
Alex berhasil menemui lokasi Rudra yang tempo hari melarikan diri, asisten Jimmy dan beberapa pasukan sudah melacak lokasinya. Dia mengerahkan semua kemampuan yang di miliki hanya untuk menyelesaikan sebuah masalah yang menyebabkan dirinya terjebak dalam pernikahan yang akan diadakan sebentar lagi.
Seorang pria tua yang menjadi tawanan, tengah duduk di kursi dengan tubuh yang diikat tali, sebuah simpul mati yang menyulitkannya kabur dari tempat itu, ditambah lagi dengan penjagaan yang super ketat.
"Berani sekali kalian menyekap ku di sini! Lepaskan aku atau kalian semua tidak akan aku ampuni." Ancaman yang menatap tajam menyusuri pandangan yang berisi orang-orang dari kelompok mafia, dan tahu jika dirinya berada di markas mereka.
Tidak ada yang peduli, semua orang terdiam seperti patung. Rudra mendengar suara tapak sepatu yang berjalan menghampirinya, melihat sang pelaku dengan wajah yang masih samar akibat cahaya yang begitu menyilaukan.
"Halo Paman." Sapa Alex menyunggingkan senyuman miring.
"Ck, aku bukanlah Pamanmu. Tidak ada hubunganku dengan keluarga Anderson." Jawab Rudra sombong.
"Lalu, mengapa Paman sangat bersemangat merebut harta keluarga Anderson jika tak menginginkan keluargamu juga." Ucap Alex yang duduk berhadapan dengan pria paruh baya itu.
"Bukan urusanmu!" ketus Rudra.
Alex melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, menghela nafas dengan pelan seraya tersenyum penuh arti. "Aku tidak punya banyak waktu, masih banyak hal yang harus aku selesaikan. Sebelum aku pergi, dimana kau sembunyikan ibunya Jessie?"
"Tidak akan aku beritahu."
"Kau masih saja terlihat sombong, belum tentu besok kau bisa melihat matahari terbit."
"Apa yang kau inginkan dariku, lepaskan aku!"
"Melepaskanmu?" Alex terkekeh mendengar permintaan konyol Rudra, segera meraih pistol dari samping celana yang sedari tadi melekat. Dengan sengaja dia mengarahkan senjata api di sertai senyuman licik. "Ada dua peluru di dalamnya dengan kekuatan secepat angin, jika aku menembak di jantungmu? Pasti sangat menyenangkan."
__ADS_1
"He-hei, singkirkan senjata itu dariku." Pekik Rudra yang terbelalak kaget melihat senjata di kening, keringat dingin yang menyertai dan tubuh ikut gemetaran merasakan seakan peluru menembus tubuh.
Alex tersenyum puas melihat ketakutan Rudra, perlahan pistol diturunkan hingga ke sasaran utama yaitu jantung.
"Mau mencobanya? Atau kau mengatakan dimana keberadaan istri yang selalu kau sandra itu."
"Baiklah, dia ada di rumahku dan aku mengurungnya di ruangan gelap gudang kosong." Jelas Rudra yang sangat ketakutan saat melihat jari tengah Alex menekan pistol.
"Suatu pilihan yang bijak." Alex memutarkan pistol dan kembali menyimpannya, melirik asisten Jimmy seraya memberikan perintah lewat tatapan mata dan langsung di mengerti.
"Aku tak tahu apa yang membuatmu begitu membenci ayah kandungmu sendiri, dan juga berhenti menjadikan Jessie pion mu. Kalian berdua akan aku hukum, tapi aku menyerahkan hal itu pada kakekku, David Anderson."
Rudra sangat membenci kekalahan, apalagi kalah dari Alex yang hanyalah pemuda beternak di kediaman Mateo dulu. Perlahan tapi pasti, tali yang mengikat tubuh melonggar. Kedua tangannya terlepas dari ikatan, tapi tubuh masih terlilit tali. Secepat kilat dia merampas senjata milik Alex dan mencoba membalik kan keadaan.
Rudra begitu percaya diri merampas pistol, dan menembak Alex. Namun, senyum kemenangan berubah heran saat tidak mendengar suara tembakan dari benda yang ada di genggamannya.
Alex memutuskan untuk kembali ke Mansion mengingat hari ini pertunangannya dengan Layla, terpaksa membina rumah tangga akibat dirinya yang terpengaruh obat perangsang. "Kalian urus pria ini!" titahnya.
"Baik Don."
Alex kembali ke Mansion dan melihat banyak orang yang sudah menunggu di sana, dirinya segera turun walau datang sedikit terlambat.
"Kau darimana saja?" tanya David berbisik, tersenyum ke arah tamu yang berdatangan.
"Sedikit ada urusan." Alex berdiri di panggung megah yang sudah dipersiapkan oleh kedua keluarga yang merancangnya. Dia memperhatikan sekeliling yang juga tidak menemukan sang calon tunangan, berpikir mungkin Layla kabur. "Apa dia memutuskan untuk kabur?" lirih pelannya.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian, rasa bosan mulai melanda Alex yang merasakan lelah berdiri tapi tak melihat Layla di manapun. Kejenuhan itu tak berlangsung lama, saat melihat seorang wanita cantik yang mengenakan gaun indah khas perancang ternama.
Semua orang memuji kecantikan Layla bak bidadari yang turun dari kayangan, bahkan Alex melihat dengan sangat jelas dan kedua mata terus memandang penuh kagum tanpa berkedip. Kecantikan dari sekretaris pribadi tak ada duanya, sadar akan dirinya yang mulai terpesona, sesegera mungkin dia mengalihkan pandangan.
"Jangan sampai kau tergoda olehnya." Gumamnya di dalam hati.
Sementara Layla berjalan membelah kerumunan, tidak merasakan spesial di hari ini karena dirinya tak mencintai calon tunangannya. "Apa semua impianku harus di kubur setelah menikah dengannya?" pikirnya dengan rasa sedih.
Pertunangan antara Alex dan Layla yang kini mereka saling berhadapan satu sama lain, acara yang dipimpin MC berjalan dengan lancar. Hingga acara yang paling di tunggu-tunggu, yaitu tukar cincin dari keduanya sebagai bentuk terikat mereka.
Keduanya terpaksa bertukar cincin, tidak ada rasa di antara mereka.
"Aku tidak akan menikah dengannya." Batin Layla.
"Pasti sangat merepotkan ketika mempunyai istri, apalagi yang modelnya seperti dia." Ucap Alex di dalam hati.
Semua orang bertepuk tangan, kedua cincin putih sepasang telah berada di jari. Alex dan Layla sudah resmi tunangan, di saksikan oleh para tamu dan juga dua keluarga.
"Dia hanya mencari kematian dengan menggali kuburannya sendiri, kabar pertunangan ini pasti sampai ke telinga Roy, pria ambisius itu pasti tak akan tinggal diam. Ya Tuhan…mengapa aku terjebak dengan dua pria? Yang satunya Mafia obsesi dan yang satunya hanya CEO yang ingin bertanggung jawab." Ungkapnya di dalam hati.
Kabar kebahagiaan itu tak dapat dirasakan semua orang, ada beberapa yang tidak menyukai hubungan itu termasuk Roy Immanuel.
Roy melempar semua benda yang ada di jangkauan, mendengar berita pertunangan sang mantan kekasih membuat darahnya mendidih.
"Oh, jadi rivalku sekarang adalah Alex Anderson?" Roy mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan, ruangan yang berantakan membuat beberapa orang tak berani masuk ke dalam.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa memiliki Lala, dia hanya milikku." Tekad Roy yang membulat, mengepalkan kedua tangan dan mengeraskan rahang. Kemudian dia tersenyum, ikatan yang hanya pertunangan dapat dengan mudah diputuskan olehnya.