Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Dua keluarga


__ADS_3

Layla yang mengurung dirinya sendiri di apartemen, tak bergairah melakukan rutinitas dan lebih memilih bersantai juga bermalas-malasan. Tidak banyak yang di lakukan saat ini selain menonton televisi dengan beberapa cemilan sebagai teman. Penampilan yang jauh dari kata layak, mungkin orang akan berpikir jika dirinya mempunyai kembaran, tapi kenyataannya adalah orang yang sama. Ya, penampilan menggunakan baju kaos putih polos yang longgar dipadupadankan dengan celana pendek di atas lutut, rambut yang di cepol sembarang masih memperlihatkan aura kecantikannya.


Bungkusan makanan dan cemilan yang berserakkan di lantai, terus menonton drama romantis yang selalu menjadi fantasi tersembunyi dan tidak diketahui oleh orang lain. 


"Astaga…mereka sangat serasi juga terlihat romantis, apa ada di dunia ini pria sepertinya? Aku rasa tidak ada, sangat menyebalkan." Gumam Layla yang terus memberikan komentar di setiap adegan film. 


Bel berbunyi beberapa kali dan hanya mengacuhkannya, namun beberapa kali terdengar malah membuatnya jengkel. Terpaksa membuka pintu dan tentunya memaki orang itu karena telah menganggu aktivitas penganggurannya. 


"Bersikaplah sopan jika ingin bertamu." Ketus Layla, seketika kedua matanya melotot melihat beberapa orang pria yang juga menyoroti dan menjadi pusat perhatian. 


Layla menggigit bibirnya pelan, masih shock kedatangan sang kakek yang menjadi objek pertama yang dilihat. Raut wajah yang keriput terus saja memelototinya, beruntung kedua bola mata tak keluar dari tempatnya. Dia tahu apa yang membuat sang kakek datang dalam kemarahan, menangisi nasib yang begitu sial. 


Pandangannya juga berfokus pada seorang pria yang telah merenggut kehormatannya, ada David Anderson, dan juga John. Lagi dan lagi dia menelan saliva, ingin rasanya dia menghilang dalam situasi yang cukup sulit itu. 


"Pasti kakek mengetahuinya karena di beritahu mereka, Alex yang licik selalu saja menggunakan kekuasaan untuk menindas orang lain." Batin Layla menatap pria tampan hingga beberapa detik, menyimpan dendam akibat satu malam reaksi obat perangsang.


Alex berkedip sebanyak dua kali, mulut hampir ternganga dan beruntungnya dengan cepat di kendalikan. Melihat penampilan Layla yang sangat berantakan, seperti wanita yang sangat berbeda. "Dia terlihat tidak rapi dan sangat berbeda dari yang ku lihat selama di kantor." Ucapnya di dalam hati. 


"Apa kalian hanya akan saling bertatapan saja?" ucap suara bariton yang memecahkan suasana. 


"Silahkan masuk, Kek." Sambut Layla yang masih canggung dengan situasinya saat ini. 


Semua orang kembali menatap Layla dan Alex secara bersamaan, kabar yang di beritahu oleh David sampai ke telinga Yudistira. Tidak ada yang membuka suara, semuanya masih dalam saling memandang secara bergantian. 


"Aku sangat kecewa dengan situasi seperti ini," celetuk Yudistira yang melihat Alex dan Layla secara bergantian. "Kenapa kamu tidak memberitahukannya pada Kakek?" sentaknya yang mengintrogasi sang cucu. 


"Aku malu membicarakannya, maaf Kek." 

__ADS_1


Yudistira menarik nafas dalam dan mengeluarkannya kasar, dia tahu ini sebuah kecelakaan yang tidak di inginkan. Tidak bisa menyalahkan Alex sepenuhnya yang di saat itu sudah di bawah kendali obat perangsang, sedangkan dirinya juga sudah melarang Layla untuk berhenti dari pekerjaannya yang sekarang malah menjadi bumerang dari dua keluarga besar. 


"Aku sudah memperingatkanmu untuk itu, sebelum kabar ini menyebar lebih luas lagi sebaiknya kalian kami nikahkan." Putus Yudistira yang sudah bulat. 


"Apa? Aku tidak ingin menikah." Tolak Layla meninggikan suara. 


Brak!


Sepasang mata yang terlihat penuh amarah dan kecewa saat mendengar penolakan dari cucunya, Yudistira tak ingin jika Layla menjadi wanita tanpa identitas. "Setuju ataupun tidak, kalian harus menikah. Aku tak ingin ada orang yang membicarakan keputusan final ini, aku dan juga David sudah mengatur pernikahan kalian." 


"Apa?" kini Alex ikutan shock jika menikah secepat itu, bagaimana tidak? Ambisinya untuk menjadi orang terkuat tak ingin di sia-siakan dengan cara menikah. Memang dia ingin bersikap jantan dengan mengajak Layla menikah, tapi tidak secepat itu. 


"Suka ataupun tidak kalian tetap menikah." Sambung David yang membenarkan. 


Layla menatap Alex sebagai sumber permasalahannya, berpikir bagaimana dirinya bisa hidup dengan pria itu. 


"Benar sekali. Kalian akan tetap menikah, kebetulan aku dan David adalah rekan kerja di zaman muda dulu." Ungkap Yudistira.


"Niat kami baik agar tidak ada yang bercerita buruk mengenai hubungan kalian, bisa saja kami kabur dan tak bertanggung jawab, selalu wanita yang menerima hinaan dan cacian semua orang. Aku tidak menginginkan itu, bagaimanapun juga Alex tetap bersalah karena sudah memperk*sa mu dalam keadaan tidak sadar sekalipun, aku berterima kasih jika kau menerima perjodohan ini." Jelas David yang berusaha mengetuk pintu hati Layla. 


Layla tak memiliki apapun selain menerima pernikahan yang akan diadakan sebentar lagi, melirik Alex yang hanya berekspresi datar. "Ya ampun, tidak bisa aku bayangkan jika harus memiliki suami sepertinya." Batinnya yang ingin sekali mencakar wajah tampan di hadapannya. 


Perbincangan para tetua membuat keduanya bosan, Alex menarik tangan Layla setelah meminta izin untuk mengobrol bersama. 


"Ini pasti ulah mu." Tuduh Layla yang menunjuk Alex. 


"Bukan, kakekku yang menghubungi kakek mu. Sudahlah, tidak perlu berdebat masalah itu. Kita akan segera menikah dan jangan seperti anak kecil dengan mengurung dirimu, kau terlihat sangat berantakan sekali." Cibir Alex. 

__ADS_1


Layla memasang ekspresi wajah judes juga ketus. "Inilah aku dan kau harus menerimaku apa adanya."


"Ya, aku terpaksa melakukan itu. Demi anak di dalam perutmu." Balas Alex yang langsung menyudahi perdebatan mereka. 


"Aku tidak hamil." Ketusnya. 


"Benarkah? aku melihat perutmu sedikit membuncit tadi." 


"Itu karena aku memakai pakaian longgar, pakaian ketat selalu menyiksaku asal kau tahu itu." 


"Hem." Alex menatap pemandangan di luar jendela, memasukkan jari-jari tangan ke dalam kantong celana. 


"Apa kau yakin dengan pernikahan konyol ini?" tanya Layla yang menatap wajah tampan Alex dari samping. 


"Kenapa kau tanyakan itu? Apa kau ingin kembali dengan kekasihmu itu?" ucap Alex dingin seraya menatap Layla mengintrogasi.


"Dia mantan kekasihku." Sontak Layla menyadari bahaya akan menghampirinya, tahu bagaimana watak Roy yang pasti tak ingin dirinya menikahi pria lain. "Sebaiknya kau mengundurkan niatmu menikahiku."


Alex mengerutkan wajah tak mengerti pola pikir Layla yang begitu kusut seperti penampilan wanita itu. "Itu bukanlah prinsipku, aku tetap menikahimu." 


"Sebaiknya kau batalkan saja niatmu, aku sudah mengikhlaskan keperawanan yang kau renggut dariku." Ucap Layla yang memberi pengertian. "Atau Roy pasti membunuhmu," batinnya. 


"Tidak, itu sudah keputusan final keluarga dan juga sebagai permintaan maaf dariku." Tegas Alex menolak keras, sedikit merasa aneh dengan Layla. 


"Aku sudah memperingatkanmu, mulai sekarang berhati-hatilah. Nyawamu dalam bahaya!" kecam Layla. 


"Wow, kata-kata mu maknanya sangat dalam sekali." Ledek Alex yang tak takut apapun. 

__ADS_1


"Mungkin sewaktu kecil dia menelan biji karet, sungguh kesombongan hakiki. Biarkan sajalah, jika dia mati maka pernikahan pasti di batalkan." Gumam Layla di dalam hati yang acuh tak acuh. 


__ADS_2