Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Plin-plan


__ADS_3

Tersimpan di dalam hati Layla yang tidak rela jika kedua anak kembarnya untuk tes DNA, tapi semua itu harus di lakukan mengingat kedua keluarga yang begitu menantikan hasilnya. Bersikukuh menentukan anak siapa yang dia lahirkan pasti mengundang konflik di antara kedua keluarga. 


Layla takut jika kedua bayinya bukan milik Alex, maka pria itu pergi meninggalkannya. "Ya Tuhan, aku berharap jika kedua bayiku miliknya." Ucapnya di dalam hati sambil berdoa demi kebaikan si kembar. 


Sedangkan Alex dengan penuh percaya diri mengklaim jika kedua bayi kembar itu adalah anaknya. "Pasti Flo dan Fio anakku, buktinya mereka tidak rewel saat aku gendong." Batinnya. 


Semua orang tampak deg-degan menunggu hasil tes DNA, mereka terdiam dan segera menghampiri dokter yang membawa amplop yang berisi hasi tes. 


"Ini hasilnya." 


Alex segera meraih hasil tes, dengan bersemangat membukanya dan membacanya. Kedua pupil membesar di saat dirinya melihat hasil, ekspresi yang di keluarkan membuat orang lain tidak bisa mengartikannya. 


Betapa terkejutnya Alex saat sebuah fakta terkuak, tangannya bergetar dan memundurkan langkah menjadi tanda tanya semua orang yang melihatnya tak biasa. 


"Ada apa?" tanya David yang sangat cemas. 


Alex tak mampu berkata-kata, lidahnya seakan keluh dan sangat tidak percaya dengan hasil yang jarang sekali terjadi. 


Merasa tidak ada yang beres, David merampas hasil tes DNA yang juga menunjukkan ekspresi seperti cucunya. 


Seakan dunia Alex redup, hasil tes menunjukkan jika anak kedua bernama Fiona bukanlah anak biolongisnya melainkan Roy. Pikiran yang mulai di masuki dilema, ternyata Layla melahirkan anak kembar yang salah satunya adalah anaknya, yaitu Flo. 


Layja juga sangat takut melihat dua orang berekspresi sama, segera merai hasi tes di tangan pria tua itu dan membacanya. 


Deg


Layla sangat terkejut dengan hasilnya, ternyata bayi kembarnya berbeda ayah. "Jadi Fio bukan anak Alex?" terbesit di dalam oikiran bagaimana nasib anak keduanya setelah pria itu mengetahuinya, apakah rasa sayang masih ada dan tak akan berkurang? Ketakutannya bagaikan momok yang selalu menghantuinya.


"Ada apa?" tanya Yudistira penasaran. 


"Kedua anak kembarku ternyata beda ayah." 


"Apa?" seketika Yudistira menatap sang dokter yang masih berdiri di sana bertanya keraguan di hati. "Bisakah kau menjelaskan hal ini? Bagaimana mungkin cucuku bisa melahirkan anak kembar tapi beda ayah." 

__ADS_1


"Kasus anak kembar beda ayah disebabkan oleh superfekundasi. Superfekundasi adalah kondisi ketika sel telur dalam siklus menstruasi dibuahi oleh dua ****** yang berbeda. Anak kembar yang lahir akibat superfekundasi dinamakan sebagai kembar bipaternal atau heteropaternal." Jelas sang dokter. 


"Tolong jelaskan bahasa yang mudah aku mengerti!" titah Yudistira. 


"Seperti penjelasanku yang pertama bayi superfekundasi memang sangat jarang terjadi, tapi itu tidak berlaku pada seorang wanita yang dibuahi oleh dua ****** yang berbeda dalam waktu dekat." 


Layla yang tidak sanggup mendengar penjelasan dokter, berlalu pergi meninggalkan semua orang sambil memeluk kedua putrinya. Dia berpikir jika Alex tidak akan menerima kenyataan itu, dan lebih baik dirinya mulai melupakan apa yang pernah terjadi di antara mereka. 


"Aku tidak ingin jika kedua putriku mendapatkan kasih sayang yang berbeda, apa salahnya untuk menjadi single mother? Itu tidaklah buruk, banyak wanita yang aku lihat bisa menjaga anaknya tanpa seorang suami. Biarlah orang berkata apa, yang terpenting aku melakukan sebisa mungkin." Ucap Layla di dalam hati sambil mencegat taksi dan masuk ke dalam. 


Alex masih diam tak bergeming begitu sok mendengar jika salah satu bayi bukanlah miliknya, dilema yang menghinggapi seluruh pikirannya saat ini tidak bisa dilukiskan. 


Yudistira melihat bagaimana David dan juga Alex bereaksi, dirinya sangat marah mengetahui jika pria itu tidak mengejar cucunya yang telah pergi. "Kenapa kau diam saja dan tidak mengejar Layla? Sudahlah, orang seperti kalian tidak akan mengerti jika situasi sulit itu dialami oleh anggota keluarga." 


Alex pergi ke mana kakinya melangkah, kenyataan yang begitu pahit bercampur dengan kebahagiaan, setidaknya Flora adalah anak biologisnya. 


Di bawah guyuran air hujan, Alex membiarkan tubuhnya yang basah, pikiran yang selalu tertuju kepada twins F. "Kenapa kau kejam padaku Tuhan? Apa kesalahanku padamu hingga aku selalu saja diberikan kesulitan, mulai dari aku lahir dan sekarang telah menjadi seorang ayah kenapa aku tidak pantas untuk menerima kebahagiaan? Mengapa kau kembali memainkan perasaanku? Untuk apa aku selalu diberikan umur yang panjang jika kenyataan yang begitu pahit datang bertubi-tubi." Ucapnya yang sarkas seraya menunjuk ke arah langit tidak ada yang tahu jika dirinya menangis karena di sapu oleh air hujan. 


Di lemari yang begitu besar hingga di dalam pikiran rasa cinta terbagi menjadi kepercayaan yang pupus hingga dirinya lupa bagaimana amanat yang telah disampaikan Roy sebelum kematiannya. 


Di malam hari, Alex memutuskan untuk pergi ke klub menghibur dirinya yang penuh dengan dilema, minum berapa gelas alkohol, merasa jika situasi hatinya sedikit membaik. 


"Mengapa rasanya hatiku berat menerima kenyataan yang ada jika Fiona bukalah anakku, seakan kejadian Roy memperk*sa Layla kembali terngiang di dalam benakku." Alex kembali meneguk minuman keras membuat dirinya mulai kehilangan akal dan terus meracau tak jelas, antara sedih dan juga senang. 


Beruntung asisten Jimmy datang tepat pada waktunya, sedikit terkejut melihat kondisi sang pemimpin yang mabuk berat, entah sudah berapa banyak meneguk minuman keras. Dia mencoba untuk melerai perkelahian Alex bersama dengan pengunjung klub lainnya, tentu saja hal itu tidak semerta-merta langsung menjadi damai. 


"Aku akan menghajarmu, lepaskan aku!" ucap Alex yang mengoceh dalam kesadaran yang tak utuh. 


"Hentikan Don, jangan melakukan hal yang nekat itu dapat merusak citramu." 


"Aku sudah tidak peduli akan citra dan juga kekuasaan, mengapa Roy begitu beruntung bisa menanam benihnya. Ck, pria itu sudah mati tapi tetap saja menyulitkanku." Alex bersedih dan kemudian tertawa meringis dengan nasibnya. 


Tidak ada pilihan lain bagi asisten Jimmy yang menarik langsung tangan Alex, membawa keluar dari klub dan masuk ke dalam mobil. 

__ADS_1


"Kenapa kau selalu saja cerewet, mengatur hidupku, apa kau ini bosnya?" 


Jimmy yang sedang mengendarai mobil kehabisan batas kesabaran di saat Alex hampir saja membuat mereka kecelakaan, dia segera menepikan mobil dan memarkirkan nya, menatap tajam ke arah sang atasan dikuasai oleh emosi yang berasal dari minuman alkohol. 


"Berhentilah bersikap konyol dengan membahayakan nyawa, jika Don tidak menerima bayi itu maka biarkan saja dia merawat kedua bayinya tanpa kehadiran anda. Lagi pula anda tidak dibutuhkan jika membeda-bedakan anak kembarnya, dan anda juga sangat egois tidak peduli bagaimana perasaan dari wanitamu mendapatkan penghinaan itu. Semuanya sudah terjadi, dan bahkan aku melihat bagaimana anda begitu mencintai nona Layla. Apa semua itu hanya dusta? Apa cinta anda hanya sebesar biji jagung yang tak memiliki makna? Lalu, mengapa anda bersikap seperti ini? Jangan lupakan bagaimana pengorbanan yang diberikan oleh Roy kepada wanita anda, demi menyelamatkan tiga orang nyawa." Jelasnya yang panjang. 


Alex menangis mengungkapkan seluruh isi hatinya, tidak tahan dengan apa yang dia alami dan selalu saja menyalahkan takdir. "Kau tidak akan mengerti menjadi aku, memang waktu itu aku berjanji kepada Roy tapi keyakinanku sangatlah besar." 


"Berarti Tuan tidak mencintai nona Layla." 


"Kau salah, aku sangat mencintainya." 


"Jika Tuan mencintai nona Layla, tentu saja harus mencintai juga kedua putri nya."


Alex mengusap wajah dengan kasar, baru menyadari saat pikiran sudah terbuka. "Kau benar, jika aku mencintainya juga harus mencintai kedua putrinya, tidak peduli salah satu dari kedua anaknya itu bukanlah anak kandungku. Tolong bawa aku ke kediaman Yudistira!" 


Asisten Jimmy tersenyum tipis yang kembali menyetir mobil sesuai dengan perintah dari sang pemimpin.


Di kediaman Yudistira..


Alex datang untuk meminta maaf kepada Layla atas sikapnya yang plin-plan, tapi sebelum itu dia harus berhadapan dengan Yudistira. 


"Heh, apa yang membuatmu datang kemari itu tidak akan merubah kenyataan yang ada. Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku mengusirmu!" Yudistira sangat kesal melihat Alex ada di hadapannya dalam setengah kesadaran. 


"Aku hanya ingin meminta maaf kepada Layla, biarkan aku menemuinya." Bujuknya yang bersimpuh di kaki pria tua itu. 


"Dasar bodoh! Seharusnya kau datang dalam keadaan sadar, bukan setengah kesadaran. Layla tidak akan percaya dengan perkataanmu, kembalilah besok saja." 


Alex merasakan sedikit peluang dan mengikuti perkataan dari Yudistira, jika dia menemui Layla dalam keadaan mabuk pasti tidak mendapatkan izin. 


Layla terus meneteskan air mata dan menangis, pria yang menemani hari-harinya mulai menjauhkannya. 


"Apa hubunganku dan dia hanya setipis lembaran kertas saja? Heh, aku sangat benci pria yang plin-plan sepertinya, dan sialnya aku juga mencintai pria brengsek itu." Monolognya seraya mengusap hidung yang berair menggunakan tisu sambil membelai kedua putri kembarnya dengan sangat lembut. 

__ADS_1


__ADS_2