Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Cemburu


__ADS_3

Sesampainya di butik, Keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam, berjalan berdampingan membuat semua mata yang memandang kagum. Layla menyusuri pandangan, mengikuti kemana Alex membawanya. Beberapa karyawan datang menyambut kedatangan mereka dan di perlakukan dengan sangat baik juga ramah. 


"Apa ini di perlukan? Pilihkan gaun apa saja." Celetuk Layla yang tak ingin menghabiskan banyak waktu. 


"Mana boleh seperti itu, kau harus memilihnya yang sesuai dengan tubuhmu juga cocok." Bantah Alex. 


Layla mendekati Alex seraya berbisik. "Ingat! Kita hanya menikah karena keadaan saja." 


"Dan ingat juga jika calon anakku sekarang tengah bersemayam di rahimmu." Balas Alex yang juga berbisik. 


Mau tak mau Layla menyetujui kesepakatan awal dan melupakan egonya, jujur saja jika pernikahan yang ajan diadakan sebentar lagi amat menyesakkan dada. Berpose di cermin besar seraya berputar melihat dirinya yang sangat sempurna mengenakan gaun pertama. "Wow, aku seperti tuan putri di kartun." Lirihnya yang terkekeh. 


Dia keluar dari ruang ganti pakaian dan berdehem untuk menarik perhatian Alex yang fokus pada layar pipih di genggaman tangan. "Yang ini saja, aku sudah menjatuhkan pilihan. Ini cocok di tubuhku!" ungkapnya seraya berpose ala model, gaun putih yang seksi yang di atasnya sedikit terbuka di tambah lagi bagian punggung yang juga terbuka. 


Alex menoleh dan terdiam beberapa saat, mendesis seraya memejamkan mata sepersekian detik. "Itu sangat terbuka. Ganti!" 


"Terbuka sedikit saja tidak masalah, ini fashion jaman sekarang dan menjadi tren." 


Alex menatap tajam ke arah manager butik dan menjentikkan jari agar mendekat ke arahnya. 


"Iya Tuan." Jawab sang manager seraya menundukkan sedikit tubuhnya sebagai penghormatan.


"Mengapa kau memperlihatkan gaun yang setengah jadi itu? Bagian punggung dan juga depannya sangat terbuka, bagaimana kalau dia membungkuk?" ujar Alex sedikit mengatur, tidak suka jika nantinya Layla terkena pandangan dari para pria yang menjadi tamu. 


"Tapi itu gaya terbarunya Tuan, sedang di gandrungi banyak artis dan juga model papan atas."


"Seleranya sangat buruk sekali." Ucap pelan Alex, sedangkan wajah Layla sudah terlihat masam. 


"Kau saja yang ketinggalan zaman."

__ADS_1


"Huss diamlah, kau tidak akan mengerti!" kelima jari yang terangkat menjadi isyarat untuk tidak berkomentar apapun mengenai perintah juga keputusan Alex. 


Dengan terpaksa Layla kembali mengganti gaun pengantin yang kedua yang juga terlihat seksi dan lagi-lagi Alex menolak dengan alasan yang sama. Dia sudah lelah mengganti gaun yang kelima, dan sudah di putuskan sang tunangan kalau dirinya memakai gaun itu. 


Layla menatap dirinya di depan cermin besar yang ada di luar, berputar untuk melihat penampilan gaun yang dipilihkan Alex untuknya. 


"Gaunnya seperti orang berduka saja, tidak ada yang menonjol." Komentar Layla yang tampak lesu tidak menyukai pilihan Alex. 


"Tapi kau terlihat cantik dengan gaun tertutup." Alex tersenyum puas melihat gaun yang dikenakan Layla, berpikir sebagai seorang laki-laki yang tidak dapat di nikmati oleh laki-laki lain, ada rasa ketidakrelaan jika sang tunangan memakai pakaian terbuka. 


Setelah keluar dari butik, Layla hanya manyun di sepanjang perjalanan. Kedua tangan yang di lipat di depan dada dan fokus lurus ke depan tanpa berniat mengobrol dengan pria tampan di sebelahnya yang fokus mengemudi. 


"Kau tidak tahu bagaimana pikiran pria saat melihat wanita seksi." 


"Ck, itu masih tahap normal. Lain cerita jika aku hanya pakai bikini saja dan itu baru bisa kau tegur dan mengaturnya." 


Seketika Alex menepikan mobil dan menatap Layla tajam, keras kepala dari wanita di sebelahnya selalu saja mengajaknya berdebat.


Entah apa yang dipikirkan Alex yang mencium bibir ranum di hadapannya, menyesap dan lidahnya mulai bergerilya masuk ke rongga mulut dengan mengabsen deretan gigi putih yang tersusun rapi. 


Layla memberi tamparan di pipi Alex setelah berhasil melepaskan ciuman itu, dia sangat marah dan juga tak mengerti apa yang terjadi pada pria yang statusnya sudah menjadi tunangannya. "Kau pria brengsek yang pernah aku temui! Berani sekali kau menciumku tanpa seizinku." Bentaknya dengan tatapan tajam penuh amarah. 


Alex memegang pipi yang terasa perih, tersenyum puas sudah mencium bibir tunangannya. "Aku tidak perlu meminta izin siapapun, kau akan menjadi istriku. Berhenti bersikap kekanakan dan ikuti semua perkataanku." 


"Pernikahan hanya karena keadaan saja, jangan menganggap dirimu seolah-olah suamiku. Kita memang tunangan tetapi bukan berarti menikah!" 


"Pernikahan sudah di tetapkan." Alex tersenyum mengejek. 


"Sudah ditetapkan bukan berarti akan menikah, aku tetap tidak akan menikahimu Alex Anderson!" tekan Layla mengancam. 

__ADS_1


"Kau belum mengenalku sepenuhnya." Balas Alex yang merasa tertantang. 


"Kita lihat saja, siapa yang akan menang, kau atau aku." 


"Oke." 


Terdengar suara notifikasi ponsel milik Layla yang langsung mengalihkan perhatian dan melupakan perdebatan mereka. Melihat pesan di benda pipih itu seraya membukanya, terdapat beberapa pesan dari Roy, sang mantan kekasih. 


Suasana Alex kembali memanas, diam-diam dia melirik wanita di sebelahnya sedang berbalas pesan. Api yang tadinya meredam sekarang kembali bangkit, Layla yang terus cengar-cengir dan tersenyum itu membuatnya tak sabar dan merebut ponsel itu. Dan benar saja, saat membaca pesan dan nama sang pengirim yang tak lain rivalnya. 


"Kembalikan ponselku!" Layla menadahkan tangan seraya menggerakkan jari, menatap tajam Alex yang dengan berani merebut ponsel dari tangannya. 


"Kau tidak boleh berhubungan dengannya!" 


"Tidak perlu mengaturku." 


"Terserah." Alex menjauhkan ponsel dari jangkauan Layla yang terus berusaha meraih benda pipih itu. 


Layla yang terus menjangkau hingga tak sengaja bibir keduanya bertemu dan lebih membuatnya malu tak sengaja menyentuh benda pusaka. Alex juga terdiam bersamaan dengan aktivitas yang terhenti sejenak, keduanya saling bertatapan kehilangan wajah. 


Alex mendorong tubuh Layla sembari menelan saliva dengan susah payah, memulihkan situasi canggung yang amat memalukan bagi keduanya. 


"Aku ingin ponselku!" celetuk Layla. 


"Ambil saja." Alex melempar ponsel seraya menjalankan mobilnya, berusaha melupakan kejadian itu. 


Layla juga merasa canggung, namun tingkat kekesalannya kembali meluap saat melihat benda pilih itu dan ternyata Alex sudah menghapus juga memblokir nomor ponsel Roy.


"Aku adukan ini pada kakek." Batin Layla yang melirik Alex kesal. 

__ADS_1


Alex melajukan mobil dan mengantarkan Layla ke Mansion Anderson karena tak ingin jika Roy berusaha untuk mendekati maupun menghubungi tunangannya yang akan menjadi istrinya. Memastikan segalanya dan memutuskan kontak pada pria yang menjadi mantan kekasih tunangannya. 


"Ck, pria itu tidak akan bisa menghubungi Layla lagi." Alex tersenyum puas seraya melajukan mobil menuju markas untuk mempertemukan sang kakek dengan Rudra. 


__ADS_2