
Pekerjaan yang begitu melelahkan, Alex membaringkan tubuhnya di sofa empuk kamar hotel. Tak lupa melonggarkan dasi yang seakan mencekiknya, membuka sepatu dan melemparnya sembarang arah. Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan kasar memikirkan padatnya pekerjaan di lapangan yang menguras banyak tenaga.
"Ya Tuhan, aku pikir menjadi orang karya sangatlah menyenangkan. Tapi, ekspektasi tak sesuai dengan realita yang ada. Jika begini terus, lambat laun tubuhku habiskan." Keluh Alex bermonolog, tidak ada tempat curhat ataupun sandaran berkeluh kesah.
Alex membuka pakaian dan hanya menyisakan celana pendek juga kaus tanpa lengan, tersenyum saat takdir tak pernah membiarkannya hidup dalam ketenangan. Terdengar suara dering ponsel, meraihnya tanpa berniat bangun dari sofa empuk yang memberikan kenyamanan.
"Halo."
"Ya, ada apa?"
"Ada sedikit masalah dengan bisnis ilegal, tuan."
Seketika Alex duduk saat mendengar kabar buruk dari bawahannya, sangat kesal di campur kemarahan.
"Masalah? Apa kalian tidak bisa menyelesaikannya?"
"Masalahnya ini tidak bisa kami selesaikan tuan."
"Bodoh…kalian memang bodoh, selalu saja mengandalkanku. Aku tidak ada di tempat dan sekarang ada di kota X!"
"Maaf tuan, hanya tuan yang bisa menyelesaikan ini."
Alex menarik nafas dengan kasar seraya menjauhkan ponsel di telinga, mengumpat hingga hati terasa puas dan barulah kembali menyimak perkataan sang bawahan yang bekerja di dunia bawah dalam kata lain mafia.
"Jelaskan lebih singkat, padat, dan jelas."
"Kita selalu mengekspor obat terlarang ke luar negeri, tapi ada beberapa kelompok yang diduga dipimpin oleh seorang mafia. Mereka ingin agar kita tidak mengekspor ke negara tetangga atau membayar upeti kepada mereka."
Brak
__ADS_1
Alex menendang meja kaca hingga pecah, kemarahan yang meluap tak bisa dibendung saat sedari tadi menggertakkan gigi dengan rahang yang mengeras. Nafas naik turun tak bisa di kontrol dalam waktu singkat, berusaha tidak melemparkan ponsel karena masih memerlukan informasi lebih dari bawahannya.
"Apa kalian mengenal mafia itu?"
"Tidak tuan, namun mereka memiliki ciri khas seperti memakai tato elang di pangkal lengan."
"Hem, aku akan kesana setelah urusanku selesai disini. Sebelum aku kembali, selalu beritahukan mengenai pergerakan mereka. Apa mereka masih tetap ingin memeras kita atau tidak!"
"Baik tuan."
"Hum."
Setelah sambungan telepon selesai, Alex langsung melempar ponsel ke atas lantai hingga layarnya retak. Melampiaskan seluruh kemarahan demi kewarasan yang dia miliki, terlalu banyak masalah di dalam hidup seakan dirinya tak memiliki hari libur.
"Sial, mengapa jalanku tidak ada yang berjalan mulus? Selalu saja ada orang yang dengki dengan kesuksesanku. Aku pastikan agar mereka takut saat menghadapiku nanti, bersiaplah karena aku tidak akan memberi kesempatan pada mereka." Gumamnya seraya mengepalkan kedua tangan dengan sangat erat.
Alex berjalan menuju kulkas, memasukkan kepalanya di bagian pendingin yang biasa dilakukan saat emosi meradang. Memang sebagian orang akan menganggapnya pria dengan kebiasaan aneh, tapi itu satu-satunya cara meredakan emosi yang bergejolak.
Setelah beberapa lama kemudian, Alex berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Pikiran yang mulai tertata rapi di bawah guyuran air shower yang begitu berpengaruh padanya, beban terasa luntur bersama air yang mengalir.
Hari semakin larut, Alex tak bisa tidur memikirkan masalah mengenai bisnis ilegalnya. Sengaja membuka jendela, membiarkan angin masuk menerpa wajah tampannya. Suasana yang membuatnya tenang, di tambah dengan segelas anggur menjadi teman di saat sepi.
"Walau kehidupan ini begitu memaksaku, setidaknya aku salah satu yang beruntung. Mafia itu mencoba untuk memeras ku, itu artinya dia tidak tahu siapa lawan yang mereka hadapi." Alex tersenyum tipis seraya meneguk minuman anggur dalam sekali tegukan hingga gelas kecil itu kosong, penasaran mengenai kekuatan musuhnya kali ini.
****
Alex dengan persiapan penuh, beberapa alat senjata tajam melekat di tubuhnya. Melakukan semuanya harus dalam kesempurnaan, tak ingin ada kesalahan walau kecil kemungkinan.
Akhirnya pekerjaan di perusahaan terpaksa ditinggalkan dan menyerahkan kendali penuh pada asisten Dinu dan juga Layla.
__ADS_1
"Berani menghalangiku sama saja menjemput ajal mereka." Alex keluar dari ruangan menuju lokasi pengekspor obat terlarang, masih saja belum terkendali.
Beberapa orang menyambut kedatangannya, sekitar dua puluh orang. Delapan orang pria berbaju hitam dengan badan kekar mengawal perjalanannya, tidak ada rasa takut maupun waspada karena dirinya tidak takut kematian. Ya, Alex tidak takut mati, dirinya sudah kebal akan penyiksaan yang selalu di dapat dalam keluarga Mateo, bahkan dirinya hampir mati juga sekarat.
"Apa mereka masih bersikukuh minta persenan?" tanya Alex tanpa menoleh, terus berjalan cepat.
"Masih Tuan." Sahut sang asisten bawah tanah bernama Jimmy.
"Hem, itu berarti mereka mengibarkan genderang perang. Siapkan kapal untukku!" Alex memasang kacamata berwarna hitam menambah pesona juga ketampanan, menatap sekilas pada asisten Jimmy dan kembali fokus berjalan.
Alex tetap memerintah pasukannya untuk mengirim obat terlarang tanpa membayar upeti yang diminta, dia tidak takut pada siapapun.
"Kembali kirimkan semuanya!" perintahnya.
"Tapi Tuan…beberapa orang dari kelompok mafia tak akan melepaskan kita begitu saja."
"Aku tidak ingin dirugikan, jika mereka masih tetap ngotot minta upeti? Lebih baik perang," ucapnya dengan tenang juga santai.
"Baik Tuan." Jawab mereka dengan serempak.
Alex mengangguk pelan kepalanya, masuk ke dalam kapal besar dan pengamanan yang sudah di perhitungkan terlebih dahulu.
Di tengah pelayaran menuju negara tetangga, beberapa kapal besar mengelilingi mereka. Alex hanya melihat interaksi dari anak buahnya dengan anak buah dari kapal musuh, mereka terus memeras membuatnya kehilangan kendali dan melemparkan belati dari kejauhan hingga musuh mati. Bidikan lembaran dari belatinya tak pernah meleset, tepat di bagian jantung yang membuat pria malang itu mati di atas kapalnya.
Beberapa orang yang mengintai dari kapal musuh mengetahui serangan Alex pada salah satu awak kapal, mereka sangat marah dan terjadilah serangan balasan.
Bukan Alex namanya jika tak memperhitungkan taktik, membiarkan lawan menyerang dan masuk ke dalam kapalnya. Setelah itu, dia lebih leluasa membantai satu persatu di antara mereka, menghunus dada musuh hingga mati dalam satu tebasan.
Alex yang mengenakan topeng juga bertemu dengan seorang pria yang juga mengenakan topeng, sudah dipastikan jika itu adalah pemimpin dari para perompak. Dia menyunggingkan senyuman yang sangat tipis, lalu bergerak cepat meraih seutas tali yang terhubung di kapal musuh. Jalur yang sangat cepat hingga dirinya bisa berhadapan langsung dengan pemimpin mafia yang menghalangi bisnisnya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau mundur!" ucap pria itu yang memberi peringatan.
"Laut dan kawasan ini bukanlah milikmu tapi negara." Balas Alex tak kalah sengit.