Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Baik dan buruk


__ADS_3

Alex sangat terkejut saat melihat tubuh Roy yang tertembak demi menyelamatkan Layla dan baby twins di dalam perut wanita itu, pengorbanan yang hanya bisa di lakukan segelintir orang saja. Setelah mengamankan wanita hamil, dia meraih tubuh pria malang yang tertembak. 


"Bertahanlah!" Alex segera melakukan tindakan pertama dengan mengobati luka di bagian dada pria itu. 


Roy tersenyum saat melihat Alex yang begitu khawatir dengan kondisinya yang terluka cukup parah, bahkan setelah dia melakukan tindakan pertama darah segar masih saja merembes keluar dengan deras. "Apa yang kau lakukan? Pergi dari sini dan segera selamatkan Lala!" titahnya yang meringis kesakitan, tubuhnya gemetaran saat kehilangan banyak darah, tidak ada apapun di sana untuk menyelamatkan nyawanya. 


"Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri, kau juga ayah dari bayi itu." Alex berusaha keras untuk menghentikan darah yang terus mengalir, sangat panik sampai lupa akan kondisi Layla yang juga ingin melahirkan di saat suasana tidak bisa di kendalikan. 


"Apa kau lupa siapa aku? Aku pemimpin mafia yang tak akan dengan mudah mati. Pergi dan selamatkan Lala juga anak kita!" desak Roy. 


"Dan jangan lupakan jika kau juga manusia biasa sama sepertiku, turunkan ego dan juga kesombonganmu. Cepat bangun dan kita sama-sama membawa Layla ke rumah sakit." 


"Harusnya kau senang karena aku memberikanmu izin membawa Lala, jika kau sudah memikirkan ini maka baiklah. Bantu aku berdiri, luka ini tak akan membunuhku." Roy meraih tangan Alex dan bangkit, semua musuh telah mereka hadapi dan bahkan Mike juga sudah mati di tempat setelah timah panas mendarat tepat mengenai jantung, sungguh nasib yang malang. 


Alex merangkul Roy dan juga Layla, membawa mereka keluar dari hutan dan mencoba untuk menghubungi bawahan, tapi tidak ada sinyal yang bisa meminta bala bantuan untuk datang menyelamatkannya. 


"Argh." Layla meringis kesakitan saat pinggangnya terasa hampir putus, entah sudah mengalami pembukaan berapa dia juga tidak paham akan hal itu. 


"Layla…Lala." Ucap kedua pria itu serempak seraya menggotong wanita hamil itu agar segera keluar dari hutan. 


"Aku sudah tidak sanggup berjalan jauh lagi." Ujar Layla yang mulai merasakan sesuatu keluar dari nyonya V miliknya, mengalihkan perhatiannya untuk melihat ke bawah dan rembesan air ketuban mengalir banyak. 


"Apa itu?" Alex semakin panik namun berusaha menutupinya, hanya dia yang menjadi penopang dari dua orang yang tidak berdaya.


"Air ketubanku merembes, sebentar lagi baby twins lahir. Aku tidak sanggup untuk berjalan, ini sangat sakit." 


"Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai ke jalanan." Alex berusaha lebih keras lagi dan membawa tubuh lemah segenap kekuatan yang tersisa. 


"Kau pergi saja! Tidak perlu mencemaskan aku, Lala lebih membutuhkanmu." 


"Tapi kau bisa mati kehabisan darah." 


"Setidaknya aku sudah membuktikan cintaku itu bukanlah obsesi saja, pengorbanan ini memberiku kebahagiaan. Setidaknya aku mati untuk menyelamatkan Lala dan juga bayi kembar yang belum lahir." Seketika tubuh Roy ambruk karena perjalanan yang memakan waktu membuatnya kehilangan banyak darah. 


"ROY!" Layla dan Alex sangat terkejut. 


Alex memangku kepala Roy yang sangat malang, dia begitu kagum dengan aksi pria itu bagaimana menyelamatkan Layla dari timah panas dari senjata Mike. Bahkan dirinya tidak mempunyai cinta sebesar itu, pengorbanan yang sungguh luar biasa. 


"Bangunlah, aku memang membencimu tapi aku menginginkanmu untuk tetap hidup dan melihat baby twins lahir." Alex sangat sedih dengan situasi tak terkendalikan itu. 


"Kau begitu banyak membuat rencana untuk baby twins dan juga masa depan mereka, aku mohon untuk bertahan demi mereka." Layla menangis melihat kondisi Roy yang semakin parah, dia sangat sedih tahu sebesar apa cinta yang di miliki pria itu yang murni bukanlah obsesi belaka, hanya saja caranya yang sedikit berbeda. 


Roy tersenyum, melihat dua orang menangis karenanya. "Kau benar, aku hanya manusia biasa dan Tuhan bisa memanggilku kapan saja." Nafas yang mulai tersengal-sengal, dapat merasakan darah yang tidak berhenti keluar dari tubuhnya yang sekarang bergelimang. 

__ADS_1


"Tidak, kau harus selamat." 


"Tidak ada waktu lagi, biarkan aku mati dalam pengorbanan ini. Jika bayi kembar itu milikku, kau tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan Lala. Sekarang aku memberimu hak atas dirinya, jagalah wanitaku dengan sangat baik sebagaimana aku menjaganya. Aku benci mengatakan ini, kalian tampak serasi dan Lala juga lebih bahagia jika bersama denganmu dibandingkan aku." Ujarnya yang menatap dua orang itu secara bergantian. Ya, diam-diam dia mengamati kedekatan wanitanya bersama dengan rivalnya, mengikuti kemana pun keduanya pergi. 


Roy sangat sedih jika cintanya hnya bertepuk sebelah tangan, hati yang begitu di paksakan tidak akan pernah mendapatkan hasil yang di inginkan. Dia sangat merasa bersalah karena menculik sang mantan kekasih di hari pernikahan, memperk*sa wanita itu karena tidak mempunyai pilihan lain. 


Dirinya juga tahu diri, namun pura-pura tidak mengetahui kedekatan Layla dan Alex. Menepis perasaannya dan masih keukeuh untuk merebut wanita itu dari rivalnya di dalam percintaan semu. 


"Aku tahu jika kalian saling mencintai satu sama lainnya, aku mengetahui bagaimana kalian berdua beraksi ketika dekat dan bagaimana Lala yang merasa risih dengan kehadiranku." Roy meraih tangan Layla dan juga Alex, menyatukan mereka dan memberikan izinnya yang saat ini tidak lagi mempunyai banyak waktu tinggal di dunia fana itu. 


Layla menangis di tengah rasa sakit kontraksi. "Maafkan aku yang tidak bisa mencintaimu, ternyata cintamu begitu besar dan aku bahkan tidak pantas untuk mendapatkan semuanya." 


Roy menyentuh pipi Layla dan mengusapnya lembut, tersenyum hangat. "Pernah memilikimu saja sudah membuatku bahagia, pergilah dan selamatkan anak kita." Ujarnya seraya melirik Alex untuk pergi dari hutan. 


"Kami tidak bisa meninggalkanmu, aku bisa menahan ini." Tolak Layla yang tidak bisa meninggalkan Roy, berusaha untuk menahan perut terasa mual. 


"Jangan, lebih baik selamatkan bayi kembar itu." Dengan nafas tersengal-sengal, Roy merasakan sakit yang luar biasa dan tidak bisa menahan lebih lama lagi. Dia tersenyum di kala nyawa berada di ujung tanduk, sebelum kepergiannya dia ingin melakukan satu hal. "Bisakah kau mencium keningku?" lirihnya pelan. 


Layla mengangguk dengan cepat dan mengecup kening mantan kekasih yang dulu pernah menghiasi hari-hari, meneteskan air mata mengenai pipi Roy. Alex menyeka air mata dengan permintaan terakhir dari rivalnya, suasana yang begitu tegang. 


"Terima kasih, Baby. Alex, tolong jaga mereka untukku. Berjanjilah padaku!" Roy tersenyum dan mengalihkan pandangan ke arah Alex, memberikan sebuah amanat dan tanggung jawab. 


"Aku berjanji. Kau tenang saja, aku akan menjaga mereka." Sahut Alex cepat. 


"Hem, sekarang aku lega mendengarnya." Roy menghembuskan nafas terakhirnya, memejamkan kedua matanya di akhir hayat. Tangan yang semula memegang erat Layla dan Alex mulai terlepas dan jatuh ke atas tanah. 


Seakan waktu terhenti dan berjalan lambat, bahkan mendengar suara detak jantung masing-masing saat melihat tubuh lemah bersimbah darah sudah tak bernyawa. 


"Roy, buka matamu…Roy!" panggil Layla menepuk kedua pipi pria itu, dia menangis di dalam dekapan Alex melihat tubuh tak bernyawa di hadapan mereka. 


"Dia sudah pergi, ayo!" Alex harus menjalankan permintaan terakhir Roy untuk menyelamatkan nyawa Layla dan juga baby twins. 


Layla mengangguk dan berdiri di bantu oleh Alex, sebelum melangkah pergi mereka melihat untuk terakhir kalinya dan segera keluar dari hutan yang bisa kapan saja bertemu dengan hewan buas atau perampok. 


Di sepanjang perjalanan, Alex menggendong tubuh Layla yang sudah tidak kuat ingin melahirkan baby twins. Dia berlari sekuat tenaga tak peduli dengan tangan yang pegal menahan bobot tubuh wanita itu. 


"Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai ke jalanan." Alex terus berlari dan bahkan sesekali hampir saja terjatuh, bertatih-tatih menyelamatkan tiga nyawa. 


"Alex, aku sudah tidak kuat lagi." Layla ingin mengejan, mengatur nafas dan mengeluarkannya secara perlahan. 


Sesampainya di jalan raya, Alex mencoba menghubungi para bawahan untuk segera datang menjemput mereka. 


"Aku sudah mengirimkan lokasinya, cepat datang kesini dan bawa tim medis!" titah Alex lewat telepon, jarak rumah sakit sangat jauh dan tidak memiliki banyak waktu. 

__ADS_1


"Baik Don." 


Para bawahan dari kalangan anggota mafia datang berhubung jarak mereka masih memiliki kesempatan datang menyelamatkan Layla. 


"Bertahanlah!" Alex membuka bajunya dan menjadi alas duduk Layla, guratan perasaan yang bercampur aduk di rasakan olehnya, panik saat tidak tahu apapun mengenai persalinan normal. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya yang tidak berpengalaman. 


"Jangan tanya aku." Sahutnya menggelengkan kepala, keringat sebesar biji jagung membasahi tubuh Layla, rasa kesakitan sungguh luar biasa. Spontan dia melebarkan kedua kaki dan tidak peduli dengan apapun lagi, dorongan mengejan semakin kuat terasa. "Argh." Pekiknya seraya mengatur nafas. 


Alex bagai orang bodoh, pengetahuan persalinan yang tidak dia pernah pelajari menjadikannya bagai patung tak berguna. Layla yang mengetahui sedikit hanya bisa melakukannya, berharap jika kedua anaknya selamat tak peduli harus mempertaruhkan nyawanya. 


Tak butuh waktu lama, beberapa mobil dari bawahan Alex datang beserta tim medis. Dua dokter wanita langsung datang membantu Layla, dan lima suster untuk memberikan penanganan. Tak lupa alat persalinan sesuai yang di perintahkan Alex lewat pesan singkat, semuanya telah di atur dan berharap ketiga nyawa tertolong. 


"Izinkan kami membantunya, Tuan." Ucap salah satu dokter, sedangkan Alex mengangguk dan memerintahkan beberapa anak buahnya mengambil jasad Roy di tengah hutan dan dikuburkan dengan layak. 


"Tarik nafas dan buang, dorong secara perlahan. Jangan mengangkat panggulnya!" ucap dokter yang langsung di mengerti Layla. 


Keempat suster mengelilingi Layla dan menutupinya menggunakan kain agar tidak terlihat oleh pihak laki-laki, Alex ikut terseret untuk memberikan semangat pada ibu hamil itu. 


Layla menggenggam tangan Alex erat, saat mengejan dirinya menarik rambut pria itu dengan sangat kuat dan menjerit keras, bukan satu teriakan melainkan dua. 


Rasa sakit melahirkan juga dapat dirasakan oleh Alex, kuku panjang menancap di punggungnya dan rambut berantakan setelah di tarik, beberapa helai juga rontok. 


Terdengar suara bayi yang melegakan keduanya, beristirahat untuk memulihkan tenaga melahirkan keduanya. Tak terasa air mata Alex menetes saat melihat bayi yang pertama, ingin menggendongnya di saat itu juga. Lima menit kemudian, Layla merasakan sakit lagi dan dokter membantunya. 


Layla tersenyum saat dirinya melihat kedua anaknya lahir selamat, tenaga yang terkuras habis membuatnya hampir pingsan. 


"Layla…Layla." Panggil Alex yang menepuk pipi wanita itu. 


"Kita harus membawanya ke rumah sakit sebelum terlambat." Titah Dokter yang langsung di jalankan. 


Penampilan Alex begitu berantakan, kejadian yang tidak akan pernah bisa dia lupakan. Dia sedih melihat kematian Roy menyelamatkan nyawa Layla, laku bagaimana dengan dirinya? Dia menatap dua bayi kembar berjenis kelamin perempuan itu berada dalam gendongannya, menangis antara bahagia menjadi seorang ayah namun sedih melihat nasib ibu dari bayi itu yang kritis. 


"Layla, bertahanlah demi kedua putrimu dan juga aku. Aku tidak bisa kehilanganmu, tolong bukalah matamu. Walau aku terlambat menyadarinya, tapi aku sangat mencintaimu. Bangunlah demi baby twins, mereka membutuhkan ibunya." Alex tak bisa menyembunyikan kesedihannya, melihat tubuh wanita di hadapannya terbaring lemah dan juga pucat. 


Dokter dan suster melakukan penanganan semampu mereka dan berharap jika pasien melewati masa kritis. 


Dua bayi kembar itu menangis seakan merasakan apa yang dialami oleh ibu mereka, semakin menambah kesedihan Alex yang menyalahkan dirinya sebagai pria yang tak berguna. 


"Buka matamu! Apa kau tidak lihat kedua anakmu menangis? Dia membutuhkanmu, ayo gendonglah mereka." Alex meninggikan suaranya, semakin membuat bayi kembar itu menangis kencang. 


"Tuan, tenanglah." Dokter melirik suster untuk meraih dua bayi kembar itu, dan menenangkan Alex yang tak terkontrol. 


"Kenapa mobilnya sangat lelet sekali! Apa kalian ingin membunuhnya, hah?" bentak Alex memarahi sopir karena dianggap sangat lambat mengemudi. 

__ADS_1


Supir menambah kecepatan dan menerobos lampu lalu lintas, mengorbankan banyak nyawa hanya karena perintah. 


"Buka matamu!" lirih Alex pelan sembari memeluk tubuh Layla dan menangis melepaskan semua perasaannya. 


__ADS_2