
Alex menyelesaikan masalah persenjataan yang di monopoli oleh musuh, mengerahkan seluruh anggota mafia untuk menyerang beberapa titik setelah memberikan umpan senjata berteknologi tinggi. Dia sudah memperhitungkan segalanya, tak ingin jika sewaktu-waktu mereka mengalami kegagalan dan menjadikan sebagai contoh.
Alex mengintai di balik semak besama dengan beberapa pasukan inti dan elit untuk mengintai dari kejauhan, memancing sedikit menggunakan umpan. Memperhatikan beberapa anak buah yang biasa mengekspor senjata ilegal buatannya, tak peduli seberapa besar resiko yang penting merebut apa yang sudah di rampas darinya.
"Semuanya bersiap?" tanya Alex pelan dengan suara yang penuh ketegasan.
"Semua sudah di persiapkan Don."
"Hem, jalankan sesuai rencana."
"Siap."
Tersenyum tipis saat melihat target yang mendekat, sekelompok mafia yang ingin menguasai senjata mahal buatan Alex. "Sudah ku duga," dia tersenyum dan masih memantau dari semak, melihat sebuah celah dan menjadikannya kesempatan emas yang tak di lepas dengan begitu mudahnya.
Musuh yang hendak merampas senjata baru sangat terkejut jika aksi mereka diketahui, mereka segera bergegas melindungi diri dengan melakukan serangan balasan sebagai bentuk keterpaksaan.
Dengan hebatnya Alex membantai satu persatu musuh yang mendekatinya, tak pandang bulu dirinya menebas siapa saja yang menjadi duri di jalanan. Belati yang sangat tajam juga runcing menancap juga menusuk melukai musuh dengan sangat bengis, beberapa kali darah segar terciprat mengenai wajahnya.
Tubuh yang di penuhi darah semakin membuatnya bersemangat menghabisi musuh, menganggap permainan berakhir setelah membunuh pemimpin kelompok musuh. Tapi sayang, dia tidak menemukan pemimpin mafia di manapun, bahkan mencoba mengancam salah satu musuh untuk mendapatkan informasi.
"Siapa pemimpin kalian?" tanya Alex yang menarik rambut sambil menodongkan pisau tajam di leher pria itu.
"Tidak akan aku beritahu."
"Oh, jadi kau memilih mati?"
"Ya, itu lebih baik bagiku."
Alex sangat kesal dan meludahi wajah pria itu, tatapan tajam bak iblis penguasa kegelapan. Tanpa berpikir panjang langsung menggores leher musuh dan kembali bergelimang darah segar yang mengalir deras. Beberapa orang telah di ancam olehnya, namun tidak ada satupun informasi yang ditemukan olehnya.
"Sial. Sepertinya rencanaku sudah terbaca oleh mereka." Alex mengobrak-abrik tempat itu untuk mendapatkan sebuah bukti, tapi sia-sia di saat tak menemukan apapun di sana selain beberapa barang curian, seperti senjatanya tempo hari.
__ADS_1
"Tidak ada apapun Don." Ucap salah satu bawahan Alex.
"Kita pergi dari sini!"
Alex merebahkan tubuhnya yang sangat lelah bertarung seharian setelah mandi sebanyak tiga kali untuk menghilangkan bau amis noda darah yang melekat di tubuh, menatap langit-langit kamar dengan nuansa redup. Memperhatikan kedua telapak tangan yang sudah banyak membunuh musuh, pekerjaan kotor yang selalu di tekuni semenjak dirinya di angkat menjadi seorang Don.
"Bagaimana aku bisa berkomitmen dalam jangka panjang, sedangkan pekerjaanku sangatlah kotor." Alex menghela nafas kasar saat terngiang perkataan sang kakek untuk menikah. Kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa depan sangatlah buruk dan suram. Dirinya bagaikan sebuah kaktus yang tak tersentuh, menusuk siapa saja yang mencoba untuk mendekat.
Alex bangkit dari duduknya, keinginan yang menjadi terkuat dan berkuasa adalah impiannya sejak lama. Namun, setelah mendapatkannya dia menjadi tidak bergairah.
Suara ketukan pintu memecahkan lamunannya, berjalan untuk membukakan pintu. Seorang pria tua berambut perak langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apapun, dan berpikir jika ada sesuatu.
"Ada apa Kek?"
"Aku dan John setuju untuk membuat pesta."
"Pesta? Dalam rangka apa?" Alex mencoba berpikir mengenai masalah ini, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba mendengar kakek ingin mengadakan pesta.
Terlihat guratan penyesalan hinggap di benak Alex, melupakan hari penting sang kakek akibat dirinya yang selalu sibuk dengan urusan bisnis. "Maaf Kek." Ujarnya pelan.
"Hem. Tidak masalah."
"Apa yang Kakek inginkan sebagai kado ulang tahun?" tanya Alex bersungguh-sungguh.
"Berikan aku seorang cicit, apa kau sanggup mengabulkannya?"
Seketika raut wajah Alex berubah drastis, sementara David terkekeh melihatnya.
"Hanya seorang cicit, bukan dua cicit sekaligus. Kau tahu jika umurku sudah tua, dan ingin sekali melihatmu memiliki penerus selanjutnya keluarga Anderson."
"Baiklah."
__ADS_1
"Jadi kau ingin mengabulkan permintaan pria tua ini?" dua sorot mata berbinar cerah, harapannya akan segera terkabul.
"Tentu saja, aku akan mengadopsi cicit dari panti asuhan sebagai kado ulang tahun Kakek."
"Sialan!" David geram dapat di kerjai cucunya, memukul oelan lengan kekar di hadapannya. "Aku ingin pewaris kandung, melihatmu membina rumah tangga dan mempunyai anak."
Alex menggaruk pangkal hidung yang tidak gatal, permintaan yang menjadi tekanan batin baginya. "Aku tidak ingin menikah, jangan memaksaku."
"Kau sendiri yang mengatakan akan memberikan hadiah padaku, aku hanya ingin kau membina keluarga."
"Tidak akan, menikah hanya akan mengganggu ambisiku. Kapan pesta akan di adakan?" Alex menjadi tak tega melihat raut wajah kakeknya yang bersedih mendengar penolakan, mengalihkan topik untuk menghilangkan suasana itu.
"Malam besok, John sudah mengurus segalanya."
Alex menatap nanar ke arah pria tua yang keluar dari kamarnya, sendu dan merasa bersalah telah menuangkan luka tak berdarah setelah menolak permintaan sang kakek. "Maaf kan aku, aku harap kakek memahami situasiku." Gumamnya lirih.
Jessie tersenyum puas di saat mendapatkan kabar mengenai persiapan pesta ulang tahun David Anderson, dimana dirinya akan mulai beraksi menaklukkan Alex dan jatuh dalam jebakannya.
Memilah dan memilih gaun apa yang akan di pakai olehnya, menjatuhkan pilihan pada gaun pink sesuai dengan umur agar terkesan natural juga elegan.
Dia mengenakan gaun itu dan memutarkan tubuh di hadapan cermin, tersenyum puas dengan wajah juga body yang bagus.
"Wow, aku sangat cantik mengenakan gaun ini."
Setelah menjatuhkan pilihan, Jessie mengabari Rudra mengenai pesta ulang tahun David. Keduanya sangat antusias dalam menyambut hari itu tiba, perjalanan rencana menuju final akan segera berakhir menjadi pemilik harta Anderson.
"Selamat ulang tahun…selamat ulang tahun untuk ayahku." Seseorang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan perasaan bahagia, meniup pemantik api yang sedari tadi menyala.
Rudra tersenyum saat pemantik api padam, tertawa karena besok adalah ulang tahun ayahnya yang dia sendiri tidak tahu.
"Selamat panjang umur, ayah. Sebagai anak berbakti, aku akan memberikan hadiah secara tidak langsung, kau pasti menyukai hadiahku itu."
__ADS_1
Rudra tersenyum seraya duduk di kursi goyang, menyandarkan punggungnya yang akhir-akhir ini merasakan nyeri terutama di bagian pinggang. "Hah, sangat nyaman sekali." Ucapnya sambil memejamkan kedua mata.