Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Tindakan berani Layla


__ADS_3

Jessie terpaksa melepaskan pelukan itu dengan guratan kesedihan, seakan tak ingin berpisah. Namun, permintaan dari pria tampan yang menjadi kakak angkatnya memohon juga mencium pipinya sebagai imbalan yang menjadi penyemangatnya dalam menyelesaikan misi yang di berikan oleh atasannya. Dia menatap kepergian Alex, menyunggingkan senyuman tipis hingga tidak ada yang menyadarinya. 


"Wah…wah, ini baru awal yang baik. Berawal seperti ini akan membuatnya bertekuk lutut padaku, apalagi kebiasaan dan kami tumbuh bersama sewaktu kecil." Ucapnya di dalam hati sambil melipat kedua tangan di depan dada. 


Jessie beranjak dari tempat itu tanpa menyadari jika seseorang tengah memantaunya, siapa lagi kalau bukan John yang dari awal memang tidak menyukai kedatangan gadis itu juga mengetahui niat yang tidak baik. 


"Jadi itu salah satu permainannya? dia ingin agar Alex terus bersimpati dengan wajahnya yang lugu dan menjebaknya dalam perlakuan manis juga romantis." Gumam John di dalam hati, mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku dan menghubungi seseorang yang ada di nomor kontak. 


"Aku ingin kau bertindak lebih cepat sebelum Alex semakin buta akan kasih sayangnya terhadap Jessie."


"Sesuai dengan perintah, aku yang akan lebih dulu membuat Alex terkesan, menjadi penghalang tembok tinggi antara dia dan juga Jessie." 


"Bagus, aku akan menambah imbalan untukmu asal kau mendekati Alex dan menjauhkannya dari Jessie."


"Baiklah." 


Setelah sambungan telepon selesai, John juga pergi meninggalkan tempat itu menemui kembali David dan merancang rencana baru. 


Sementara di sisi lain, Layla meletakkan ponsel di atas meja kerja memikirkan bagaimana dia untuk menyelesaikan segalanya lebih cepat. "Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan hati Alex? Pria dingin dan juga arogan itu cukup sulit menjinakkannya." Dia mulai berpikir keras bagaimana caranya menyelesaikan misi dari John, memainkan jari-jari sebagai pendukung dari pola pikir. 


"Aku punya ide." Ucapnya yang begitu bersemangat, namun semangat itu kembali memudar di saat apa yang akan dihadapi nanti. "Astaga…bagaimana kalau pria itu benar-benar jatuh cinta padaku? aku hanya menjalankan misi ini hanya karena permintaan kakekku, jika bukan karena beliau aku tak akan ingin ikut campur tangan dalam hal ini." 


Layla diliputi rasa bimbang, bukan karena sombong tapi banyak pria yang tergoda akan kecantikannya. Pesona yang di mainkan olehnya membuat banyak pria tampan terjebak dan tenggelam dalam perkataan manis juga simpati yang di berikan. 


"Pekerjaan utama membuatku bimbang, semoga kasusnya tidak sama seperti pria lain." Layla berharap kalau Alex tidak akan mengikatnya seperti para pria sebelumnya, pekerjaan setiap misi memang membuatnya merasa jengah. Namun, imbalan yang di terima cukup besar, sesuai dengan tindakan kerja kerasnya. 


Alex kembali ke kantor menuju ke ruang kerja, disana dia menghampiri kursi kosong dan duduk. Menyandarkan punggung dan kepala sembari memijat pelipis yang terasa sedikit pusing, namun dia terkejut saat kedatangan wanita cantik yang sudah ada di depan mata. 


"Apa kau tidak punya sopan santun? Sebelum masuk ke ruanganku, harap mengetuk pintu terlebih dulu."

__ADS_1


"Saya sudah mengetuknya sedari tadi, karena tidak ada sahutan jadi saya memutuskan masuk." 


"Ck, jangan ulangi perbuatanmu." 


Layla hanya membalas dengan anggukan kepala, membawa dokumen yang harus diselesaikan sekaligus mendapatkan kesempatan untuk mendekati Alex. "Dokumen ini harus ditandatangani Tuan." 


"Baik, kemarikan dokumennya." Alex meraih pulpen untuk memberikan tanda tangan tanpa mengecek terlebih dahulu. 


"Tuan tidak mengecek terlebih dahulu?" 


"Memangnya kenapa?"


"Periksa sejenak perlu di lakukan atau Tuan bisa rugi, mudah di tipu." 


"Ck, tidak perlu mengajari hal itu padaku. Aku sudah yakin dengan dokumen yang kamu kirimkan," elak Alex yang tak ingin salah di mata bawahan. 


"Periksa dulu Tuan, takutnya ada yang tidak sesuai ekspektasi." 


"Biarkan saya membantu." Layla langsung sigap memijat kepala Alex tanpa mendengarkan jawaban dari pria tampan yang menolak tawarannya. 


"Aku tidak perlu ini, pijatanmu sangat tidak nyaman dan tidak berasa." Tolak Alex yang di sertai cibiran merendahkan, namun diam-diam dia menikmati pijatan yang membuatnya refleks juga nyaman. 


"Benarkah? Tapi kenapa Tuan malah menikmatinya?" balas Layla memonyongkan bibirnya. 


"Aku tidak punya pilihan lain, makanya aku berpura-pura nyaman dengan pijatan yang sangat tidak enak ini." 


Layla tak memperdulikan perkataan Alex yang terus saja berkomentar mengenai jasanya dan skill dalam bidang memijat, dia tahu dimana titik yang membuat orang lain nyaman dan menikmatinya. Lama kelamaan dia merasa risih dengan suara sang atasan yang terus saja berkicau seperti burung beo, dalam istilah tidak berhenti berbicara. 


"Bisakah kau diam?" ucap Layla dengan tegas. 

__ADS_1


"Jangan membentakku." 


"Lalu kau mau apa?" balas Layla menantang. 


Alex langsung menarik tubuh dadi sekretarisnya, duduk dalam pangkuan dengan dua pasang mata yang saling menatap sepersekian detik. Dengan berani Layla menepuk pipi sang atasan, apalagi dirinya di lecehkan. 


"Kenapa kau menamparku?" protes Alex. 


"Dasar tidak sopan, kau ingin melecehkanku ya." 


"Melecehkanmu? Memangnya siapa yang tertarik pada papan triplek." Ejek Alex memancing emosi Layla. 


"Apa? Coba kau mengulangi perkataanmu itu!" 


"Kau tidak menarik dan seperti papan triplek." 


Layla berinisiatif berpose seksi di hadapan Alex, tentu saja memberikan yang terbaik. Dia mengecup udara menggunakan bibir seksi yang mampu merobohkan ketahanan dari seorang pria yang lemah akan iman. Dengan sengaja meraba tubuh pria yang masih memangkunya, sedikit bergerak memancing hasrat. 


Deg


Alex menelan saliva dengan susah payah, merasakan sesuatu mengeras di bawah sana apalagi saat melihat Layla yang tidak bisa diam di atas pangkuannya. 


"Astaga, dia pasti menertawakanku setelah tahu aku terpesona akan dirinya." Batin Alex yang berkeringat dingin, diam membatu bak patung. 


"Apa kau masih tidak tertarik?" 


"Tidak." Jawab Alex yang mengkondisikan dirinya sendiri agar tidak ketahuan oleh Layla. 


"Apa kau yakin?" Layla mengusap kening Alex yang berkeringat, tersenyum dan semakin membuat pria itu berkeringat lebih banyak lagi. Dengan sengaja dia mengecup bibir sang atasan, sekaligus mendapatkan ide untuk misinya. 

__ADS_1


Waktu seakan terhenti beberapa saat, keduanya sangat dekat, membedakannya hanyalah hembusan nafas yang saling menyatu. Momen yang bertahan beberapa saat saja, Layla segera melepaskan ciuman dan pergi sambil membawa dokumen yang telah di tandatangani. 


Alex diam membatu, masih terkejut dengan sikap sekretaris yang benar-benar membuktikan semua perkataannya. Menyentuh bibir itu, masih mengingat momen manis yang terus melayang di dalam pikiran. "Dia menciumku hanya membuktikan keseksian?" gumamnya tak percaya, ciuman pertama yang seharusnya di simpan untuk wanita yang di cintai sekarang malah di renggut oleh sekretaris pribadinya. 


__ADS_2