
Awalnya Alex bersemangat membawa kedua bayinya untuk imunisasi demi kekebalan tubuh, namun semangat semula membara pupus di tengah jalan melihat ada pasien lain yang kerepotan mengurus bayi yang di suntik.
"Hem, sebaiknya kita pulang saja."
"Kau ini kenapa? Tadi sangat bersemangat sekali. Apa karena melihat bayi yang baru saja di imunisasi?" terka Layla.
"Hem, aku kasihan dan tidak bisa melihat mereka tersiksa. Bayi sekecil itu sudah di suntik, aku menjadi tidak tega." Bisik Alex yang mengundurkan niatnya melakukan imunisasi kedua bayinya.
"Kita harus tega menjadi orang tua, demi kesehatan dan kekebalan tubuh mereka nantinya. Sudahlah, jangan berpikiran kuno dan mengikuti perasaan." Layla masuk ke dalam ruangan saat namanya di panggil, menggendong salah satu bayi kembar dan dengan terpaksa Alex mengikuti dari belakang.
Langkah Layla terhenti saat melihat seseorang dari masa lalunya, dimana sang dokter merupakan orang yang pernah menjalin kasih di masa remaja. Pertemuan setelah sekian tahun tak bertemu membuatnya lupa, namun saat melihat pria itu kembali ingatan di masa remaja kembali muncul.
Alex yang khawatir mengenai kedua putrinya, terpandang ke arah dokter yang menatap istrinya lama. Dia berdehem untuk merusak momen itu, tidak rela jika istrinya di tatap oleh pria lain selama lima detik.
"Seperti drama saja." Cibir Alex menghentikan aksi tatap menatap yang terjadi di depan mata.
"Layla? Sudah lama kau tidak terlihat dan kau sekarang semakin cantik." Puji pria itu dengan senyum yang mengembang.
"Dia siapa?" cetus Alex melirik sang dokter sengit.
Belum sempat Layla memperkenalkannya, pria tampan berjas putih mengulurkan tangan sambil tersenyum. "Rian."
"Namamu pasaran sekali, bagaimana kau mengenal istriku?" cibir Alex sekaligus penasaran mengenai hubungan pria itu dengan istrinya.
"Kau orang ke ratus sekian mengatakan hal yang serupa, tentu saja namaku selalu di ingat." Jawab Rian dengan penuh percaya diri. "Tapi siapa namamu?"
"Alex."
"Alexander? Bahkan aku mempunyai lima orang teman dengan nama yang sama." Balas Rian memukul telak.
"Alex Anderson."
"Wow, jadi kau cucu dari David Anderson atau namanya saja yang sama?"
"Ck, aku cucunya." Alex mendelik kesal, kembali menjelaskan dengan bangga. "Bagaimana kau mengenal istriku?" tanya tanpa ekspresi.
Layla mencubit lengan Alex untuk tidak membuat kekacauan di tempat itu. "Itu semua tidaklah penting, yang terpenting adalah anakku."
Rian melirik sepasang suami istri di hadapannya, tersenyum geli melihat Alex yang cemburu padanya. "Aku mantan Layla semasa remaja dulu, sungguh tidak bisa dilupakan. Setelah lama tak bertemu ternyata kau yg bertambah cantik, andai aku lebih dulu menemukanmu." Ujarnya yang semakin bersemangat memanasi hati pria yang menjadi pasiennya.
"Ck, kenapa seleramu sangat kuno sekali Layla?" Alex menyusuri pandangannya dari ujung kaki hingga ujung rambut sang mantan kekasih istrinya itu, bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya.
"Walaupun aku tidak tampan, tapi aku lebih dulu memacarinya."
Alex semakin tersulut emosi api cemburu yang terus membesar, minyak yang di tuangkan Rian menambah gejolak itu. Sedangkan Layla menepuk keningnya, melihat sikap sang suami yang begitu cemburu.
"Berhentilah memanasi suamiku!" ketus Layla yang pusing, sikap pria yang mengenakan jas putih tidak pernah berubah dan selalu saja jahil.
"Aku bisa meratakan rumah sakit ini dan kau bisa saja kehilangan pekerjaan menjadi seorang dokter." Kecam Alex.
__ADS_1
"Wow, aku takut. Tolong jangan menutup rumah sakit ini Tuan, kasihanilah aku." Rian berpura-pura takut kemudian tertawa keras mendengar ancaman Alex.
"Sepertinya otakmu perlu di perbaiki."
"Sudahlah, aku hanya bermain-main saja tadi. Memang Layla mantanku, tapi aku juga sudah menikah setahun yang lalu."
Akhirnya Alex bisa bernafas lega, namun tetap saja dia bersikap dingin pada Rian. Pemeriksaan kesehatan bayi malah menciptakan sebuah drama, yang membuat pusing adalah penontonnya.
"Pastikan jika bayiku tidak menangis!" ucap Alex menekan kata peringatannya.
Rian melirik Layla seraya mengeluarkan nafas berat. "Tolong jelaskan pada suamimu itu untuk diam, dia merusak konsentrasiku saja."
Layla memegang lembut lengan Alex seraya menggelengkan kepala, berharap jika drama telah usai. "Jangan memulainya lagi atau kau keluar saja dari sini!"
"Kau mengusirku hanya karena pria jelek itu?" protes Alex.
"Karena kau selalu saja berisik, biarkan dia melakukan pekerjaannya sebagai seorang dokter."
"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu maupun anak kita!" putus Alex keukeuh.
"Mulailah menyumpal mulutmu agar tidak berisik!" sambung Rian kembali menaburkan garam di dalam bara api, dia belum tahu jika dirinya sedang berhadapan dengan pemimpin mafia.
Alex sangat emosi dan kesal mendengar ucapan dokter Rian, terpaksa meredakan kemarahan demi menghormati sang istri. "Ck, pria ini sangat menyebalkan. Jika Layla tidak berada disini, sudah pasti aku menghajarnya hingga babak belur." Ucapnya di dalam hati, berusaha untuk menebalkan pendengaran dan juga hatinya.
Waktu seakan terasa berjalan dengan sangat lama, terbukti saat Alex terus melirik jam yang melingkar di lengannya. Memperhatikan kinerja dari dokter itu yang berhasil membuat kedua putrinya menangis, hatinya sebagai seorang ayah tentu tak tega.
"Sudah selesai, kalian boleh pulang."
Sebelum pergi, Alex mendekati wajah pria yang sangat menjengkelkan itu. "Kau beruntung karena istri ku menahanku, jika tidak kau sudah aku habisi di tempat ini bersama dengan rumah sakit ini." Ucapnya pelan dan berlalu pergi.
Rian menelan saliva dengan susah payah, barulah menyadari jika pria yang di ajak bercanda bukanlah orang sembarangan. Seketika dia menelan saliva dengan susah payah, bergidik ngeri memikirkan apa yang akan terjadi padanya juga karirnya sebagai seorang dokter.
"Astaga…sepertinya pria itu tidak main-main." Lirihnya yang baru merasakan senam jantung, namun bisa bernafas lega saat melihat kepergian Alex yang menghilang dari balik pintu.
Di sepanjang perjalanan, Alex terdiam sambil menyumpah serapah dokter Rian yang berani macam-macam padanya, menyinggungnya sama saja mematik api.
"Sudahlah, dia memang seperti itu dan tidak pernah serius." Celetuk Layla.
"Apa kau tidak lihat bagaimana kesombongannya itu dan mempermainkan aku? Jika kau tidak ada di sana mungkin dia hanya tinggal nama, cukup sekali melakukan pemeriksaan dengan pria sialan itu. Jika dia berani menampakkan batang hidungnya di hadapanku, maka jangan salahkan aku memberinya pelajaran atas penghinaan ini."
"Oh ya ampun, karakter pria itu memang seperti itu. Dia tidak bermaksud membuatmu kesal atau apa, jadi berhentilah bersikap seperti itu. Kau tengah menyetir, jika kehilangan konsentrasi beberapa detik saja maka nyawa menjadi taruhanya." Jelas Layla.
"Ck, sepertinya kau mengenal pria itu ya." Alex tersenyum devil saat dirinya di selimuti kecemburuan mendalam, melirik sang istri dan melampiaskannya ke adegan dewasa yaitu bercinta.
Layla tahu ekspresi yang di tunjukkan Alex, dirinya bergidik ngeri saat mengetahui bagaimana pria itu menyentuhnya tanpa menunjuk rasa lelah sedikitpun.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Bukan apa-apa." Langsung Alex memutar arah menuju hotel terdekat, dimana dirinya lebih leluasa untuk bercinta.
__ADS_1
Di dalam kamar hoter berbintang, Alex meletakkan kedua bayinya ke dalam ranjang khusus bayi setelah di pastikan sudah terlelap. Dia segera menghempaskan tubuh Layla ke atas ranjang, perlahan membuka satu persatu pakaiannya, tatapan liar ingin menikmati tubuh istrinya yang selalu membuatnya sangat candu.
"Alex, bagaimana jika kita melakukannya malam saja. Aku akan memberikanmu hal yang terbaik, bahkan mempraktekkan goyangan baru." Bujuk Layla yang berharap cemas, bukan tanpa alasan melainkan kedua putrinya yang takut terganggu tidurnya.
"Tidak semudah itu kau terlepas Sayang, aku sudah tidak tahan untuk menjamah dan merasakan goyangan baru mu. Ayo tunjukkan padaku!" bisik Apex mencium leher Layla dan sengaja meninggalkan tanda merah, sebagai bukti jika wanita itu adalah miliknya dan tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh selain dirinya.
"Malam saja, ku mohon!" bujuk Layla yang memohon, namun penolakannya sangat berbeda dengan reaksi tubuh yang begitu terbuka saat di jamah oleh suaminya. Tidak sengatmja suara kenikmatan yang keluar dari mulut semakin menambah semangat pria itu yang terus melakukan pemanasan, mencium dan mencicipi seluruh tubuhnya dengan oenuh gairah.
Alex yang sudah terbiasa dengan mudah membuka pakaian yang di pakai oleh Layla, hingga keduanya sama-sama bertubuh polos tanpa sehelai benang yang menutupi. "Kau yakin untuk menghentikan permainan ini?" tanyanya seraya memainkan daerah nona V dengan lidahnya, sungguh permainan yang semakin liar.
Layla yang mempertahankan akhirnya luluh dengan perlakuan Alex yang sangat membuat hasratnya tak bisa di bendung lagi. "Aku sudah tidak tahan, lakukanlah." Kirih pelannya membuat Alex tersenyum tipis, dengan sengaja dirinya memperlama pemanasan dan melihat bagaimana reaksi dari istrinya yang ingin menunjukkan gaya baru.
Keduanya hanyut dalam pemanasan yang semakin menggairahkan, momen romantis tidak bertahan lama di saat terdengar suara nyaring dari salah satu bayi yang menangis. Dengan cepat Layla mendiring tubuh suaminya, menghampiri sang anak yang terbangun dari tidurnya.
Sesuai dengan perkataannya, Alex tak akan melepaskan Layla dengan begitu mudah. Dua berjalan mendekati sang istri dan melanjutkan pemanasannya, gairah yang berada di ujung hendak di keluarkan.
Setelah Layla berhasil menidurkan bayinya, dengan sigap Alex menggendongnya di atas tempat tidur dan melakukan penyatuan sepasang suami istri.
"Lakukanlah!" pinta Layla, matanya yang sayu dan terlihat sangat seksi.
"Dengan senang hati." Jawab Alex.
Mood Alex akhirnya semakin baik saat Layla memberikan servis yang begitu memuaskannya, rasa cemburu yang akhirnya membuat mereka kembali dekat.
"Biar aku saja." Alex ikut andil menganti popok kedua bayinya, dia merasa kasihan pada istrinya selalu menjaga buah hati mereka.
Layla tertawa geli melihat ekspresi Alex yang sangat lucu saat pertama kali mengganti popok. "Sudahlah, kau tidak akan sanggup dengan baunya, aku saja!"
"Tidak, kau beristirahatlah dan pulihkan tenagamu untuk nanti malam."
"Nanti malam?" Layla menautkan kedua alisnya, bingung dan tidak mengerti.
"Tentu saja melajukan unboxing seperti tadi, aku ingin kau memimpinnya." Ucap Alex yang tersenyum lebar, sementara Layla tersenyum kecut yang semula terharu karena pria itu membantunya namun ada udang di sebalik batu.
"Ck, dasar pria."
Layla membiarkan Alex mengganti popok anaknya, diam-diam dia merekamnya untuk di jadikan kenangan indah.
Alex berusaha keras mengganti popok kedua bayi itu, menutup hidung tak tahan dengan aroma menyengat itu. Demi mendapatkan jatah di malam hari, dirinya harus berjuang sedikit lebih keras. "Astaga…bau pupnya membuat bulu hidungku rontok." Ucapnya di dalam hati.
Dia menatap kedua putrinya yang sepernya menertawakannya memiliki nasib buruk.
"Apa kalian menyukai ekspresi Ayah!" Alex mengajak baby twins mengobrol.
"Kalian kejam sekali menertawakan nasib Ayah tampan kalian ini." Sambungnya penuh percaya diri, menepuk dadanya dengan pelan.
"Tak aku sangka kalau kau ayah yang narsis dan penuh percaya diri."
"Apapun itu, yang oenting jatahku jangan sampai di kurangi. Setidaknya lihatlah bagaimana perjuanganku mengganti popok twins F."
__ADS_1
"Itu tidak pantas di sebut perjuangan, kau melakukannya hanya sekali saja."
Alex hanya terdiam, pantas saja rasakan jika istrinya itu sedikit berubah bukan karena tidak lagi mencintainya, melainkan pekerjaan mengurus bayi tidaklah mudah. "Aku sekarang mulai mengerti dan akan mengganti popok baby twins." Putusnya.