
Layla mengerjapkan mata beberapa kali, melihat ruangan yang sudah tidak asing lagi, menatap sekeliling ruangan dan menemukan seseorang yang duduk tak jauh darinya.
"Kau sudah bangun, Baby." Roy tersenyum cerah seakan tak melakukan kesalahan, meraih tangan Layla seraya mengecup lembut, tak lupa pula membelai rambut panjang itu.
"Kau gila." Dua kata yang keluar dari mulut Layla mengumpati pria yang berani menculiknya, sudah menduga hal ini namun tidak yakin akan apapun.
Roy tertawa menyukai amarah Layla yang sangat dia rindukan. "Aku memang gila sedari dulu karena dirimu yang sangat aku cintai. Kau tidak boleh menikah dengan kaparat itu, aku sudah menyiapkan kejutan hanya untukmu."
"Kejutan?" Layla mengangkat kedua alisnya dengan bingung dan penasaran, menerka-nerka apa yang akan ditunjukkan Roy padanya.
"Ya, ikut aku." Roy memegang tangan Layla yang sedikit menyeretnya, pergi menuju sebuah ruangan yang telah dipersiapkan.
Layla terus mengikuti langkah Roy yang bersemangat membawanya, entah dia harus merasa senang akibat pernikahannya dengan Alex di batalkan. Tapi, terjebak pria yang ada di hadapannya bukanlah hal yang menyenangkan, menganggap sang mantan kekasih sudah gila akibat obsesi belaka.
"Kau sudah siap melihat kejutannya?"
"Jangan membuatku penasaran. Ingat! Jika terjadi sesuatu pada kakek, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu." Ancam Layla yang di tanggapi kekehan dari Roy.
Roy memerintah beberapa penjaga berbadan besar untuk membuka pintu, menyeret Layla ikut bersamanya.
Sebuah ruangan yang didekorasi seperti kamar pengantin, tirai berwarna putih dipadu padankan dengan sprei warna senada. Banyaknya kelopak bunga mawar merah di atas ranjang berbentuk hati, cahaya sedikit redup di temani lilin aroma terapi. Suasana yang begitu romantis, baru masuk beberapa langkah Layla di timpa banyaknya kelopak bunga mawar merah, dia sedikit terkejut.
"Ini seperti kamar pengantin?"
__ADS_1
"Kamu benar." Sambung Roy tersenyum tipis, melihat kedua pintu besar yang tak jauh darinya tertutup dan terkunci.
Layla mendengar sesuatu dan segera menoleh, melihat pintu yang tertutup membuat buku kuduknya meremang, apalagi dirinya hanya berdua saja dengan Roy. "Kenapa pintu itu tertutup?" tentu saja dia sangat cemas, tidak ingin orang lain kembali menikmati tubuhnya untuk kedua kalinya.
Roy mengambil kesempatan itu mendekap tubuh ramping yang masih dibalut gaun putih khas pengantin, dirinya tidak akan rela jika Alex menikahi wanita yang sangat dia cintai.
Karena sebuah obsesi yang memiliki tidak terbendung lagi, di tambah dengan beberapa penolakan dari wanita itu semakin membuatnya hilang akal.
"Kau harus menjadi milikku, aku pastikan benihku tumbuh di rahimmu." Roy semakin hilang kendali, merobek gaun pengantin Layla dan menikmati bagian yang begitu menggugah iman. Satu persatu pakaiannya dilepas hingga polos tanpa sehelai benang, juga melakukan hal yang sama.
"Jangan melakukan ini padaku Roy, ku mohon." Layla menangis saat tubuhnya tak bisa melawan, memberontak pun percuma. Tidak bisa melakukan apapun selain menangis dan pasrah akan nasibnya, menjadi objek pelampiasan s*x.
Roy merasakan rasa sakit di dada yang berdenyut di kala melihat Layla menangis, namun pikiran, hati, juga hasrat tak bisa saling berkompromi. "Aku akan bertanggung jawab."
Cinta yang di miliki Roy untuk Layla sangat berbeda, hal itu pula membuatnya nekad melakukan yang tidak sepantasnya. Di akui kalau dirinya pria bejat, melanggar janji untuk tidak memperk*sa sang mantan kekasih. Tapi dia tidak berdaya saat ini, hanya dengan menanam benih di rahim wanita yang di cintai akan menjadi miliknya seutuhnya.
Ciuman kian memanas, ditambah tangan yang bergerilya memainkan bagian sensitif begitu memabukkan keduanya. Layla yang awalnya memberontak mulai menikmati permainan yang sudah di kuasai hasrat, hingga dia lupa jika rahimnya telah dibuahi oleh dua orang pria yang berbeda dan tidak dicintainya.
Roy begitu bersemangat dalam memainkan ritme, alunan suara yang keluar dari mulut Layla semakin mempercepat lajunya. Tersenyum penuh arti berharap jika wanita itu hamil anaknya, dengan begitu bisa memiliki seutuhnya.
Layla terkapar oleh serangan Roy, tubuhnya sangat lemah setelah penyatuan selesai.
"Aku mencintaimu." Roy mengecup bibir Layla dengan penuh cinta, suasana yang sangat romantis. Tapi ada rasa yang mengganjal di hati, saat penyatuan dia tidak merasa ada selaput dara yang menghalangi tubrukan rudalnya.
__ADS_1
"Tapi aku sangat membencimu, brengsek." Balas Layla seraya mengatur nafas, dia sangat benci pada dirinya sendiri ikut menikmati permainan hasrat dari pria di sebelahnya.
Roy sangat penasaran, merangkai kata-kata agar tidak menyinggung wanita di sebelahnya. "Maaf sebelumnya, apa sebelumnya kau pernah berhubungan intim dengan pria lain?" ada rasa kecewa dan sedih jika itu benar, berharap kalau dirinya pria pertama yang merampas kesucian Layla.
"Hem, lebih tepatnya di perk*sa." Jujur Layla sudah pasrah, dirinya yang menjadi korban dari dua orang pria.
Seketika Roy mengepalkan kedua tangannya, ingin mencari tahu siapa yang merebut kesucian Layla untuk pertama kalinya. "Siapa pria itu?" desaknya seraya mengeraskan rahang.
Belum sempat Layla menjawab, pintu ditendang dari luar membuat keduanya terkejut. Bahkan sang pelaku juga shock melihat pemandangan di depan mata, tubuh sang calon istri juga dinikmati oleh pria lain.
"Alex?" ingin sekali Layla kabur dari situasi itu, melihat dua orang pria yang telah mencicipi tubuhnya dengan paksaan.
"Apa yang kau lakukan pada calon istriku?" Alex tak bisa membendung amarah dan melayangkan pukulan mendarat di pipi Roy.
Roy segera mengenakan celana dan menutupi tubuh Layla dengan selimut. "Mulai sekarang Lala menjadi calon istriku, aku sangat yakin jika benihku tumbuh di dalam perutnya." Ucapnya dengan kesombongan.
Kedua pria itu saling menyerang satu sama lain, kekuatan yang sama hebatnya apalagi di kuasai dendam juga amarah. Saling memukul membabi buta hingga ruangan itu sangat berantakan seperti kapal pecah.
"Jangan bermimpi, karena di rahim Layla hanya ada benihku bukan benihmu." Sanggah Alex sambil menyikut perut Roy dengan keras.
Layla mengambil kesempatan itu untuk mengenakan pakaian dan kabur dari dua orang pria yang sama-sama menanamkan benih di rahimnya.
"Aku harus pergi dari negara ini." Sudah di putuskan olehnya yang akan menetap di luar negeri, jauh dari orang-orang yang mengingatkan dirinya seperti seorang pel*cur gratisan. Dia menyelinap keluar dari pintu, mengambil kesempatan sebaik mungkin untuk menghilangkan menenangkan diri.
__ADS_1
Jujur saja Layla merasa shock jika dirinya menjadi budak pelampiasan hasrat Alex juga Roy, dan lebih mengejutkannya adalah kedua pria itu sama-sama pemimpin Mafia.