Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Puasa membuatnya gegana


__ADS_3

Alex memutuskan untuk pulang karena tidak ingin dirawat di rumah sakit, baginya akan merepotkan sang istri yang terus bolak-balik, apalagi kondisi yang tengah berbadan dua. 


"Seharusnya kau di rawat di sini saja, agar cepat sembuh." 


"Tidak, aku sangat bosan disini." Jawab Alex membuat alasan. 


"Aku tahu kalau kau khawatir dengan kondisiku, aku juga ingin kau cepat sembuh." 


"Aku akan sembuh bila di rawat di rumah saja, jangan berdebat mengenai ini lagi." Putus Alex yang sudah final, mengalihkan pandangan ke arah lain sementara Layla menghela nafas seraya merapikan kebutuhan suaminya dan memasukkannya ke dalam tas. 


Sesampainya mereka di Mansion Anderson, Alex tersenyum hangat di saat ketiga anaknya menyambut kedatangannya karena mereka tidak di izinkan oleh Layla untuk datang ke rumah sakit. Rasa rindu yang mendera sudah tak lagi bisa dibendung, twins F dan Zayden memeluk erat dirinya. 


"Anak-anak, biarkan ayah kalian beristirahat. Apa kalian tega?" ucap Layla sungguh khawatir dengan kondisi suaminya itu. 


"Baik Bu." Jawab ketiganya kompak, dan terlihat sedih. 


"Biarkan mereka memelukku, ini tidak akan lama. Sudah lima hari aku berada di rumah sakit dan kau juga melarang mereka untuk datang ke rumah sakit." Ungkap Alex yang tetap tak ingin mendengarkan perkataan istrinya. 


"Aku melakukan itu demi kebaikan bersama, bukankah mereka harus fokus karena sebentar lagi Flo dan Fio mengikuti pengajaran baru di sekolah, mereka akan masuk ke sekolah dasar. Begitupun dengan Zayden, dia harus belajar untuk merubah masa depannya agar lebih cerah." Petuah Layla yang panjang lebar membuat Alex tak menghiraukannya secara menyeluruh. "Hah, terserah kau saja." Pasrahnya seraya berlalu pergi meninggalkan empat orang itu tengah melepaskan rindu. 


"Akhir-akhir ini aku merasa ibu banyak bicara, sangat cerewet sekali hingga gendang telingaku hampir saja rusak." Keluh Fio. 


"Benar, selalu menyuruh kita untuk fokus belajar. Padahal otak juga membutuhkan asupan seperti bermain game misalnya." Sambung Flo. 


Sementara Zayden dan Alex hanya tersenyum mendengar keluhan itu, mereka sudah tahu mengapa sikap Layla berubah.


"Itu demi kebaikan kalian juga, di tambah akan ada anggota baru di Mansion ini. Apa kalian lupa kalau ibu tengah hamil? Itu yang membuat perubahan moodnya menjadi tidak stabil." Jelas Alex yang berpengalaman mengenai kehamilan, karena sudah mempelajari sikap Layla yang mudah berubah-ubah saat mengandung Flora dan Fiona. 


"Ayah benar juga. Tapi apa yang membuat Ayah bisa masuk rumah sakit?" akhirnya pertanyaan itu muncul dari mulut Flo, sangat penasaran karena tak sengaja melihat bekas luka di tubuh ayahnya. 


Alex terdiam beberapa saat memikirkan jawaban yang tepat, mana mungkin dia mengatakan jika profesi aslinya adalah seorang don, pimpinan mafia. "Ayah kurang berhati-hati saat bekerja." Jawabnya tersenyum. 


"Sampai terluka? Berarti Ayah sangat ceroboh." Ketus Fiona yang menolak pinggang, ekspresi marahnya malah membuat Alex terkekeh. 

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi, Ayah tidak berdaya saat itu." 


Kedua gadis kecil hanya mengangguk paham, lain halnya dengan Zayden yang tidak bisa di bodohi. "Bagaimana luka itu bisa terjadi Ayah?" 


"Namanya juga kecelakaan tidak ada yang tahu." Jawab Alex cepat, menutupi rasa gugup karena anak angkatnya itu bisa saja mengetahui profesi aslinya. 


"Apa kalian akan bertanya terus atau membiarkan ayah kalian beristirahat." Layla memelototi ketiga anaknya terutama suaminya, bertolak pinggang akibat rasa kesal. 


Keempatnya cengengesan, Alex segera berpamitan kepada ketiga anaknya dan masuk ke dalam kamar di bantu oleh istrinya. 


Di dalam kamar, Alex memeluk istrinya setelah menutup pintu terlebih dahulu, dia sangat merindukannya. Dia mengecup leher Layla hingga dirinya ingin melakukan hubungan suami istri, hasrat setelah berpuasa lima hari membuatnya sudah tidak sabar untuk berkelana bersama menaungi surga dunia yang penuh dengan kenikmatan.


"Kau sedang apa?" spontan Layla menghindar saat tahu kemana arah tujuan dari suaminya itu. Terlihat guratan kesedihan di wajah Alex yang sangat menginginkannya. 


"Aku sangat menginginkanmu hari ini." 


"Apa kau lupa bagaimana kondisimu itu dan juga kondisiku yang hamil? Setidaknya pikirkan itu dulu, pulihkan dulu lukaku yang belum sepenuhnya sembuh." Tolak Layla. 


"Maka dari itu kau harus cepat sembuh, beristirahatlah." Layla mencium bibir suaminya sebagai tanda maaf karena tak memberilan layanan ranjang sampai kondisi suaminya itu benar-benar pulih. 


Alex tak ingin melewatkan kesempatan itu dan meraih pinggang Layla mendekap ke dada bidangnya, membalas ciuman yang semakin lama kian menuntut lebih. 


Merasa ada yang tak beres, akhirnya Layla melepaskan ciuman itu dan meminta suaminya untuk beristirahat. 


Alex tidak tahu bagaimana susahnya menjadi seorang asisten, pekerjaan yang terbengkalai di markas di kerjakan oleh asisten Jimmy. Pria itu hampir stress mengerjakan semuanya seorang diri, di tambah lagi dengan Clarissa yang selalu menggodanya. 


Tragedi di malam itu membuat asisten Jimmy terjebak dengan Clarissa hingga tak sengaja menghabiskan malam bersama, godaan yang terus berdatangan. Dirinya hanyalah lelaki normal yang juga memiliki hasrat pada seorang wanita, sayangnya banyak yang menyebarkan rumor jika dirinya itu impoten dan tidak menyukai sejenis makhluk cantik yang di sebut wanita.


Dirinya berusaha untuk menjauh dari Clarissa setelah melakukan malam pertama mereka, dia sangat terkejut jika gadis itu masih perawan saat dia lolos menjebol keperawanannya. Pikiran kusut semakin kusut, saat wanita itu meminta pertanggungjawaban untuk segera menikahinya. 


"Kenapa kau menghindariku? Setelah kau memperk*sa ku." Cetus seorang wnita yang berdiri di ambang pintu. 


Asisten Jimmy menoleh. "Jadi menurutmu aku yang bersalah sepenuhnya? Kau sendirilah yang menggodaku dan menjebakku hanya untuk kepentinganmu." Jawabnya dingin. 

__ADS_1


"Kau sudah mencicipinya dan harus bertanggung jawab." Clarissa segera pergi dari tempat itu, dia tak mengira jika malam itu membuat mereka tidur bersama. 


Asisten Jimmy melempar vas bunga dengan kesal, dirinya malah terjebak dengan seorang wanita. Seorang wakil pimpinan mafia bisa di jebak oleh gadis yang baru berusia dua puluh tahun? Sangat mustahil tapi itulah kenyataannya. "Mau tidak mau aku harus menikahinya, lihat saja bagaimana aku akan menyiksanya nanti. Dasar wanita licik!" umpat nya kesal.


Asisten Jimmy kembali menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, karena di pagi hari dirinya kembali dengan kesibukan baru yang membuat hidupnya persis seperti robot. 


Tiba-tiba ponselnya berdering, pekerjaannya terpaksa di tunda untuk sementara waktu dan mengangkat telepon. 


"Halo tuan." 


"Hem, bagaimana dengan pekerjaan di markas?" 


"Baik, kapan tuan akan kembali bekerja?" 


"Secepatnya, aku menghubungimu karena tidak bisa tertidur." 


"Tinggal memejamkan kedua mata saja." 


"Hah, kau tidak akan mengerti karena belum menikah." 


"Apa hubungannya tuan?" asisten Jimmy mengerutkan dahi tidak mengerti apa yang di sampaikan oleh tuannya mengenai hubungan itu.


"Kau akan mengerti setelah menikah, tapi kapan kau akan menikah?" 


"Tuan meneleponku hanya menanyakan itu?" 


"Sudah aku katakan kalau aku tidak bisa tidur dan membawamu mengobrol." 


Asisten Jimmy sangat menyesal mengangkat telepon dari Alex, kenapa dia yang selalu kena getahnya?


"Banyak pekerjaan yang harus di selesaikan tuan, kalau begitu saya tutup dulu. Selamat malam!" ucapnya lewat telepon seraya mematikan benda pipih itu agar tidak akan di ganggu tanpa peduli bagaimana pria yang di seberang sana mengumpatnya. 


"Asisten sialan, berani sekali dia mematikan teleponnya." Alex melempar ponsel itu dan memutuskan untuk beristirahat, menahan hasrat yang tidak tersalurkan memanglah teramat berat. 

__ADS_1


__ADS_2