sangat kental terasa aura yang menyesakkan dada.
__ADS_1
"Ada apa dengan kalian? Kalau ada yang protes maka kalian harus keluar dari mobil ini." Tegur Layla sudah jengah menenangkan kedua pria di samping kiri dan juga kanan, menangisi nasib yapi tetap berpikiran positif.
Kabar itu mencuat sampai keteling David juga Yudistira, Alex yang terlambat datang memberikan kesan kecewa tidak berhasil mencegah perbuatan Roy yang sudah menjadi bubur.
David, Yudistira, dan John sangat bingung dengan polemik yang mereka hadapi. Satu orang wanita diperebutkan oleh dua pria tampan dan berkuasa.
Setelah perundingan para tetua, akhirnya pernikahan Alex dan Layla terpaksa di batalkan, tidak peduli berapa banyak tamu yang merasa kecewa. Sejujurnya sikap nekat dari Roy mengubah segala bentuk aspek perencanaan, polemik aneh dan sulit berusaha hadapi dengan baik.
"Jadi bagaimana?" tanya Alex sangat penasaran.
"Biarkan Layla yang memutuskannya, karena dialah korban dari kalian berdua." Yudistira sangat pusing memikirkan permasalahan yang terjadi pada cucunya, memijat pangkal hidungnya.
"Jika dalam waktu dua sampai tiga bulan Layla tidak dinyatakan hamil, maka dia bebas menentukan nasibnya." Putus Yudistira.
David dan John saling melirik, mengapa semua tampak kacau dan juga rumit.
"Itu berarti kami boleh mendekati Layla?" Roy sangat bersemangat berhasil menjalankan misinya.
"Ya, aku akan membagi waktu agar adil."
"Kek…" keluh Layla yang kesal dianggap seperti mainan.
"Biarkan saja, ini tidak akan lama." Ucap Yudistira mengingat kedekatan Alex dan Roy dalam memperebutkan cucunya.
Alex menghela nafas kasar, skandal di antaranya juga Roy yang sama-sama berharap ada janin di dalam rahim wanita yang tak jauh dari mereka.
"Apa aku ini mainan? Di oper sana dan sini. Mengapa kakek malah menuruti permintaan konyol mereka, apa aku ini mesin pencetak anak?" batin Layla yang sangat dongkol, melirik Alex dan Roy penuh kekesalan.
Kedua pria yang masing-masing mempertahankan hak mereka, memiliki tujuan yang sama.
"Roy ini sangatlah licik, sepertinya pertarungan itu belum menimbulkan efek jera padanya." Ucap Alex di dalam hati.
__ADS_1