Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Zayden


__ADS_3

John alias Arden memantau pergerakan semua orang dari Paris, tersenyum saat misi berhasil mengancam kedua orang tua renta yang selalu membuatnya muak. "Jika mereka kembali bermain denganku, maka aku akan melupakan semua janjiku pada John." Gumamnya seraya menatap layar monitor di depannya sembari menyeruput kopi. 


Arden merasa jika dirinya sudah berkorban banyak untuk keluarga itu, jadi semuanya sudah impas sesuai dengan porsinya. Sudah cukup dia mengalah dan mengikuti semua perkataan dari orang tua kandung John, jengah dengan tekanan yang terus terhimpit padanya. 


Sementara di sisi lain, Clarissa tidak mengerti jalan pikiran dari neneknya yang tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan untuk pindah dari Mansion Anderson. "Kenapa nenek tiba-tiba menyuruhku pindah? Ini sangatlah aneh." 


Clarissa mengemasi semua barangnya dan berniat untuk pindah ke apartemen milik pria yang mengira jika itu adalah ayah kandungnya, setidaknya dia hidup terjamin dan juga aman. "Tapi syukurlah, jika begini aku bisa mendekati Jimmy dan menjadikannya sugar daddy ku." Gumamnya yang mulai berkhayal. 


*


*


Pagi hari yang indah, dua bocah kecil tengah cekikikan di saat mereka menempelkan stiker bunga di wajah seorang pria yang selalu mereka panggil ayah. Kejahilan dan kebiasaan untuk mencari hiburan, keduanya berusaha menahan tawa dan memotret secara diam-diam.


"Wah, wajah ayah terlihat sangat imut sekali." Puji Fio yang bertepuk tangan, Flo segera menghentikan asal suara dan membekap mulut kembarannya agar tidak ketahuan. 


"Huss…jangan bersuara atau Ayah akan bangun." Ujar Flo memberi peringatan, Fio menganggukkan kepala dengan cepat. 


Setelah puas membuat kerusuhan, Flora dan Fiona berlari keluar kamar dan kembali masuk ke kamar mereka agar tidak di jadikan tersangka dengan cepat walau akhirnya pasti ketahuan. 


Layla yang berada di dapur menyiapkan kotak makan siang untuk kedua putri dan juga suaminya, merasa ada yang aneh sepintas melihat bayangan kedua anak kembarnya itu baru saja keluar dari kamarnya seraya tertawa dengan begitu bahagianya. "Apa yang dilakukan Flo dan Fio ke kamarku?" monolognya serta berpikir, tercium aroma makanan yang matang membuatnya mematikan kompor. 


Tak lama, terdengar suara Alex yang berteriak memanggil Flo dan juga Fio. 


"Dasar anak nakal, kemari kalian." Alex keluar dari kamar dengan wajah yang penuh stiker, kejahilan yang memenuhi Mansion. Layla segera berlari menghampiri suaminya, sangat terkejut melihat wajah tampan itu di tempeli stiker bunga yang terlihat menggemaskan. 


"Ya ampun, mereka menempelkan begitu banyak stiker di wajahmu." Layla berpura tidak tahu apapun, menutup mulut yang ternganga menggunakan tangan. 


"Bukan hanya itu, mereka juga mewarnai kuku ku." Alex sangat kesal, menoleh kebawah seraya memainkan jari-jari kaki kekar yang kukunya telah di beri warna pink. 


Layla tidak bisa menahan tawanya, Alex yang kesal menerobos dan mengetuk pintu kamar twins F yang mulai berani mengerjainya. 


"Flora Anderson…Fiona Anderson, keluar kalian!" ucap Alex yang sangat kesal tak ada obat, dia mendobrak pintu dan mencari kedua bocah cilik itu menyeluruh tapi tidak menemukan mereka. 


"Ini masih pagi dan kau sudah membuat keributan, apa aku tidak bisa tinggal dengan nyaman saat usiaku yang memasuki tahap bonus ini?" Terdengar suara bariton membuat Alex menoleh dengan wajah yang cemberut. 


"Ini karena ulah cicit Kakek yang selalu di manja, mereka juga mewarnai kuku ku berwarna pink, kalau warna lainnya aku bisa terima tapi in__." Alex tak kuasa menceritakan drama itu sampai selesai, wajah pengaduan penuh semangat kian meredup. 


David tertawa puas, semenjak twins F semakin tumbuh aktif selalu saja mencari ulah di pagi hari dan hal itu sangat baik bagi kesehatannya. "Sudahlah…mereka hanya anak-anak dan biarkan saja berimajinasi untuk mengeksplorasinya." 


"Ini akar dari permasalahannya, Kakek selalu saja mendukung kesalahan mereka dan efek jera tidak berlaku lagi."


"Apa aku salah memanjakan mereka? Itu sebagai ganti di saat aku kehilanganmu sehari setelah kau di lahirkan, jadi aku hanya melampiaskan kepada mereka." Jawab David sendu membuat Alex merasa bersalah. 


"Menyayangi mereka tentu saja boleh tapi tidak berlebihan." Ujar Alex. "Flo…Fio, cepat keluar dari persembunyian kalian atau Ayah tidak akan membawa kalian liburan di akhir pekan." 


Kedua nama yang di panggil segera keluar dari persembunyian, menundukkan kepala atas rasa bersalah karena bersikap jahil. "Maaf Ayah." 


Alex menghela nafas berat saat melihat kedua air mata hampir terjatuh di pipi kedua anak kembarnya. Dia berjongkok menyamakan tinggi seraya memegang pundak mereka, tersenyum hangat agar Flo dan Fio tidak lagi bersikap nakal. 


"Jangan bersikap seperti itu, apa yang ingin kalian buktikan?" 


"Hanya mencari hiburan." Jawab Flo yang memainkan kakinya, tidak berani menatap mata sang ayah. 


"Merugikan orang lain bukanlah hiburan melainkan kesalahan." Celetuk Layla yang menghampiri putrinya, menginginkan sikap baik dari kedua bocah itu. 


"Maaf Bu, kami janji tidak akan mengulanginya dan jika kami melakukannya tanpa sengaja, kami akan meminta maaf." Jawab Fiona polos dan mendapat tatapan tajam dari kembarannya. 


"Itu sama saja kau tidak ingin berjanji." 

__ADS_1


"Benarkah? Aku pikir sudah benar." Pikir Fio meletakkan jari telunjuk di dagu. 


"Bisakah kalian serius?" Alex menghela nafas mendengar kedua putrinya. 


"Baik, kami berjanji Ayah." Ralat Flo yang di anggukkan kepala oleh Fio. 


"Untuk kali ini Ayah memaafkan kalian, jangan di ulangi lagi." 


Semua orang sarapan dengan begitu khidmat, dan setelah selesai mereka kembali ke rutinitas biasa. 


Kali ini Layla membawa mobil sendiri mengantarkan kedua anaknya ke sekolah, namun hatinya terenyuh saat melihat seorang anak kecil yang kurang lebih berusia sepuluh tahun tengah mengorek tong sampah sambil memegang perutnya. "Ya Tuhan, kasihan sekali anak itu." Dia langsung menepikan mobil dan segera keluar tanpa menghiraukan panggilan dari kedua anaknya. 


"Apa yang ibu lakukan? Aku bisa terlambat ke sekolah." Ketus Flo yang melirik jam karakter boneka di tangannya. 


"Ibu menemui gelandangan itu?" Fio mengerutkan dahi tidak mengerti jalan pikiran orang dewasa. 


"Apa kau lapar, Sayang?" tanya Layla membuat anak laki-laki itu ketakutan namun menganggukkan kepala. 


"Sayang sekali, bagaimana kalau kau ikut aku?" ajak Layla membuat anak laki-laki itu berpikir panjang. "Tidak perlu takut, aku hanya ingin membantumu saja. Siapa nama mu?" tanyanya dengan lembut, dia merasa sedih melihat anak terlantar dan membayangkan jika itu terjadi pada kedua putrinya. 


Anak kecil itu terdiam, melirik penampilan Layla dari atas hingga bawah membuatnya sangat takut dan berpikir jika dirinya terkena sindikat penculikan anak seusianya yang marak terjadi akhir-akhir ini. 


"Jangan takut, aku tidak akan mengambil keuntungan dari mu. Kau terlihat lapar, bagaimana kalau aku mentraktirmu?" tawar Layla.


Bocah laki-laki itu menganggukkan kepala pelan, Layla tersenyum dan membawanya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang bersama dengan kedua putrinya setelah dirinya telah berhasil menaruh kepercayaan di hati anak laki-laki yang di temui di pinggir jalan. 


"Siapa dia?" tanya Flo sedikit ketus, menutupi hidungnya karena anak laki-laki di sebelahnya sangatlah bau, entah sudah berapa hari tidak mandi. Seakan makanan yang di cerna ingin dia muntahkan, tidak tahan sampai membuka jendela mobil. 


Anak laki-laki itu terdiam dan menundukkan kepala, sangat sungkan pada keluarga itu. 


"Tidak boleh berkata seperti itu Sayang, tidak baik menghina orang lain. Ibu akan mengantarkan kalian ke sekolah!" Layla mulai mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang demi keselamatan mereka. 


"Apa kau ini bisu? Adikku sedari tadi membawamu berbicara tapi kau hanya diam saja!" ketus Flo kesal. 


"Sudahlah Flo, mungkin saja dia tidak ingin bicara." Ujar Fio yang tak mempermasalahkan. 


Setelah mengantarkan Flo dan Fio ke sekolah, tak lupa Layla mengecup pipi anaknya dan melambaikan tangan, senyum manis di wajah membuat bocah laki-laki yang masih berada di dalam mobil ikut tersenyum. 


"Maaf, aku membuatmu menunggu. Apakah aku boleh tahu namamu?" tanya Layla yang mencoba bertanya sekali lagi. 


"Zayden." Jawabnya singkat. 


"Nama yang bagus, dari mana kau berasal?" 


Zayden terdiam dan menunduk, dirinya sudah tidak memiliki keluarga saat kecelakaan itu merenggut ayah dan ibunya. "Aku sebatang kara, ayah dan ibuku sudah tenang di surga." 


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Sungguh aku tidak tahu sama sekali." 


"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini." 


Layla sangat sedih dan membawa Zayden ke restoran memesan banyak makanan. "Habiskan makanannya." 


Zayden menatap makanan yang sudah tersaji di atas meja sangatlah menggugah selera, namun dia tak ingin menyentuhnya. "Kenapa Nyonya baik kepada gembel sepertiku?" 


Layla tersenyum seraya menoel dagu anak laki-laki di hadapannya. "Itulah hati seorang ibu." Jawabnya singkat. "Ayo makanlah, aku memesannya khusus untukmu." 


"Terima kasih Nyonya, kau sangat baik padaku." Zayden langsung melahap makanan yang ada di atas piring, sudah lama dia tidak mendapatkan asupan bergizi. 


Ponsel Layla berdering dan dia segera mengangkat telepon saat mengetahui jika itu adalah dari suaminya, dia menjauh agar tidak menganggu bocah itu melahap makanan yang tersaji di atas meja. 

__ADS_1


"Iya sayang, ada apa?" 


"Kau dimana?"


"Di restoran."


"Eh, tumben sekali kau berada di restoran." 


Layla menceritakan pertemuannya dengan bocah laki-laki yang mengorek tong sampah, dia sangat sedih saat hati keibuannya muncul dengan sendirinya. Setelah mengetahui jika Zayden tidak memiliki siapapun, dirinya berniat untuk mengangkat bocah yang telah diselamatkannya dari kelaparan menjadi anak angkat mereka. 


Alex tentu tidak setuju dengan keputusan istrinya, tidak tahu bagaimana anak laki-laki itu. 


"Ayolah sayang, aku sangat mengasihaninya dan membayangkan jika posisi itu di rasakan oleh salah satu dari putrimu." 


Hingga Alex mengangguk pasrah karena permintaan istrinya, setelah selesai menelepon Layla kembali duduk di kursinya. 


"Aku sudah kenyang Nyonya, terima kasih telah mentraktirku." Zayden tersenyum cerah saat tubuh kurusnya sudah dua hari tidak makan dan menganggap Layla malaikat penolongnya. 


"Sama-sama. Setelah ini kau mau kemana?" tanya Layla. 


"Tidak tahu Nyonya, kemana saja kaki melangkah."


"Hem, begini saja…bagaimana kalau kau tinggal di kediamanku dan menjadi anak angkatku." 


Tawaran itu membuat Zayden lama terdiam, dia tahu reaksi dari bocah kembar yang tidak menyukai kehadiran dan tidak ingin menjadi beban. "Tidak perlu Nyonya, bantuan ini sudah lebih dari cukup." Jawabnya tersenyum.


Layla membujuk anak laki-laki itu, entah mengapa dia ingin sekali merawatnya dan akhirnya Zayden mengangguk setuju. 


"Kau akan menjadi anak angkatku, mulai sekarang kau bisa memanggilku ibu sama seperti Flo dan Fio."


"Ta–tapi, bagaimana jika semua orang tidak menyukai keberadaanku?" tanya Zayden, seorang gembel yang beruntung mendapatkan ibu angkat seperti Layla, dia menyukai karakter yang sifatnya tak jauh berbeda dengan ibu kandungnya yang telah meninggal dunia. 


"Aku sangat yakin kalau kau bisa mendapatkan hati mereka, kita harus mencobanya bukan?" 


Sebelum menemui keluarganya, Layla membawa bocah laki-laki yang berusia sepuluh tahun ikut ke salon. Rambut yang panjang menutupi wajah dan membersihkan tubuhnya agar pantas menghadap David Anderson sebagai pemilik Mansion. 


Sambil menunggu Zayden membersihkan diri, Layka menghubungi keluarganya dan mengatakan niat tulusnya mengadopsi anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun itu, dan berharap jika dirinya bisa melahirkan anak laki-laki sebagai sang pewaris selanjutnya dari keluarga Anderson. 


Tak beberapa lama, Layla tertegun melihat penampilan dari Zayden yang ternyata sangatlah tampan, hanya saja tubuh kurus dan kulit yang kusam akibat paparan sinar matahari namun tak menjadikan masalah. "Wow, kamu sangatlah tampan. Oh ya, aku belum tahu berapa umurmu." 


"Dua belas tahun Nyonya." 


"Aku mengira kau berusia sepuluh tahun, mulai sekarang jangan memanggilku Nyonya melainkan Ibu, sama seperti Flo dan Fio." 


"Baik Nyonya…ups, maksudku I-ibu." Ujar Zayden yang tampak ragu dan juga gugup, pertama kali dirinya bertemu dengan orang sebaik Layla dan tersentuh dengan apa yang di lakukan oleh ibu angkatnya. 


"Anak pintar." Layla mengelus kepala Zayden lembut seraya membawanya kembali masuk ke dalam mobil menuju Mansion Anderson, dimana semua orang telah hadir di sana termasuk Alex yang terpaksa menunda rapat demi keinginan istri tercintanya. 


Zayden berterima kasih pada Tuhan karena di pertemukan dengan orang baik, dia berpikir akan mati di jalanan namun Tuhan masih sayang padanya dengan mengirimkan ibu angkat yang berhati mulia juga tulus. 


Layla sudah tidak sabar untuk pulang ke Mansion memberitahu mengenai anak yang baru dia angkat. "Pasti suamiku menyukaimu, jadi tidak perlu gugup." 


"Apakah pantas?"


"Percayalah dengan kemampuanmu." Ucap Layla tersenyum hangat memberikan kenyamanan untuk bocah laki-laki itu.


Entah takdir apa yang akan mereka hadapi di masa depan, namun Tuhan malah mempertemukan mereka lebih cepat. Zayden berjanji di lubuk hatinya terdalam akan melakukan apapun demi sang penyelamatnya, berjanji akan menjadi anak yang di inginkan oleh ibu angkatnya.


Polemik yang begitu rumit, apalagi dirinya di tolak mentah-mentah oleh Flo dan Fio. 

__ADS_1


__ADS_2