
Alex terpaku pada layar komputer dihadapannya, bangun di pagi buta membuatnya sangat mengantuk saat bekerja di kantor. Masih saja menyimpan rasa kesal kepada sang kakek, mengacaukan mimpi indah yang membuatnya basah.
"Kakek sangat keterlaluan, selalu saja mengacaukan waktu istirahatku." Alex menarik rambutnya dengan kasar, mata yang masih mengantuk tak mampu membuatnya berkonsentrasi dalam pekerjaan. Hal itu terlihat jelas oleh asisten Dinu yang sedari tadi memperhatikan bosnya, namun dia tak berani menanyai lebih lanjut.
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengikutiku?"
"Aku mencemaskan Tuan, terlihat sangat kusut."
"Jika kau mencemaskan aku, maka tidak akan ada pekerjaan terselesaikan. Pergilah dari hadapanku!" usir Alex yang menunjuk pintu keluar.
"Baik Tuan." Asisten Dinu keluar dari ruangan, niat baiknya malah merusak mood Alex.
Alex memutuskan untuk beristirahat sejenak, meluangkan sedikit waktu untuk dirinya sebelum benar-benar di gerogoti banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
"Hah, sangat nyaman." Perlahan Alex memejamkan mata, dan tak sadar terlelap hingga jam makan siang.
Layla merasa ada yang aneh, tidak melihat Alex yang keluar dari ruangan. Karena misi yang diberikan John padanya, terpaksa berjalan masuk ke dalam ruangan, tak peduli konsekuensi apa yang akan menimpanya.
"Tuan Alex." Layla celingukan mencari sang atasan, dua sudut mata menangkap bosnya yang terlelap di atas sofa. "Eh, dia tertidur? Apa semalam dia tidak tidur? Aneh sekali." Gumamnya serata berjalan mendekat.
Layla menatap lekat wajah tampan itu, sangat terdengar jelas suara dengkuran halus dan hembusan nafas menerpa wajahnya.
"Ya Tuhan, nafasnya sangat bau." Layla menutupi hidungnya, berpikir seperti pemeran protagonis pria yang memiliki aroma nafas mint, tapi kenyataannya malah berbanding terbalik. Dia hendak pergi, siapa sangka kedua tangan kekar malah melingkar di tubuhnya hingga terjerembab di atas dada bidang. Suara detak jantung pria itu dapat di dengar, dia terdiam beberapa saat.
Layla berusaha melepaskan pelukan dari Alex, tapi tak bisa dan malah semakin kencang dalam memeluknya. "Ya ampun, apa dia pikir aku ini bantal guling?" gumamnya yang kesal.
Beberapa lama kemudian, Alex mengerjapkan mata saat perut keroncongan. Namun dia merasakan dada sesak seperti terhimpit sesuatu, sedikit menyulitkannya bernafas. Pemandangan di hadapannya membuatnya terkejut, perlahan menyadari kedua tangan yang melingkar di tubuh wanita itu.
"Kenapa kau ada di atasku? Kau ingin memperkosaku ya?" tuduh Alex yang dengan cepat duduk di sofa setelah mendorong Layla ke pinggir sofa.
"Memperkosamu? Apa untungnya bagiku?"
__ADS_1
"Tentu saja kau diuntungkan menikah dengan pria kaya sepertiku."
Layla mendengus kesal, tuduhan yang begitu keji terlontar padanya. "Aku sudah mencoba melepaskan diri, tapi kau malah memelukku erat."
"Bohong, kau pasti mencari kesempatan untuk menjebakku." Ucap Alex seraya menutupi dadanya menggunakan kedua tangan.
"Hah, sangat konyol sekali. Periksa saja CCTV yang ada, jangan menyalahkan aku melakukan hal menjijikkan itu."
"Ck, wanita selalu bisa mengelak dengan berbagai alasan. Lalu, mengapa kau ada di ruanganku?" tanya Alex yang sengit, masih memiliki separuh kesadaran dengan nyawa yang belum terkumpul.
"Aku ingin mengajakmu makan siang." Layla melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah satu jam dan lewat dari jam makan siang. Menghela nafas lemas sebab belum makan apapun sejak tadi, bahkan perutnya berbunyi dengan sangat nyaring.
Alex melotot ke arah wanita itu. "Kau lapar?"
"Ya, aku sangat lapar." Layla tersenyum canggung sambil memegang perutnya yang terasa melilit.
"Kau terlambat makan karena aku, ayo kita makan siang bersama." Tawar Alex yang segera berlari membersihkan wajahnya terlebih dahulu, langsung menarik tangan Layla keluar dari kantor menuju kanton.
Tak punya waktu banyak, Alex hanya mentraktir sekretarisnya di kantin. Menjadikan pusat perhatian saat melihat bos menarik tangan seorang bawahan, menjadi buah bibir yang langsung tersebar dengan luas.
"Melamun tak membuatmu kenyang, makan!" celetuk Alex sambil menyuapi mulutnya.
"Hem."
Alex tahu semua orang mulai membicarakan mereka, tapi juga tak peduli, penting baginya mengisi perut daripada mendengar opini orang lain. Mereka menikmati makan siang yang sudah lewat, suasana di kantin hening tak ada pengunjung lain selain mereka.
Alex yang telah selesai makan, menunggu dengan sabar sambil menatap Layla yang makan dengan perlahan. Dia melihat noda di bawah bibir wanita itu, lalu menyeka nya hingga terjadinya kontak mata untuk sepersekian detik.
"Maaf, ada sisa makanan di bawah bibirmu." Alex memperlihatkan noda itu lalu membuangnya.
"Terima kasih." Layla menjadi canggung, tidak tahu kalau pria itu memperhatikannya.
__ADS_1
"Kakak disini?" ucap seseorang yang memecahkan keheningan, momen romantis hilang seketika disaat kedatangan Jessie.
Baik Alex maupun Layla terkejut dengan kedatangan gadis itu, senyum manis yang terlihat oleh orang lain namun mempunyai arti berbeda.
"Iya, ada apa?" tanya Alex.
Jessie menatap Layla dengan pandangan rendah, memberikan pelukan erat pada Alex sebagai sebuah kejutan. "Aku punya kejutan."
"Disini?" Alex langsung melepaskan pelukan itu, dia tidak suka jika kehidupan pribadi dicampur adukkan dengan kehidupan bisnisnya. "Harus berapa kali aku katakan padamu? Aku tidak ingin kau melakukan tindakan ini lagi, jika ingin memberiku kejutan kan bisa di Mansion atau dimanapun selain kantor." Ucapnya dengan tegas.
"Maafkan aku yang tidak sabar." Jawab Jessie dengan suara yang rendah, melirik Layla sekilas dengan pandangan tak suka.
"Sebaiknya kau pulang."
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan."
"Hal penting apa?"
"Aku ingin bekerja di kantor Kakak, boleh ya!" pinta Jessie yang memperlihatkan kedua mata berbicara berharap jika dirinya bisa bekerja, itu artinya berdekatan dengan kakak angkat untuk mendapatkan simpati.
"Jika kau bekerja di kantor? Lalu bagaimana dengan toko yang kau kelola itu?" Alex mengerutkan dahi, tidak biasanya sang adik angkat ingin turun tangan dalam urusan kantor.
"Kakak tidak perlu khawatir mengenai itu, aku bisa mengurusnya dengan baik. Ayolah Kak, terima aku menjadi sekretaris mu juga." Jessie terus membujuk, menggoyangkan lengan Alex dengan suara yang manja.
"Tapi aku sudah memiliki sekretaris."
"Pindahkan saja dia ke tempat lain."
"Tidak bisa, Kakek sudah memutuskan segalanya."
Sementara Layla hanya menghela nafas dengan jengah, tahu bagaimana gadis itu berusaha untuk menyingkirkan dari posisinya sebagai sekretaris pribadi. "Dasar konyol," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Karena kau belum memahami apapun mengenai perusahaan, aku akan memberimu training dan yang menjadi pendampingmu adalah asisten Dinu selama tiga bulan penuh."
"Apa?" Jessie sangat terkejut, berniat untuk mendekati sang kakak angkat tapi malah bernasib sial mendapat tawaran Alex. Sedangkan Layla tersenyum tipis, karena posisinya tidak akan bisa direbut oleh gadis itu.