Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Kemenangan untuk Alex


__ADS_3

Kedua pimpinan mafia saling bertarung untuk menyelesaikan masalah setelah tidak menemukan titik terang dari kesepakatan, tak ada yang ingin mengalah semuanya terus mempertahankan harga diri masing-masing.


Mereka bertarung dengan tangan kosong untuk menguji seberapa kuat antara mereka, tentu saja pertarungan antara hidup dan mati. Alex tak memberikan celah begitupun dengan lawan yang ternyata memiliki kemampuan yang hampir sama. 


"Sebaiknya kalian pergi dari kawasanku!" 


"Kawasan mu? Ayolah, ini milik negara. Jadi, aku bebas untuk melakukan pelayaran. Jangan makan sesuatu yang bukan menjadi hak milikmu, itu teramat memalukan bagi seorang mafia." Balas Alex tersenyum miring. 


"Ini masih daerah milikku, tidak ada sangkut pautnya aset negara. Jika kau ingin lewat dengan selamat, maka berilah upeti sesuai dengan kesepakatan. Kami bahkan sudah bersikap baik tapi kau dan kelompokmu itu yang begitu sombong, padahal hanya membayar sedikit dari persenan keuntungan yang didapat." 


"Kau tidak mengenalku dengan baik." 


"Kau juga tidak mengenalku dengan baik." Balas pria yang menjadi musuh Alex. 


"Aku tidak akan mengeluarkan sepeser uang hanya untuk membayar upeti untukmu dan juga kelompokmu."


"Itu berarti kau lebih memilih nyawa dibandingkan harta."


"Ya tentu, karena harta lebih berharga." Balas Alex tersenyum miring, mengeluarkan dua belati dan mengayunkan nya dengan sangat indah. "Bukankah pertarungan akan menjadi lebih menarik menggunakan properti daripada tangan kosong?" ucapnya seraya menyerang. 


"Sepertinya menarik." Pemimpin mafia itu juga mengeluarkan pisau lipat yang bergerigi. 


Keduanya kembali menyerang satu sama lain seperti kesetanan, tidak peduli berapa banyak luka yang tergores di tubuh. Pertarungan hidup dan mati, tak peduli seberapa parah kehancuran kapal. 


Alex dengan gerakan melingkar menendang tubuh pria yang menjadi musuhnya, topeng separuh wajah dari pria itu terlepas hingga terlihat olehnya. 


"Aku menandai wajahmu," ucapnya tersenyum tipis. 


Pria malang dengan identitas yang terbongkar oleh Alex, wajah tampannya terlihat dengan sangat jelas. Ya, dia adalah Roy Immanuel, mantan kekasih dari Layla yang notabene sekretaris pribadi di perusahaan Anderson. 


"Tandai saja, apa kau pikir ini wajah asliku? Aku tidak sebodoh itu." Beruntung Roy sudah mengantisipasi dengan menggunakan identitas samaran, menggunakan sedikit make up untuk mengalihkan musuh.

__ADS_1


"Ck, kau seperti wanita menggunakan make up. Lain kali gunakan topeng dengan kualitas bagus." Ejek Alex seraya menghantam tubuh Roy yang semakin tersudutkan. 


Pertarungan yang mulai goyah, Roy kalah dalam kecepatan hingga dirinya terluka parah. Serangan Alex yang begitu bertubi-tubi, menghantam dan mencederai beberapa bagian tubuh.


"Ini tidak baik untukku!" batin Roy yang memberikan isyarat kepada semua bawahan untuk mundur, lebih mementingkan nyawa daripada persenan uang dari musuh yang berlayar. 


"Ck, dasar pengecut." Alex segera melompat ke kapal miliknya, tak lupa memberikan hadiah perpisahan kepada musuhnya berupa peluru meriam menghantam bagian kapal hingga tenggelam. Dia tertawa dengan puas melihat kemenangan yang diraih, tubuh yang penuh dengan luka tak menjadi masalah. 


Roy, beberapa awak kapal, dan semua anggota mafia yang selamat mengumpat kesal karena kapal telah dihancurkan oleh musuh tak ada pilihan lain selain menggunakan kapal kecil untuk berlayar ke tepian pantai. 


Di sepanjang perjalanan, Roy terus saja mengumpat pemimpin dari mafia lain dan bersumpah untuk melakukan pembalasan dendam atas apa yang terjadi kepadanya dan juga bawahan. 


Beberapa orang yang berpakaian jas putih mulai mendekati Alex, bagian penting dari pelayaran yaitu tim medis yang tidak pernah ketinggalan. 


"Maaf, biarkan saya mengobati luka yang ada di tubuh Tuan." Ucap pria berjas putih. 


"Hem, lakukan yang terbaik, aku ingin luka ini tidak diketahui oleh siapapun." Titah Alex. 


Alex tersenyum bahagia walau sesekali meringis menahan rasa sakit bagian tubuh yang terkoyak akibat pisau tajam, tubuhnya sudah kebal akan benda tajam, itu salah satu keuntungan yang didapat setelah melewati masa penyiksaan oleh keluarga Mateo. 


"Dua puluh delapan tahun, aku disiksa oleh keluarga Mateo, ternyata ada gunanya juga." Ucap Alex di dalam hati. 


Seseorang membawakan ponsel dan menyerahkan kepada Alex, melihat pesan singkat dari sang asisten Dinu mengenai permasalahan di lapangan yang sudah teratasi dengan baik. Kebahagiaan yang menjadi berlipat ganda, berjanji akan merayakan sebuah pesta kecil. "Setelah menyelesaikan pelayaran ini, aku butuh merayakan keberuntungan ini." 


"Apa Tuan tidak apa-apa?" tanya asisten Jimmy yang berjalan mendekat. 


"Aku baik, kemana saja kau? Aku tidak melihat mu." Tanya Apex penasaran. 


"Aku ada di belakang dan sempat memotret pemimpin mafia itu." Jimmy menyerahkan selembar foto, Alex yang segera meraih nya dan melihat wajah di balik topeng yang tak sengaja terlepas olehnya. 


Alex meneliti wajah pria yang menghalangi jalan bisnis, melihat dengan seksama. "Aku seperti melihat wajahnya, walau dia menutupinya dengan penyamaran identitas lain. Tapi tak khayal dan menutup kemungkinan, siapa dia?" gumamnya yang bermonolog terdengar di telinga Jimmy.

__ADS_1


"Serahkan kepadaku Tuan, bukti foto itu adalah sebuah kunci untuk kita mencari tahu identitas seseorang." 


"Nah, ambillah." Jawab Alex yang tidak tertarik mencari tahu siapa pria yang menghalangi bisnisnya, dan beranggapan tidak akan bertemu dengan mafia gadungan, itulah yang ada di dalam pikirannya.


****


Alex pulang ke Mansion dengan tubuh yang sangat lelah juga penuh luka yang sudah di obati oleh dokter pribadi keluarga Anderson. 


"Ini sudah larut malam, kau pulang larut malam sekali dan bahkan ini hari ketiga." Ucap seseorang yang tak lain sang kakek. 


"Kakek sendirilah yang memberikanku tanggung jawab besar, beruntung saja masalah perusahaan teratasi dengan baik. Saat mengirimkan bisnis itu, ada sekelompok mafia yang ingin memeras ku." Alex mendudukkan tubuhnya di sofa empuk, memerintah pelayan untuk memberikannya minuman segar. 


"Lalu, apa sudah teratasi?" 


"Sudah." Alex meneguk minuman segar hingga habis, tak peduli bagaimana pendapat sang kakek. 


"Kau persisi seperti ayahmu." 


"Sudahlah Kek, jangan menyamakan aku dengan ayah." 


"Memangnya kenapa?" tanya David penuh curiga. 


"Entahlah, akhir-akhir ini pikiranku selalu saja kacau dan hidup dalam tekanan batin." 


"Jangan mengeluh, setidaknya kau tidak menjadi gembel dan kuli bangunan." 


"Ck, Kakek selalu saja membuatku repot. Jika semua tanggung jawab di berikan padaku, lalu apa pekerjaan untuk paman John?" 


"Dia asisten ku, tentu saja hanya melayaniku saja." Jawab David membuat Alex tak berdaya dan melengos pergi tanpa mengatakan apapun. "Hei, aku belum selesai bicara. Dasar cucu kurang ajar!" pekiknya. 


Alex tak peduli dengan makian dari sang kakek karena baginya itu sebuah kasih sayang secara tidak langsung, di jalan masuk ke dalam kamar dan beristirahat sesuai dengan kebutuhan tubuh yang diperlukan saat ini, memejamkan mata dan terlelap.

__ADS_1


__ADS_2