Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Kami sayang ayah


__ADS_3

John meminta izin pada David untuk pergi ke Paris, mengatakan jika dirinya memiliki urusan pekerjaan disana, terpaksa berbohong agar tidak ada yang curiga. Menyiapkan beberapa helai pakaian saja ke dalam ransel, setelah dirinya sudah mengurus tiket penerbangan pertama.


Arden sudah lelah dengan sandiwaranya selalu dimanfaatkan oleh sepasang suami istri yang gila akan harta, pergi menemui mereka untuk mengatasi sikap yang terlewat batas. 


Dengan penuh kharisma dan elegannya menuruni tangga, sebelum semua orang pulang dan malah menyulitkannya untuk keluar dari Mansion. 


"Kau pergi terburu-buru sekali sampai tidak melihatku duduk disini " 


Terdengar suara bariton yang menghentikan langkah kakinya, arden yang memakai wajah dan juga identitas John segera menoleh ke asal suara. "Maaf Tuan, karena terburu-buru aku tidak melihatmu disana." 


"Kemarilah!" 


John menganggukkan kepala dan menghampiri pria tua yang menutup koran di tangan, melirik waktu hanya untuk mengejarnya.


"Ada apa Tuan?" 


"Hati-hati lah di jalan dan jangan lupa memberiku kabar, kau sudah aku anggap seperti anakku dan tidak membedakanmu dengan anak kandungku Arden." 


John terdiam, lalu menunjukkan senyuman sekilas. "Baiklah." John meringis di dalam hati, wajah dan juga identitas orang lain membuatnya asing dengan keluarga setelah puluhan tahun. 


"Kenapa aku merasa kalau John sama seperti Arden, putraku. Andai anakku masih hidup, keluargaku pasti lengkap." Monolog David seraya menatap foto dirinya yang bersama dengan sang istri yang sudah lama pergi meninggalkannya. "Andai kau dan juga anak kita masih hidup, aku pasti sangat beruntung." Lirihnya sedih. 


John pergi dengan terburu-buru, menyelesaikan masalah dengan sepasang suami istri yang mengoper cucu mereka tinggal di di Mansion Anderson. 


*


Alex tersenyum miring melihat nasib bawahannya yang di tempeli Clarissa sepanjang waktu, sangat puas karena dirinya tidak lagi di jadikan sasaran dari gadis muda itu. 


"Ternyata dia berguna juga, aku risih kalau cicak itu menempel padaku." Alex bergidik ngeri saat dirinya pernah di jebak Jessie dan memanfaatkan kepolosan, merusak hubungannya dengan Layla. Tapi sekarang dia sangat bahagia, jika takdir itu membawanya hidup bersama dan memiliki dua malaikat kecil walau salah satu bukanlah anak biologisnya.


"Kau terlihat senang, ada apa?" tanya Layla tersenyum penasaran, duduk di sebelah suaminya, pandangan lurus ke depan fokus melihat anak-anaknya yang bermain salah satu wahana. 


"Itu karena sangat lucu, asisten Jimmy yang lebih dingin di bandingkan aku telah di kerjai oleh Clarissa." 

__ADS_1


"Oho, akhirnya kau mengakui dirimu itu dingin." Layla terkekeh melihat bagaimana asisten Jimmy pusing mengasuh gadis aktif seperti Clarissa. 


"Tidak juga, aku hanya cuek dengan sekitar dan orang asing tapi sikapku berubah saat berhadapan dengan kalian." Alex terdiam beberapa saat, kemudian menatap ke samping. "Bagaimana kalau kita mencicil adik untuk twins F?" 


"Hah, kau selalu saja begitu, perkataan menjurus ke dalam hubungan bercinta." 


"Itu bagian yang menyenangkan setelah menikah." Jawab Alex tersenyum,  memiringkan kepala Layla agar bertumpu pada bahunya yang kokoh. 


"Alex, jika suatu saat nanti aku pergi. Apa kau masih ingin menjaga anak-anak?" 


Sontak Alex terkejut. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal tabu itu?" 


"Entahlah, aku juga tidak tahu pertanyaan itu muncul dengan sendirinya. Ayo jawablah!" 


Lama Alex memikirkan jawabannya, bahkan enggan sekali mengeluarkan suaranya. 


"Kenapa kau diam, jawablah!" desak Layla menggoyangkan tubuh Alex. 


"Ayo kita ikut bermain bersama anak-anak." Alex tentunya menghindari pertanyaan itu, dia tidak tahu dan hanya bisa mengalihkan nya. 


Alex terus bermain dengan kedua putrinya dan mengacuhkan Layla, hatinya seakan tergores saat sang istri mengajukan pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Dia ingin hidup dengan keluarganya, sudah cukup dia menderita dan bahkan merasakannya setelah Antoni Mateo menculiknya setelah satu hari di lahirkan. Sungguh nasib yang begitu tragis, dia tidak mau menambah luka walau hanya dengan kata-kata. 


"Layla sangat aneh, bagaimana dia tidak tahu apa yang di bicarakannya." Gumamnya di dalam hati seraya menepis perasaannya.


Alex memutuskan untuk makan bersama, perut yang keroncongan juga dirasakan oleh semua orang. 


Setelah memesan menu makanan dan minuman, dia melihat wajah kesal dari asisten Jimmy yang dongkol. "Kenapa wajahmu kusut begitu? Harusnya kau senang di tempeli cicak…ups maksudku Clarissa." Tanyanya sambil menahan tawa yang hampir meluak. 


"Berhentilah bicara tuan dna tolong bantu aku terlepas dari kutil ini." Andai perkataan itu bisa dia keluarkan, namun tidak mungkin melihat reaksi Alex yang sepertinya ingin menertawakannya. "Begitu banyak pekerjaan di kantor." Ucapnya yang memiliki ide untuk kabur dari rasa tidak nyaman. 


"Mengapa kau berdiri, makanannya baru sampai." Ujar Alex yang menunjuk pramusaji menyajikan makanan yang memenuhi meja makan. 


"Lain kali saja Tuan." Tolak asisten Jimmy yang terkadang memanggil Alex don atau tuan, tergantung situasi dan kondisi. "Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, kalian lanjutkan saja." 

__ADS_1


Alex mengerti mengapa pria itu tiba-tiba saja ingin pergi, segera menarik tangan asisten Jimmy karena dia tahu jika pria itu tidak akan melakukan apapun di hari libur kecuali bermain dengan seekor anjing peliharaan. 


"Kau jangan berbohong padaku." 


Asisten Jimmy menelan saliva, dia lupa jika jadwalnya di ketahui sang atasan, ingin rasanya dia kabur dan menghindar dari Clarissa yang menempel padanya.


"Ini waktunya memberikan makan pada anjing peliharaanku Tuan." 


Alex tertawa puas saat melihat tingkah asistennya begitu lucu, dia tidak menyangka jika kelemahan dari bawahannya adalah ditempeli seorang gadis. Sedangkan Asisten Jimmy berlari menjauh dari bosnya yang kocak, tahu jika dirinya di kerjai dan kali pertamanya dia takut. Karakternya yang seperti robot akhirnya mempunyai kelemahan, yaitu Clarissa yang terus memaksanya menjadi sugar daddy. 


Layla mengerutkan kening begitupun dengan Flo dan Fio, tidak tahu apa yang membuat Alex tertawa. 


"Kau sakit?" Layla langsung meletakkan punggung tangannya di dahi sang suami untuk mengecek suhu tubuh menggunakan cara kuno yang masih di ikuti sampai sekarang. 


"Tidak." 


"Lalu, mengapa kau tertawa?" 


"Bukan apa-apa, ayo makan!" ajaknya. 


Clarissa sedih melihat kepergian asisten Jimmy, notifikasi ponselnya bergetar dan segera membaca pesan yang di kirimkan oleh neneknya, memaksanya untuk menjadi simpanan Alex Anderson. Awalnya dia memang tertarik, tapi tidak setelah bertemu dengan asisten Jimmy yang lebih menantang. 


"Ada apa dengan nenek? Selalu mengaturku sesuai dengan keinginannya." Ucap Clarissa di dalam hati seraya jengkel, kembali menyimpan ponselnya. "Aku ke toilet dulu!" 


"Baiklah." Sahut Layla mengangguk sambil mengambil lauk pauk untuk suami dan juga anak-anaknya. 


"Aku harap wanita itu pergi jauh, sangat mengganggu ketenangan." Tutur Fio yang memang tidak ingin bersikap baik jika berhadapan dengan seseorang yang berani menatap ayahnya. 


"Ibu perhatikan kalian tidak menyukainya."


"Karena dia berani menatap foto ayah dan juga ayah, tentu saja kami tidak rela." Jawab Flo cemberut. 


"Jadi kalian cemburu?" goda Alex tersenyum. 

__ADS_1


"Tentu saja, karena kami mencintai ayah." Ucapnya memeluk Alex dengan erat. 


__ADS_2