
Kehamilan Layla sudah menginjak sembilan bulan, dimana dirinya akan segera melahirkan baby twins yang belum tahu siapa ayah biologis dari anak kembarnya. Setelah selesai dengan kegiatan ibu hamil, dirinya ikut bergabung dengan Alex dan juga Roy yang sama-sama menunggunya. Kedua pria yang setia menemaninya di saat hamil, menyusahkan mereka dengan permintaan aneh-aneh selama proses mengidam.
Layla mudah lelah saat perut yang terasa lebih kencang dan cukup menyulitkannya berjalan, tidak sanggup seraya dua pria yang menjadi bodyguardnya memijat kakinya yang membengkak.
"Kau terlihat sangat lelah, sebaiknya tidak perlu mengikuti kegiatan ibu hamil." Ucap Roy yang merasa kasihan.
"Tidak bisa, aku ingin melahirkam secara normal." Keukeuh Layla.
"Untuk kali ini aku setuju dengan pendapat Roy, apalagi hari kelahiran baby twins hanya menghitung hari lagi."
"Hah, baiklah. Kalian menang!" ucap Layla yang tak ingin berdebat.
"Kami akan mengantarkanmu ke kediaman kakek Yudistira." Ujar Alex bersemangat, walau dirinya sangat jengkel jika ada pria lain yang merusak momen mereka.
"Hem."
Di dalam mobil, Layla diapit oleh dua pria yang mencemaskan setiap gerakannya. Sudah lelah dirinya di perlakukan manis oleh dua pria yang mengklaim anak kembar di dalam perutnya sebagai anak mereka.
"Kalian ini sangat berlebihan, jika berada di sini lalu bagaimana kalian menyelesaikan pekerjaan kantor?"
"Kamu tenang saja Baby, aku sudah menyerahkan tanggung jawab pada asistenku." Jawab Roy tersenyum hangat.
"Ck, apa satu wajah saja tidak cukup? Sampai-sampai dia menambahnya." Ucap pelan Alex.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Roy yang hanya mendengar sayup.
"Tidak." Jawab singkat Alex seraya mengalihkan pandangannya ke arah Layla. "Semua tanggung jawabku sudah di serahkan pada asisten Dinu, dan aku bisa mengerjakannya di malam hari saat kau sudah tertidur."
"Hem."
Di sepanjang perjalanan, Layla dapat merasakan jika suhu di dalam mobil terasa panas dan juga sesak. Melirik kedua pria di samping kiri dan kanan secara bergantian, rasa tidak nyaman selalu saja hinggap di hati juga pikirannya.
"Suasana di sini sangat panas." Layla sengaja memancing perkataannya menyindir kedua pria itu, sedangkan sang supir tersenyum geli melihat majikannya menjadi rebutan dari dua pria terkenal dan kaya raya.
"Panas? tapi AC nya masih menyala."
"Bukan itu yang aku maksud suasana hati kalian, jika terus begini aku sebaiknya tidak perlu di kawal."
"Tidak bisa!" cetus Roy dan Alex serempak.
"Eh, dalam masalah ini kalian sangat kompak. Tapi sangat berbeda jika menyangkut hal lain."
Baik Alex maupun Roy saling berkontak mata beberapa detik, kemudian membuang muka. Mereka tidak ingin disatukan dalam satu mobil, namun terpaksa karena menganggap buah hati yang ada di perut Layla lebih penting dan sedikit menyingkirkan ego.
Lama mereka terdiam, mobil mulai masuk ke dalam kawasan sepi dan juga rawan, tidak ada yang takut ataupu khawatir.
"Kenapa kita lewat sini?" tanya Layla kepada pak supir.
"Jalan utama macet parah Nona, hanya ini jalan satu-satunya terdekat."
"Kamu tidak perlu cemas, aku akan melindungimu juga bayi kita." Alex berusaha menanangkan Layla sembari mengelus perut buncit yang terlihat kencang.
"Apa kalian tidak tahu kalau daerah ini rawan?"
"Dan apa kau lupa jika kamu pemimpin mafia, tidak akan ada orang yang berani untuk menyakitimu." Ucap Roy sombong.
"Ck, sangat sombong sekali."
Beberapa saat kemudian, mereka merasakan sesuatu yang aneh, terutama pak supir yang mengendarai mobil itu.
"Ada apa dengan mobilnya Pak?" tanya Alex penasaran.
Pak sopir tak langsung menjawab, dia menepikan mobilnya takut jika majikannya yang tengah hamil tua bermasalah. "Ban mobilnya sepertinya kempes Tuan."
"Bagaimana bisa? Apa kau tidak memeriksanya terlebih dulu?" Roy mendelik kesal, beruntung keadaan jalanan yang sepi.
"Maaf Tuan Roy, saya sudah memeriksanya tadi dan mungkin saja ada paku yang menancap."
"Sudahlah, tidak ada gunanya kau berkomentar. Sebaiknya kita turun saja dan menelepon mobil lainnya, kasihan Layla." Ujar Roy yang menengahi.
__ADS_1
Roy menghela nafas dan menganggukkan kepala, membantu Layla turun dan menunggu mobil lain datang menjemput setelah Alex menelepon supir jemputan.
Dor!
Dor!
Suara tembakan yang membuat mereka semua terkejut, dan segera mencari tempat yang aman untuk berlindung. Suara tembakan yang mulai bersahut-sahutan seperti mengancam mereka. Layla berteriak sembari menutup kedua telinganya, mood ibu hamil membuatnya takut mendengar suara bising nan keras.
Alex dan Roy melindungi Layla, keduanya saling melirik dna menganggukkan kepala untuk bersatu melindungi wanita yang menjadi pujaan hati. Terlihat sebuah bangunan rumah yang lama di tinggali, mereka berlari masuk ke dalam dan sekuat tenaga melindung wanita hamil yang akan melahirkan dalam beberapa hari lagi.
Alex dan Roy segera mengeluarkan pistol di saku celana yang selalu di bawa, untuk kali ini mereka bersatu dan menyerang beberapa orang yang berlari ke arah mereka dan tak lupa peluru timah yang bisa kapan saja menggores atau menyentuh kulit.
"Kita tidak bisa seperti ini, nyawa Layla dalam bahaya." Ucap Alex yang ingin maju membantu Roy dalam membidik musuh.
"Ck, jangan hiraukan aku. Sebaiknya kau selamatkan Layla dan bawa dia kabur dari tempat ini, aku akan menghalangi mereka." Desak Roy berusaha untuk tetap tenang, satu persatu mengarahkan pistol dan membidiknya mengenai musuh yang datang entah datang dari mana. "Sial, mereka semakin banyak."
Alex tetap membantu Roy dalam penyerangan yang tidak di ketahui siapa musuh yang menyerang mereka, yang pasti mereka memiliki niat buruk.
Alex mengerahkan kemampuannya menembak sambil melindungi tubuh Layla, memeluknya takut jika sesuatu terjadi kepada baby twins.
"Siapa mereka? Aku sangat takut." Lirih Layla dengan bibir yang bergetar, bisa saja dia membantu kedua pria yang ingin melindungi nyawanya, tapi kondisinya untuk saat ini tak bisa melakukan apapun. Jangankan untuk membantu, bahkan berlari beberapa meter saja sudah membuatnya kesulitan bernafas dan mudah lelah.
"Tenanglah, kami akan melindungimu." Alex mengusap pelan rambut Layla, namun tatapannya terus mengarah pada musuh yang menggunakan jas hitam lengkap dengan kacamata warna senada.
"Cepatlah bawa Layla pergi dari sini, aku tidak sanggup menahan semua serangan ini."
"Aku membantumu, kita pergi sama-sama." Putus Alex yang juga memiliki hati, memang dirinya sangat tidak menyukai Roy tapi pria itu harus tetap hidup demi anak yang di kandung Layla.
Roy merasakan ada yang aneh, tidak melihat keberadaan sang supir. "Aku tidak melihat pak supir, ada dimana dia?"
"Apa dia sudah mati atau menjadi seorang informan."
Sontak kedua pasang pupil mata itu melebar saat menyadari tidak ada sang supir yang mengantarkan mereka lewat jalan sepi itu, ternyata semuanya sudah di rekayasa menjadi sebuah jebakan untuk mereka, dan sialnya mereka tidak menyadari hal itu. Pak supir yang mengantarkan mereka adalah orang kepercayaan Yudistira yang sudah lama bekerja, sangat terkejut jika pria paruh baya itu mempunyai maksud lain.
"Tidak salah lagi jika dia dibayar untuk menjadi informan."
Ketiganya berusaha untuk kabur dengan terpaksa masuk ke dalam hutan, membawa Layla yang bahkan tidak sanggup berlari lagi. Sesekali mereka mengarahkan pistol menembak sasaran, dapat menghabisi semua para penjahat yang belum diketahui maksud dari serangan mendadak.
"Aku akan menggendongmu." Alex hendak menggendong tubuh berat itu tapi di tahan.
"Aku sudah tidak sanggup lagi berlari maupun di gendong, perutku sangat sakit." Ya, dalam keadaan genting Layla merasakan perutnya yang mulas.
Alex dan Roy menjadi panik saat mereka mendengar keluhan Layla. "Sepertinya dia mau melahirkan."
"Kau benar, kita harus cepat. Jumlah musuh menyerang semakin banyak dan sialnya disini tidak ada jaringan, sangat sulit memanggil bantuan."
Kedua pria itu bisa saja menghabisi para musuh dengan sangat mudah, namun tidak ingin membahayakan nyawa Layla yang mulai merasakan kontraksi.
"Argh." Layla meringis kesakitan dengan kontraksi yang di alaminya sambil mengelus pinggangnya.
"Layla." Mereka sangat terkejut dan memegang tubuh sang empunya nama untuk tidak terjatuh, terpaksa bersembunyi demi keselamatan wanita itu dan baby twins.
"Bagaimana ini? Mereka semakin banyak."
"Kau benar, bahkan aku sudah kehabisan peluru."
"Apa kau mengenal kelompok itu?" tanya Alex penasaran.
"Sepertinya mereka dari mafia elang putih dan musuhku."
"Elang putih juga menjadi musuhku."
"Ck, jadi mereka menjebak dan menyerang kita dengan memanfaatkan Layla."
"Tidak ada gunanya kita memikirkan itu, kita harus membawa Layla ke rumah sakit sepertinya baby twins akan lahir."
"Hem."
Alex dan Roy mulai mengatur strategi untuk bisa keluar dari hutan, mengingat kondisi wanita hamil yang sangat memprihatinkan.
__ADS_1
Layla sangat kesakitan sekaligus terkejut, seharusnya dia akan melahirkan beberapa hari lagi namun kondisinya sangatlah menegangkan dikejar oleh musuh kedua pria itu. "Aku tidak tahan dengan ini, sangat sakit." Keluhnya seraya menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Bertahanlah!"
Alex tak bisa berdiam diri karena jarak musuh semakin dekat dari mereka, dia menyerahkan Layla dan segera maju menyerang beberapa musuh menggunakan tangan kosong, demi bisa merebut senjata untuk membalas.
"Roy, kapan ini berakhir? Aku sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya." Air mata Layla mengucir bersamaan dengan keringat membasahi pakaian, sedangkan posisi pria yang tidak paham mengenai proses lahiran hanya memberikan semangat dan sesekali menembak musuh yang mendekat.
Roy melihat Alex yang terpojok. "Kau tunggu disini, jika merasakan sakit gigit saja jas ku ini." Dia memberikan jasnya dan segera keluar dari persembunyian, berlari tanpa menunggu jawaban Layla.
Alex mengumpati Roy yang pergi meninggalkan Layla yang kesakitan seorang diri, namun mereka harus berjuang dan merelakan sesuatu jika ingin menang.
"Mudur dan jaga Layla!" titah Alex.
"Aku tidak bisa berdiam diri saja, kita perlu menuntaskan semua musuh dan membawa Lala ke rumah sakit."
"Ck, jika sampai kenapa-napa maka kau akan aku bunuh." Ancam Alex.
Musuh yang berbaju hitam datang silih berganti seakan tak ada habisnya, menyerang secara bertubi-tubi karena seseorang memberikan perintah.
Kedua pria itu tengah bertaruh nyawa, mereka sama-sama menyatukan kekuatan untuk menghabisi anggota mafia elang putih.
Dengan begitu lihainya, kegigihan dan juga semangat membara membawa keduanya dalam tahap kemenangan menuju final. Satu persatu anggota mafia elang putih tumbang terkapar tak berdaya dan sebagian lagi mati tertembak.
Seseorang yang tengah menyaksikan kehancuran dari dua pria itu sangat marah mengetahui jika sasaran lolos, anak buahnya banyak yang meninggal di medan perang. "Sial, hanya dua orang saja mereka tak sanggup mengalahkannya." Ucapnya penuh kemarahan.
"Apa yang harus kita lakukan Tuan?"
"Keluarkan semua anggota untuk menyerang kedua pimpinan mafia itu, kita hanya memiliki satu kesempatan emas." Tutur pria itu serius.
"Baik Tuan."
Alex dan Roy sangat terkejut melihat beberapa orang menaiki motor datang dan menyerang mereka, tubuh yang penuh dengan luka tak lagi di hiraukan asal nyawa wanita yang di sayangi selamat.
"Siapa pimpinan mereka?" tanya Alex tak sengaja melihat dari kejauhan ada seseorang yang diam-diam memperhatikan mereka, dia menyipitkan kedua mata agar bisa melihat dengan jelas. Betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang sangat di kenal, pria yang pernah menjadi kakaknya. "Mike?"
"Mike?" ulang Roy mengerutkan dahi.
"Coba kau lihat di arah jarum jam tiga, aku sangat yakin jika dia pimpinan elang putih."
Roy mengikuti perkataan Alex. Apa kau mengenalnya?"
"Ya, dia anak bungsu Mateo."
Setelah informasi mulai terkuak, keduanya sepakat untuk menghabisi Mike yang menjadi dalang dalam penyerangan itu. Tak butuh waktu lama, mereka berhasil menumbangkan para pemotor dan mengambil alih. Mengendarai motor melaju ke tempat Mike berada dan langsung menyerang pimpinan elang putih dengan begitu kejamnya.
Semangat dalam bertarung tetap tumbuh demi Layla dan baby twins agar selamat dari segala macam masalah, melindungi sampai titik terakhir.
"Ck, jadi kau pelakunya kaparat!" Alex menghajar Mike dan sengaja menendang kaki besi dengan sangat kuat.
"Bagaimana dengan kejutanku?" Mike tersenyum puas melihat kondisi dua pimpinan mafia babak belur setelah dirinya mengeluarkan anggota mafia elang putih.
"Dasar licik!"
"Tentu saja demi kemenanganku ini, sekali dayung dua tiga pulau terlewati. Kalian akan mati di tanganku dan aku bisa merebut kekuasaan kalian. Bukankah itu menarik?" Mike tertawa sangat puas dan bertepuk tangan sebanyak tiga kali.
Seseorang datang dengan membawa wanita hamil, sontak Alex dan Roy sangat terkejut jika musuh menemukan lokasi Layla yang awalnya telah di sembunyikan.
"Masih ingin melawan?" Mike tertawa puas saat melihat kedua singa yang gagah perkasa tak berkutik, menjadikan permainan yang telah dia ciptakan semakin menarik.
"Brengsek. Lepaskan dia!" Alex sudah tidak tahan untuk menghajar Mike yang memanfaatkan keadaan, tapi di halangi oleh Roy.
"Jangan gegabah, nyawa Lala dalam bahaya." Bisik Roy yang mengatur strategi.
Alex mencoba untuk mengalihkan perhatian Mike dengan membawanya mengobrol, sedangkan Roy mengambil kesempatan itu untuk menyelamatkan nyawa Layla yang berada di cengkraman Mike.
Dor!
Alex dan Layla terkejut melihat Roy yang terkena tembakan di bagian organ dalam, penukaran nyawa untuk orang yang di cintainya.
__ADS_1
"ROY!" pekik Layla dan juga Alex.
Alex yang dapat meraih Layla segera menyembunyikan di belakang punggungnya, membalikkan keadaan dengan menembak jantung Mike sebanyak lima kali.