Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Pelampiasan kemarahan


__ADS_3

Hari libur selalu dimanfaat oleh sebagian orang menghabiskan waktu untuk memanjakan diri, tak khayal banyak yang menanti hari ini. Begitu pula dengan Alex yang menghabiskan waktunya berolahraga melatih otot-otot dan kekuatan untuk menjadi yang terkuat sesuai dengan impiannya. Beberapa kali seluruh emosinya tercurahkan kepada samsak, menjadikan sebuah objek sasaran dengan membayangkan itu wajah Mike yang sampai saat ini belum di temukan. 


Keringat yang mengucur di seluruh tubuh tak membuatnya berhenti berlatih, tatapan tajam yang dia miliki membuat orang yang berada di sekitar merasakan aura berbeda. Alex terus memusatkan perhatian pada samsak, memukul dan menendang menggunakan seluruh kemampuannya. 


Seseorang masuk tanpa permisi, membawa nampan yang berisi segelas air yang dicampur dengan beberapa irisan lemon di dalamnya untuk menyegarkan dahaga. Senyum yang menghiasi wajah cantiknya, namun terpesona dengan tubuh Alex yang berkeringat menjadikan sebuah fantasi. 


Alex menghentikan latihannya saat menyadari seseorang berjalan mendekat, meraih handuk kecil dan mengusap tubuhnya yang berkeringat. "Kau disini?" dia menautkan kedua alis, berpikir jika Jessie ke toko kue. 


"Ini minumlah!" Jessie menawarkan minuman segar yang di buatnya, menyodorkan kepada Alex, tak lupa senyuman khas. 


"Hem." Alex meneguknya hingga habis. "Terima kasih." 


"Sama-sama." 


"Kau tidak ke toko? Aku perhatikan akhir-akhir ini kau memiliki waktu senggang, maksudku selalu berada dekat denganku." 


Jessie langsung memeluk tubuh Alex tak peduli keringat yang menempel di tubuhnya, fantasi liar mulai menggerogoti di saat semuanya memberikannya peluang besar. 


"Eh, ada apa denganmu?" 


"Kak, aku ingin bekerja dekat denganmu." 


"Dekat denganku?" Alex semakin di buat bingung, tak tahu mengapa Jessie tiba-tiba bersikap aneh padanya. 


"Apa kau menyayangiku?" 


"Kau bicara apa? Tentu saja aku menyayangimu." Alex terkekeh melihat sikap Jessie yang menggemaskan. 


"Aku menginginkan lebih dari pada itu." 


"Aku tidak mengerti." 


"Apa Kakak tidak pernah memiliki perasaan padaku? Bukan sebagai adik kakak melainkan pria menyukai seorang wanita." Jessie melepaskan pelukan, menatap Alex dengan penuh harap. Terpaksa dia melakukan dengan terang-terangan karena Rudra mengancamnya akan membunuh sang ibu yang masih disekap oleh pria kejam yang menjadi sosok ayah tirinya. 


Alex menghela nafas, memang dirinya memiliki ketertarikan kepada Jessie, tapi dirinya tak ingin mengakui. Sudah bertekad di dalam hatinya yang terdalam jika hubungan mereka tak akan lebih dari seorang kakak adik. "Tidak, kau hanya ku anggap seperti adik kandungku sendiri."


Jessie sangat marah dan mendorong tubuh Alex. "Apa Kakak yakin? Lalu, bagaimana saat dirimu tak sengaja masuk ke kamarku yang saat itu aku memakai lingerie? Kita bukan anak kecil lagi dan kita tidaklah sedarah." Protesnya. 


"Tapi itulah kenyataannya, hubungan itu tidak akan berhasil." 


"Apa alasannya? Kita tumbuh bersama, kau selalu melindungiku dari Lucas, Lerry, dan Mike. Apa kau mencintai wanita lain?" 

__ADS_1


"Tolong mengertilah, Jessie. Ada apa denganmu? Mengapa kau sangat aneh dan membahas hal itu? Dengarkan aku baik-baik, kau adalah adikku dan akan selamanya seperti itu. Lalu, aku tak memiliki rencana mengenai seorang wanita, tidak ada waktu untuk itu. Kau tahu benar, apa keinginan dan rasa ambisius untuk menjadi terkuat tak terkalahkan." Alex memegang kedua bahu Jessie sedikit menyamakan tinggi, menatap dalam untuk menjelaskan keinginan yang harus dicapai. 


Alex segera berlalu pergi meninggalkan Jessie yang melamun, sekeras apapun dia menjelaskan tak akan bisa menghancurkan tekad. 


"Hari ini kau memang menganggapku adik, tapi kedepannya aku akan menjadi istrimu. Setidaknya tidak ada tempat untuk wanita lain di hatimu, itu berarti posisiku aman." Gumamnya tersenyum tipis dan juga berlalu pergi. 


"Pagi Kek." Sapa Alex seraya mengambil buah apel dan memakannya. 


"Pagi, kenapa kau terlambat?" tanya David sembari memasukkan roti ke dalam mulutnya. 


"Latihan."


"Lalu, dimana Jessie?" 


"Aku di sini Kek." Sahut sang empunya nama seraya tersenyum menghampiri meja makan. 


"Hem, duduk dan serapan bersama." 


"Iya Kek." 


David melirik John, tentu saja yang menjadi tujuan mereka adalah Jessie. Keduanya masih mencari siapa yang memerintahkan gadis itu, namun tak ada bukti yang di temukan. 


"Dimana Layla? Dia tidak sarapan?" 


"Apa kau lupa? Selama tinggal di Mansion, dia menjadi tanggung jawab kita."


"Kita? Aku rasa kita belum membahas masalah ini." Jawab Alex malas. 


"Aku disini!" ucap Layla seraya menuruni tangga dengan anggun. 


"Ayo sarapan bersama!" ajak David. 


"Baik Kek." 


Di kantor, Alex kembali sibuk dengan pekerjaan yang di gelutinya, menyelesaikan permasalah di perusahaan juga di markas. Dirinya kembali mendapat informasi mengenai permasalahan baru yang di hadapi, tentu saja membuat suasana hati menjadi tak terkendali. 


Brak


Alex melempar teleponnya ke dinding dengan sangat keras hingga berderai dan LCD pecah, sebuah informasi mengenai pengkhianatan. "Astaga…berani sekali dia mengkhianatiku." Geramnya yang sangat membenci pengkhianat, terbukti saat tangan mulai terkepal, rahang mengeras, serta gigi yang menggertak. 


"Aku membenci siapapun yang memainkan ku," monolog Alex yang mengerang. 

__ADS_1


Pengiriman senjata ilegal yang akan di ekspor ke beberapa negara akhirnya mendapatkan kerugian besar, saat ada beberapa orang mengkhianatinya dengan mencuri senjata terbaik yang dirancang sendiri. 


Alex meraih ponsel yang lain dan mulai menghubungi orang kepercayaan yaitu asisten Jimmy. 


"Halo tuan."


"Hem, apa kau tahu masalah ini?" 


"Tahu tuan, maafkan saya yang lalai." 


"Kau tahu apa konsekuensinya?" 


"Maaf tuan, saya akan berusaha untuk menemukan pelakunya secepat mungkin."


"Aku tidak butuh perkataan manis yang menyenangkan hati, melainkan sebuah bukti. Kita bicarakan ini nanti!" 


Alex langsung memutuskan sambungan telepon saat dirinya lupa menutup pintu, untung dia mengetahui ada seseorang yang memperhatikan gelagatnya. 


"Kau menguping pembicaraanku? Lancang sekali." Ucap Alex menatap seorang wanita yang masih diam terpaku di ambang pintu. 


"Maaf Tuan, aku tidak sengaja." 


"Kenapa kau kesini?" 


Layla masuk ke dalam ruangan, sedikit takut melihat bagaimana Alex mengamuk yang dia sendiri tidak tahu alasan dari tindakan seperti itu. 


"Pemilik perusahaan lain ingin bertemu dengan Tuan dan mengajak untuk bekerja sama." 


"Hanya itu?" Alex menyudutkan tubuh Layla ke dinding dan menguncinya agar tidak kabur, menganggap itu hanya sebuah alasan untuk bertemu dengannya. 


"Lepaskan aku, Tuan." 


"Kau belum mengenalku dengan baik." Alex melampiaskan kemarahan pada sekretaris pribadinya. 


"Apa kesalahanku? Aku hanya menyampaikannya saja." Layla berusaha menjauh dari Alex yang tampak berbeda, tak tahu mengapa pria itu bersikap kasar padanya. 


"Berhati-hatilah padaku, kau belum mengenalku dengan baik." 


Deg


Layla menelan saliva dengan susah payah, keringat di dahi menjadi saksi jika dirinya sedikit gugup dan takut. 

__ADS_1


"Apa dia mengetahui niatku dan identitasku?" batin Layla yang merasakan nyawanya berada di ujung tanduk. 


Terdengar suara ketukan pintu, keduanya menoleh dan melihat John ada di ambang pintu. Refleks Alex melepaskan cengkramannya dan mulai berjalan mendekati pria paruh baya itu, sedangkan Layla menghela nafas lega bisa terbebas dari atasannya yang gila juga aneh. 


__ADS_2