Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Ingat rasanya


__ADS_3

Layla kembali ke apartemen miliknya, walaupun Alex sudah menyiapkan apartemen baru yang berdekatan. Dia tetap menolak dengan menggunakan alasan logis, tentu saja tak ingin jika rutinitas setelah pulang dari kantor terganggu oleh pria yang menjadi atasannya di kantor. 


Melihat suasana apartemen yang sedikit berantakan, banyak pakaian yang berserakan dimana-mana dan juga makanan sisa beserta bungkusan yang belum dibersihkan. Menghela nafas karena dirinya tak sanggup membersihkan saat tubuhnya ingin beristirahat terlebih dulu, berjalan tertatih-tatih seraya melempar tas kecil ke arah sofa. 


Layla melempar tubuhnya di atas sofa empuk dengan posisi tertelungkup, pakaian yang belum di ganti di tambah suasana kotor apartemen tak menjadi masalah. "Aku sangat lelah, Alex sialan itu malah memberiku pekerjaan tambahan. Ck, aku pikir dia memperlakukanku spesial karena sudah naik posisi menjadi tunangannya." Racau nya seraya memukul sofa melampiaskan kekesalannya.


Beberapa kali ponsel berdering, tapi wanita itu lebih memilih tak memperdulikan, tidak peduli jika pria di seberang sana mencemaskan dirinya. 


"Kemana dia? Berani sekali dia tidak mengangkat teleponku." Geram seorang pria yang menunggu di dalam mobil. 


Akhirnya Alex memutuskan untuk masuk ke dalam menuju apartemen milik sekretaris pribadi sekaligus tunangannya. Sebelum ke markas, dia memutuskan untuk membawa tunangannya ke sebuah butik sesuai persyaratan dari sang kakek. Demi menjalankan agar pekerjaannya selesai, dengan terpaksa menyetujuinya. 


"Apa dia sedang berduaan dengan Roy sialan itu?" itulah yang ada di pikiran Alex, mempercepat langkah dan menemui tunangannya di dalam apartemen. 


Alex menekan bel berusaha sang empunya untuk segera membukakan pintu, dia sangat cemas saat membayangkan Layla dan Roy berada dalam satu ruangan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. 


"Siapapun yang di dalam sana, cepat bukakan pintu!" pekik Alex yang sudah tak sabar, hingga akhirnya memutuskan untuk mendobraknya. 


Nasib sial yang di alami Alex, saat tubuhnya tersungkur jatuh ke lantai. Rasa sakit dan malu yang muncul secara bersamaan, seraya menatap kesal ke arah sang pelaku yang tiba-tiba membuka pintu tanpa memberitahukan dulu padanya. 


"Harusnya kau memberitahuku untuk membuka pintu." Alex berusaha berdiri dan mempertebal wajahnya yang amat malu. Dia sangat terkejut melihat seorang wanita yang jauh dari kata cantik, rambut persis seperti kuntilanak beranak di dalam kubur. 


"Berhenti menyalahkan aku!" balas Layla seraya menguap lebar, sebuah image buruk diperlihatkan kepada calon suaminya. 


"Kau sangat jorok, apa di apartemen mu baru saja terjadi badai?" lagi-lagi Alex kembali di kejutkan dengan keadaan sekeliling yang sangat berantakan, wajah cantik tunangan tak sepadan dengan apa yang di lihatnya. 


"Karena kau datang di waktu yang salah, biasanya aku sangat bersih." Ujar Layla membela diri. "Apa yang kau inginkan?" 


"Aku ingin membawamu ke butik." 


"Tumben sekali kau mengajakku ke sana." 

__ADS_1


"Ini kemauan kakek." Alex masih melirik sekeliling yang sangat berantakan, meraih ponsel untuk memerintahkan beberapa orang pelayan datang membersihkan tempat itu setelah memastikan Layla menuju kamar untuk bersiap-siap. 


Perhatian Alex tertuju pada mayonaise yang menempel di jasnya, hingga kejadian saat terjerembab kembali teringat. "Astaga, jas ku menjadi kotor saat jatuh tadi." Lalu dia mencari wastafel terdekat dan mencoba menghilangkannya, noda membandel tetap saja sulit untuk dibersihkan dengan air mengalir. 


"Dasar wanita jorok, di balik penampilan sempurna ternyata dia tidak sesempurna yang di bayangkan orang-orang. Kenapa aku bisa terjebak dengannya?" keluh Alex sambil menutup kran air dengan kasar. 


Semburan air yang keluar akibat dirunya yang bersemangat menutup kran air, tubuh bagian atas mulai basah. Alex kembali menutup kran seraya mengumpatinya. 


Terdengar suara tertawa yang melihat tubuh Alex basah. "Kurasa kran air itu menyukaimu." Ledek Layla sembari memegang perutnya tertawa geli.


"Jangan tertawa saja, bantu aku!" kesal Alex. 


"Baiklah, aku akan membantumu sebagai tuan rumah yang baik." Layla berjalan mendekati Alex yang hanya menutupi tubuh dengan handuk, suara yang diciptakan oleh sang atasan menghentikan niatnya yang hendak memakai pakaian. 


Dua orang yang berusaha menutup kembali kran yang tersmus menyembur air, hingga Alex tak sengaja menyenggol sesuatu benda kenyal membuat keduanya diam membeku. Tak hanya itu, ikatan handuk juga terlepas dan memperlihatkan tubuh indah. 


Mereka saling menatap dan melihat sesuatu dibawah sana yang terlihat jelas, secepat mungkin Layla menutupi kedua mata Alex. 


Layla segera mengambil handuk dan menutupi tubuhnya, sangat marah karena Alex kembali melihat tubuhnya yang polos. 


"Apa sudah selesai?" tanya Alex yang polos, terus mendongakkan kepala membuat lehernya sakit. 


"Sudah. Kau pasti sengaja melakukan itu kan!" 


"Melakukan apa?" tanya Alex penasaran seraya menatap lawan bicaranya. 


"Menyenggol dua benda imut milikku." Layla tetap tidak terima dengan pelecehan yang dilakukan Alex tanpa sengaja, tapi tetap saja pria itu yang salah di matanya. 


"Aku tidak sengaja, lagipula kita sudah pernah menghabiskan malam bersama. Ya, walaupun aku tidak ingat bagaimana bentuk dan rupanya, setidaknya sudah mencicipinya." 


Bugh! 

__ADS_1


"Brengsek!" umpat kesal Layla seraya meninju perut Alex dengan keras, tatapan kemarahan karena kembali di lecehkan orang yang sama. 


"Auh," ringis Alex yang sedikit merasa sakit. "Kau kasar sekali."


"Aku…aku membencimu!" tekan Layla yang beranjak pergi setelah menunjuk wajah pria tampan yang tidak memperlihatkan rasa bersalah setelah melecehkannya. 


"Dasar wanita gila." Alex beranjak keluar dari apartemen, tidak ingin ada kejadian yang selalu menyalahkan pihak pria sepertinya. 


"Dia pria mesum yang aku temui, bahkan Roy lebih baik darinya." Geram Layla seraya memakai pakaian santai. 


Beruntung Alex membawa baju ganti, memakai pakaian santai, tidak adanya pilihan terpaksa memakai nya.


"Jalankan mobilnya!" titah Layla ketus. 


"Jika orang lain berkata seperti itu, pasti mereka sudah aku hukum." 


Secepat kilat Layla menoleh kesamping, menatap Alex tajam seraya melipat kedua tangan di depan dada. "Memangnya apa yang kau pikirkan, Hah? Jangan lupakan kalau aku Nyonya Alex Anderson, dan kau tidak bisa menghukumku!" tekannya penuh ketegasan. 


"Hem, jadi kau sudah menerima gelar itu!" 


"Tentu saja, aku harus memanfaatkan kekuasaanmu. Kau sendiri yang mengatakan jika banyak wanita ingin menjadi istrimu, aku termasuk beruntung dan tidak akan menyia-nyiakannya. Tunggu apalagi? Jalankan mobilnya!" perintah Layla dengan angkuh. 


Alex tersenyum tipis saat mendapat penghormatan dari tunangannya, lebih tepatnya hinaan menjadi nyonya keluarga Anderson. 


"Ada sesuatu di rambutmu." 


"Apa?" 


"Biar aku ambilkan." Alex meraih sesuatu yang hinggap di rambut Layla, mencium aroma tubuh wanita itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. 


"Apa sudah selesai?" 

__ADS_1


"I-iya, ini dia." Alex menjadi gugup dan segera mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang menuju butik.


__ADS_2