
Disisi lain, seorang pria tengah meneguk alkohol di dalam gelas kecil yang ada di tangannya. Alih-alih untuk mengalihkan pikirannya, masalah semakin besar di kala terus terbayang rasa sakit yang mendera melihat orang yang di cintainya bersama dengan pria lain berciuman tepat di hadapan mata, tak terlukiskan oleh kata-kata.
Gelas yang ada di genggamannya dilempar ke atas lantai dan pecah menjadi serpihan kaca, seperti itulah hatinya saat ini.
Roy mengerang kesal mengingat sikap Lex yang memanasinya lewat Layla, sang mantan kekasih.
"Alex sialan. Berani sekali dia menyentuh Lala di hadapanku, dia belum tahu sedang berurusan dengan siapa. Aku akan membunuhmu, lihat saja nanti." Tekad Roy bulat.
****
Jessie melihat seseorang yang masuk ke dalam ruangan tempat dirinya di rawat, patah tulang akibat insiden dan serangan Layla. Seorang wanita paruh baya dengan kondisi yang memprihatinkan, bulir bening terlihat jelas dari kejauhan.
"Ibu." Lirih Jessie menatap sendu, tak terasa air matanya berurai jatuh membasahi kedua pipi. Wanita yang selama ini dia temui tapi tak di izinkan oleh Rudra, hanya bisa menjanjikan dirinya dengan sesuatu yang tidak pasti dan terjerumus dalam lembah kesesatan.
Wanita patuh baya itu berjalan dengan perlahan, tangisan haru dapat bertemu dengan anaknya setelah sekian lama di sekap oleh suaminya. Tangan gemeteran di kala menyentuh pipi Jessie, hatinya dapat merasakan penderitaan sang putri.
"Jessie Sayang." Wanita itu memeluk erat tubuh anak semata wayangnya, mengecup beberapa kali di bagian wajah. "Ibu sangat merindukanmu, tapi kenapa di pertemuan kita kau berbaring di tempat ini?"
"Ini karena kesalahanku, Bu." Jessie menundukkan kepala, sedikit merasa bersalah.
Keduanya saling melepas kerinduan dan di saksikan oleh beberapa orang di luar ruangan, mereka ikut terharu tapi tidak dari Alex yang tidak mempunyai empati lagi pada adik angkatnya.
Tak sengaja mata Jessie menangkan empat orang di luar ruangan, merasa malu dan ragu untuk meminta mereka masuk ke dalam. "Masuk saja!"
Alex, Layla, John, dan David masuk ke dalam ruangan itu.
"Kenapa kau bisa seperti ini?" tanya ulang wanita paruh baya yang mencemaskan putrinya.
__ADS_1
"Maaf, itu karena aku Bi." Sela Layla yang mendekat, ingin bersimpati namun mengingat perlakuan licik Jessie malah mengundurkan niatnya yang sekarang membatu.
"Berani sekali kau melakukan hal yang buruk pada anakku? Apa kau tidak di ajari sopan santun oleh kedua orang tuamu khususnya seorang ibu?" Dahlia menatap Layla tajam dan mengintrogasi, tidak bisa menerima perlakuan dari orang lain mengenai anaknya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Jessie menggeleng pelan saat Alex ingin mengungkapkan kebenaran, dia tahu bagaimana hati seorang ibu yang begitu mencemaskan anaknya. "Andai itu terjadi, Bi. Tapi aku tidak mempunyai siapapun selain kakekku, jadi maafkan aku."
"Pantas saja kau tidak di ajari cara berperilaku."
Alex yang sudah tidak tahan lagi, apalagi Jessie hanya terdiam dengan kesalahan. "Sebelum anda menuduhnya, sebaiknya cari akar permasalahan yang terjadi. Coba tanyakan langsung pada anakmu!" tekannya seraya melirik sang pelaku tajam.
Dahlia menatap putrinya setelah mendapatkan kecaman Alex. "Jessie, apa yang dimaksud olehnya?" tanyanya dengan raut wajah penasaran.
"Kau yang bicara atau aku?" kecam Alex.
"Aku saja. Maaf Bu, apa yang terjadi padaku akibat ulah yang telah aku perbuat." Jessie menghela nafas lesu di saat dirinya harus mengungkap kesalahan yang pasti membuat sang ibu kecewa dengannya.
"Katakan dengan benar." Cetus Dahlia.
Dahlia sungguh tak menyangka jika anaknya bisa berbuat dan berpikiran sepicik itu, menutup kedua mulut akibat shock. "Kamu melakukan itu pada orang yang menyayangimu setulus hati?"
"Maaf Bu, sungguh aku sangat menyesal."
"Kau membuatku kecewa, sangat malu dengan apa yang terjadi ini. Alex sudah baik dan merawatmu seperti adiknya, menjagamu tanpa kenal lelah. Tapi apa yang kau lakukan sungguh di luar batas." Ujar Dahlia yang tak berani menatap semua orang. Dia berbalik badan dan memegang kedua tangan lentik Layla, berharap mendapatkan maaf. "Tolong maafkan kata-kata kasarku tadi, aku mengira___."
Belum sempat Dahlia menyelesaikan perkataannya lebih dulu di sanggah Layla. "Apa yang Bibi katakan? Aku tidak tersinggung sama sekali." Jawabnya dengan wajah tersenyum khas.
"Terima kasih, kau memiliki hati yang bersih."
__ADS_1
"Jangan terlalu memujiku, Bi."
"Ini semua salahku, andai mungkin aku bisa mendapatkan maaf dari kalian." Celetuk Jessie menatap Alex dan juga Layla secara bergantian.
"Ya, aku akan memaafkanmu tapi jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapanku lagi. Aku sangat muak melihatnya!" Alex masih menatap Jessie dinging, kekecewaan yang masih dirasakan sampai detik ini.
"Baiklah, kami akan pergi." Dahlia tak ingin jika putrinya kembali berulah, membawanya jauh dari semua orang dan kembali memulai membuka lembaran baru.
Semua orang mulai memaafkan Jessie asal tidak pernah menunjukkan wajahnya, Alex bahkan tak memberi kesempatan kalau gadis itu mencoba membujuknya.
Jessie sangat sedih tidak bisa hadir dalam pernikahan kakak angkatnya, namun semua itu karena ulahnya sendiri yang menjauhkan ikatan mereka.
David, John, Alex, dan Layla memutuskan untuk keluar dari ruangan menyisakan ibu dan anak yang ada di dalam.
"Kami harus pergi!" David melirik John memberikan isyarat meninggalkan tempat itu. Tinggallah Alex dan Layla, keduanya diam tak ada pembahasan di antara mereka.
"Aku antar kau ke Mansion!"
"Aku sangat bosan berada di istanamu, lebih baik aku jalan-jalan menenangkan pikiran." Tolak Layla.
Alex menaikkan sebelah alis sangat penasaran. "Apa ada yang mengganggumu?" tanyanya cemas.
"Ya, pernikahan kita hanya tinggal tiga hari lagi dan artinya aku harus terikat padamu seumur hidupku. Bukankah itu hal yang konyol? Dua orang yang diikat dalam pernikahan tanpa rasa cinta di hati." Ujar Layla sambil menghela nafas.
"Kau pasti jatuh dalam pesonaku."
Sekilas Layla menoleh seraya menunjukkan ekspresi mual. "Kau bukanlah tipeku, jadi jangan mengharapkan lebih."
__ADS_1
"Jangan terlalu memikirkan hal yang buruk, itu akan selalu menghantui pikiran. Benci dan cinta itu beda tipis, kau pasti tidak akan tahan melihat tubuh juga permainanku di ranjang." Bisik Alex yang berlalu pergi seraya menyunggingkan senyuman tipisnya.
"Heh, apa dia pikir aku terpesona dengan tubuhnya? Aku pernah melihat tubuh yang hampir sama, tapi tidak seberani dia." Gumam Layla yang berjalan mengikuti Alex seraya memikirkan Roy yang pernah menukar baju saat keadaan darurat dan bahkan tak sengaja di lihat oleh matanya.