Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Kebersamaan Alex dan Layla


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Yudistira, Alex masuk ke dalam mendapatkan sambutan yang baik dari pemilik tempat mewah itu. Menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, mencium bunga yang ada di genggamannya. 


"Kakek yakin?" tanya Alex untuk meyakinkan diri. 


"Hem. Aku sudah membujuknya, kau boleh menemuinya asal berjanji padaku untuk tidak menekannya." Yudistira menghela nafas berat seraya pergi meninggalkan tempat itu. 


Alex mengepalkan kedua tangan menahan amarahnya pada Roy yang sudah berani memperk*sa Layla hingga wanita malang itu mengurung dirinya dan menjauh dari kata sosialisasi. "Ini semua karena pria itu, berani sekali dia merusak calon pengantinku." Ucaonya di dalam hati, melangkah menaiki anak tangga menuju kamar.


Dia mengetuk pintu yang tidak terkunci, melihat kondisi Layla yang sangat berantakan seperti kurang terawat. Dia memperlihatkan senyuman untuk mencairkan suasana, namun malah terlihat kaku.


"Apa aku boleh masuk?" 


"Masuklah." 


Alex duduk di sebelah Layla seraya memberikan buket bunga. "Ini untukmu." 


"Terima kasih." Layla menerimanya, namun tak banyak bicara.


"Bagaimana kondisimu?" tanya Alex seraya melirik perut yang terlihat sedikit membuncit, tak terasa air matanya menetes dan sangat yakin jika itu adalah bayinya. 


Layla tersenyum getir saat Alex menanyakan kabarnya namun lebih tertarik pada perutnya. "Ck, katakan saja kalau kau hanya ingin mendengar kondisi bayi yang ada di dalam perutku, bukan kondisiku." Cetusnya tanpa menoleh. 


Alex menarik nafas sambil memejamkan mata sejenak, menatap wanita di sebelahnya yang begitu sensitif. "Tentu saja aku menanyakan kondisimu, namun tak sengaja meliriknya. Bagaimana keadaanmu? Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya nya dengan lembut. 


Layla hanya diam tanpa mengatakan apapun, kedatangan Alex begitu membuatnya bahagia tapi tak memperlihatkannya. Ingin sekali dia memeluk pria itu, tapi ego yang besar tetap tak ingin memintanya. "Tidak ada." 


"Apa kau yakin?" 


"Aku yakin." 


"Kau pasti sangat bosan disini, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tawar Alex.

__ADS_1


"Kau benar, untuk menghadapi kenyataaan hanya dengan melupakannya." 


Di sepanjang perjalanan, Alex berusaha mencairkan suasana dengan mengobrol, walau dia tahu jika Layla tak merespon. "Jangan terlalu banyak melamun, tidak baik untukmu dan juga bayi di dalam perut. Bagaimana kalau kita ke dokter untuk memeriksanya?" ujarnya yang bersemangat, ingin sekali melihat perkembangan calon anak yang belum lahir itu. 


Layla melirik Alex dengan tajam. "Baiklah." Putusnya. 


Di dalam ruang khusus, Alex dan Layla mendapat sambutan yang baik dari dokter. Keduanya juga tidak sabar untuk melakukan USG kedua dan kali pertama di temani karena sebelumnya sang dokter didatangkan langsung oleh Yudistira. 


Tidak sengaja pandangan Layla melihat Alex yang meremas tangan, melihat ekspresi pria itu yang terlihat sangat cemas dan gugup. Hatinya mulai tersentuh dan perlahan menerima keberadaan pria itu, meletakkan sebelah tangannya di atas kekar itu. 


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja." Layla tersenyum sekilas membuat Alex lebih rileks, berharap jika hubungan mereka kembali membaik. 


Alex sengaja memilih dokter wanita dan gel yang dioles ke bagian perut Layla, pandangan fokus ke layar monitor dengan perasaan yang tidak menentu. 


Melihat dengan jelas ada dua bayi yang tumbuh di dalam sana dengan gerakan yang sangat aktif, mendengar suara detak jantung meloloskan cairan bening di pelupuk mata mengalir melewati kedua pipi, dia sangat terharu saat melihat janin yang semakin berkembang. 


Dokter mulai menjelaskannya mengenai kondisi si kembar di dalam perut, air mata bahagia terlihat jelas oleh Layla yang juga merasa terharu karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. 


"Apa kau melihatnya dengan jelas?" Layla terkejut melihat tindakan Alex yang menggenggam tangannya lembut, mengangguk kepala ke arahnya. 


Setelah pemeriksaan selesai dan dinyatakan sehat, Layla menatap Alex di dalam mobil dengan raut wajah sedih. "Maaf, karena kecelakaan yang diperbuat Roy hubungan ini jadi bertambah sulit." Ada guratan kesedihan juga kekecewaan, tubuhnya bahkan di nikmati juga oleh pria lain. 


"Sudahlah, kejadiannya sudah berlalu. Jangan mengingatnya lagi, kasihan bayi yang ada di dalam perutmu." Alex berusaha mengulas senyum, mengelus perut yang sedikit membuncit dan menciumnya. "Halo sayang, ini Daddy. Jangan menyusahkan mommy kalian!" 


Layla kembali tersentuh dengan sikap Alex yang sangat manis padanya, begitu perhatian membuatnya terbuai. 


"Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan es krim?" tawar Alex menggebu. 


"Es krim?" mendengar hal itu Layla bersemangat dan mulai membayangkan betapa nikmatnya es krim. "Aku mau." Sahutnya cepat. 


"Ayo." Alex memasang sabuk pengaman di tubuh Layla, mengemudikan mobil dengan penuh hati-hati. 

__ADS_1


Alex tak memikirkan apapun dan masih percaya jika bayi di dalam perut mantan sekretarisnya adalah miliknya, tidak akan memberikan Roy kesempatan untuk dekat. 


Mobil berhenti di parkiran yang sudah tersedia, memilih Mall karena jaraknya yang tidak terlalu jauh mengingat Layla yang hamil harus diperlakukan dengan sebaik mungkin. 


"Alex." Panggil Layla yang manja. 


"Ya, kau butuh sesuatu? Atau perutmu terasa sakit?" Alex sangat khawatir jika sampai terjadi apa-apa pada Layla. 


"Aku baik, aku ingin makan es krim yang mengantri itu." Layla menunjuknya dengan suara manja bawaan hamil. 


Alex menggaruk tengkuk yang tidak gatal, melihat banyaknya yang mengantri di sana. "Kita cari tempat lain saja, masih banyak toko es krim lainnya."


"Tapi aku hanya ingin makan es krim di toko itu." 


Sudah lama Alex tidak pernah mengantri semenjak dirinya menjadi pewaris keluarga Anderson. "Kau yakin?" tanyanya yang di balas dengan anggukan kepala. 


"Hem. Aku ingin semua varian rasa yang di atasnya di tuangi saus sambal." Pinta Layla sembari menelan saliva membayangkan begitu nikmat rasa es krim itu. 


"Saus sambal?" Alex mengangkat sebelah alisnya bingung, permintaan yang begitu konyol. 


"Ya, aku hanya menginginkan es krim seperti itu."


"Baiklah, kau tunggu disini." Alex pasrah harus mengantri panjang, demi permintaan Layla tapi tetap mengawasi wanita hamil itu dan memastikan aman.


Layla mengacungkan kedua jempolnya, terkekeh melihat Alex yang ingin mengantri panjang hanya sebuah es krim. "Wah, ternyata menyenangkan melihatnya mengantri. Kenapa pria menyebalkan itu terlihat menggemaskan?" gumamnya. 


"Es krim yang sesuai dengan permintaanmu." Alex menyerahkan semangkuk besar es krim dengan rasa bangga setelah mendapatkannya, hampir setengah jam dirinya mengantri. 


Layla bertepuk tangan riang seperti anak kecil, mencicipinya dua sendok lalu menyerahkannya pada Alex. "Aku sangat puas, kau habiskan ya!" pintanya dengan kedua mata yang terus berkedip, terlihat sangat imut di mata pria tampan itu. 


"Kau yang meminta dan seharusnya menghabiskan semua es krim ini." 

__ADS_1


"Ya, aku berpikir begitu. Tapi aku hanya butuh dua sendok dan ingin kau yang melanjutkannya." 


Alex melirik es krim yang masih tersisa banyak, merasakan geli dengan toping saus sambal. Sedangkan Layla puas saat melihatnya menghabiskan es krim, apalagi ekspresi yang di tunjukkan.  


__ADS_2