
Layla keluar dari ruangan CEO dengan begitu anggun, tak peduli apa yang di pikirkan oleh Alex padanya. Memegang bibir teringat akan tindakan berani mencium sang atasan, hanya karena perkataan yang membuatnya emosi.
Dia berlari menuju toilet, mencuci wajahnya dan melihat pantulan bayangannya yang ada di dalam cermin. "Aku menciumnya? Astaga…apa yang akan dia pikirkan mengenaiku? Semoga itu bukan ciuman pertamanya, aku merasakan dirinya sangat kaku sekali, entah karena terkejut atau itu ciuman pertama." Layla kembali menyiram wajahnya dengan air, memikirkan dan berharap itu tidak benar.
"Dia sangat kaku sekali, aku rasa itu memang ciuman pertamanya." Terka Layla yang tertawa kecil sudah merenggut hak wanita lain, beruntung dirinya cukup berpengalaman dalam hal itu dan tahu siapa yang baru merasakannya.
Sementara disisi lain, Alex masih diam membeku membuat seseorang kebingungan. "Apa Tuan baik-baik saja?" tanya asisten Dinu tampak khawatir.
Alex segera memecahkan lamunannya, mengalihkan pandangan pada sang asisten. "Aku baik-baik saja." Lirih pelannya.
"Apa Tuan yakin?" tanya asisten Dinu sekali lagi yang memastikan jika sang atasan dalam keadaan baik.
Alex hanya membalasnya dengan anggukan kepala. "Apa yang kau lakukan di ruanganku?"
"Apa Tuan lupa? Saya akan ke sini untuk memantau keadaan tuan sekaligus meminta beberapa berkas, aku sudah selesai mengerjakan pekerjaanku."
"Kerja bagus, tapi aku tidak butuh bantuanmu. Aku masih bisa melakukannya sendiri, apa kau melihat apa yang terjadi di dalam ruangan ini?"
Pertanyaan yang dilontarkan Alex membuat asisten Dino menautkan kedua alis dengan keheranan, tak tahu apa yang dibicarakan oleh sang atasan. "Aku baru saja sampai di ruangan dan melihat nona Layla keluar dari ruangan ini."
Alex bisa bernafas lega tidak ingin ada yang tahu apa yang terjadi antara dirinya dan juga sang sekretaris. "Syukurlah tidak ada yang tahu kejadian tadi," ucapnya di dalam hati.
"Jika Tuan tidak membutuhkan bantuan aku akan pergi."
__ADS_1
"Ya, kau boleh pergi."
Setelah mengusir sang asisten Alex kembali menyandarkan tubuhnya di kursi kebanggaan yang selama ini dijunjung oleh kakeknya, sangat tidak mudah mempertahankan perusahaan di saat dirinya belum menjadi apa-apa.
Perjalanan yang penuh berliku dia rasakan, usianya yang masih satu hari sudah diculik oleh keluarga Mateo dan di saat itulah dirinya mendapatkan penyiksaan demi siksaan yang terus membekas, bahkan dirinya sudah kebal merasakan semuanya.
Namun ada satu penyesalan yang masih hinggap di hati, yaitu dendamnya belum sempurna karena belum membunuh anak laki-laki ketiga dari keluarga Mateo. Sampai saat ini dia belum menemukan di mana keberadaan Mike, tidak ada yang tahu akan kepergiannya bak ditelan bumi.
"Kenapa masalahku terus saja bertambah dan tidak ada penyelesaiannya sama sekali? Dendamku belum usai, ditambah lagi pekerjaan yang selalu menggerogoti tubuh, kakek yang memintaku untuk segera menikah. Kehidupanku bagaikan benang yang kusut tidak ada penyelesaian dan juga urusan yang tuntas." Monolognya sembari mengeluh.
Di malam hari, kediaman Anderson. Seorang pria tua yang tengah menatap sebuah album foto yang sudah menjadi rutinitasnya di setiap malam, dia merasakan tenang melihat album lama kenangan bersama sang istri dan juga anaknya. Namun satu hal yang tidak ada yang mengetahui, sebuah rahasia dibalik foto seseorang membuatnya tampak sedih.
"Maafkan aku." Lirih David yang tampak sedih, melihat foto seorang pria tak lain adalah anaknya dari luar nikah. menyesal karena selama ini telah mengabaikan anak kandungnya sendiri, hanya mengakui Aidar sebagai anak semata wayang di hadapan publik.
Dia tidak ingin bertanggung jawab dan menganggap kalau itu bukanlah darah dagingnya, namun hasil tes DNA tidak sesuai dengan ekspektasi, sembilan puluh sembilan persen dirinya adalah ayah biologis dari janin yang dikandung oleh wanita itu tapi dia tetap tidak mau bertanggung jawab.
Penyesalannya dimulai di saat diam-diam memantau wanita yang mengandung anaknya, tidak pernah terlibat memenuhi kebutuhan anak dari hasil hubungan terlarang. menganggap semua itu adalah air yang harus ditutupi dari semua orang, tapi dia tidak tahu jika masalah itu masih saja melukai seseorang yang tak lain adalah anak dari wanita yang pernah dia nodai.
Prank!
Seseorang melempar vas bunga dan juga beberapa aksesoris yang terbuat dari kaca, meluapkan seluruh kekesalan yang ada di hati mengingat kejadian masa lalu karena tidak pernah dianggap oleh ayah kandungnya sendiri. Dirinya hidup dalam kesengsaraan dan juga kemiskinan, tekad untuk menjadi orang kaya menjadikannya lupa akan didikan sang ibu, untuk tidak menyimpan dendam tapi hasratnya dalam pembalasan dendam tak bisa hilang walau di depan waktu.
"Aku tidak akan mengampunimu David Anderson, karena apa yang telah aku lalui selama ini kau harus membayarnya!" geram pria itu dengan api amarah yang begitu menggebu-gebu.
__ADS_1
Pria itu segera meraih ponsel dan menghubungi seseorang yang tak lain adalah Jessie, wanita yang pernah ditemui dan mengajaknya bekerja sama.
"Aku ingin kau bertindak dengan cepat!"
"Akan aku lakukan tapi jangan lupakan bayaranku."
"Aku tidak mempermasalahkan uang, yang terpenting kau bisa menjebak Alex dan segera miliki pria itu."
"Bisa diatur tapi satu pintaku, jangan pernah menyakiti ibuku!"
"Ibumu aman selagi kau terus menjalankan misi."
"Jangan mengingkari perkataanmu itu."
"Tentu saja."
Pria itu tertawa setelah sambungan telepon selesai, dirinya mendapatkan pion karena berhasil mengendalikan Jessie lewat seorang wanita yang menjadi istrinya. Hubungannya dengan Jessie adalah anak tirinya, karena kelicikan dan ambisi menjadikan gadis malam itu sebagai bidak dalam rencananya.
Jessie menghela nafas diliputi oleh perasaan hati yang begitu cemas memikirkan kondisi sang ibu yang baru beberapa tahun dia temui, awalnya dia tidak percaya jika orang tuanya masih hidup, nyatanya pertemuan itu telah diatur sedemikian rupa oleh ayah tirinya yang begitu berambisi untuk merenggut harta dari keluarga Anderson.
"Jangan sampai pria itu melukai ibuku, jika dia ingkar janji dan menggores sedikit saja maka aku akan menghabisinya." Gumam Jessie ya sudah muak karena selalu diperintah oleh ayah tirinya.
Jessie yang dulunya lugu dan juga naif, semenjak kedatangan ayah tiri yang hadir dalam kehidupan mulai membuatnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dia melakukan semua perintah hanya karena uang dan mengumpulkannya, berniat untuk membawa sang Ibu pergi dari kungkungan sang ayah tiri bernama, Rudra.
__ADS_1