
Alex mulai risih dengan gadis yang ada di dalam mobilnya yang tidak ingin turun, dia mengerutkan dahi seraya menatapnya dengan tajam. "Apa yang kau tunggu? Keluar dari mobilku!" bentaknya yang sudah jengah dengan gadis di sebelahnya itu.
"Eh iya, aku hampir lupa."
Alex menggelengkan kepalanya setelah memastikan gadis asing itu keluar dari mobilnya, dia segera menghubungi seseorang yang tak lain adalah asisten Jimmy dan seperti biasa memantau. Dia sangat bangga memiliki bawahan yang setia dan bahkan lebih baik daripada asisten Dinu, kepercayaan pada bawahan tak pernah di ragukan lagi. Tapi sayang, jika bawahannya dari dunia bawah tanah sangatlah dingin dan juga cuek dengan sekeliling, daya tarik sekaligus alasan orang lain tak tahan berada dalam satu ruangan.
"Halo don."
"Iya, halo."
"Apa don membutuhkan bantuanku?"
"Yap, kau pasti sedang libur bukan?"
"Begitulah don."
"Baru saja aku mengirimkan alamat pastiku sekarang ini, kau cepatlah datang kemari. Aku menunggumu!"
Tanpa menunggu perkataan dari sang bawahan, lebih dulu Alex mematikan ponselnya dan terkekeh. "Biarkan saja dia mengurus gadis asing itu." Kekehnya.
Asisten Jimmy mengerutkan dahi saat melihat lokasi yang di kirim oleh pemimpinnya itu. "Taman rekreasi?" gumam pelannya seraya berlalu pergi, tidak berpikir banyak mengingat itu sebuah perintah yang harus dilaksanakan.
Alex tersenyum, pemandangan kedua putri kembarnya berlarian membuat sang istri tercintanya repot dan lelah, anak-anaknya yang aktif adalah sebuah nikmat yang harus di syukuri. Kakinya yang tungkai dan langkah yang besar berjalan mendekati objek, menggantikan tugas Layla yang sudah lelah dan memintanya untuk beristirahat.
"Sebaiknya kau beristirahatlah sejenak, mereka biar aku yang mengurusnya." Ujar Alex yang langsung ikut bergabung dengan Flo dan Fio yang asik berlarian tanpa henti, hingga dia mengangkap salah satunya. "Tidak ada yang berlari saja, Ayah sangat pelah sekali. Apa kalian masih ingin berlarian atau masuk ke dalam, ada begitu banyak wahana permainan."
"Wah, kami ingin masuk, Yah."
Alex tersenyum bahagia sambil mengangguk, mengelus pucuk kepala kedua putrinya dengan sangat lembut. "Ayo, kita akan mencoba menaklukkan wahananya."
"Hore." Sorak twins F yang melompat kegirangan.
Alex menggendong kedua putrinya dan berjalan masuk ke dalam, lupa jika ada wanita asing yang sibuk dengan ponselnya tertinggal di luar.
Clarissa melirik sekeliling dan tidak menemukan keberadaan keluarga harmonis itu, segera memutuskan sambungan telepon dan masuk ke dalam wahana permainan. Langkah terburu-buru membuatnya tidak menyadari seseorang dia tambrak, segera berbalik untuk meminta maaf.
Clarissa mengambil ponsel mahal pria itu dan mengembalikannya kepada sang empunya, terdiam beberapa saat melihat pria matang itu sangat tampan dan juga dingin. "Wow, pria ini ternyata tak kalah tampannya dari Alex. Aku ingin mengoleksinya satu sebagai daddy sugar," ucapnya di dalam hati, wajah yang berbinar cerah terlihat jelas.
Pikiran gadis itu terus melayang, kecintaannya ingin menjadi baby sugar adalah tujuannya. Entahlah, dari kacamatanya jika dilihat segala aspek kalau pria yang ada di depannya itu bahkan lebih cocok lagi sebagai kandidat di bandingkan Alex. "Maaf, ini ponselmu." Ucapnya seraya tersenyum malu menyerahkan ponsel mahal.
"Hem." Pria dingin itu masuk ke dalam wahana permainan tanpa mengucapkan terima kasih. Ponsel mahalnya juga tak berguna di saat benda pipih itu mati total dan membuatnya kehilangan jejak, jengkel dengan gadis yang menabraknya.
"Ponselnya rusak." Asisten Jimmy dengan terpaksa berjalan menggunakan feelingnya, suasana yang begitu ramai membuatnya sedikit kesulitan, bagai mencari jarum di tumpukan jerami.
"Sepertinya kau sangat kebingungan, aku akan menuntunmu."
"Apa?" asisten Jimmy menautkan kedua alisnya penasaran, dia tidak menyangka tangannya di tuntun seperti seorang manula yang tersesat. "Aku tidak butuh bantuanmu." Jawabnya dingin sambil melirik lengannya yang ditarik gadis yang sangat menyebalkan itu.
"Anda tidak perlu sungkan dan anggap aku sebagai petunjuk jalanmu, maaf mengenai ponselmu yang tak sengaja aku rusak." Tutur Clarissa yang tersenyum penuh percaya diri, bahkan setelah pria matang di sebelahnya mengikutinya.
Asisten Jimmy hanya terdiam sambil mengikuti kemana gadis itu membawanya, bahkan dirinya bingung jika gadis yang tidak di kenalnya itu sudah seperti pemandu, ya…pemandu sesat. "Salah jalan."
__ADS_1
"Salah jalan, bagaimana bisa? Kau pasti pertama kali kesini, tenang saja aku tahu jalanannya." Elak Clarissa yang tetap pada pendiriannya, bermaksud membuat pria matang yang sangat tampan itu bersamanya dan melupakan tujuan utama.
Asisten Jimmy mengedarkan pandangan ke seluruh tempat ramai akan pengunjung, hingga matanya menangkap sosok keluarga kecil yang harmonis tak jauh darinya. "Aku harus pergi!" segera dia menepis tangan yang terus saja bergelayut manja di lengan nya, mengalami nafas lega jika telah berhasil menjauh dari gadis yang membuatnya sangat risih.
Clarissa melihat punggung pria tampan yang sangat dia kagumi sesuai dengan tipenya, tapi sialnya dia lupa menanyakan nama pria itu karena keasikan mengobrol, lebih tepatnya dirinya mengoceh panjang lebar, tidak tahu apakah pria itu mendengarkan bualan nya ataukah tidak.
Sontak kekecewaan berubah senyuman manis, pucuk di cinta ulam pun tiba. Dirinya baru ingat saya dari tadi bertujuan untuk mencari keberadaan Alex dan juga keluarganya, namun pria yang menjadi incaran terbarunya juga ada bersama mereka. "Ini kesempatanku menjadi baby sugar." Lirihnya pelan bersorak riang, berlari menghampiri.
"Ck, apa butuh waktu lama untuk kau datang menemuiku?" ucap Alex sedikit ketus, dirinya terpaksa menunggu cukup lama disana.
"Maaf don, ada sedikit kendala saat aku menemuimu."
"Jangan mencoba untuk mencari alasan." Alex yang tidak mau tahu itu segera berlalu pergi, tapi seseorang kembali mencatat langkah mereka dia membuatnya harus mengucapkan wajah dengan kasar.
"Kenapa kalian meninggalkan aku sendiri di luar?" tanya Kak Clarissa dengan raut wajah sedih.
"Kalau dikasih dengan ponselmu, kami pikir kau akan menyusul." Jawab Alex santai.
"Ya, kau benar. Apa aku boleh bertanya?"
"Hem, katakan!" Sudah dari tadi Alex menahan emosinya untuk menghadapi gadis itu yang sangat cerewet, melebihi dari kedua putri kembarnya namun dia tetap berusaha bersabar dan bersabar hingga kesabaran itu kian mengikis.
"Siapa pria tampan di sebelahmu?"
Terlintas ide di benak Alex untuk mengerjai asistennya, apalagi dia tidak ingin diganggu oleh gadis itu mengenai momen kebersamaannya antara istri dan juga anaknya. Untuk itulah dia memanggil asisten Jimmy, memberikan perintah untuk menjaga Clarissa sementara dirinya menemani keluarga kecilnya.
"Dia asistenku, kalian bisa mengobrol atau apapun tapi jangan ikuti kami, dan kau…aku ingin kau menjaga gadis itu!" ucapnya yang segera mengalihkan pandangan pada sang asisten memberikan perintah, tidak peduli bagaimana pria itu ingin menolaknya.
Sekarang tidak ada yang pengganggu membuat Alex bebas, ingin melakukan apapun menghabiskan waktu bersama dengan keluarga di akhir pekan. Lain halnya dengan asisten Jimmy yang begitu tersiksa mendapatkan perintah, bahkan lebih baik dirinya memegang senjata dan menghadapi musuh berbahaya sekalipun. Tapi jangan sesekali di tempatkan untuk menjaga gadis cerewet itu yang berusaha mendekatinya, itu sangatlah menjijikkan dan juga menyesalkan menempel bagaikan seekor pacet yang tidak mudah melepaskannya.
Alex membawa anaknya untuk mencoba wahana permainan, menghabiskan waktu bersama di akhir pekan karena di malam hari dirinya harus pergi ke markas untuk menyelesaikan permasalahan dan urusan pekerjaan. Jujur saja dirinya sangat terkekang dengan semua tanggung jawab yang diserahkan oleh sang kakek kepadanya, namun apalah daya jika dirinya telah dinobatkan menjadi pewaris dari keluarga Anderson. Tidak ada pilihan lain untuk mengelak selain menerima kenyataan yang ada, andai dirinya mempunyai anak laki-laki sudah dipastikan akan menjadi pengganti karena menurut silsilah dari keluarga Anderson jika perempuan tidak diizinkan atau berkenan menjadi seorang Don di dunia bawah tanah.
"Sudah seharusnya aku berusaha mendapatkan anak laki-laki sebagai penerus ku nanti." Gumam Alex di dalam hatinya dia kembali tersenyum cerah saat itu sudah ada di pikirannya.
Alex tersenyum melihat tertawa dari anak anak dan juga istrinya, betapa hal itu sangatlah menyenangkan membuat ketiga malaikat yang ada di hatinya tersenyum karena hal-hal sepele.
"Jenapa Ayah diam saja ayo kita menaiki wahana itu." Flo menarik tangan Alex, mereka sangat tertarik untuk menaiki bianglala, apalagi pemandangan saat berada di atas sangatlah menyenangkan.
Di dalam bianglala mereka berada di puncak, kedua anak kembar mereka begitu antusias dan juga bersemangat melihat pemandangan yang begitu sangat indah dirinya mendekati sang istri seraya berbisik. "Bagaimana kalau kita menambah anggota keluarga pasti sangat menyenangkan."
"Aku tidak mengerti."
"Aku ingin kau hamil lagi tapi kali ini berikan aku bayi laki-laki." Bujuk Alex dengan kedua mata yang berkedip beberapa kali, berharap jika istrinya mengabulkan permintaannya.
"Kenapa napa tiba-tiba sekarang kau menginginkan bayi laki-laki?" tanya Layla yang mencurigai suaminya.
"Aku ingin anak laki-lakiku akan menjadi penerus dunia bawah tanah dan membantuku mengelola tiga perusahaan sekaligus.
Layla terdiam beberapa saat dan mengabaikan permintaan dari suaminya, ada rasa yang tidak tega dengan permintaan itu.
"Bagaimana?"
__ADS_1
"Aku tidak mempermasalahkannya lagi pula kedua putri kita sudah bisa mandiri. Tapi aku tidak yakin juga mendapatkan anak laki-laki, jadi aku ingin kau jangan berharap terlalu tinggi."
"Tentu saja, berusaha adalah hal yang harus dilakukan untuk pertama kali setiap langkah yang mempunyai tujuan."
Sementara di sisi lain, asisten Jimmy sudah sangat tersiksa berada di samping Clarissa. Bagaikan sebuah hukuman dan waktu juga berjalan dengan sangat lambat, hanya mendengar suara bualan yang tidak jelas dari gadis itu yang terus saja mengganggunya.
"Bisakah kau diam?" ketusnya.
"Bagaimana aku bisa diam jika berhadapan dengan pria tampan seperti ini, jadikan aku sugar baby mu." Pertanyaan yang menjurus memberikan keseriusan kepada Clarissa yang berterus terang jika dia ingin menjalin hubungan dengan asistens Jimmy, tentunya dengan sensasi yang berbeda karena umur mereka terpaut sepuluh tahun.
"Sepertinya kau salah makan."
"Tidak ini permintaan dari hatiku kau sangat sesuai dengan tipeku, tolong jadikan aku baby sugar."
"Kau masih muda dan memiliki tujuan untuk hidup, apa kau tahu apa itu artinya sugar baby?" asisten Jimmy mulai jengkel Itu memajukan langkahnya memojokkan gadis itu yang terus berjalan mundur memojokkannya di dinding seraya menatapnya dengan tajam, deru hembusan nafas mereka saling bersatu dan tetapan mereka saling bertemu.
Dengan cepat Clarissa menganggukkan kepala, jujur saja dirinya tidak tahu apa tugas dari sugar baby. "Aku hanya melihat jika temanku memiliki sugar daddy dan kehidupannya berubah, semua kebutuhan hidupnya dan keinginannya di penuhi."
Asisten Jimmy tersenyum miring, gadis yang sangat polos di matanya begitu berambisi menjadikannya sugar daddy tanpa tahu apapun. "Sugar baby itu berarti kau harus menyerahkan aset berharga mu dengan suka rela pada pada seorang pria lebih tua sepuluh tahun atau bahkan lebih. Apa kau sanggup menyerahkan yang satu itu?" kecam nya seraya melirik kedua benda kenyal yang berukuran standar para gadis, tersenyum merendahkan dan berlalu pergi.
"Tunggu dulu! Hanya ini saja? Aku bisa memberikannya." Clarissa berlari mengejar asisten Jimmy dan berharap lebih.
Asisten Jimmy mengedarkan pandangannya jengah. "Menyerahkan dirimu dalam artian kau rela tidur dengan pria itu."
Deg
Clarissa sungguh tak menduga jika pekerjaan dari sugar baby sampai hal sejauh itu, tidak mengira jika beberapa temannya di Paris yang berkencan dengan pria yang pantas di sebut kakek-kakek tua.
"Aku pikir hanya bersenang-senang saja." Ucapnya polos, asisten Jimmy tertarik dengan pembahasan itu.
"Ya, bersenang-senang di atas ranjang. Jadi lupakan keinginan konyol mu itu dan carilah orang lain!" tekan asisten Jimmy tidak tertarik dengan daun yang lebih muda darinya.
Clarissa diam termenung beberapa saat kemudian mengejar asisten Jimmy, dan melupakan misinya untuk datang ke Indonesia.
Gadis polos itu selalu mendapatkan pengajaran buruk dari nenek dan juga kakeknya, yaitu menginginkan agar dirinya bisa mendapatkan hati Alex Anderson yang sangat terkenal itu. Menjadi simpanan atau apapun yang terpenting dirinya terikat pada sang pewaris, namun saat mengenal asisten Jimmy yang bahkan lebih menarik membelokkan arahnya dengan sangat cepat.
Kedua orang tua kandung John memanfaatkan cucu mereka untuk membuat Alex Anderson jatuh ke dalam pelukan Clarissa, tidak masalah menjadi yang kedua atau simpanan. Rencana di otak tua mereka yang begitu berambisi, dan lupa siapa yang tengah mereka hadapi.
"Kenapa Clarissa tidak memberikan kabar apapun mengenai Alex Anderson? Apakah dia berhasil mendapatkan hati pria itu?" ucap seorang wanita tua yang menatap suaminya cemas.
"Ambisi dari gadis itu yang sangat ingin menjadi sugar baby, tentu saja dia akan bersemangat mengejar Alex."
"Kenapa kita tidak memikirkan ini lebih dulu, pasti Clarissa sudah menguasai Alex."
"Hah, entahlah. Aku merasa ini tidak akan berjalan dengan baik," ujar seorang pria tua yang meragukan kemampuan cucu mereka.
"Ck, kau malah mematahkan semangat."
"Mau bagaimana lagi? Dia memang licik tapi sangat bodoh tidak bisa menggunakan otaknya dengan benar."
"Berhentilah untuk mengatakan Clarissa buruk di hadapanku."
__ADS_1
Pria tua itu hanya mendukung rencana istrinya, dirinya tak rela jika identitas John di pakai oleh Arden hingga puluhan tahun tanpa dikenali seorang pun. Ide gila yang tentunya sang istri menjadi biang masalah yang terjadi, menjadikan pengabdian anaknya sia-sia.