Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Salah mengira


__ADS_3

Layla berusaha membujuk Alex untuk menghentikan aksi konyol yang memalukan, dirinya begitu kehilangan wajah berhadapan langsung dengan dokter pemilik dari rumah sakit yang mereka kunjungi. Rasa tertekan di hati, salah dalam berbicara berbuntut panjang sampai ke titik terendah. 


"Ayolah Alex, aku hanya bergurau jangan menganggapnya serius." 


Dokter itu pun bingung untuk memeriksa pasiennya, data yang diterima dengan keluhan Alex ingin sekali memukul wajah sang pewaris keluarga Anderson. Menelan saliva saat berhadapan langsung, mata tajam bak elang seakan mencekiknya. 


"Jadi bagaimana? Apa hasilnya?" Desak Alex dengan batas kesabaran kian mengikis. 


"Jangan mempermalukanku di sini, ayo pulang!" tutur Layla menyambar lengan kekar seraya menariknya keluar ruangan. 


"Tidak bisa, jawab pertanyaanku atau rumah sakit ini aku ratakan!" 


Bledug!


Bagai tersambar petir yang dirasakan sang dokter, dirinya semakin terpojok. Di tidak ingin rumah sakit dari kerja kerasnya selama ini di tutup, menjawabnya setelah menyusun kata-kata yang pas agar tidak salah bicara. 


"Jangan tutup rumah sakit saya Tuan, jangan khawatir dengan kondisi tunangan anda karena dia baik-baik saja." 


"Lalu, bagaimana dengan anak cacing kami?" 


"Anak cacing?" sontak dokter menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti dengan istilah perumpamaan. 


"Tidak ada cacing maupun anaknya." 


"Sudahlah Dok, terima kasih sudah meluangkan waktumu dan maaf mengenai apa yang terjadi." Layla menyela sambil menarik tangan Alex keluar dari ruangan. 


Akhirnya drama itu usai, sang dokter bisa bernafas lega mengingat rumah sakitnya masih aman. Sementara Layla memasukkan Alex ke dalam mobil dan mengemudikan menuju Mansion. 


"Apa yang kau lakukan?" keluh Alex menggerutu.


"Membawamu kembali ke Mansion." 

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan ini? Aku masih ingin mendengar penjelasan dokter." 


"Tapi aku tidak hamil." 


Alex terdiam dan menyadari kekonyolannya, duduk diam terpaku bak manekin. 


"Kenapa kalian kembali?" suara bariton terdengar saat kaki melangkah masuk ke dalam Mansion.


"Karena Alex bertingkah sangat konyol." Layla mendudukkan tubuhnya di atas sofa empuk sambil menyandarkan punggungnya. 


"Apa yang terjadi?" David tertarik dan ikut duduk di sofa. 


Layla menghela nafas jengah mengingat kejadian memalukan itu. "Alex salah paham dengan ucapanku, mengira kalau aku hamil anak cacing." 


"Tapi kau sendiri yang mengatakan itu." Sela Alex tak mengalah. 


"Ya, memang aku mengatakan itu. Bukan berarti aku hamil anakmu." 


"Kalian sangat serasi sekali, cucuku yang konyol itu beruntung mendapatkan dirimu. Semoga pernikahan kalian berjalan dengan lancar tanpa kendala, hanya itu yang aku inginkan. Jika Tuhan mengambil nyawaku di saat itu juga, aku sudah merelakannya. Beban yang kupikul sedikit berkurang."


"Apa yang kakek katakan? Jangan pernah mengatakan hal itu lagi." Alex berjalan mendekat dan memeluk tubuh pria berambut perak dengan sangat erat. 


"Aku mengatakan hal yang akan terjadi nanti, umur tidak ada yang tahu." 


"Aku hanya memiliki Kakek di dunia ini, jangan pernah mengatakan hal menakutkan itu lagi." Ucap Alex pelan, David membalas pelukan dari cucunya menciptakan rasa haru yang dapat di rasakan di sekeliling mereka. 


"Tapi kau masih mempunyai paman, Rudra anakku dan mulailah berdamai dengannya. Sikapnya saat ini terjadi semua karena ku, kesalahan di masa lalu karena tidak pernah mengakuinya sebagai darah dagingku sendiri." David masih menyalahkan dirinya, tetap saja semua berpuncak akibat tidak pernah memperhatikan putranya itu selain Arden, ayah kandung Alex yang sudah tiada. 


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikannya dari kejauhan. Dengan cepat menyela air mata merasakan apa yang selama ini terjadi, namun teruntuk rencana yang berjalan lancar, dia melakukan segala upaya  sampai detik ini tidak ada yang mengetahuinya.


Di malam hari, Alex sangat bosan melihat layar monitor di depannya. Pekerjaan kantor harus diselesaikan sebelum pernikahan berlangsung. Memijat pelipis seraya menekan kelopak mata tertutup pelan, otot mata yang terasa kaku. 

__ADS_1


Dia melihat bayangan putih menuju balkon, rasa penasaran membuat Alex berlari dan menghampiri. Seorang wanita cantik bergaun putih menoleh dan tersenyum ke arahnya, terpesona dengan kecantikan alami yang disuguhkan padanya. 


"Kau disini?" tanya Alex yang memeluk wanita cantik itu, namun tidak bisa tersentuh olehnya. Dia segera menghilangkan ilusi sementara yang mulai merusak otaknya, melihat Layla yang menghampirinya di tengah malam itu tidaklah mungkin. "Kenapa bayangannya terlihat dimana-mana? Apa yang terjadi padaku?" lirihnya sambil menarik nafas dalam dan mengeluarkannya. 


Alex tak ingin berlarut dalam bayangan semu, memutuskan untuk keluar dari ruang kerja dan berjalan-jalan. 


Suasana malam yang begitu tenang, kedamaian yang tercipta seakan mempersembahkan hanya untuk dirinya. Langit yang di hiasi bintang dan terlihat berkelap-kelip sangatlah indah, sinar rembulan mantul di kolam renang berwarna biru itu semakin menambah panorama yang memukau mata. 


Alex mengucek kedua mata melihat seorang wanita sedang duduk di pinggir kolam renang dengan kedua kaki di air kolam. "Ini pasti bayangan semu." Lirihnya yang berjalan menghampiri. Dia duduk bersebelahan seraya mengungkapkan perasaannya. 


"Aku tahu kau hanyalah bayangan semu saja, kau ada di mana-mana disini dan disana. Apa kau tidak bisa keluar dari pikiranku? Aku akui kita akan menikah karena kesalahanku, tapi jujur saja kalau aku sangat berharap kau mengandung benihku. Waktu itu, Layla yang asli mengatakan ingin kebebasan dan tidak ingin terikat. Apa kurangnya aku? Kedekatanmu dengan Roy yang sepertinya masih mengharapkan cintamu, aku sangat tidak menyukainya. Aku merasakan sesuatu yang tidak bisa aku lukiskan, tapi aku tidak mengerti semua ini." Kali pertama Alex mengungkapkan perasaannya dan tersenyum hambar, berpikir jika wanita di sebelahnya adalah bayangan semu. 


"Aku juga tidak mengerti mengapa kau mengatakan itu padaku?" jawab wanita di sebelahnya. 


Alex sedikit terkejut dan kembali tertawa receh. "Bahkan bayangannya saja sudah mempermainkanku." Batinnya seraya mencium bibir si bayangan semu namun anehnya terasa nyata. 


Layla sangat terkejut, awalnya dia bersimpati pada Alex. Tapi, saat bibirnya dicium membuat suasana buruk di hati meradang. 


Plak!


"Eh, bukankah bayangan tidak bisa menyakitiku?" ucap Alex pelan seraya memegang pipinya yang terasa berdenyut, masih menganggap wanita di sebelahnya ilusi. 


"Pasti kau makan sesuatu hingga berkhayal." Layla menarik tangan Alex dan membawanya masuk ke dalam, angin malam berhembus menusuk hingga ke tulang. 


Deg


Alex baru menyadari kalau dia kembali bersikap konyol, mengira berbicara sepuas hati dengan bayangan tapi ternyata mengungkapkannya langsung ke orangnya. Betapa malu dirinya saat ini, namun berusaha menutupi dengan sikap arogan. 


"Aku baik-baik saja."


"Tidak, aku rasa kau salah makan tadi." Layla menyeret tangan Alex menuju kamar pria itu, memeriksa suhu tubuh layaknya seorang dokter. 

__ADS_1


__ADS_2