Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Menolak


__ADS_3

Seorang wanita yang mengunci dirinya di dalam apartemen yang gelap, memeluk tubuhnya sendiri dengan pikiran yang terus menjalar hingga ke ubun-ubun. 


"Bagaimana aku menghadapi kakek? Aku sudah tak memiliki wajah di hadapannya lagi. Sebelumnya kakek sudah mengatakan padaku untuk tidak mengambil misi ini, astaga…aku sangat menyesal." Monolognya dalam ketakutan. 


Bel yang berbunyi bagai momok yang menakutkan bagi Layla, menatap lurus tanpa berniat untuk membukakan pintu. 


"Lala…Lala, ini aku Roy. Buka pintunya!" 


Langkah lesu Layla yang terpaksa membuka pintu, tahu bagaimana Roy yang pasti menerobos masuk karena mencemaskan kondisinya. 


"Kau baik-baik saja?" tanya Roy sembari memegang kedua tangan lentik wanita di hadapannya. 


"Aku baik, kenapa kau datang kesini?" Layla kembali melangkahkan kaki menuju ranjang dan berbaring lemas. 


Roy yang khawatir memeriksa kening sang mantan kekasih. "Ayo kita ke dokter." 


"Aku tidak apa-apa." Layla menepis tangan pria itu. "Sebaiknya kau pergi!" usirnya yang tak ingin berlama-lama satu ruangan dengan sang mantan. 


"Eh, aku kesini datang karena mencemaskanmu. Sudah beberapa hari ini kau tidak terlihat ke kantor, apa yang sebenarnya terjadi?" 


"Stop Roy, jangan cemaskan aku seperti seorang kekasih. Ingat! Hubungan kita sudah berakhir." Cetus Layla.


"Baiklah, aku akan pergi. Hubungi aku jika kau memerlukan sesuatu, jaga dirimu." Roy terpaksa mengalah dan hendak mencium pucuk kepala sang mantan yang langsung dihentikan sang empunya. 


"Tidak perlu menciumku." 


"Aku hanya refleks Baby." Kekeh Roy yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu. 


Layla menarik nafas dalam dan menggelengkan kepala, mengingat hubungan mereka yang sudah lama kandas tapi pria itu masih tetap menganggapnya seorang kekasih. 


"Hah, aku bahkan tak ingin melakukan apapun sekarang." Gumamnya yang hendak menutup pintu dengan langkah gontai, seakan tubuhnya sangat lemah. 


Sebuah sepatu yang menghalangi pintu tertutup, Layla menghela nafas kasar seraya mengumpat orang itu. "Aku sangat lelah Roy, pergilah!" ketusnya tanpa melihat siapa pria di balik pintu. 


"Ini aku, Alex."

__ADS_1


"Alex?" Layla membuka pintu seperempatnya saja, melihat sang bos yang sudah beberapa hari tak bertatap muka. Kemarahan ingin meledak, melihat pria yang sudah merenggut keperawanannya. "Oh kau, pergilah! Aku tidak ingin di ganggu siapapun." Ketusnya. 


"Siapa itu Roy?" tanya Alex mengerutkan kening, memang dia belum mencintai sang sekretaris tapi akan berusaha karena mereka sebentar lagi akan menikah. Mendengar nama pria lain yang terucap di bibir Layla, timbul perasaan tak suka. 


"Mantan kekasihku." Jawab singkat Layla yang hendak menutup pintu. "Ck, jangan menggangguku dan pergilah dari sini." 


"Aku tahu kau pasti marah masalah malam itu, aku datang kesini untuk bertanggung jawab padamu." 


"Dan aku tidak menginginkannya, misiku sudah selesai dan itu artinya kita tak terikat apapun." Ujar Layla tersenyum hambar. 


"Kau masih sekretaris pribadiku." 


"Aku sudah mengirimkan surat pengunduran diri, jadi kita tidak terikat apapun." 


"Dasar keras kepala." Alex mulai geram menghadapi wanita yang ada di hadapannya yang berusaha mendorong pintu agar tertutup, kesabarannya mulai terkikis dan dengan mudahnya membuka lebar pintu yang menjadi penghalang antara mereka. 


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" sentak Layla marah, menatap pria di hadapannya tajam.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, sebenarnya apa yang kau inginkan?" 


Alex mengusap wajahnya dengan kasar, melawan keras kepala dari wanita itu tak akan menemukan ujung. Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, melakukannya sebanyak tiga kali sedikit mengontrol emosinya. Senyum tipis di wajah kembali terukir, menemukan ide agar wanita itu tidak menghindarinya. 


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi bagaimana kalau kau mengandung anakku?" 


Deg


Layla tak membayangkan hal sejauh itu, menelan saliva dengan susah payah seakan tersangkut di tenggorokannya. "Dia benar, bagaimana jika aku hamil anaknya? Kenapa aku tidak memikirkan ini, pasti kakek akan bertambah marah." Momok hantu yang menari dalam pikiran, membuatnya tubuhnya gemetaran. 


Alex terkekeh melihat keringat yang mengalir di pelipis Layla, ucapannya berhasil mencemari pikiran wanita malang itu. "Bagaimana?" 


"Sudah aku putuskan untuk tidak akan menikah denganmu." 


"Kau akan mendapatkan identitasku, dan menjadi nyonya Alex Anderson. Apa kau tega melihat calon anak kita hidup tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya? Jangan berpikiran sempit dengan mementingkan egomu saja." sambung Alex. 


"Pergilah dari sini! Kau malah membuatku tambah kesal saja. Biarkan aku mencari jalan keluar lainnya, yang terpenting aku tidak menikah denganmu." Layla mendorong tubuh kekar Alex sekuat tenaga, mengacuhkan perkataan pria itu yang mencoba untuk menghasutnya. 

__ADS_1


Alex terus menggedor pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban, sedikit kecewa dengan niat baiknya yang tak di inginkan wanita itu. "Astaga, jika saja kakek tak mamaksa ku bersikap gentleman, aku juga tidak ingin menikah dengan wanita keras kepala itu." Gumamnya seraya pergi meninggalkan tempat itu. 


****


"Bagaimana hasilnya?" tanya seorang pria tua yang menatapnya dengan mata berbinar cerah, menaruh harapan besar. 


Alex menggeleng pelan, wajah tampak kecewa. "Dia menolak untuk menikah." 


"Menolakmu? Bagaimana mungkin? Kau cukup tampan dan hampir sempurna, lalu mengapa Layla tak menyukaimu?" David mengerutkan kening tak mengerti dengan urusan anak muda jaman sekarang, sangat berbeda zaman dengannya. 


"Usahaku kurang keras dan kurang menyentuh hati." Celetuk John yang menahan tawa. 


"Ck, jangan menertawakan aku. Kalau dia tak ingin menikah, ya sudah aku juga tak memaksanya." Ujar Alex mendudukkan dirinya di atas sifa empuk. 


"Bagaimana kalau benihmu ada padanya?" tegur David menautkan kedua alisnya.


"Aku tidak peduli." Alex beranjak dari sofa, menaiki tangga masuk kedalam kamarnya. 


David melihat tidak ada gairah sang cucu untuk bertanggung jawab, melirik John yang hanya mengangkat kedua bahu tak mengerti. 


"Coba kau hubungi keluarga Layla, cari informasinya sedetail mungkin!" titah David yang penasaran. 


"Aku sudah mengetahui identitasnya, dia cucu dari pengusaha terkenal dan bukan wanita sembarang." 


"Lalu, mengapa Layla ingin menjadi wanita bayaran untuk melakukan misimu?" 


"Aku juga tidak tahu alasannya." 


"Begini saja, kau hubungi keluarganya dan kita akan mencoba untuk menjelaskan masalah ini. Bagaimana kalau dia mengandung benih Alex? Bukankah itu sangat bagus." David begitu bersemangat membayangkan dirinya tengah memangku cicit dan bermain menghabiskan masa tua yang begitu membosankan. 


"Baiklah, aku akan mencoba menghubungi keluarganya." 


Alex mengusap rambut dengan kasar, terjebak dalam permainan Jessie yang ternyata mempunyai kisah mengala bertindak seperti itu. "Jadi dia mempunyai seorang ibu yang di sekap Rudra? Astaga…mengapa kakek tidak pernah bercerita mengenai anaknya selain ayah Arden?" pikirnya dengan masalah yang saling berkaitan. 


"Aku belum menemui Rudra selama beberapa hari ini." Alex meraih ponsel menghubungi asisten Jimmy. 

__ADS_1


__ADS_2