Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Kejadian memalukan


__ADS_3

Jessie sangat kesal di jadikan alat untuk merebut harta dari kakak angkatnya sendiri, dirinya sudah lelah menjadi pion Rudra yang mengendalikannya lewat sang ibu. Ya, dia baru tahu bahwa ibunya masih hidup dan alasannya mengapa ada di Mension Mateo karena ulah Rudra sendiri yang melemparkannya pada keluarga jahanam yang selalu menyiksanya. Beruntung dia memiliki Alex, yang selalu menjadi pelindung dan juga perisai di setiap penyiksaan itu. 


Dia melemparkan tubuh di atas sofa empuk, membiarkan untuk melepaskan semua beban yang ada di pundak. Dia juga tidak berdaya, namun tidak akan mengalah pada sang ayah tiri. Perhatiannya tertuju kepada sebuah mainan menganggap jika itu dirinya sendiri, berada di bawah kendali Rudra membuatnya begitu terbebani. 


"Aku baru saja bertemu dengan ibuku, tapi mengapa pria itu malah menguasaiku dengan memanfaatkan keadaan? Jadi ini alasannya, kenapa dia melemparkanku sewaktu bayi, sungguh egois. Tapi aku tidak akan menyerah, setelah harta itu menjadi milikku." Monolognya yang mulai berambisi. 


Keesokan harinya, Alex terpaksa terjun lapangan untuk memeriksa setiap bahan baku yang akan diproduksi. Tentu saja dia tidak sendiri, melainkan bersama dengan Layla dan juga asisten Dinu. Ketiganya berangkat ke luar kota dan menginap di sebuah hotel berbintang, di mana hanya ada kalangan atas yang sanggup untuk menginap di sana. 


Suasana semakin canggung antara Alex dan juga Layla, tidak ada pembicaraan di antara mereka yang terasa hening setelah kejadian ciuman itu. 


Alex memutuskan untuk merebahkan dirinya di atas ranjang empuk, ciuman itu masih saja terngiang di pikirannya. "Astaga, kenapa aku selalu saja membayangi ciuman itu?" lirihnya seraya mengusap wajah dengan kasar. 


Di sisi lain, Layla melepas pakaian formal dan mengganti nya dengan pakaian yang sehari-hari digunakan. rambut panjang yang selalu dicepol dibiarkan tergerai, semakin membuatnya tampak cantik. Berjalan menuju jendela untuk melihat suasana, namun kedua matanya terbelalak kaget saat melihat beberapa orang berbaju hitam. 


"Astaga, mereka sampai di sini?" Layla segera berlari dan meraih ponsel yang ada di atas ranjang, menekan nomor dengan sangat cepat dan menghubunginya. 


"Halo."


"Iya, ada apa?" 


"Ada beberapa pria berbaju hitam yang masuk ke dalam hotel, apa itu suruhan kakek?" tanya Layla yang sangat khawatir berharap itu orang suruhan dari kakeknya. 


"Aku tidak melakukan itu." 


"Jika bukan kakek lalu itu siapa?" 

__ADS_1


"Mana kakek tahu!"


"Ya sudah kalau kakek tidak tahu, sampai jumpa."


Layla segera memutuskan sambungan telepon dan mulai menerka siapa dalang di balik semua itu, hingga terkejut saat menemukan jawaban. "Itu pasti Roy!" gumamnya yang sangat ketakutan.


Roy merupakan seorang mafia sekaligus mantan kekasih dari Layla, namun keputusan mengakhiri hubungan malah membuat pria itu tidak setuju, dan terus saja mengejar sang mantan kekasih. 


Layla tidak menyukai pria bernama Roy yang selalu mengekang dirinya dan memintanya untuk berhenti bekerja, pria yang sangat pencemburu dan juga posesif tidak pernah melepaskannya dengan mudah.


"Aku harus menghindar, sangat berbahaya kalau Roy menemukanku di sini." Layla mulai berpikir bagaimana dirinya bisa terhindar, hingga terlintas ide gila di dalam otak. Dia segera bergegas keluar dari kamar, berlari menuju kamar sang atasan yang tidak terkunci. 


Layla menghela nafas dengan lega setelah dirinya berhasil masuk ke dalam ruangan sang atasan, tidak peduli bagaimana tanggapan Alex yang terpenting dirinya selamat dari Roy, sang mantan kekasih. Dengan sengaja mengunci pintu seraya keringat yang ada di dahi, di saat berbalik dia menjadi terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapan mata. 


"Argh." keduanya berteriak, Alex segera menutupi jagung miliknya yang terpampang jelas, segera menutupinya dengan handuk. Sementara Layla menutupi wajah menggunakan kedua tangannya, memang dia terbiasa untuk berciuman tetapi tidak pernah melihat secara langsung benda keramat belalai berayun. 


Layla yang khawatir ketahuan akan sang mantan kekasih berlari mendekati Alex, menutupi mulut pria itu menggunakan bibirnya yang seksi. Keduanya saling berciuman, saling berkontak mata dan merasakan setiap hembusan nafas. 


Alex sangat kesal jika dirinya seperti terintimidasi, mendorong tubuh wanita itu di atas ranjang, menatapnya dengan tajam. "Berani sekali kau menciumku?" 


Layla tampak berpikir mencari alasan yang logis, dia tidak ingin kalau Alex mengetahui mengenai Roy. "Aku sangat takut, di kamarku ada kecoa."


"Lalu, apa hubungannya denganku?" Alex masih saja mencurigai sekretaris pribadinya itu, tidak mudah percaya pada orang lain. 


"Jangan percaya diri terlalu besar, aku berlari dan masuk ke dalam kamarmu hanya ini jarak yang terdekat."

__ADS_1


"Cukup mencurigakan!" Alex merangkak ke atas tempat tidur dan menindih tubuh sang sekretaris, menatapnya dengan tajam seakan tak ingin melepaskan mangsanya. 


"Tunggu dulu! Apa yang ka-kau inginkan?" tanya Layla dengan sangat gugup, posisi intim di antara mereka membuatnya hampir hilang akal. 


"Jau sudah masuk ke dalam kamar ku, jadi__." Dengan sengaja Alex memainkan rambut yang tergerai indah yang menutupi wajah cantik di bawahnya, mencium aroma wangi dari shampo. 


"A-apa yang kau lakukan? Jauhi aku dan menyingkirlah!" pekik Layla yang berusaha mendorong tubuh Alex. 


"Kau tampak takut, Sayang. Aku hanya melakukan apa yang kau inginkan," Alex tersenyum nakal untuk membuat wanita di bawahnya ketakutan, dengan sengaja mengecup leher jenjang itu membuat darah berdesir seperti sengatan listrik berapa volt.  


Layla mendorong tubuh Alex yang kian menggila mengecup lehernya, dia tak ingin kehilangan akal juga perawannya pada pria asing. "Sialan, dasar kurang ajar dan juga pria mesum."


"Aku yang mesum? Lihatlah dirimu yang berada di kamar ku, siapa yang mesum sekarang, kau atau aku?" Alex mendekati Layla, tapi dirinya malah bernasib sial. Tadinya dia hanya ingin membuat wanita itu takut, namun handuk yang melilit di pinggang malah terlepas dan membuatnya sangat polos. 


"Argh, dasar pria gila. Tutupi itu!" kesal Layla yang kembali menutupi wajahnya, mata yang ternodai untuk kedua kalinya. 


Alex sangat malu dan bahkan kehilangan wajah setelah kejadian itu, tapi dia masih berpura-pura tetap tenang dan berpose ala model. "Ini yang dinamakan seni, bukankah tubuhku ini sangat mempesona?" 


"Mempesona apanya? Kau malah menondai mataku." Geram Layla yang berusaha mundur menjauh dari pria tanpa mengenakan pakaian, sangat polos dan beruntung dirinya tidak mimisan. 


Nasib sial bukan ditimpa Alex saja melainkan Layla yang juga tersandung, dia sangat kaget dan berpikir akan terjatuh tetapi sepasang tangan malah membantunya hingga keduanya saling bertatap mata untuk beberapa saat. 


Laila merasakan ada yang mengganjal di bawah, hingga dia baru menyadari kalau Alex belum mengenakan apapun. 


"Pakai pakaianmu!" pekiknya menampar sang atasan. 

__ADS_1


Alex melihat ke bawah, terlihat jelas belalai yang terus berayun. Dia menutupinya menggunakan tangan, menjatuhkan tubuh sang sekretaris di atas lantai. 


__ADS_2