Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Kekacauan


__ADS_3

Jessie tersenyum saat melihat kedatangan ayah tirinya yang sudah ada di tempat, perlahan memundurkan langkah menghindari semua orang setelah diam-diam mereka memberikan sinyal untuk beraksi. Di dalam hati sebenarnya sulit bekerja sama dengan pria itu, yang hanya menjadikannya pion dalam pembalasan dendam. Di balik rencana dia juga mempersiapkan rencana lain, tentu saja mempersiapkan hanya untuk dirinya dan menganggap pria paruh baya yang bekerja sama dengannya sebagai pembantu menjalankan misi. 


Dia sudah bertekad hanya akan menguasai sendiri harta dari keluarga Anderson dan membebaskan ibunya dengan kekuasaan yang dimiliki, tanpa menghiraukan kosekuensinya. 


"Bagus, aku harus beraksi." Batinnya tersenyum tipis, saat melihat target yang masih berada di sebelahnya tengah berbincang. Mengalihkan perhatian pada Rudra yang menyamar dan memberikan sinyal jika dirinya yang akan mengalihkan perhatian Alex dan membawa sang pewaris pada Jessie. 


"Aku ke toilet dulu." Pamit Jessie tersenyum dengan anggun. 


"Hum, jika ada masalah segera hubungi aku." 


"Jangan berlebihan Kak." Balas Jessie. 


"Baiklah." 


Layla menatap kepergian Jessie dengan penuh curiga, berpikir apa yang sedang direncanakan oleh gadis itu. Ingin sekali dia mengikutinya, tapi terhalang oleh sang kakek yang begitu tertarik dengan hadiah yang di bawakan olehnya juga Alex. 


"Kau mau kemana? Kita perlu membuka kadonya." 


"Acara baru saja dimulai, mengapa Kakek begitu terburu-buru dengan hadiahnya." Celetuk Alex yang menatap David dengan jengah, tak ingin orang lain mengetahui kado apa yang dipersiapkan sang asisten atas namanya. 


"Tidak semua kado yang aku buka, hanya darimu dan juga Layla." 


"Jangan tinggalkan adikku, bagaimana dengan kado dari Jessie? Kakek lupa kalau dia adik angkatku." Ralat Alex. 


"Apa aku salah mengucap? Usiaku yang tidak muda membuatku sering lupa akhir-akhir ini." Balas David tak mengalah. 


"Lakukan apapun yang Kakek suka."


"Sudah pasti, ini ulang tahunku." Cetus David yang membuka hadiah di hadapan semua orang.  

__ADS_1


Perdebatan kecil itu segera teratasi dengan sangat baik, David begitu bersemangat mengenai hadiah orang terdekatnya. Hadiah yang diberikan Alex membuatnya sangat terpukau, sebuah lukisan abstrak yang sudah lama di incar olehnya. Nilai seni yang begitu tinggi dengan perasaan sang pelukis yang tertuang di dalamnya. Dia sangat terharu melihat lukisan itu dan memeluk sang cucu dengan sangat erat seraya mengucapkan terima kasih. 


"Darimana kau mendapatkan ide ini?" sudut mata David berair, sangat terharu memiliki cucu yang begitu peduli akan ulang tahunnya. 


"Aku tidak tahu hadiah apa yang di berikan kepada Kakek, Layla membantuku." Alex menunduk penuh penyesalan, berpikir dirinya bukanlah cucu ideal dari keluarga ternama. Sangat malu jika ternyata Layla mengetahui apa keinginan kakek selain memaksanya segera menikah. 


"Dasar cucu durhaka, jadi ini dari Layla?" 


"Eh, aku hanya membantunya Kek. Alex saja yang berlebihan memujiku," sela Layla. 


Alex melirik sekretaris pribadinya tajam, kebohongan yang tak ingin di naungi semakin dalam, sinyal anggukan sedikit kepala membuatnya pasrah mendukung perkataan Layla. 


"Maaf, hampir saja kau dicoret dalam daftar keluarga." 


"Hah, Kakek tega sekali."


Beruntung Layla mengetahui keinginan David setelah mengamati kebiasaan dan juga kegemaran, mencari hal ini sangatlah mudah baginya.


David meniup lilin, dia berdoa kalau cucu semata wayangnya segera menikah dan keinginan kecil setiap ulang tahunnya adalah kedatangan Rudra, anak dari hubungan terlarang dengan wanita lain. 


"Ini hadiah untukmu." Seseorang datang sambil menyodorkan kado, sedangkan David meraihnya dan mengucapkan terima kasih. 


David berekspresi tak bisa di jelaskan dengan kata-kata, melihat seseorang yang mengenakan topi besar menutupi wajah, sangat penasaran dan membukanya. 


"Selamat ulang tahun, Ayahku tersayang." Rudra tersenyum jahat di saat David menyingkap topinya, memulai permainan yang sangat menyenangkan. 


"Rud-Rudra?" 


"Ya, ini aku. Bukankah ini keinginan Ayah? Sekarang aku datang." 

__ADS_1


Semua orang tampak hening dengan dahi yang berkerut, masih menatap interaksi keduanya dengan pertanyaan yang ada di benak. 


"Ayah? Bukankah tuan David hanya memiliki satu anak yaitu Arden? Lalu, siapa pria misterius itu?" bisik para tamu yang terdengar.


Rudra sangat terkejut saat David memeluknya erat di hadapan semua orang, berpikir pria tua itu serangan jantung dan mati. 


"Akhirnya kau datang juga, Nak. Maafkan Ayahmu yang sudah menelantarkanmu!" 


"Ck, jangan bersikap baik padaku." Rudra masih tak menyerah, setidaknya nama baik sang ayah tercemar di hadapan publik. 


"Berikan Ayah satu kesempatan." Kedua mata berbinar memandangi sang anak yang di telantarkan puluhan tahun, kesalahan dimasa lalu yang ingin sekali di perbaiki. 


"Kesempatan apa yang kau minta? Seorang wanita lugu dan menjalin kasih dengannya hingga membuahkan hasil, kau malah mencampakkan ibuku dan menjadikannya ampas kelapa setelah memanfaatkannya. Kau sangat kejam, membuangku dan ibuku, bahkan tidak mengakuinya di hadapan publik. Apa kau pikir aku dengan mudah memaafkanmu, Pak tua? Tidak. Karena kau lah aku selalu di hina, di caci maki, dan juga di bully saat ke sekolah. Semua orang membenciku dan mengatakan kalau aku anak haram, dan kau ingin aku memaafkanmu? Yang benar saja." Luapan emosi yang di tahan Rudra akhirnya terpecahkan, nafas yang naik turun segera di kontrol. 


David menundukkan kepala penuh penyesalan, dirinya sudah tak menghiraukan nama baik yang selalu di banggakan. Dia mengerti rasa sakit Rudra dan menyalahkan dirinya sendiri. 


"Maafkan aku, Nak."


Rudra tertawa nyaring membuat semua orang bergidik ngeri. "Baik, kini maupun di masa depan kau bukanlah ayahku. Aku membencimu dan sangat membencimu, kalau perlu aku doakan di hari yang membahagiakan ini semoga kau mati dan menyusul ibuku." 


David merasakan dada yang sesak, bergemuruh mendengar ucapan Rudra yang begitu membencinya. Memundurkan langkah dan pingsan akibat sesak nafas di deritanya, semua orang sangat terkejut. 


John berlari membantu David, menatap sang pelaku dengan tajam seraya melayangkan pukulan keras. "Jika dia kenapa-kenapa? Maka kau akan aku habisi." Ancamnya. 


"Memangnya kau siapa, berani ikut campur." 


John tak peduli dan segera melarikan David ke rumah sakit terdekat, celingukan mencari keberadaan Alex yang tak terlihat di manapun. 


Jessie tersenyum telah mencampurkan obat perangsang dalam minuman kakak angkatnya, memilih pakaian seksi untuk menunjang aksi nekad nya. Menghela nafas dan membuka pintu, sesuai dengan rencana walau harus merelakan keperawanannya. 

__ADS_1


Alex merasakan panas di sekujur tubuh, mengipasi diri sampai menanggalkan jas juga kemeja. "Kenapa sangat panas? AC menyala, apa yang terjadi padaku?" sontak dia terkejut saat merasakan gejalanya, minuman yang diberikan Jessie mengandung obat perangsang. 


"Jessie? Mengapa kau melakukan ini padaku? Apa niatmu?" begitu banyak pertanyaan di otak Alex saat ini saat melihat gadis itu masuk ke dalam ruangan. 


__ADS_2