Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Lima tahun kemudian


__ADS_3

Kehidupan Alex yang dulunya sangatlah suram sekarang penuh dengan cahaya, dimana dirinya memiliki keluarga yang begitu harmonis. Dia sangat mencintai istri dan kedua anaknya, rahasia yang di kubur tidak akan pernah mereka congkel kembali, biarkan menjadi sebuah cerita lama dan juga usang, yang terpenting dirinya menyayangi kedua anak kembar walaupun salah satunya bukanlah anak biologisnya. 


Alex begitu fokus mengurus pekerjaan kantor yang akhir-akhir ini terbengkalai, memijat kedua pelipis merasa sedikit pusing. Dia melepaskan kacamata yang bertengger, meletakkannya di atas meja kerja seraya menyandarkan punggung di kursi kebanggaannya. 


Telepon berdering dan melihat siapa yang menghubunginya, ternyata sang istri tercinta. Senyum di wajah diam-diam terukir indah, wajah letih berubah semangat saat menjawab telepon. 


"Halo Sayang." 


"Iya Sayang, tumben kau menelponku?" 


"Jadi aku tidak boleh menelponmu? Maka baiklah, aku tidak akan menganggumu." 


"Kenapa kau cepat sekali tersinggung, aku hanya bergurau saja. Aku senang kau menghubungiku, rasa letihku sedikit berkurang." 


"Kau ini. Aku akan membawa Flo dan Fio ke taman kanak-kanak, umur mereka sudah lima tahun." 


"Ya, kau atur saja." 


"Aku sudah di dalam perjalanan, kebetulan satu arah sewaktu pulang nanti aku singgah ke kantormu." 


"Benarkah?" 


"Tentu saja, aku tadi masak untuk bekal anak-anak dan berinisiatif membuatkan mu satu." 


"Kau memang yang terbaik sayang." 


"Ya sudah, aku tutup teleponnya." 


Alex tersenyum setelah telepon terputus, dia bisa mendengar suara keributan dari Flora dan Fiona di dalam mobil, di satu sisi dia juga merasa kasihan pada istrinya yang bekerja keras merawat kedua putri kembar mereka. 


"Pasti Flo dan Fio merepotkan ibu mereka, dasar anak-anak." Gumamnya seraya melanjutkan pekerjaan agar lebih cepat selesai, dengan begitu dia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan istri tercintanya, apalagi sudah tiga hari dirinya belum bercinta karena kedua anak kembarnya tidak membiarkan mereka melakukan itu, selalu saja membuat ulah hingga kepalanya pusing. 


"Sudah lama aku tidak bercinta dengannya, mengerjakan semua ini lebih cepat untuk meluangkan waktu bersama istriku itu." Gumamnya yang bersemangat. 


Baru saja Alex kembali melanjutkan pekerjaannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat dirinya harus sedikit mengalah. "Masuk!" ucapnya dari dalam ruangan mempersilahkan untuk masuk. 


Terlihat seorang pria tampan tengah tersenyum ke arahnya, membawa berkas di tangan. 


"Ada berkas yang harus Tuan tanda tangani." Asisten Dinu meletakkan berkas di meja kerja atasan seraya duduk di kursi kosong berhadapan dengan Alex. 


"Kau sudah mengecek ulang dan memastikannya?" Alex menatap asistennya menyelidik. 


"Sudah Tuan. Ada yang ingin saya sampaikan," ujar asisten Dinu. 


Apex mengerutkan dahi, mengalihkan pandangan lurus ke depan berhadapan dengan asistennya. "Sampaikan saja, aku akan mendengarkanmu." 


"Begini Tuan, sebentar lagi saya akan menikah dan ingin meminta cuti untuk dua minggu ke depan." Ungkap asisten Dinu. 


Selama itu? Lalu, bagaimana dengan pekerjaan kantor yang pasti terbengkalai." Alex masih tidak rela jika asistennya akan segera menikah. 


"Selama ini aku tidak pernah mengambil jatah libur, hanya dua minggu saja. Berikan aku izinmu, Tuan." Bujuk asisten Dinu. 

__ADS_1


Alex terdiam untuk beberapa saat. "Baiklah, aku memberimu izin. Aku mengerti bagaimana menjadi kau yang selalu saja sendiri, akan lebih baik jika kau segera menikah. Takutnya tidak ada wanita yang ingin menikah denganmu lagi, aku beri kau izin dua minggu." 


Ekspresi asisten Dinu selalu berubah-ubah saat mendengarkan pernyataan dari atasannya, tapi dia tidak peduli selain dirinya di berikan jatah cuti. Dia mengeluarkan sebuah amplop undangan khusus kepada Alex seraya tersenyum. "Ini kartu undanganku, aku mengundang Tuan dan seluruh keluarga untuk ikut merayakan pernikahanku." 


Alex mengambil undangan serta mengangguk. "Baiklah, aku dan keluarga akan datang." 


"Jangan lupakan hadiahku Tuan."


"Kau ini." Geram Alex yang hendak menjitak kepala bawahannya itu, tapi sayang asisten Dinu sudah kabur lebih dulu. Lalu dia tersenyum, tanpa diingatkan pun dia sudah menyiapkan kado pernikahan untuk asisten Dinu yang selama ini menemaninya, dan bahkan membantunya dalam menangani perusahaan. Ya, dia memberikan rumah mewah beserta isinya yang cukup mewah atas apresiasi dan pekerjaan yang selalu saja berhasil diatasi oleh bawahannya itu. 


Dia segera menuntaskan pekerjaan yang tertunda, menyelesaikannya tepat pada waktunya sebelum kedatangan sang istri. Dia bekerja begitu teliti dan juga telaten, tak ingin ada kesalahan apapun hingga dirinya harus bekerja dua kali. Jika dia sudah bekerja terlalu serius, dirinya di lupakan oleh waktu. Tanpa sadar waktu terus berjalan dan melupakan jika seseorang telah datang seraya menatapnya serius. 


Mata Alex tak sengaja menangkap sosok yang sangat di kenalnya tengah dudum di sofa sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Sayang, kapan kau datang? Kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dulu?" tanyanya seraya menautkan kedua alis, penasaran dari mana istrinya itu tiba-tiba sudah duduk di sana.


"Sudah setengah jam aku duduk disini tapi kau tidak menyadari kedatanganku." Cetus Layla. 


Alex menghela nafas berat seraya meninggalkan pekerjaannya, berjalan mendekati sang istri yang tengah merajuk karena dirinya yang tidak menyadari kedatangan istrinya. "Maaf, aku begitu fokus bekerja dan tidak menyadari kehadiranmu. Jangan marah padaku, aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan yang terbengkalai." Jelas nya panjang lebar untuk mengurangi kemarahan istrinya. 


"Jika tahu kau sibuk, aku tidak akan singgah ke sini dan merepotkanmu. Lebih baik kau selesaikan saja pekerjaan itu dan sebaiknya aku pulang saja." Layla hendak berdiri seraya meraih tas kecilnya, namun terhenti saat Alex memegang pergelangan tangan. 


"Jangan marah padaku, duduklah sebentar saja." Bujuk Alex tersenyum khas. 


"Hem, ini sudah waktunya makan siang. Makanlah dulu!" Layla mengeluarkan kotak makan siang yang berwarna abu-abu dan desain begitu mewah, penting baginya memenuhi kebutuhan perut sang suami. 


Alex tidak tertarik pada kotak makan siang, dia melonggarkan dasi yang seakan mencekik lehernya, membuka jas navy dan melemparkannya ke sudut sofa. "Itu tidaklah penting, sudah tiga hari kita tidak melakukannya." Dengan agresif dia menindih tubuh istrinya, hasrat yang tak tertahankan ingin segera di salurkan. 


"Makan dulu baru unboxing, hanya itu pilihanmu. Ya atau tidak." Putus Layla sembari mendorong tubuh Alex menjauh darinya. 


Saat membuka kotak makan siang, tercium aroma masakan yang begitu menggugah selera. Kedua mata Alex berbinar dan perut semakin keroncongan. "Semua ini makanan favoritku." 


"Ya, khusus untukmu. Makanlah!" 


Alex mengangguk, melahap makanan itu yang terasa sangat nikmat di lidah juga nyaman di perut. Tak lupa untuk menyuapi istri tercinta yang telah bersusah payah memasak untuknya. "Buka mulutmu!" 


"Tidak, kau saja." Tolak Layla. 


"Ayolah, buka mulutmu dan kita makan bersama-sama, ini sangat nikmat." Alex memaksa istrinya untuk ikut makan, dia tahu Layla belum makan apapun. 


Mereka menyantap makan siang dengan sangat romantis, hingga nasi di dalam kotak makan siang habis tak bersisa. Alex melihat ada sebutir nasi melekat di bibir Layla, tersenyum sangat tipis saat otaknya mulai bekerja demi mendapatkan keinginannya. 


"Ada nasi disana!" 


"Dimana?" tanya Layla yang berusaha menyekanya. 


"Aku akan membantumu." Alex mendekatkan wajah istrinya dan menatapnya dalam, menyeka bibir yang masih meninggalkan sebutir nasi menggunakan lidahnya. Kesempatan itu tak dilewatkan olehnya dan mencium bibir sang istri dan semakin dalam kian menuntut. 


Layla sangat terkejut dan berusaha mendorong tubuh sang suami yang sudah di selimuti gairah membara, terpaksa dia menerima perlakuan itu dan mulai menikmatinya. 


Alex mencium bibir dan memainkan lidahnya ke dalam rongga mulut Layladengan begitu lihainya, dirinya tak bisa menahan hasrat lebih lama lagi. Perlahan dia menggendong tubuh istrinya menuju ke kamar yang sudah tersedia di ruangan kantor, tak lupa untuk mengunci pintu demi keamanan dan tidak ada yang bisa mengganggu.


Keduanya sudah polos tanpa sehelai benang melekat di tubuh, melakukan rutinitas panas yang sudah membakar hasrat mereka. Bermain dengan penuh irama dan juga tempo yang mereka sukai, keduanya hanyut dalam suasana itu dan merasakan kepuasan surga dunia. 

__ADS_1


Setelah puas melakukannya, Alex dan Layla segera memasang pakaian mereka dan merapikannya. Hubungan di antara keduanya semakin dekat setelah bercinta, bahkan ketika mereka bertengkar juga akan berakhir di ranjang. Begitulah kehidupan yang begitu membosankan bagi seorang Alex Anderson menjadi lebih berwarna, amunisi dan vitamin tak pernah ketinggalan. 


Terdengar suara ketukan pintu, Alex mempersilahkan yang di luar ruangan untuk masuk ke dalam. 


"Kau lagi?" 


Asisten Dinu cengengesan seraya menyerahkan berkas baru, melihat penampilan atasannya yang sedikit berantakan. Dirinya mulai berkhayal mengenai percintaan suami istri yang sebentar lagi akan dia rasakan sendiri sensasinya. Sementara Alex paham apa yang ada di otak asistennya, menatapnya tanpa arti. 


"Ini biasa terjadi, kau akan merasakannya juga." 


"Tuan bisa saja." Asisten Dinu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia malu sendiri saat Alex terang-terangan mengatakan hal yang menjurus ke hubungan intim suami istri. Sama halnya dengan Layla yang juga sedikit kesal mendengar suaminya itu berterus terang. 


"Mana berkasnya?" Alex meraih berkas yang diberikan oleh bawahannya dan melakukan sedikit tugas. "Aku sudah menandatanganinya, kau bisa pergi sekarang!" usirnya yang masih ingin bermesraan dengan sang istri tercinta. 


"Baik Tuan."


Setelah kepergian dari asisten Dinu, Alex menarik tangan istrinya hingga jatuh ke atas dada bidang. Mereka ingin mengulanginya sekali lagi, tapi Layla tersadar jika waktunya dia pulang ke rumah, pasti anak-anaknya sudah menunggu di Mansion kediaman Anderson. 


"Aku harus pulang!" 


"Kenapa terburu-buru?" terlihat guratan kekecewaan di wajah Alex, seakan tidak rela kalau istrinya pergi. 


"Flo dan Fio pasti sudah pulang dan mereka akan menangis jika tidak melihatku di Mansion."


Alex hanya bisa menghela nafas berat, sungguh dirinya tidak rela jika melihat sang istri akan pergi padahal dia masih ingin bersama menghabiskan waktu. "Sebentar saja." Bujuk Alex dengan kedua mata yang berbinar cerah, berharap jika keinginannya terkabulkan. 


"Aku harus pergi, kau kan tahu bagaimana anak-anak." Jujur saja di dalam hati Layla juga tidak tega meninggalkan Alex namun keadaan yang terpaksa membuatnya harus melakukan keputusan itu. "Aku harap kau mengerti." 


"Baiklah, hati-hati di jalan. Jika sampai terjadi sesuatu segera hubungi aku!" ucap Alex dengan wajah yang sedih. 


"Baiklah, aku akan mengingat hal itu." 


Alex terus menatap kepergian dari istrinya yang menghilangkan dari balik pintu, kesedihan dan juga kekecewaan namun dirinya tidak bisa egois mengingat dirinya sendiri, melainkan kedua Putri kembarnya yang membutuhkan ibu mereka. Dia kembali memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan kantor yang menumpuk dan pulang tepat pada waktunya, kebiasaan yang membosankan akan menjadi indah jika berkumpul bersama keluarga. 


Alex berjalan menuju meja kerja dan mulai fokus menatap layar monitor yang ada di depannya, pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu dekat mengingat sang asisten akan segera menikah. Pekerjaan kantor terbengkalai yang nantinya akan menyusahkan dirinya sendiri, hingga jam terus bergulir tanpa dia sadari waktu yang semakin sudah sore tidak dihiraukan dan tetap memaksakan diri untuk bekerja hingga malam dan lembur. 


Dia yang begitu fokus bekerja hingga larut malam dan lupa untuk mengabari sang istri, tanpa di sadari menciptakan kesalahpahaman karena pikiran Layla yang sedang berjalan bercabang mengira jika dirinya marah akan kejadian tadi siang. 


"Eh, ini sudah mau tengah malam? Kenapa Alex belum pulang dan tidak memberikan aku kabar?" Layla memperhatikan jam dinding dan juga layar ponselnya, mencoba untuk berpikir positif. Tapi terlintas di bayangan mengenai kejadian tadi siang, dirinya pergi demi anak-anak mereka. "Apa dia kesal aku lebih memperhatikan anak-anak di bandingkan dirinya? Astaga…jika itu benar terjadi, aku harus membuatnya mengerti." Monolognya. yang berjalan mondar-mandir menunggu kepulangan sang suami. 


Mencoba untuk menghubunginya, tapi telepon darinya tidak pernah di angkat. Rasa khawatir semakin besar dirasakan oleh Layla, sangat takut jika pria itu benar-benar marah saat dirinya lebih memilih Flo dan Fio. 


Sementara di sisi lain, Alex terus bekerja bagai seorang mesin yang tanpa kenal lelah, bahkan tidak mendengar dan juga tidak menyadari jika hari semakin larut, dan akhirnya pekerjaan itu telah usai dan dapat bersandar dengan lega, menggeliatkan tubuh yang terasa kaku.


"Akhirnya pekerjaanku sudah siap, waktunya pulang." Setelah meregangkan otot-ototnya yang kaku, Alex melihat keluar jendela yang ternyata sudah sangat malam melihat jam yang melingkar di lengan membuatnya sedikit terkejut. "Ya Tuhan, ternyata sudah hampir tengah malam." gumamnya seraya mengecek ponsel yang begitu banyak panggilan masuk yang tidak terjawab. "Pasti Layla sangat khawatir dan juga cemas, aku harus pulang."


Alex segera meraih kunci mobil dan juga beberapa barang yang dibawanya pulang memasukkannya ke dalam tas, buru-buru keluar dari kantor dan masuk ke dalam mobil yang terparkir. 


Pikirannya mulai melayang dan sangat cemas kalau Layla memikir hal yang buruk mengenai dirinya, berusaha untuk menghubunginya kembali. 


Alex menambah kecepatan mobil, berharap jika dirinya sampai dengan cepat. Beruntung jalanan sepi hingga dirinya lebih leluasa mengejar waktu untuk sampai Mansion Anderson. "Aku harus cepat, semoga Layla tidak berpikir buruk mengenai aku." Ucapnya di dalam hati, dan sesekali melirik jam yang melingkar di tangannya. 

__ADS_1


__ADS_2