
Asisten Dinu begitu bersemangat mengajari gadis cantik berambut ikal, dimana dirinya terpesona akan kecantikan natural. Lain halnya dengan Jessie yang hanya bermalas-malasan dan tidak fokus mengenai apapun, jauh dari perkiraan.
"Rudra pasti memaki ku karena ini, kalau bukan karena ibu yang ada padanya? Aku juga tak ingin melakukan hal ini, sial." Ucap Jessie di dalam hati, wajah jutek dan juga cuek tak mendengar perkataan asisten Dinu.
"Astaga…sepertinya aku di datangi dewi Amor, benar-benar cantik." Batin asisten Dinu. "Aku sudah menjelaskannya, kau bisa menyalin beberapa yang diketahui, dan pelajari semua berkas ini. Kalau tak ada yang paham? Kau bisa menghubungiku."
"Bersikaplah dengan sopan, aku ini adik dari bosmu. Setidaknya panggil aku dengan sebutan 'Nona', apa kau mengerti? Dan oh ya, aku bukan babu yang seenaknya kau suruh." Ucap Jessie melampiaskan seluruh kekesalannya.
"Tuan Alex sendirilah yang mempercayaimu padaku, jika ingin komplain katakan langsung pada orangnya. Mengenai panggilan itu? Akan aku lakukan." Balas asisten Dinu juga ikut kesal, menarik semua ucapannya mengenai penilaian gadis itu.
Jessie sangat kesal, tapi tak punya pilihan lain. "Jika aku mundur sekarang? Pasti ibu akan di siksa pria biadap itu, aku tak punya pilihan lain. Rudra, kau begitu sombong memanfaatkan ibuku sebagai kelemahanku, setelah Alex jatuh ke tanganku maka kau tidak akan bisa berkutik." Gumamnya di dalam hati.
Jessie mulai mengerjakan segalanya, mempelajari semua berkas yang sangat asing, sangat menyulitkan hingga dirinya selalu menghubungi asisten Dinu untuk bertanya yang tidak dipahami.
"Lima kali." Ucap pria itu yang menunjukkan kelima jarinya.
"Apa?" tanya Jessie menautkan kedua alisnya penasaran.
"Ini yang kelima kalinya kau datang menghampiriku." Jawab asisten Dinu dengan sombong, ingin memberikan anak baru pelajaran. Tak peduli apakah anak baru itu cantik atau adiknya bos, hanya perlu beralasan mendisiplinkan pegawai baru.
"Kau sendiri mengatakan untuk menemuimu saat aku kesulitan."
"Jadi kau selalu merasa kesulitan?" tutur asisten Dinu menyerngitkan dahi.
"Ck, pria rendahan ini sepertinya ingin mengerjaiku. Jika kesabaranku habis? Maka tubuhnya itu aku mutilasi dan melemparnya ke kandang buaya." Batin Jessie yang berusaha mengontrol emosinya. "Mari kita lihat, apakah dia tahan akan godaan wanita cantik sepertiku." Dia tersenyum miring saat menemukan sebuah cara yang tiba-tiba terlintas di otak, membuka tiga kancing kemeja yang memperlihatkan bagian dalam yang menantang para lelaki.
Asisten Dinu yang tidak menyadari itu saat mengajari Jessie, terlonjak kaget saat melihat dua bukit yang membuat nafas memburu. Segera dia melonggarkan dasi yang seakan mencekik leher, mundur selangkah menjauh dari gadis itu.
"Kau kenapa?" tanya Jessie berpura-pura polos.
__ADS_1
"Lanjutkan pekerjaanmu!" Asisten Dinu hanyalah pria biasa dan normal, jika dihadapkan dengan bagian menantang membuatnya hampir hilang kendali. Beruntung dia bergegas ke toilet seraya mencuci wajahnya di wastafel.
"Astaga…dia terlihat sangat seksi." Gumamnya yang terus terbayang dengan gundukan mulus.
Sementara Jessie tersenyum simpul, banyak pria yang tergoda akan tubuh seksinya, dan bahkan Alex juga pernah salah tingkah. "Dasar pria, aku hanya memperlihatkannya sedikit tapi reaksinya sungguh berlebihan."
Sedangkan di ruangan lain, Layla terpaksa mengerjakan pekerjaannya di ruangan sang CEO. Jujur saja dirinya sangat tidak nyaman jika wajah terus di pandang Alex, membuatnya jadi serba salah.
"Kenapa kau menatapku begitu?" Layla sudah tak sanggup membendung rasa risih menyelimuti dirinya, melakukan tindakan protes.
"Aku hanya ingin melihat kinerjamu saja, dan ternyata cukup bagus."
"Hem." Layla kembali melanjutkan pekerjaannya, namun perhatian malah tertuju pada tangan Alex. "Darimana kau mendapatkan luka itu?" tanyanya penasaran.
Alex menyembunyikan luka, tak ingin ada orang yang tahu kalau identitas aslinya seorang Mafia, sedangkan pekerjaan menjadi CEO itu sebuah kedok. "Apa aku harus padamu melapor setiap kali terluka?"
"Bukan begitu, luka itu seperti sayatan pisau."
Layla merasa ada yang ganjal, namun menepis semua yang dirasakan.
****
Sepulang kantor, Layla memutuskan untuk pergi ke apartemen miliknya untuk mengambil sesuatu dan merindukan suasana disana. Baru saja membuka pintu, sepasang tangan melingkar di perut dan merasakan hembusan nafas lembut menerpa rambut yang menutupi leher.
Layla diam terpaku, dari aroma nya saja sudah hafal siapa yang datang menemuinya. Sang mantan kekasih yang begitu tergila-gila akan dirinya, seakan pria itu ada dimana saja.
"Roy, kau?"
"Sttt…diamlah, biarkan aku memelukmu sebentar saja."
__ADS_1
Layla ingin sekali kabur dari mantan kekasihnya, namun kekuasaan Roy lebih tinggi dan juga seorang mafia yang bisa mengancamnya kapanpun.
"Aku sangat lelah, apa yang kau lakukan disini?" Layla seperti selalu diawasi oleh pria itu yang muncul di manapun.
"Menemuimu." Roy semakin memeluk Layla dengan erat, obat mujarab di saat dirinya mengalami kekalahan juga kemenangan.
Layla terpaksa menyeret pria itu ke dalam apartemen, menatapnya dengan tajam. "Kau muncul sesuka hatimu."
"Aku sangat merindukanmu, Baby. Berikan aku pelukan atau sebuah ciuman." Roy merentangkan kedua tangan berharap mendapatkan keinginannya.
"Kemunculanmu membuatku takut, kita bukan kekasih lagi. Jadi aku mohon padamu untuk menjauhiku!" tegas Layla.
Roy tertawa semakin melukis raut wajah kesal pada Layla, seakan peringatannya hanya sebatas candaan saja. Duduk dengan santai di atas sofa, menatap sang mantan kekasih dengan meremehkan.
"Kau galak sekali. Kau sendirilah yang memutuskan hubungan, tapi aku tidak menyetujuinya, itu artinya kau masih menjadi milikku."
"Bisakah kau menghentikan leluconmu itu?"
"Baiklah, mari berbicara serius. Aku akan berhenti mengikutimu setelah kau menemukan seorang pria yang mencintaimu lebih daripada aku." Ucap Roy yang memberi tantangan.
"A-apa?" Layla mengerjapkan matanya beberapa kali, memikirkan tantangan konyol dari Roy. Jangankan untuk mencintainya, saat ada pria mendekatinya saja sang mantan kekasih memberikan pelajaran pada pria yang pernah dekat padanya.
"Dasar gila, itu sangat konyol."
Roy kembali tertawa melihat reaksi yang ditunjukkan Layla, sangat menggemaskan membuat kekalahan yang dialaminya terobati. Berjalan mendekati wanita itu hingga menguncinya menggunakan kedua tangannya, menatap dalam mata sang mantan kekasih.
"Kalau begitu, jangan coba-coba untuk menghalangiku! Kau masih kekasihku dan akan seperti itu, berhentilah menebar pesona dengan pekerjaanmu menjadi wanita bayaran." Tekan Roy seraya meninju dinding dengan sangat keras, tak peduli darah yang mengalir.
Layla menelan saliva dengan susah payah, menahan nafas saat pria itu terlihat menakutkan. Tak lama kemudian, dia bisa bernafas lega saat Roy sudah pergi menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Mengapa aku bisa terjebak dengan mafia sepertinya? Ya Tuhan, tolong jauhkan aku dari pria yang berprofesi seperti mafia." Batinnya mengelus dada. Dia tidak tahu, jika dirinya sudah terjebak dengan mafia lainnya.