Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Perbedaan hitam putih


__ADS_3

Layla memperkenalkan Zayden kepada semua orang di keluarganya, sangat senang kehadiran anggota baru. Semua orang menyukai keberadaan dari anak laki-laki yang berusia dua belas tahun itu, tapi tidak bagi Flo yang sangat tidak menyukai keberadaan pria itu. Menurutnya jika ada orang asing yang menjadi saudaranya, dia berpikir jika kedua orang tuanya tidak akan mencintai mereka lagi. Hal itulah yang membuat hatinya gondok dan menatap kakak angkatnya dengan tajam juga menusuk.


"Mulai sekarang kau resmi menjadi anggota keluarga Anderson, selamat untukmu yang sekarang namamu Zayden Anderson." David memeluk bocah laki-laki itu dan memberikan sambutan. 


"Terima kasih Tuan." Ucap Zayden yang membalas pelukan itu.


David menggerakkan jari telunjuk dan menggelengkan kepala. "Bukan Tuan tapi Kakek buyut. Itu kakek John, kakek buyut Yudistira, dan itu ayahmu. Sekarang kau menjadi kakak dari Flora Anderson dan Fiona Anderson." Ujarnya memperkenalkan. 


"Baik Kakek buyut." Zayden menyeka air matanya yang menetes, keberuntungan mendapatkan keluarga yang harmonis itu, dirinya berjanji untuk mengabdi dan menjaga keluarga Anderson. 


Kedua mata Fio berbinar, tak di sangka gembel yang di bawa ibunya sudah resmi menjadi kakak angkatnya. Dengan cepat dia menghampiri dan menjabat tangan anak laki-laki itu, baginya kedatangan Zayden sebuah anugerah, dimana dia sangat ingin memiliki kakak laki-laki.


"Sekarang kau adalah kakakku dan aku adalah adikmu." Fio sangat senang, membuat semua orang tertawa melihat kedekatan keduanya. 


Layla menatap putrinya yang satu lagi. "Flo, kenapa kamu diam saja? Ayo sambut kedatangan kakakmu." Ujarnya tersenyum.


"Dia bukan kakak ku!" ketus Flo seraya berlalu pergi meninggalkan semua orang, Layla sedih melihat sikap putrinya itu dan ingin mengejarnya tapi ditahan Alex karena hanya akan memperburuk keadaan. 


"Biar aku saja." Alex mengejar putri nya yang berlari masuk ke dalam kamar tanpa mengunci pintu. Dia membuka pintu dengan perlahan dan duduk di sebelah Flo yang fokus menatap jendela.


Alex memberikan kenyamanan pada putrinya, mengelus rambut dengan sangat lembut. "Ada apa Sayang? Kenapa kau bersikap buruk seperti tadi, itu tidaklah baik." 


Sontak ucapan Alex menambah kemarahan di hati Flo. "Apa Ayah berpikir aku juga seperti itu? Kenapa Ayah dan yang lainnya membiarkan anak itu masuk ke dalam keluarga kita?"


"Ayah mengerti kemarahanmu, Ibumu melakukan itu karena teringat akan perjuangan Ayah dulu." 


"Apa yang Ayah maksud?" 


Alex menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan, dirinya mulai menceritakan masa kelamnya saat berada di Mansion Mateo. "Sebenarnya Ayah juga tidak setuju dengan permintaan ibumu, tapi itu semua tak lepas dari masa lalu Ayah dan tak ingin ada anak lain juga merasakannya. Kau tahu kan Sayang, jika Ibumu itu sangatlah baik pada semua orang, hatinya begitu mulia dan ingin melakukan kebaikan." 


"Aku tidak masalah jika Ibu melakukan kebaikan, tapi kenapa harus mengangkatnya menjadi anak."


Alex memegang kedua bahu putrinya dan menatapnya dalam pada dua netra mata indah dihadapannya. "Kasih sayang ibumu tidak akan berubah ataupun terbagi, baginya kalian berdua buah hatinya. Tolong jangan bersikap seperti ini, kau tidak tahu bagaimana sedih nya dia." Ungkapnya sedih, berharap jika putrinya mengerti dan memahaminya. 


"Hem, aku mengerti." 


"Bagus, ayo kita turun dan sapa saudara angkat mu itu." 


"Hem." Jawab Flo yang menganggukkan kepala. 


Semua orang sangat sedih dengan sikap Flo yang begitu dominan dan terang-terangan menolak kehadiran Zayden di keluarga Anderson, namun senyum kembali terlukis saat Alex berhasil membujuk gadis kecil itu. 


Cukup berat bagi Flo menerima kehadiran Zayden, dan berharap kedepannya dia bisa menerimanya dengan sepenuh hati. 


Sedangkan Alex mengkode Layla untuk tidak khawatir mengenai putri mereka, semua sudah berjalan dengan sangat baik. 


Di malam hari, Fiona terus meracau mengenai kakak baru mereka dan sangat menyukai kehadirannya di tengah-tengah keluarga. Bercerita panjang lebar dan membagi semua perasaannya pada saudara kembarnya, lain halnya dengan Flo yang terdiam tak bersemangat. 


"Kenapa kau diam saja? Kak Zayden sangat baik dan aku menyukainya, sekarang Mansion ini sudah lengkap." Fio menggoyangkan tubuh Flo tapi tak bereaksi apapun. 


"Berhenti Fio, ada apa denganmu dan semua orang? Kenapa kalian selalu menceritakan anak laki-laki itu tanpa bosan sedikitpun. Aku ngantuk jangan menggangguku!" ketus Flo yang berbalik badan membelakangi kembarannya. 


"Ada apa denganmu?" tanya Fio pelan dan kembali berbaring menatap langit-langit kamar, sesekali dia menoleh kepada Flo dan memejamkan matanya. 


Alex mencoba untuk menghibur istrinya yang tidak bisa tidur, ada rasa mengganjal di hati salah satu putrinya yang bisa dia rasakan sebagai seorang ibu yang mempunyai ikatan batin dengan anaknya. "Sayang, ini sudah malam dan kenapa kau belum tidur?" 


"Aku sangat mencemaskan Flo." 


"Mencemaskannya? Dia baik-baik saja, untuk apa mencemaskannya?" 


"Aku merasa bahwa Flo belum bisa menerima kehadiran Zayden di Mansion ini." 


"Dia masih kecil dan belum terbiasa, seiring bertambahnya waktu dan kebersamaan mereka perlahan akan membaik, percayalah." 


"Hem, aku harap begitu." 


"Sudahlah, jangan memikirkan lagi. Sebaiknya kita tidur!" Alex membawa istrinya berbaring di atas ranjang, memeluknya dengan erat seakan tak ingin melepaskannya. 

__ADS_1


Di pagi hari, semua orang ikut bergabung untuk sarapan. Alex melihat putra angkatnya itu tersenyum dan segera menyuruhnya untuk duduk, Zayden tersenyum dan mengangguk. 


Zayden yang berniat untuk duduk di sebelah Alex tiba-tiba tubuhnya didorong dan hampir saja terjatuh, melihat sang pelaku yang tak lain Flo yang menjadi pusat perhatian semua orang. 


"Ini kursiku, carilah kursi lain." Ketus Flo yang tidak suka. 


Layla membuang nafas kesal sambil menatap putrinya yang tidak sopan di meja makan. "Flo, apa itu yang Ibu ajarkan padamu?"


"Kenapa Ibu marah? Kursi di sebelah ayah adalah milikku." 


"Masih banyak kursi lainnya, kau bisa duduk di sebelah kakek John." 


"Aku tidak mau, kenapa tidak dia saja yang pindah." Tolak Flo yang tidak ingin berbagi apapun pada orang asing sepeeti Zayden, apalagi kursi yang selama ini dia tempati. Tidak adil baginya jika Fio dan kakak angkatnya duduk di sebelah ayah mereka, sementara dirinya hanya duduk di sebelah kakek John. 


"Flora Anderson." Tekan Layla yang geram dengan keras kepala putrinya. 


Flo menunduk sedih karena tidak ada yang membelanya, melirik Zayden tajam dan berjalan gontai sambil menarik kursi duduk di sebelah kakek John. 


Suasana perlahan membaik, semua orang makan dengan sangat lahap tapi tidak bagi Flo yang menganggap jika dirinya tidak berarti lagi karena rasa iri juga cemburu menyelimuti hatinya saat ini. Dia melihat semua orang bercengkrama semakin membuatnya tak bergairah menyentuh makanan, tidak ada yang memahami apa yang diinginkan olehnya terutama sang ibu dan juga ayahnya yang sibuk mengurus putra baru mereka. 


Tugas yang biasa di lakukan Layla mengantarkan kedua anak mereka, kini gilirannya untuk mengantarkan anak-anak sekaligus mendaftarkan Zayden ke sekolah. 


Di sepanjang perjalanan, Alex diam-diam memperhatikan Flo yang tampak termenung menatap luar jendela. 


"Flo, kau baik-baik saja?" 


"Aku baik Ayah." Sahut sang empunya nama. 


"Ibumu tidak bermaksud membentakmu, jangan di ambil hati."


"Ya." Jawab Flo singkat dan masih sedih bagaimana sang ibu membentaknya dj hadapan semua orang. Zayden terdiam tanpa bersuara, karena dirinya gadis kecil itu di marahi ibu angkatnya. 


"Maaf, aku tidak tahu kalau kursi itu tempatmu dan berjanji tidak akan membuatmu kesal." Zayden membuka suara. 


"Kau dengar Sayang, dia sudah meminta maaf. Lalu apa masalahnya sekarang, kita lupakan kejadian tadi dan menjalani hari seperti biasanya." 


"Aku memaafkanmu." 


"Kau ingin membunuhku ya!" ketus Flo kesal. 


"Tidak, aku sangat senang kau berdamai denganku, adikku yang manis." Ucap Zayden tersenyum lebar, kini dirinya sudah membuka diri dan akan merebut hati semua orang. 


"Ck, tidak ada yang boleh memelukku selain Ayah." Cetus Flo. 


"Baiklah, aku akan mengingatnya."


Diam-diam Alex mengambil video kedekatan Flo dan Zayden yang sudah membaik dan mengirimkannya pada sang istri agar tidak menyalahkan diri lagi setelah membentak putrinya itu. 


["Kau lihat itu, mereka sudah baikan dan aku rasa mereka akan bersama tanpa adanya rasa iri dan cemburu."] 


Alex mengirimkan pesan singkat itu lalu tersenyum, begitupun dengan sang penerima pesan yang bisa bernafas lega. 


*


*


Arden yang masih bertahan menggunakan identitas John sangat disayangkan jika kehangatan keluarga tak seutuhnya didapatkan, namun dia harus bersyukur karena bisa merasakan keluarga yang utuh walau ibu dan juga istrinya telah tiada. 


"Ini tidak akan lama, aku akan membongkar identitas asliku pada semua orang. Hanya tinggal satu langkah lagi." Gumamnya pelan menyandarkan kepala di kursi, dia sudah melacak musuh yang selama ini di cari. 


"Sudah lama aku tidak membesuk Rudra." John segera bersiap-siap menuju markas, dirinya ingin menjenguk saudara tiri yang masih ditahan sampai sekarang. 


Tak sengaja Alex melihat kepergian John yang tergesa-gesa membuatnya sangat penasaran, segera keluar dan mengikutinya. "Paman John mau kemana malam-malam begini?" 


John masuk untuk menemui Rudra yang ditahan ke dalam sel dingin, melihat kondisi pria itu yang cukup membaik. 


"Sepertinya kau sangat bahagia tinggal di sel dingin ini." Cibir John. 

__ADS_1


"Kau datang lagi? Ck, sangat mengganggu saja." 


John melempar beberapa foto di depan Rudra dan menatapnya dengan tajam. "Apa kau mengenal pria botak itu?" 


Rudra meraih foto dan melihat dengan sangat jelas, ekspresinya langsung berubah dan menjadi tidak terkendali, melempar foto itu seraya mengeraskan rahangnya. 


John tersenyum. "Dia musuhmu bukan?"


"Apa yang ingin kau buktikan?" tanya Rudra. 


"Kita memiliki musuh yang sama." 


"Oho, jadi John sang asisten dari David Anderson datang untuk meminta bantuan dariku, begitu?" 


"Bukan meminta bantuan, tapi kerjasama." 


"Aku tidak akan kerjasama dengan mu." 


"Kau akan mendapatkan kebebasan jika bekerjasama dalam membunuh target." 


"Wow, tawaran yang menarik. Tapi aku rasa bocah sialan itu tidak akan membiarkan hal ini, dia sangat membenci ku, pamannya sendiri."


"Aku memberimu imbalan lebih, termasuk uang. Setelah misi berhasil, aku minta kau pergi dari sini dan tidak pernah menunjukkan wajahmu, aku akan menyabotase kematianmu." Ucap John dengan penuh keyakinan, tanpa merasakan kehadiran Alex yang mengintip dan menguping pembicaraan itu. 


"Jadi, paman John ingin mengkhianati aku?" gumamnya di dalam hati seraya mengepalkan kedua tangan. 


Alex segera pergi dari tempat itu, dia sangat menyayangkan sikap John yang berusaha menusuknya dari belakang. Masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya dalam kecepatan penuh, rasa kecewa dan sedih karena dirinya di khianati.


Alex tak bisa memejamkan mata setelah apa yang dia dengarkan, hanya demi memberantas musuh, John rela untuk bekerjasama dengan Rudra yang sangat dia benci, karena ulah pria itu yang membuat hubungannya dengan Jessie berantakan. 


Ya, Alex sangat marah atas perlakuan Jessie waktu itu tapi dirinya hanyalah seorang kakak yang merawat, tidak ada yang tahu betapa terluka dirinya saat adiknya pergi meninggalkannya. 


Alex memukul stir mobil seraya memijat kepalanya yang terasa sakit, tatapan yang masih tetap fokus ke jalanan. 


"Paman John tidak mungkin melakukan itu, pasti ada sesuatu yang tidak aku ketahui." 


Sesampainya di Mansion, Alex berjalan dengan tergesa-gesa menuju gudang kosong, mencari tahu mengenai segalanya. Dia menyalakan saklar lampu, terlihat banyaknya debu yang membuat sesak di dada.  


Alex mengibasi tangannya, sesekali terbatuk akibat debu yang berterbangan saat dirinya tak sengaja menjatuhkan kotak kayu. 


"Aku harus tahu mengenai silsilah keluarga ibu dan ayah, mungkin saja ada informasi di sini." Monolognya seraya membaca dan melihat satu persatu tanpa ada yang terlewatkan. 


Setengah jam dia berada di dalam gudang dan belum menemukan apapun petunjuk untuk menguak fakta, dia mulai berputus asa dan hendak meninggalkan tempat itu tapi tak sengaja menyenggol sesuatu hingga menarik perhatiannya. 


Alex berjongkok dan memungutnya, tiba-tiba pupil matanya membesar saat melihat berkas yang berisi foto John dan juga ayahnya Arden. "Ada dua foto di sini." Gumamnya, saat membaca berkas yang berisi laporan dirinya hanya menghela nafas karena tulisan yang tidak bisa di baca. 


Dia memperhatikan kedua foto itu kembali dan menemukan sebuah perbedaan, dimana John memiliki tahi lalat di leher. "Aku tidak melihat tahi lalat disana dan apa isi berkas ini?" 


Teka teki yang kembali menghantuinya, Alex segera menyimpan berkas dan foto-foto itu berharap dirinya bisa memecahkannya. Dia sangat bingung dengan masalah yang begitu rumit, dan ingin menguak fakta dengan meminta bantuan asisten Jimmy.


Alex pergi menuju ruang kerja, melupakan rasa sakit di tikam John yang sangat dia percaya. Dia meraih ponsel yang ada di dalam saku dan menghubungi asisten Jimmy yang terlelap setelah banyaknya pekerjaan terselesaikan. 


"Halo." 


"Iya tuan," jawab seseorang dengan suara khas bangun tidur. 


"Aku ingin kau menyelidiki kasus ini." 


"Kasus?" 


"Ya, aku mengirimkan foto. Besok pagi datanglah ke Mansion untuk mengambil berkasnya, aku ingin kau mempelajarinya!" 


"Baik tuan."


Setelah sambungan telepon terhenti, Alex hendak ke kamarnya untuk tertidur karena hari semakin larut malam. Namun tak sengaja melihat John dan segera menghampirinya. 


"Paman sangat rapi sekali." 

__ADS_1


"Eh, Alex. Aku mengunjungi putriku di apartemennya, dan mengecek kondisinya saja." Ucap John seraya berlalu pergi agar dirinya tidak diserbu pertanyaan dari mulut Alex. 


"Kau bohong paman." Batin Alex yang kecewa. 


__ADS_2