Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Dua tersangka


__ADS_3

Alex datang ke markas untuk mengecek situasi disana, kerugian yang cukup besar membawanya untuk lebih berhati-hati serta mengungkap siapa dalanh di balik semua itu. 


"Apa kau telah menemukan pelakunya?" Alex menggerakkan jari jemari di atas meja tanpa menoleh. 


"Belum Tuan." 


Seketika itu pula tangan Alex mengepal dengan sangat kuat seraya melemparkan vas kecil, semua orang terkejut dan bahkan tahu apa yang terjadi selanjutnya. Andai mereka memiliki kekuatan supranatural atau berpindah tempat, sudah pasti memutuskan untuk pergi dari hadapan singa yang mengamuk. 


"Kenapa masalah ini belum juga teratasi?" geram Alex mengeraskan rahang, berdiri dari duduk seraya mencekik asisten Jimmy menggunakan sebelah tangan. "Lacak mereka sekarang juga!" 


"Ba-baik Tuan." 


Alex melepaskan cengkramannya, nafas yang memburu tak tahan dengan hinaan ini. "Siapa yang mencoba bermain-main denganku?" gumamnya mengingat begitu banyak musuh mengelilingi. 


Pikiran yang kusut tak mungkin di bawa ke kantor, dirinya sangat membutuhkam waktu sendiri demi kewarasan pribadi. Sebuah ruang pribadi bagian kecil dari Mansion yang selalu menjadi tempat naungan dikala pikiran stres, tapi yang tidak di duga dia melihat seseorang yang berjalan keluar dari Mansion tengah malam. 


"Siapa itu?" Alex mengamati dari kejauhan, melompat dari balkon lantai satu dan mengejar sang target. "Siapa yang keluar tengah malam begini?" batinnya yang mulai membual. 


Alex terus mengikuti seseorang yang mengenakan jubah merah masuk ke dalam mobil hitam, dia segera bergegas mengambil mobil yang terparkir di halaman dan mengikuti untuk menghilangkan rasa penasaran. 


"Ck, kemana mobil itu pergi?" Alex kehilangan jejak saat jalanan tampak sunyi tanpa kendaraan yang lewat. Putus asa dengan cepat membuatnya kembali ke Mansion, memutuskan dirinya untuk mencari tahu di pagi hari. 


Alex berjalan menuju halaman belakang, melihat jejak sepatu yang menginjak lumpur. "Tadi aku melihatnya orang berjubah merah melewati ini, pasti sepatunya sangat kotor." Dia tersenyum menemukan petunjuk dan berharap menemukan pelaku di pagi hari. 


Semua orang telah berkumpul di sebuah ruangan, mereka mulai berpikir-pikir mengapa di kumpulkan dalam satu ruangan. 


"Bagus, kalian sudah berkumpul semuanya disini." 


"Tapi, ada apa?" tanya David mengerutkan dahi.


"Aku hanya ingin mengecek apa semuanya berjalan dengan baik, dan mengetahui pelaku sebenarnya."


"Astaga…ada apa denganmu?" keluh David yang ingin sekali melanjutkan tidur, membangunkan pria tua renta sepertinya di pagi buta sangatlah keterlaluan.

__ADS_1


Alex terdiam tanpa mengatakan apapun, tak peduli bagaimana kakeknya mengeluh. "Aku ingin memeriksa tapak sepatu masing-masing."


"Tapi untuk apa semua ini, Kak?" tanya Jessie penasaran. 


"Jangan banyak bertanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan!" 


Alex berjalan satu persatu melewati semua orang yang telah berbaris rapi, mengamati jika tidak ada celah. Rasa penasaran mengenai tadi malam membuatnya tak bisa tidur nyenyak sebelum menyelesaikannya dengan tuntas. Langkah terhenti dan melirik John juga Jessie, sepatu mereka yang kotor terkena lumpur patut di curigai. 


"Kenapa sepatu kalian sangat kotor?" tanya Alex mengintrogasi, tatapan tajam menuju ke arah John sebagai tersangka utama. 


"Wah Kakak benar, sepatuku kotor. Mungkin tadi tak sengaja menginjak lumpur di halaman belakang, musim penghujan dan ini bisa terjadi." Jelas Jessie.


"Aku juga tidak memperhatikan sepatuku." Jelas John tak mengalah. 


Alex sangat mencurigai keduanya, namun tetap berusaha untuk tenang dan menyiasati siapa orang berjubah merah tadi malam. 


"Baiklah, kalian boleh pergi." Alex menatap kepergian keduanya. "Aku tidak akan melepaskan ini dengan mudah dan mencari tahu mengenai apa, siapa, dan bagaimana." Ucapnya dalam hati. 


"Ini tidak bisa di biarkan berlama-lama, aku harus cepat sebelum Alex tahu niat terselubung ku." Ucapnya di dalam hati sembari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. 


Ya, Jessie berpikir dia akan ketahuan dan menimbulkan kecemasan mendalam padanya. Dia tak ingin jika usahanya sia-sia saja, dan menelepon Rudra. 


"Halo."


"Ada apa dengan suaramu? Terdengar gemetar."


"A-aku hampir ketahuan, apa kau punya rencana instan?" 


"Dasar bodoh, aku sudah memintamu untuk merebut kekuasaan Anderson. Apa yang akan kau lakukan?" 


"Aku tak ingin berlama-lama tinggal disini." 


"Wow, sepertinya aku akan cepat kaya."

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu lagi, kau punya ide?" 


"Ya, seribu satu ide ada di benakku. Kau jebak Alex dan buat seolah-olah kau tidur dengannya." 


"Baiklah. Bisakah aku mendengar suara ibuku? Sekali saja." 


"Jangan harap. Sebelum kau memberiku kabar baik, maka aku akan terus menyandera ibumu ini." 


"Aku akan melakukan apapun demi kebebasan ibuku, pastikan kau tidak melukai nya walau segores saja."


"Pasti." 


Jessie sangat gugup dan tidak bisa berpikir jernih, kinilah saatnya dia menjebak Alex. "Aku harus bertindak cepat, tidak ada yang mempercayaiku di Mansion ini selain kakak angkatku yang malang itu." Monolognya yang menemukan sebotol obat perangsang, tersenyum miring mengenai rencana cepat mendapatkan harta. 


Sementara Rudra tertawa puas mengenai Jessie yang mudah di bohongi. "Gadis yang bodoh, kau tidak akan pernah bertemu dengan ibumu, aku pastikan lebih dulu malaikat maut menjemput ajalnya." 


Rudra yang kondisi kejiwaan terganggu, menjadi pemeran antagonis dan berniat membunuh semua orang yang mencoba menghalangi niatnya menguasai harta Anderson. Perlakuan di masa kecil membuatnya trauma, apalagi dirinya hanyalah anak haram yang tak pernah diakui David Anderson. 


"Tibalah saatnya untukmu pak tua, aku rebut semua harta yang menjadi milikku." Rudra tertawa menyeramkan, berpikir mengenai rencana yang pasti berjalan mulus. 


Sementara di sisi lain, seorang pria tengah mengatur nafas yang tidak beraturan. Kejadian saat di introgasi Alex sangat berpengaruh padanya, tak ingin jika misinya sampai gagal. 


"Astaga…kenapa aku ceroboh sekali." John mengusap wajahnya dengan kasar, keringat di dahi menjadi saksi dirinya hampir ketahuan. "Jangan sampai Alex tahu yang sebenarnya, maka semua rencana yang disusun beberapa tahun lalu menjadi hancur." 


John berusaha bersikap normal dan tak ingin menimbulkan kecurigaan, melepaskan sepatu yang telapaknya penuh lumpur serta membuangnya ke tong sampah. 


Lain halnya dengan Alex, begitu banyak rahasia terjadi di Mansion tanpa dia sadari. Tatapan lurus kedepan melihat suasana pagi yang indah di atas balkon kamarnya. 


"Kenapa hatiku tak bisa mempercayai orang lain? Ini sangat sulit, apa yang tidak aku ketahui?" gumam Alex. 


Alex memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan mendekati sebuah kamar kosong yang tidak pernah ditempati ataupun di bersihkan. 


"Itu kamar atau gudang?" Alex memberanikan diri mencari tahu apa yang ada di dalam, selama tinggak di Mansion Anderson dia tak ingin tahu. tapi, setelah kejadian ini dirinya tak lagi menahan diri untuk mencari tahu sebuah fakta dan kebenaran, sebuah rahasia yang telah di kubur selama bertahun-tahun lamanya. 

__ADS_1


__ADS_2