Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Kalah telak


__ADS_3

Setelah mengantarkan Layla, Alex pergi dengan terburu-buru menuju markas mafia yang dikelola olehnya. Beberapa anggota mafia menyambut kedatangannya dengan suka cita dan menyapanya. 


Alex hanya membalas dengan anggukan kepala, bergegas masuk ke dalam ruangan tawanan dimana dia menyekap Rudra. Sepasang matanya menatap kehadiran David dan John entah sejak kapan di sana, berjalan menghampiri dengan raut wajah tegas bak pemimpin. 


"Kau sudah mengantarkan Layla dan memastikan dia selamat 'kan?" ucap suara bariton yang memecahkan suasana hening itu. 


"Hem, sudah." Jawab Alex singkat. Dia melirik John memastikan sesuatu, takut kondisi sang kakek yang tiba-tiba drop. 


"Ayo." 


Alex menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, membuka sebuah ruangan khusus dimana Rudra di tempatkan. "Apa Kakek sudah siap?" 


"Hem, aku sudah siap." 


Setelah penjara yang di buka, terlihat kondisi Rudra yang lemas akibat rantai yang mengikat tangan dan juga kakinya. Amarah meluap bertatapan mata secara langsung pada ayah yang selama ini menyia-nyiakan dirinya, dendam masa lalu masih menggerogoti tubuhnya hingga saat ini. 


"Berani sekali kau membawa pria tua ini di hadapanku." 


Plak! 


Alex melayangkan tamparan keras mendarat di pipi Rudra, tidak bisa mendengar perkataan buruk yang ditujukan pada keluarga satu-satunya yang tersisa. "Rendahkan suaramu saat berhadapan dengan kakek ku!" 


Rudra tersenyum miring, menggerakkan mulutnya yang terasa perih di pipi. "Aku masih bisa bersabar untuk saat ini, berhati-hatilah padaku." Kecamnya. 


"Harusnya kau berhati-hati, bukan aku." 


 


Rudra tak menggubris dan hanya acuh tak acuh, sedangkan David berusaha menahan cairan bening yang sudah menumpuk di pelupuk mata. Kesalahan di masa lalu yang tidak mengakui pria yang ada di hadapannya, menuntut semua apa yang dia miliki. 


"Ck, jauhkan tanganmu itu dari pipiku!" sentak Rudra menjauhkan wajahnya dari jangkauan David. 


"Apa aku tidak memiliki kesempatan lagi?" 


Rudra tertawa begitu kerasnya, membuang saliva ke samping dengan permintaan konyol dari ayahnya. Sementara Alex berusaha mengontrol dirinya agar tak khilaf membunuh pria yang notabene pamannya. 


"Sombong sekali dia." Alex mengepalkan kedua tangan dengan rahang yang mengeras. 

__ADS_1


"Kendalikan emosimu." John menahan tubuh Alex agar tidak lepas kendali.


"Jika kakek tidak ada di sini, aku sudah memberinya pelajaran." 


"Untuk itu kau harus menahan emosi, setidaknya di depan tuan David." 


"Hem." Alex melepaskan kepalan tangan seraya melihat drama yang ada di depan mata. 


"Bagaimanapun kau membenciku, aku tetap lah ayahmu." 


"Aku benci dengan fakta itu, sekeras apapun kau mencoba, aku tidak akan melupakan semua perbuatanmu Pak tua."


"Aku hanya ingin berdamai."


"Dan aku tidak memerlukannya."


Alex fokus menatap Rudra tajam bak silet yang hendak menggores apapun, sakit hati mendengar perkataan pria itu yang tidak ada rasa sopan pada kakeknya. "Pria yang tidak sopan itu akan ku beri dia pelajaran yang tidak akan pernah di lupakan, kurang aja!" ucapnya pelan yang sangat geram juga muak. 


David sangat menyesal telah menelantarkan anaknya, tidak pernah mengakui Rudra dan kasih sayangnya selalu tercurahkan pada Arden, ayah kandung Alex. 


"Tidak akan aku berikan." 


David terus membujuk pria yang ditawan sebisa mungkin, namun tak berhasil. Sudah putus asa dan memutuskan untuk keluar dari tempat itu, raut wajah sedih perlahan menjauh dari semua orang, tanpa di sadari bulir cairan bening di mata menetes membasahi pipi dan langsung di seka. 


Bugh!


Alex tahu dengan kondisi yang dialami oleh sang kakek, sangat puas saat memukul perut Rudra. "Kau melakukan kesalahan, mulai sekarang kau tidak akan melihat matahari lagi." Ucapnya mengancam. 


"Aku tidak peduli!" 


John segera menyeret Alex menjauh, takut pemuda itu berambisi membunuh Rudra. Melirik beberapa anggota mafia untuk segera menutup pintu penjara, dan pergi meninggalkan tempat itu. 


Disisi lain Layla terus membujuk kakeknya lewat telepon yang masih terhubung agar terbebas dari perjodohan konyol itu, rela melakukan apapun agar terhindar dari Alex.


"Ayolah kek, aku tidak ingin menikah dengannya. Bahkan Roy lebih baik dari pada Alex." 


"Tapi ini sudah final, kau sudah membuatku malu di hadapan rekan kerjaku dulu. Keputusan juga ditentukan oleh David Anderson, apa kau lupa siapa mereka, hah? Pernikahanmu akan di gelar sebentar lagi dan tidak ada penolakan apapun." 

__ADS_1


"Bagaimana bisa seperti itu, kakek juga bukan orang sembarangan. Setidaknya kekuasaan kakek berguna untuk melawan keluarga Anderson."


"Kekayaan yang aku miliki tidak akan pernah sebanding dengan mereka, kau akan tetap menikah atau melihat pemakamanku saja!" 


seketika sambungan telepon terputus, Layla melempar ponselnya ke atas ranjang seraya merutuki nasib sialnya. "Ini semua karena Alex, di yang memperk*sa ku tapi malah aku yang menerima semuanya." Umpat nya kesal. 


Keesokan harinya, Alex memutuskan untuk mengecek kondisi tunangannya yang hanya berjarak beberapa meter saja dari kamarnya. 


"Wanita ceroboh." Alex menggelengkan kepala saat melihat pintu kamar Layla yang tidak terkunci dan bisa mengintip di balik celah. Mengetuk pintu terlebih dulu tapi tak mendapat sahutan membuatnya nekat menerobos masuk ke dalam. "Ini sudah pagi, bangun!" ucapnya sembari menyentak selimut dengan kasar. 


Layla membuka sedikit matanya dan mendelik saat melihat Alex, orang pertama yang di lihat di pagi hari. "Astaga…kau mengganggu pemandanganku saja."


"Dasar ceroboh! Kenapa kau tidak mengunci pintu terlebih dulu?" 


"Aku lupa."


"Lain kali jangan di ulangi, bagaimana kalau laki-laki lain masuk ke dalam dan mengintipmu dan lebih parahnya melihatmu sedang tertidur mengenakan pakaian tidur yang seksi." Alex mulai mengeluarkan ultimatum di pagi hari, memberi penjelasan baik buruk untuk tunangannya. 


"Kau sedang membicarakan dirimu sendiri." 


"A-apa? Apa maksud perkataanmu?" Alex mengerutkan dahi tak mengerti. 


Dengan jengah Layla menunjuk tunangannya. "Kau masuk ke dalam kamarku, dan kau adalah laki-laki asing. Melihatku memakai pakaian tidur yang seksi dengan berdalih menceramahiku, tapi diam-diam kau melirik dan mengagumi tubuhku." 


Alex tak bisa berkutik, dia baru sadar dengan pembicaraan yang malah terkena getahnya. Menelan saliva berusaha menutupi rasa gugup dengan kebenaran yang diam-diam melirik tubuh indah sang tunangan. 


"Keluar!" 


"Ka-kau mengusirku?" protes Alex kecewa. 


Dengan cepat Layla mengangguk seraya menunjuk ke arah pintu. "Kau bukan pria bodoh yang tak memahami maksudku, keluarlah karena aku tak ingin ada kesalahpahaman di antara kita." 


"Lancang sekali kau mengusirku di Mansion milik kakekku." 


"Dan aku tidak memberimu izin berada di dalam ruangan ini, oh aku tahu…pasti kau menginginkan aku." Layla berjalan mendekati Alex seraya membuka tiga kancing baju tidur, memperlihatkan dua benda kenyal yang putih mulus. 


"Sebaiknya aku keluar." Putus Alex bergegas keluar kamar, degupan jantung yang tidak bisa dikontrol membuatnya menjadi bodoh. 

__ADS_1


__ADS_2