
Di pagi hari yang indah, seindah hati seorang pria yang berbunga-bunga saat melihat seorang wanita cantik yang tertidur pulas di atas ranjang king size. Memperhatikannya dengan guratan penuh penyesalan, keraguan di hati saat itu benar-benar membuat hubungan mereka semakin rumit saja.
Alex melihat ke dalam tempat tidur bayi dan tersenyum menggendong kedua bayi kembar itu, walau sedikit ada rasa canggung di hati saat menggendong Fiona, putri biologis dari Roy yang telah meninggal. "Maafkan aku yang sempat dilema, aku benjanji tidak akan mengungkit mengenai hubungan kita lagi." Lirih pelannya seraya mendaratkan ciuman di kening kedua bayi itu.
Layla perlahan membuka matanya yang langsung menatap Alex, sedikit berteriak merasa di kejutkan dengan kehadiran pria itu yang tiba-tiba ada di dalam kamar.
"Huss…diamlah! Kau membangunkan putriku." Ucap Alex yang menenangkan kedua bayi yang menangis setelah mendengar teriakan sang ibu.
"Kenapa kau bisa ada disini? Aku tidak memberimu izin jadi pergilah!" usir Layla yang langsung beringsut dari tempat tidur, mendorong tubuh kekar itu untuk keluar dari kamarnya.
Butuh perjuangan bagi Alex Anderson untuk sampai ketitik ini, meyakinkan Yudistira bukanlah hal yang mudah. Secepat mungkin dia bersimpuh di kaki wanita itu, berharap jika kesalahannya di maafkan.
"Tolong maafkan aku, aku tidak bisa hidup tanpamu, Layla. Itu karena aku sangat mencintaimu!"
Layla tertegun mendengar ucapan yang di nantinya, kebersamaan dengan pria itu memupuk benih-benih cinta di antara mereka. "Apa kau bercanda?"
"Tidak." Dengan cepat Alex menggelengkan kepala, menatap wajah cantik itu.
"Tidak, sebaiknya kau pergi dari sini." Layla mengusir Alex, tapi pria itu bagaikan pacet yang menempel.
"Aku tidak mempermasalahkan jika salah satu putri mu milik Roy, aku hanya ingin menjadi ayah baby F. Maukah kau menikah denganku? Menghabiskan waktumu untuk hidup bersamaku? Menerima kekurangan yang ada dalam diriku?" Alex mengeluarkan kotak kecil dan di dalamnya sebuah cincin putih berlian yang sangat indah.
Layla terdiam saat melihat cincin itu, air matanya menetes mendengar isi hati dari Alex. Raut wajah yang begitu serius, pria arogan dan sombong itu bertekuk lutut padanya sambil menyerahkan sebuah cincin yang kembali mengikat keduanya. Dia mengangguk saat kata-kata yang ingin di dengar telah di ucapkan pria tampan itu tanpa keraguan sedikitpun.
"Ya, aku menerima cintamu, menghabiskan waktu bersama mu sampai kita menua, dan menerima semua kekuranganmu." Layla mengangguk tersenyum haru, tidak menyangka jika Alex mengungkapkan perasaan di kala dirinya mau menetap ke sebuah negara dimana hanya ada dirinya dan juga kedua putrinya saja.
Alex tersenyum bahagia, tidak ada yang bisa melukiskan bagaimana dirinya yang sangat senang jika cintanya di terima. Segera berdiri dan memeluk Layla, mencium wajah wanita itu dengan serangan bertubi-tubi. "Terima kasih kau telah menerimaku kembali."
"Hem, berjanjilah satu hal kalau kau tidak akan pernah membedakan kedua anakku!"
"Aku berjanji."
__ADS_1
Keduanya tenggelam dalam semangat cinta yang menggebu-gebu, mereka sudah sepakat untuk menjalin hubungan dan melangsungkan pernikahan. Yudistira tersenyum hangat melihat keduanya sudah baikan, dirinya sedari tadi mengintip di sela pintu.
"Jangan ada kesalahan seperti ini lagi, semoga Alex bisa memegang kata-katanya." Batin Yudistira yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu, memberikan ruang untuk keduanya.
Tak sengaja dua sudut mata Alex menangkap hal yang mengganjalkan yaitu koper besar yang ada di sudut ruangan, dia melirik Layla dengan tanda tanya. "Jenapa ada koper besar di sana? Kau mau kemana?"
Layla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, cengengesan saya melepaskan pelukan itu. "Aku berniat untuk pergi ke negara lain dan menjauh dari semua orang."
"Jadi kau ingin meninggalkan aku?" Alex memperlihatkan ekspresinya yang begitu sedih dirinya, cukup beruntung karena menyadari kesalahan tepat pada waktunya sebelum wanita yang dicintainya pergi dari hidupnya untuk selama-lamanya.
"Ya, tadinya begitu. Tapi setelah kau datang dan meminta maaf juga melamarku, sepertinya aku mengurungkan niat untuk pergi. Aku hanya ingin bersamamu."
"Kau tidak boleh pergi dariku." Alex meraih cincin putih berlian yang begitu indah diselipkan ke jari manis wanita itu, sangat pas di jari yang membuat senyum di bibirnya kian berkembang.
"Aku berjanji tidak akan pergi tapi kau harus berjanji pula jangan pernah mengatakan jika salah satu putriku bukanlah anakmu, perlakukan mereka sama tanpa membeda-bedakannya."
"Aku berjanji."
Pelukan dan kemesraan mereka terlepas di saat kedua bayi kembar itu menangis, dengan terburu-buru mereka menggendongnya dan menenangkan.
"Kalian pasti dibangun karena mendengar suara Ayah, tolong dimaafkan!" ucap Alex menyesal.
"Sudah aku maafkan, jangan di ulangi lagi Ayah ku tersayang." Balas Layla sengaja bersuara seperti anak kecil untuk mewakili kedua putrinya yang masih bayi.
Alex mencubit pelan pipi Layla yang terlihat sangat menggemaskan, lalu tersenyum bagai keluarga bahagia yang lengkap.
*
*
Semua orang tampak bahagia, kedua keluarga yang memutuskan untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Yudistira dan David sangat bahagia, menerima kenyataan jika Fiona bukanlah anak biologis Alex dan memasang keteguhan di dalam hati untuk tidak memperlakukan baby twins berbeda.
__ADS_1
Alex tampak sibuk mengurus baby F dan sesekali mendengarkan petuah dari para tetuah di keluarga.
"Biarkan aku saja," Layla hendak merebut baby twins F, tapi Alex menolak untuk menyerahkannya.
"Tidak, aku bisa melakukannya. Kalian berdiskusi saja sementara aku akan menjaga Flo dan Fio." Alex sibuk menggendong kedua bayi kembar yang tampak sangat menggemaskan.
"Ck, serahkan twins F itu pada baby sitter mereka!" Yudistira menengahinya, karena kedua calon mempelai pengantin yang harus ikut turun tangan mengenai ingin pernikahan seperti apa, yang terpenting acara berjalan lancar.
Guratan kekecewaan dan tidak rela di tunjukkan Alex, namun perintah dari Yudistira harus dilaksanakan. "Hem, baiklah."
*
*
Sepasang kekasih yang tengah berteduh di bawah payung hitam, tak lupa dengan dua bayi kembar yang ikut menemani. Layla melihat batu nisan, tak terasa air mata menetes. Masih mengingat bagaimana pengorbanan cinta Roy Immanuel yang menyelamatkannya dari peluru.
"Terima kasih kau sudah menyelamatkan nyawaku dan kedua bayi kembarku, aku berhutang banyak dan akan berjanji merawat Fiona tanpa membedakannya. Demi rahasia ini, aku terpaksa menutupi siapa ayah biologisnya, aku takut jika psikologi twins F terganggu." Ucapnya seraya menyeka air mata.
Alex mengusap punggung Layla dengan lembut, dia juga sedih atas kematian pria yang selama ini menjadi rivalnya merebut hati sang calon istri. Namun dia tak lupa bagaimana pria itu pernah memperk*sa calon pengantinnya di hari pernikahan dengan nekat.
"Aku berjanji padamu untuk menjaga Fiona, tapi maafkan aku kalau ini akan di rahasiakan. Fio dan Flo akan ikut nama belakangku, mereka akan menjadi tanggung jawabku dan akan menyimpan selamanya. Aku berharap kau tenang di sana, dan terima kasih atas pengorbananmu." Alex membawa Layla dan kedua bayi kembar itu untuk kembali masuk ke dalam mobil.
"Kita akan menutup rapat rahasia ini dan jangan sampai ada yang membukanya atau membicarakannya lagi." Ujar Alex.
"Hem, aku berharap kelak baby twins F tidak tahu dan mengubur rahasia ini."
Ya, keduanya telah sepakat untuk mengubur dalam rahasia mengenai Roy Immanuel.
Mobil mulai berjalan pergi meninggalkan tempat itu, terakhir kali untuk datang ke pemakaman Roy dan menyimpan rapat mengubur rahasia.
Alex memeluk Layla dan tersenyum melihat baby twins F yang tertidur, tidak lama lagi mereka akan menikah dan hidup satu atap.
__ADS_1