Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Menjadi pelampiasan Alex


__ADS_3

Jessie menyunggingkan senyuman licik, memperlihatkan dirinya yang berbeda di hadapan Alex, wajah lugu sudah tidak ada lagi demi mendapatkan semua harta Anderson tanpa membagikannya kepada siapapun. Tak lupa mengunci pintu saat melihat sang target mulai terpengaruh dengan obat perangsang. 


Perlahan dia berjalan mendekati kakak angkatnya, membela dada bidang yang terekspos tepat di hadapannya. 


"Aku bisa membantumu." Bisik Jessie dengan manja. 


Di setengah kesadarannya, Alex mendorong tubuh Jessie dengan kuat hingga mengenai dinding. Tatapan yang tajam, mendapatkan pengkhianatan sebesar ini membuatnya tak bisa mentolerir. 


"Jangan bersikap kurang ajar pada Kakak mu, Jessie!" tekan Alex tegas, namun perkataannya sangat berbeda dengan tindakan pengaruh obat perangsang. "Kau bukanlah adikku yang lugu, siapa kau?" dia sungguh tak percaya melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bagaimana watak asli sang adik angkat yang sangat di percaya. Bahkan dia tak menggubris perkataan John dan melawan kakeknya sendiri demi memberikan sebuah pembelaan yang ternyata hanya sia-sia saja. 


"Ayolah, kau dan aku sama-sama dewasa. Ingat! Kita tak memiliki ikatan darah dan itu artinya sah-sah saja untuk memiliki." 


Alex sangat marah mendengar perkataan itu, dia meraih pisau lipat yang kebetulan ada di saku. Dia tahu, dosis yang diberikan sangatlah kuat dan banyak. Melihat penampilan Jessie yang mengundang hasrat seorang lelaki normal, menelan saliva beberapa kali untuk mencoba mengontrol dirinya.


Dengan sengaja Alex melukai tangannya sendiri, berharap tidak kehilangan kesadaran dan membuat kesalahan besar itu. Namun, Jessie bagaikan setan yang lapar, datang ke arahnya seraya meraba tubuhnya. 


"Aku bisa membantumu." Tak bisa di pungkiri jika Jessie menyukai tubuh Alex yang menjadi impian semua wanita. Tersenyum mengejek dengan reaksi obat yang sudah menguasai tubuh kakak angkatnya sepenuhnya. 


Jessie dengan berani membuka pakaian dan menyisakan bagian dalam penutup area sensitif, dimana tangan yang mulai bergerilya membuka resleting Alex dan membelai sesuatu yang menegang sedari tadi. 


"Ini tampak nikmat." Jessie mengeluarkan bagian yang tertutup dan hendak mencicipinya, obat perangsang membuat Alex ingin menyalurkannya. 


Alex yang sudah tidak tahan menarik paksa tubuh Jessie yang tadinya ingin mencobanya, di alam bawah sadar permainan menjadi panas juga kasar. Pakaian bagian dalam milik gadis itu di sentakkan olehnya, hingga tubuh polos terekspos dengan sangat jelas. 


Beberapa kali Jessie mengumpati perbuatan Alex yang menciumnya di sertai gigitan kuat hingga bibir mengeluarkan darah segar, bokong yang selalu di tampar meninggalkan bekas memerah dan juga bengkak. "Sial, dia sangat kasar sekali." Lirihnya yang berusaha bertahan dalam perkembangbiakan itu. 

__ADS_1


Alex menjadi tak terkendali, hingga penyatuan akan segera di mulai. Namun tubuh pria itu malah terpental sejauh satu meter akibat tendangan dari seseorang yang tak lain Layla yang sangat terkejut melihat pemandangan yang menodai matanya, dua tubuh polos menuju penyatuan. Beruntung dia datang tepat waktu, walaupun membuka pintu kamar membutuhkan waktu cukup lama. 


"Hah, jadi ini niatmu?" Layla datang memberikan dua tamparan yang sangat keras di pipi Jessie, sangat bersemangat memberikan pelajaran sesuai dengan perintah yang di terima olehnya. 


Jessie tak tinggal diam dan bangkit, mendorong tubuh Layla yang langsung ditangkap Alex yang sangat tersiksa ingin melampiaskan hasrat yang meledak. 


Alex memeluk tubuh Layla, menghalangi niat wanita itu untuk memberikan Jessie pelajaran. "Lepaskan aku!" pekiknya. 


"Tolong, aku sudah tidak tahan…bantu aku." Lirih Alex yang memohon, dirinya merasa tersiksa. 


Layla tak menggubris perkataan Alex yang memohon, menyikut perut pria itu dengan sangat keras dan berlari mendekati Jessie. Dua wanita saling menyerang menggunakan tangan kosong, menangkis dan membalikkan serangan ke arah lawan. 


"Aku tidak ada urusan denganmu, pergilah!" usir Jessie yang memelintir tangan Layla dan menendang pinggang hingga tersudut ke dinding.


"Kau salah memilih lawan." Layla yang terlihat cuek dengan sekitar memperlihatkan sisi buruk dimilikinya, tersenyum tipis seraya mengeluarkan tendangan maut.


"Satu kosong," lirih Layla yang berdiri, menatap Jessie yang ada di bawahnya dengan malang. "Ambisi yang sangat besar." Dia menyeka keringat seraya menghela nafas, beristirahat untuk beberapa detik saja. 


Tali yang mengikat tubuh Alex terlepas, dia berlari dan menggendong tubuh Layla. 


"Aku sudah tidak tahan lagi."


"Sial." Layla mencoba keluar dari kungkungan Alex yang ingin memperkaosnya, hasrat lelaki yang begitu besar membuatnya terjebak dalam kecelakaan. 


Keesokan harinya, Alex terjaga dari tidur dan merasakan kepala yang sangat pusing. Melihat sekeliling ruangan dan terkejut melihat seorang wanita tidur tanpa busana di sebelahnya, bercak noda merah di sprei putih semakin membuatnya shock juga terkejut. 

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Alex memundurkan tubuhnya hingga mengenai kepala ranjang, membangunkan seseorang. 


Ingatan semalam kembali hadir menjawab semua pertanyaan, rasa yang bercampur di hati membuatnya hilang kendali. "A-aku memperk*sanya secara paksa?" 


Plak!


"Dasar bajing*an…brengsek, berani sekali kau mengambil keperawananku. Bedebah!" Layla mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya, tatapan penuh kemarahan dan tajam pada atasannya yang memperkaosnya. "Bahkan tamparan keras itu tak bisa mengembalikan keperawanan ku, brengsek!" 


Layla ingat betul bagaimana Alex yang begitu liar dan sulit di taklukkan, bahkan terlepas dari pria yang tak memberinya celah. Segera menutupi tubuh polos dengan selimut, menatap sang atasan penuh amarah. 


"Maaf, a-aku tak sengaja melakukannya." Alex menundukkan wajah penuh penyesalan, tapi hal itu berada di luar kendalinya. Rasa bersalah yang besar melupakan siapa dalang di balik tindakan nekad nya menodai sekretaris pribadi. 


Tak sengaja dua sudut mata menangkap seorang wanita berambut ikal dalam keadaan polos, tapi yang membuat Alex bingung dengan kondisi Jessie yang tak bisa berkutik. 


Air mata Alex seketika luruh melihat kondisi Jessie yang terkapar tak berdaya, kasih sayang seorang kakak masih tertinggal, begitu banyak kenangan saat mereka kecil. "Pengkhianat." Satu kata yang terucap di bibir, tak menduga jika adik angkatnya melakukan hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. 


Beberapa orang masuk ke dalam ruangan, John yang tak sempat datang karena mengurus David yang berada di rumah sakit. Sangat terkejut melihat tiga orang di dalam kamar yang tidak memakai busana. "Apa yang terjadi?" 


Secepat kilat Alex dan Layla menutupi tubuh polos mereka dengan selimut, ketakutan saat tertangkap basah. 


"Akan aku jelaskan, bawa Jessie ke rumah sakit." Ucap Alex yang memerintah. 


John terpaksa menjalankan perintah dan meninggalkan Layla juga Alex di kamar itu. 


"Apa yang kau lakukan pada Jessie?" tanya Alex penasaran. 

__ADS_1


"Hanya mematahkan tulangnya saja," jawab Layla dengan santai. 


__ADS_2