
Sesampainya di rumah sakit, Alex terpaksa menunggu di luar ruangan karena tidak di perbolehkan masuk ke dalam. Penanganan pertama untuk kedua bayi kembar itu dan juga Layla yang kondisinya kritis.
Dia menari rambut seraya mengusap wajahnya kasar, menghela nafas berat serta berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.
Alex terus menunggu dokter keluar dari ruangan, tak henti-hentinya mengintip kaca pintu untuk memastikan kondisi Layla, dirinya sudah tidak bisa berpikir apapun saat otak tidak sinkron dengan pikiran.
Asisten Jimmy datang untuk menemui pemimpinnya, berjalan dengan tergesa-gesa setelah mengurus jasad Roy yang telah meninggal dunia. Dia sedih dengan kondisi yang terjadi, serangan musuh membuat pemimpinnya terlihat sangat buruk, sungguh jebakan yang luar biasa.
"Bagaimana? Kau sudah mengurusnya?" tanya Alex menatap sekilas asisten Jimmy dan kembali mengalihkan pandangan ke kaca pintu, sangat sedih dengan kondisi Layla kritis.
Dia memundurkan langkah dan duduk di kursi tunggu dengan wajahnya yang di tekuk. "Kau tahu, selama ini aku membanggakan pencapaian yang hanya dari warisan kakek saja. Bersikap sombong dan selalu merendahkan lawan, hingga tidak sedikit orang membenciku karena sikapku yang begitu sombong, kejam, juga licik. Ambisiku yang menjadi terkuat sekarang seperti tak membekas lagi, gairah ku dalam mengejarnya sudah tidak ada. Semua itu seakan tidak ada artinya lagi, aku hanya menginginkan Layla melewati masa kritisnya." Dia meluapkan seluruh perasaan di hati.
Asisten Jimmy menepuk pelan pundak pemimpinnya, dia terharu mendengarnya. "Sabarlah Don, semua yang terjadi sudah menjadi takdir dari sang Pencipta."
"Tapi tetap saja, uang dan kekuasaan ku tidak bisa menukar kesehatan Layla yang masih kritis. Lalu apa semua itu?"
Asisten Jimmy terdiam, diam-diam dia menghubungi John, David Anderson, dan Yudistira dan memberitahu kabar mengenai keadaan yang terjadi.
Sudah berapa lama mereka menunggu dokter yang tak kunjung keluar, dari kejauhan Alex melihat tiga orang dari dua belah pihak keluarga.
"Bagaimana dengan kondisi cucuku?" Yudistira sangat panik dan sangat khawatir dengan kondisi cucunya, mendapatkan kabar yang tidak mengenakan dari asisten Jimmy.
"Masih di tangani dokter." Jawab Asisten Jimmy.
John menghampiri Alex yang terlihat sangat berantakan, sedangkan David berusaha menenangkan Yudistira yang shock.
"Apa yang terjadi? Dan dimana Roy?" tanya John yang terus memojokkan Alex dengan serentetan pertanyaan.
"Supir yang bekerja dengan kakek Yudistira adalah informan mafia elang putih yang di pimpin Mike, anak ketiga Antoni Mateo yang masih tersisa. Dia menjebak kami dan menyerang secara beruntun mengerahkan semua pasukannya untuk membunuh kami saat tahu tidak akan ada bala bantuan mengingat sinyal di hutan sangat buruk." Jelas Alex yang menceritakan kejadian sebenarnya, menghela nafas dan mengeluarkannya pelan. "Roy mati karena menyelamatkan Layla dan tertembak, dia kehilangan banyak darah dan meninggal dunia."
"Dimana jasadnya? Aku harus melihatnya, dan ingin mengucapkan terima kasih padanya yang sudah berjuang menyelamatkan cucuku." Sela Yudistira.
"Aku sudah menguburkan jasadnya." Tutur asisten Jimmy. "Tuan bisa melihat pemakamannya."
"Hem." Yudistira menundukkan kepala, pengorbanan Roy yang membuatnya salut dan juga kagum. "Kenapa dokter sangat lama memeriksa Layla?"
"Layla mengalami kritis setelah melahirkan kedua putri kembarnya di pinggir jalan."
"Kritis?" Yudistira sangat shock dan hampir saja pingsan, beruntung Alex meraihnya. "Kenapa Tuhan mengujiku di saat umurku sering sekali terkejut mendengar kabar buruk?" lirihnya yang menangis.
"Jangan berburuk sangka, pasti ada hikmah yang harus kita petik. Percayakan semuanya pada Tuhan dan juga dokter yang menangani Layla." Yudistira memberikan semangat saat dua orang di hadapannya terlihat hampir putus asa.
Tak lama, dokter keluar dan langsung di kelilingi oleh pihak keluarga, mereka sangat khawatir mengenai kondisi Layla.
"Bagaimana dengan kondisi cucuku?" tanya Yudistira, berharap jika Layla baik-baik saja.
Dokter menatap anggota keluarga dari pasien sambil menghela nafas. "Tadinya kondisi pasien sangat kritis, beruntung dia cepat di larikan ke rumah sakit atau nyawanya dalam bahaya. Peralatan di rumah sakit sudah canggih, dan keadaan pasien sudah melewati masa kritis, sebentar lagi akan sadar. Saya permisi dulu!" jelas sang dokter yang berlaku pergi.
Semua orang bernafas lega mendengar kabar baik, terutama Alex yang langsung masuk ke dalam ruangan. Melihat tubuh pucat yang terbaring di atas brankar, perlahan dia membelai rambut Layla menatapnya penuh cinta. Memegang tangan lentik dan mengecupnya berharap wanita itu segera sadar.
Mereka yang ada di luar ruangan tak ingin menganggu dan memberikan ruang untuk keduanya, asisten Jimmy membawa pihak keluarga untuk menemui baby twins yang lahir dengn selamat, sehat tanpa kekurangan apapun.
__ADS_1
Perlahan Layla membuka matanya, melihat Alex yang meneteskan air mata, dia mengusap lembut seraya tersenyum. "Kau tidak pantas mengeluarkan air mata," cibirnya.
"Akhirnya kau sadar." Alex memeluk tubuh wanita itu dan mengecup wajah beberapa kali, sebagai tanda jika dirinya sangat bahagia.
"Dimana putriku?" tanya Layla menatap Alex lemah.
"Mereka baik-baik saja, kau tidak perlu cemas."
"Alex, tolong antarkan aku menemui bayi ku." Bujuk Layla.
"Tidak, kondisimu baru saja melewati masa kritis. Aku akan membawakan baby twins!" Alex segera beranjak dari duduknya untuk mengabulkan keinginan Layla, baru beberapa langkah dia melihat kedua kakek mereka menggendong bayi kembar.
"Kau tidak perlu repot-repot, kami sudah membawanya kesini." Yudistira tersenyum karena dirinya memiliki dua cicit perempuan.
"Bantu aku!" lirih pelan Layla yang ingin bersandar, dengan sigap Alex membantunya duduk. "Berikan mereka padaku, pasti mereka sangat haus." Tidak peduli kondisinya, dia hanya ingin memberikan ASI pertama untuk kedua putrinya.
"Sepertinya kami harus pergi." David memberi isyarat kepada Yudistira dan John kembali memberikan uang untuk keluarga kecil itu.
"Mereka sangat lahap sekali." Celetuk Alex yang bahagia.
"Kau benar."
"Apa kau sudah mempunyai nama untuk mereka?" Alex mengarahkan matanya tertuju pada Layla.
"Belum, aku tidak memikirkannya." Layla tidak begitu semangat dengan apa yang mereka lewati, kematian Roy yang melindunginya masih terngiang di dalam ingatan.
Alex memahami situasinya, mengelus kepala Layla lembut dan memberikan semangat. "Setelah kau keluar dari rumah sakit, kita akan menjenguk Roy."
"Hem."
Seketika Layla menatap Alex. "Kau sudah memiliki nama untuk mereka?"
"Aku sudah memikirkan nama mereka saat kau hamil enam bulan."
"Eh."
"Apakah boleh?" mata berbinar penuh harap di tunjukkan Alex.
"Tentu saja boleh, aku tidak menyiapkan namanya."
"Bagaimana jika nama baby twins, Flora dan Fiona?"
"Flora dan Fiona? Itu terdengar seperti Flora dan Fauna."
"Jangan salah, itu mempunyai arti. Flora berarti mekar atau berkembang, dan Fiona artinya putih dan cantik. Kau bisa memanggil mereka Flo untuk anak pertama dan Fio untuk anak kedua." Jelas Alex bersemangat.
"Hem baiklah, namanya juga tidak terlalu buruk. Tapi siapa kakaknya?"
"Kakaknya yang memiliki tahi lalat di belakang punggungnya."
Sementara Layla manggut-manggutkan kepala, mereka tampak seperti keluarga bahagia. Namun tidak ada yang tahu mengenai siapa ayah kandung dari kedua bayi itu.
__ADS_1
Layla memperhatikan penampilan Alex yang sangat berantakan, bertelanjang dada dan tak sengaja melihat bekas kuku menancap di punggung pria itu.
"Maaf karena sudah menyusahkanmu, dan juga bekas kuku di punggungmu. Itu pasti sangat sakit, tapi bukan kesalahanku sepenuhnya, karena saat itu aku tidak sadar apa yang telah aku lakukan." Ucap Layla sedikit menyesal.
"Hanya bekas kuku saja tidak perlu menyalahkan dirimu, harusnya aku yang minta maaf padamu tak bisa melakukan apapun, otakku tiba-tiba blank. Saat itu aku sangat panik dengan situasi yang terjadi apalagi tidak ada pengalaman mengenai persalinan yang aku pelajari dari paman John." Alex sangat malu jika dirinya tidak melakukan pengorbanan sebesar apa yang dilakukan oleh Roy, bahkan pria itu mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan nyawa Layla.
Alex tak bisa membendung perasaannya ungkapan cinta saat di dalam perjalanan menuju rumah sakit benar nyata adanya, sedikit keraguan yang ada di hati.
"Jika kau ingin mengatakan sesuatu katakan saja!"
"Aku tidak tahu dan tidak menyadari mengenai perasaanku padamu, saat melihat tubuhmu pingsan dan tak berdaya aku takut akan kehilanganmu. Aku mencintaimu, Layla."
Layla terdiam mendengar pernyataan cinta dari Alex dia juga merasakan hal yang sama, di mana dirinya juga mencintai pria itu. Tapi situasinya sangatlah berbeda identitas dari kedua bayinya juga belum jelas apakah itu pria yang ada di sampingnya atau Roy yang telah meninggal dunia.
"Apa kau juga mencintaiku?"
"Aku tidak bisa memberikan jawabannya untuk saat ini, berikan aku waktu."
Tiba-tiba suasana menjadi hening, baik Alex maupun Laila hanya dalam pikiran masing-masing mengenai perasaan yang begitu rumit.
"Tapi kapan kau akan memberikan aku jawaban?"
"Setelah melakukan tes DNA."
"Aku sangat yakin jika Flo dan Fio adalah putriku."
"Tapi aku membutuhkan kepastian."
Setelah memberikan ASI yang cukup, dia minta Alex untuk meletakkan bayi kembar itu ke tempat tidur khusus bayi yang telah disediakan di sana.
Yudistira, David, dan John masuk ke dalam ruangan, melihat baby F yang sudah terlelap tidur.
"Apa kalian sudah memberikan nama pada bayi kembar itu?" tanya David yang bersemangat, dia juga mengharapkan hal yang diinginkan oleh Alex jika bayi kembar itu adalah cicit kandungnya.
"Alex sudah memberikan namanya, Flora dan Fiona."
"Eh, kenapa nama itu terdengar flora dan fauna? Apa cicitku itu tumbuhan dan juga hewan?" celetuk Yudistira mengerutkan dahi.
"Tapi aku menyukai nama itu Kek, kita bisa memanggil Flo dan Fio."
"Terserah kau saja asal kalian sehat." Pasrah Yudistira.
*
*
Alex sangat bahagia semenjak kelahiran baby Flo dan baby Fio, berdampak sangat baik padanya. Dia yang di kenal gila kerja, sekarang mengurangi waktu kerja dan rela bolak-balik ke kediaman Yudistira.
"Bagaimana dengan baby F?" tanya Alex bersemangat.
"Mereka tertidur setelah minum ASI, tolong jangan membuatku repot dengan membangunkan mereka. Kau tidak akan tahu bagaimana setiap malam aku begadang." Keluh Layla.
__ADS_1
Alex memperhatikan kedua mata Layla seperti mata panda, dia merasa kasihan dan menghentikan niatnya untuk menemui dan membangunkan bayi kembar itu.
"Maafkan aku yang tidak tahu apapun." Ucapnya menyesal.