
Alex menganga tak percaya melihat apa yang sedang di lihat oleh mata kepalanya sendiri, melihat seorang pria tua tengah terbaring di atas ranjang empuk berukuran jumbo, selimut tebal terbentang luas menutupi tubuh renta yang di makan usia.
"Bersiaplah, dia sudah datang." Lirih pelan John. Dia mulai berakting dengan sebaik mungkin, sesuai perintah. "Kenapa Tuan bisa seperti ini, apa yang begitu membuat Tuan drop?"
Alex masuk ke dalam kamar dengan perlahan, menghampiri sembari perasaan cemas. "Apa yang terjadi Paman?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Kondisi Tuan tiba-tiba drop." Jawab John bersedih.
"Bukankah tadi kondisi kakek baik-baik saja, tapi mengapa bisa sampai seperti ini?"
"Usianya tidak muda lagi, hal semacam ini rentan terjadi."
Alex menawa kening sang kakek, menggunakan teknik kuno mengecek suhu tubuh. Dahinya berkerut saat tidak merasakan apapun, kembali memeriksa kondisi sang kakek yang juga tidak ada masalah. Beruntung dia mempelajari gawat darurat dan memudahkannya memeriksa dengan sangat mudah. "Eh, semuanya tampak normal. Lalu, kenapa kondisi kakek tiba-tiba drop?" batinnya keheranan.
"Kenapa tidak ada dokter disini?"
"Dokter baru saja memeriksanya sebelum meneleponmu."
"Oh, jadi begitu ya." Alex tersenyum tipis, mencium adanya konspirasi dan persekongkolan yang menjadikannya korban. "Bagunlah Kek, aku tahu kalau Kakek hanya berpura-pura sakit."
David terus saja berakting dan mengigau untuk kesempurnaan dalam rencana yang di jalankan. "Dasar cucu durhaka, aku sedang sakit tapi kau malah mengatakan aku berpura-pura."
"Aku tahu Kakek berpura-pura, mengetahui hal ini cukuplah mudah."
"Apa yang kau pikirkan anak muda?" tanya John yang merasa risih terus mendapatkan tatapan dari pemuda yang ada di hadapannya.
"Katakan yang sejujurnya Paman, jangan mendukung kebohongan kakek."
"Aku tidak terlibat." Elak John menghindar.
Alex menghela nafas jengah. "Apa Paman lupa, siapa yang mengajariku mengenai masalah darurat seperti ini? Paman sendirilah yang menjadi guru, dan sekarang malah mendukung kebohongan kakek yang jelas-jelas sehat-sehat saja."
Seketika John merasa gugup, apa yang di katakan Alex memang benar. Tapi dia sendiri malah lupa mengenai teknik itu demi mendukung perintah David Anderson. Dia menjawab dengan asal, kelimpungan untuk memberikan alasan logis dan dapat di percaya.
"Sudahlah, tidak perlu mencari alasan lagi, aku sudah tahu." Alex langsung menyingkap selimut yang memalut tubuh pria tua renta tengah terbaring di atas ranjang empuk. Terkejut melihat sebuah nampan berisi buah-buahan yang sudah di kupas. "Wah…wah…wah, ada potongan buah disini." Cibirnya.
David langsung cengengesan menutupi rasa gugup sudah ketahuan berbohong, langsung duduk dan memegang lengan Alex.
"Ada apa dengan Kakek? Apa Kakek tidak tahu bagaimana cemas dan khawatirnya aku?" tutur Alex ingin meminta jawaban, menarik perhatiannya pada John yang mendukung keputusan kakeknya. "Apa ini? Paman juga mendukung keputusan kakek? Apa alasan di balik semua ini?"
__ADS_1
"Hem…tuan David lah yang memaksaku, aku sempat menolak tadi."
"Kakek?" Alex memperhatikan sang kakek tengah memelototi John yang telah mengungkapkan kebenaran.
"Tapi semua ini idenya."
"Sudahlah, jangan menyalahkan orang lain atas tindakan Kaken."
"Baiklah-baiklah, aku yang melakukannya. Apa kau marah padaku?"
Dengan cepat Alex menganggukkan kepala, memeluk sang kakek erat. "Aku hanya khawatir saja."
David menyambut pelukan itu dan membalasnya. "Aku hanya ingin kau segera menikah, itu saja."
Alex langsung melepaskan pelukan itu, mengerutkan kening tak percaya dengan ucapan dari David.
"Menikah? Bukankah kita sudah membahas masalah ini? Jadi kedatangan gadis itu hanya untuk mendekat padaku."
"Layla tidak tahu apapun, Kakek memikirkan ini semalaman. Lagi pula usiamu sudah sepantasnya membina keluarga, sedangkan seusiaku bisa meninggal kapan saja."
"Jangan mengatakan hal buruk, aku sangat yakin jika Kakek di berkati dengan umur yang panjang."
"Aku hanya menebak. Jangan lupakan ini, Kake sendirilah yang mengatakan padaku untuk fokus pada bisnis dunia bawah dan juga bisnis lainnya."
"Aku merubah keputusan itu setelah temanku menghubungi dan dia sudah dikaruniai seorang cicit, cucunya berusia di bawahmu empat tahun."
"Tidak Kek, aku hanya ingin fokus bekerja dan mengurus bisnis keluarga. Kakek tidak bisa memaksaku menikah apalagi kita bersama baru sebentar."
"Tapi aku sangat iri dengan temanku yang mempunyai cicit."
"Mudah saja, aku akan memberi Kake seorang cicit."
"Bagaimana caranya?"
"Aku membawakan cicit tanpa menikah, pernikahan hanya akan membawa banyak masalah."
"APA?" David langsung memukul Alex, padahal dirinya hanya ingin melihat sang cucu bahagia dan membina keluarga mengingat dirinya yang bisa di tiada kapan saja. Memberikan jeweran telinga berputar sembilan puluh derajat, membuat pemuda tampan itu meringis kesakitan.
"Auh, lepaskan ini Kek, sangat sakit."
__ADS_1
"Dasar cucu sialan, aku tak ingin kau menjadi berandalan dengan memperkosa wanita. Aku menginginkan kau menikah dan punya keluarga kecil bahagia, itu saja. Apa kau tidak bisa mengabulkan permintaan ku yang sangat sederhana itu?" David memperlihatkan kedua mata yang berbinar dengan penuh harap sesuai dengan keinginannya, namun harapan itu pupus di saat Alex menggelengkan kepala dengan cepat.
Alex tak ingin terlibat jauh dalam permainan sang kakek dan memutuskan untuk pergi keluar dari kamar, perasaan yang tadinya khawatir berubah menjadi jengkel saat tahu dirinya menjadi sasaran dalam jebakan.
Sedangkan John mengangkat kedua bahu karena tak tahu apa yang harus dilakukan, karena dirinya juga bersalah mendukung perintah dari David untuk berpura-pura. Dirinya merasa malu di saat lupa dan ceroboh, mengajari semua ilmunya kepada Alex yang tidak akan mudah tertipu.
"Apa kau punya ide lain?" ucap David.
"Jangan libatkan aku Tuan atau anak muridku itu malah akan semakin menertawakan kita."
Kesal dan ingin pergi dari Mansion, langkah Alex malah dicegat oleh seorang gadis berambut ikal yang berdiri di hadapannya.
"Kakak mau kemana?"
"Kembali ke kantor."
"Kenapa raut wajah Kakak begitu kesal?"
"Entah apa yang terjadi kepada kakek, dia berpura-pura sakit dan memintaku untuk menikah. Aku tidak ingin menikah dalam waktu cepat, dan tidak pernah terpikirkan."
"Apa? Menikah? Apa Kakak menyetujui pendapat dari kakek?" terlihat guratan kesedihan di wajah Jessie, dia takut jika keputusan dari David dapat menggagalkan seluruh rencana yang telah dia buat, cukup menyulitkan untuk mendapatkan seluruh harta dari keluarga Anderson.
"Aku tidak akan menerima pernikahan atau perjodohan."
"Jangan menikah dulu, bagaimana denganku nanti?" Jessie memberikan pelukan hangat kepada Alex, memperlihatkan wajahnya yang lugu untuk mendapatkan simpati dan perhatian.
"Bukan hanya aku yang akan menikah tapi kau juga akan menikah setelah waktunya tiba."
"Aku tidak akan menikah sebelum menemukan pria yang seperti Kakak."
"Pria sepertiku? Cukup sulit menemukannya."
"Bagaimana kalau Kakak saja yang menjadi suamiku?"
"Aku?" seketika itu pula Alex tertawa karena merasa itu adalah hal yang lucu, dia tidak tahu jika Jessie memberikan petunjuk.
"Aku tidak akan membiarkan Kakak menikah dengan siapapun."
"Terserah kau saja."
__ADS_1