
Alex memuntahkan seluruh makanan yang ada di dalam perutnya, butuh waktu baginya menghabiskan seluruh es krim dengan toping yang tidak biasa. Beruntung dia memiliki kecerdasan otak, menipu Layla seolah-olah dia menghabiskannya.
"Sial, aku kapok membawanya makan es krim. Kalau tahu begini aku tak akan pernah membawanya kemari," gerutu Alex penuh penyesalan, mengambil beberapa helai tisu dan membersihkan mulutnya.
"Kau kenapa?" tanya Layla polos.
"Bukan apa-apa, kau mau kemana lagi?"
Layla mulai berpikir memilih tempat tujuan yang pastinya menenangkan pikirannya, hingga terlintas di otak untuk naik perahu.
"Ayolah, ajak aku kesana." Bujuk Layla dengan manja, bergelayut di lengan pria itu untuk membawanya pergi ke tempat tujuannya.
"Tidak, kau sedang hamil. Sangat berbahaya untuk ibu hamil mudah naik perahu bagaimana kalau tiba-tiba kepalamu sakit atau perut mu atau pinggang mu. Minta yang lain saja!" cetusnya tak ingin berdebat.
"Apa kau tega padaku?" dengan sengaja Layla mengedipkan matanya untuk membujuk Alex.
"Kau sendiri yang mengatakan membawaku jalan-jalan, kenapa sekarang kau malah berdusta."
"Aku tidak pernah mengatakannya hanya mentraktirmu makan es krim."
"Aku tidak peduli. Ayolah!" Layla seperti seorang anak kecil membujuk untuk di belikan mainan. Alex menjadi tak tega apalagi raut wajah wanita itu tampak menggemaskan, dengan berat hati dan langkah akhirnya dia mengangguk dengan syarat yang telah mereka sepakati bersama.
Alex sengaja menyewa satu perahu khusus demi kenyamanan Layla yang tengah hamil, memastikan segalanya tidak ada kekurangan. Tidak hanya itu, dia juga menyediakan tim medis jika sewaktu-waktu terjadi masalah dengan kondisi wanitanya.
"Apa kita ini tengah berlibur? Mengapa kau melibatkan banyak orang?" Layla menggaruk telinganya yang tidak gatal melihat banyaknya orang yang mengikuti mereka.
"Demi keselamatanmu dan juga bayi di dalam perutmu."
"Tapi ini berlebihan."
"Sesuai standar untuk keselamatan mu. Ayo!" Alex menarik pelan tangan Layla dan membantunya naik ke dalam perahu, tentu saja mereka hanya berdua namun antek-antek sudah stand by di samping kiri, kanan dan juga belakang.
Alex tersenyum saat melihat senyuman Layla yang keluar begitu memikatnya, dia menyukai momen indah bersama.
"Suasananya sangat damai dan juga tentram." Layla menyentuh air dengan semangat, Alex kembali dengan sikap siap siaganya.
__ADS_1
"Hati-hati, kau bisa terjatuh dan menekan perutmu sendiri."
"Hah, aku lupa tengah berbadan dua." Ucap Layla yang langsung duduk seperti posisi semula.
Menghabiskan waktu bersama di antara mereka terasa lebih lambat, menikmati panorama danau yang terlihat asri.
"Kita sudah lama di sini, sebaiknya kembali ke daratan."
"Ck, kau merusak moodku. Kau bisa pulang sendiri kalau kau mau." Ketus Layla yang tidak ingin pulang.
"Ini sudah cukup."
Di sepanjang perjalanan menuju kediaman mewah milik Yudistira, Alex berniat mengantarkan wanitanya sampai ke rumah dengan selamat. Dia hanya diam saja menerima omelan yang terus keluar dari mulut Layla.
Dengan sengaja dia mengerem mobil secara mendadak setelah menepikan terlebih dulu demi keselamatan, mendekatkan wajahnya dan mencium bibir imut yang sedari tadi tak mau diam. Layla terkejut dan akhirnya berhenti mengoceh, memegang mulut seraya mata hampir keluar dari tempatnya.
"Mengapa kau mengambil kesempatan di dalam kesempitan, itu tidak adil." Protesnya memukul dada Alex.
Alex tak merasakan sakit malah terkekeh dengan ulahnya. "Kau selalu saja berkicau seperti burung beo."
Alex menaikkan sebelah alisnya, menatap Layla bingung. "Denda?"
Dengan cepat Layla mengangguk. "Kau harus mentraktirku es krim dengan toping saus sambal setiap harinya."
"APA?"
"Ya, seperti tadi."
Alex tak menduga jika permintaan orang hamil benar-benar membuatnya tak bisa berkutik, tidak mungkin dia menolaknya terang-terangan di hadapan Layla. "Apa tidak ada yang lain? Aku rela mengantri beberapa jam."
"Tidak, aku hanya menginginkan itu saja. Apa kau tidak ingin mengabulkan permintaanku?"
Alex kebingungan melihat mood Layla yang tidak bisa dia prediksi, mengacak-acak rambut seraya menghela nafas berat. "Apapun demimu dan calon anak kita." Pasrahnya yang berserah diri pada Tuhan.
"Good boy." Layla mengecup pipi Alex setelah sampai di halaman rumah mewah, segera turun dari mobil sebelum pria itu meminta lebih.
__ADS_1
Alex terpaku beberapa saat menyentuh pipinya yang masih terasa bekas ciuman, hatinya seperti berbunga-bunga yang bermekaran indah. "Apa itu karena mood orang hamil, aku sangat yakin jika bayi di dalam perutnya adalah milikku."
*
*
Baru saja Layla ingin masuk ke dalam kamarnya hendak beristirahat, dirinya malah di kejutkan kedatangan Roy yang entah sejak kapan duduk di sofa itu.
"Kenapa sangat lama sekali? Aku menunggumu dari tadi." Keluh Roy yang kemudian menghampiri Layla.
"Sejak kapan kau di dalam kamarku?"
"Satu jam tiga puluh satu menit yang lalu, itu tidak adil untukku."
"Lalu, apa yang kau inginkan? Aku sangat lelah dan ingin tidur."
"Aku tidak akan mengganggumu, hanya mengantarkan vitamin, buah-buahan dan segalanya untuk kebutuhan mu juga bayi kita." Roy bersemangat memperlihatkan paper bag dan bingkisan yang dibawanya. "Oh ya, aku dengar dari kakek kalau kau dan Alex sudah memeriksa anak kita, bagaimana kesehatannya? Aku juga ingin tahu perkembangan baby twins dan suara detak jantungnya." Cerocosnya mendesak karena tidak sabar.
Layla memperlihatkan hasil USG dan membuat Roy tersentuh dan menangis saat mendengar suara detak jantung baby twins, ekspresi yang sama juga di lakukan oleh Alex. Dilema kembali muncul di dalam benaknya, apakah dia termasuk beruntung karena di perhatikan oleh dua pria yang menyangka jika bayi di dalam perutnya mengklaim sebagai milik mereka, atau menjadi wanita malang yang tak tahu hamil anak siapa.
David dan John melihat ekspresi bahagia dari Alex yang baru sampai ke Mansion.
"Kau kenapa? tanya David penasaran.
"Aku sangat bahagia Kek." Alex ikut bergabung dan mencurahkan perasaannya.
"Ceritakan lebih rinci, kami tidk paham apa yang kau maksud."
"Aku menghabiskan waktu bersama Layla dan juga calon bayiku, dan membawanya ke dokter untuk memeriksa calon anakku itu."
"Jangan mengharapkan lebih." Imbuh John membuat suasana hati Alex jengkel.
"Ck, jangan merusak suasana hatiku Paman. Setelah bayi itu lahir semua akan terungkap dengan tes DNA."
"Hem. Terserah kau saja! Tapi, aku pesankan kepadamu untuk tidak membuat Layla tersinggung, marah, ataupun sedih. Mood ibu hamil itu sangat tipis sekali, sangat mudah rusak dalam hal sepele saja." Jelas David yang tahu kebiasaan itu lewat istrinya dulu dan juga menantunya.
__ADS_1
"Tidak Kek, aku sudah berjanji di dalam hatiku untuk menjaga mereka dengan sangat baik. Tidak peduli apakah bayi Itu milikku sepenuhnya, namun aku percaya jika baby twins adalah milikku."