Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Petaka obat perangsang


__ADS_3

Alex dan Layla saling berkontak mata sepersekian detik dan terjadilah aksi rebutan selimut, tak ada yang mengalah di antara mereka. Suasana yang begitu canggung di hadapkan pada sebuah fakta, bagian penting area sensitif yang di tutupi. 


Ingin berteriak dan juga menangis secara bersamaan, tapi itu bukanlah tipikalnya yang memperlihatkan kesedihan di hadapan orang lain. Misi memang berjalan lancar, tapi hasil akhir tidak sesuai dengan harapan. Layla terjebak menghabiskan waktu semalam dengan Alex, obat perangsang membawa petaka bagi keduanya. 


"Apa yang harus aku katakan pada kakek?" Layla menarik rambutnya dengan kasar, menggenggam sprei kuat. Cairan yang mengumpul di pelupuk mata tak bisa lagi dibendung, dia segera menyeka tak mau dianggap lemah. 


"Mengalahlah pada seorang wanita." Ucap Layla yang menarik selimut, aset berharga yang telah di jaga sebaik mungkin malah di nikmati Alex dalam keadaan terpengaruh obat perangsang  Seharusnya hal yang amat berharga itu diberikan pada suaminya kelak, tapi kecelakaan malah merenggutnya. Hati yang begitu di penuhi kemarahan yang menggebu-gebu, saat terlintas bayangan kejadian semalam kembali menari-nari dalam pikirannya.  Bagaimana pria yang berebutan selimut dengannya seakan tak peduli mengenai mahkota yang telah di rampas darinya, batinnya cukup terluka. 


"Aku juga perlu menutupi tubuhku." 


"Sekali saja kau mengalah," persetan dengan jabatan, Layla menendang bokong Alex hingga tersungkur dari atas ranjang. Dapat meraih kemenangan dalam berebut selimut, senyum sekilas terukir sebagai tanda puas. Tapi, rasa semalam masih saja membekas dan tak hilang dari ingatannya. "Aku tidak bisa menghadapi semua orang, sebaiknya aku pergi!" keputusan yang telah diambil dalam keadaan emosi, berpikir untuk menjauh.  


Keduanya memakai pakaian lengkap, Layla merasa sesak jika berada satu ruangan dengan Alex yang berani memperk*sanya. "Auh," ringisnya menghentikan langkah, merasa nona V sangat linu dan juga perih. 


"Kau kenapa?" tanya Alex yang berlari mendekat. 


"Stop! Jangan mendekat! Kau masih tanya ini kenapa? Ini semua ulahmu, kau merebut apa yang menjadi kebanggaanku. Berhentilah bersikap bodoh dan jauhi aku, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi." Kecam Layla dengan tatapan gejolak api kemarahan. 


Alex merasa bersalah telah mengambil kehormatan dari sekretaris pribadinya itu, apa dayanya di saat obat perangsang mengendalikan dirinya. Tangisan dari rasa sakit Layla dapat terasa olehnya, tidak tega melihat cairan bening itu menetes melewati dua pipi mulus. Dia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, menatap wajah cantik yang sedih akibat ulahnya di luar kendali.


"Mungkin memang aku tidak pantas untuk dimaafkan, berikan aku satu kesempatan memperbaiki kesalahan itu." 


"Kau pria brengsek yang pernah aku temui." 

__ADS_1


"Kau boleh menghinaku, tapi berikan aku satu kesempatan saja." Bujuk Alex yang bersikap gentleman. "Aku akan bertanggung jawab dengan menikahimu." Ucapnya setelah mengambil keputusan besar, dikala dirinya terhimpit keadaan mendesak. 


Layla tersenyum hambar, mengikat dirinya dalam pernikahan sama saja menjauhkannya dari kebebasan. "Menikah bukan solusi yang tepat. Sebaiknya kau pergi dari hadapanku, aku muak melihat wajahmu yang sok peduli padaku." 


"Tapi, itulah solusinya." 


"Aku tidak ingin menikah, apalagi dengan pria sepertimu." Layla berjalan dengan tertatih-tatih, bagian bawah yang terasa sakit tak menghalangi niatnya untuk pergi dari hadapan Alex. 


Dia tidak mengira jika akhir dari misinya itu malah kehilangan keperawanannya yang selalu di jaga dengan baik, mulai menyalahkan diri sendiri. Tatapannya kosong, berjalan keluar dari tempat itu menuju apartemennya. Begitu banyak beban di benaknya saat ini, terutama bagaimana dia harus menghadapi kakeknya sendiri. 


Sedangkan Alex menatap nanar melihat kepergian Layla yang terluka karena dirinya, luka yang diciptakan di tangannya sendiri bahkan tak terasa sakit. "Ini semua salahku, kenapa aku begitu bodoh percaya pada Jessie? Aku dibutakan oleh rasa sayang yang aku berikan padanya, menganggapnya lebih dari apapun dan mengacuhkan paman John juga kakek." Batinnya. 


Alex meraih vas bunga dan melemparnya ke lantai, sangat frustasi dengan apa yang terjadi. "Argh." Mengusap wajahnya dengan kasar, berjalan ke cermin besar dan memukulnya. Sela jari terluka mengeluarkan darah segar, tapi dia tak peduli. Jebakan yang di berikan Jessie membuatnya dalam masalah besar, menyalahkan diri karena tak bisa berbuat apapun mencegah kepergian Layla dan memperbaiki kesalahan. 


Notifikasi ponselnya menyala, Alex segera mengeluarkan ponsel dari saku dan membaca pesan yang dikirimkan John lewat aplikasi hijau. 


{"Kakekmu ada di rumah sakit, aku kirim lokasinya."} -John-


Kedua mata Alex melebar, masalahnya semakin bertambah banyak, tanpa berpikir panjang, dia keluar dari kamar menuju lokasi yang dikirimkan John. 


Sesampainya di rumah sakit Alex berlari ke arah John, wajahnya yang kusut mencemaskan kondisi sang kakek. "Bagaimana kondisi kakek, Paman?" 


Plak!" 

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat di pipi Alex, kemarahan John saat tak sengaja melihat perlakuan pria itu dan dua wanita yang polos tanpa sehelai benang. 


"Sudah aku peringatkan padamu, kau bukanlah ayahku." Kecam Alex yang menatap John dengan tajam, masalah selalu saja datang secara bersamaan. 


"Kakek mu terbaring lemah di ranjang rumah sakit, sementara kau menghabiskan waktu dengan dua wanita itu. Cucu macam apa kau ini? Tunjukkan sikap pedulimu walau hanya sedikit saja." 


"Maafkan aku, semuanya di luar kendali." Watak kasar Alex berubah melembut, tatapan tajam menunduk tak berdaya.


"Masih mau mengelak?" 


"Apa yang terjadi pada kakek?" 


"Serangan jantung karena Rudra." 


"Rudra? Siapa dia?" 


"Anak kandung tuan David bersama dengan wanita lain." 


"A-apa?" Alex sangat bingung dengan banyaknya permasalahan yang dihadapi, seakan takdir tak membiarkannya hidup tenang. 


"Ya, dia tangan di pesta ulang tahun kakek mu dan menjadi pengacau. Ceritakan padaku apa yang terjadi antara kau, Layla, dan juga Jessie, kenapa kalian berada dalam satu ruangan tanpa busana?" John sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi, pemandangan yang tidak pantas di lihat dan tidak menyenangkan ditambah dengan kondisi David yang terbaring lemah di brankar rumah sakit. 


"Ternyata Paman dan kakek benar, Jessie bukanlah gadis baik-baik. Dia menjebakku dengan mencampurkan obat perangsang ke dalam minumanku, dan memanfaatkan situasi agar aku menghabiskan malam panas. Layla datang dan bertarung dengannya, dan aku tidak mengingat apapun lagi hingga di pagi hari aku melihat noda merah di sprei dan juga mendapat kemarahan sekretaris itu setelah merenggut mahkotanya." Jelas Alex panjang kali lebar. 

__ADS_1


__ADS_2