
Alex berjalan mendekati John setelah merapikan jasnya, sudah tahu mengapa pria paruh baya itu datang ke kantor. Mengikuti langkah kaki dan menjadi pusat perhatian para seluruh syaff yang diam-diam mengintip di sela pekerjaan mereka yang menumpuk.
"Ada apa?" tanya Alex dengan tatapan kesal.
Plak
John menampar keras pipi Alex, memberikan pelajaran setimpal atas kelalaian yang tidak bisa di maklumi. Didikan keras yang diajarkan olehnya masih saja mendapatkan celah, sangat kesal mendengar informasi mengenai senjata yang diambil oleh pihak musuh.
"Kenapa Paman menamparku?" tanya Alex seraya memegang pipi yang terasa panas dingin, melakukan tindakan protes.
"Itu karena kau sangat ceroboh dan juga lalai, bagaimana bisa kau tidak tahu ada musuh yang menyamar dan memonopoli semua senjata itu? Apa kau tidak tahu, bagaimana susahnya mencari bahan pembuat senjata?"
"Ya, memang akulah yang salah. Tapi apa hubungan kita? Kenapa aku merasa kau ini adalah ayahku? Hanya ayah ku lah yang bersikap seperti tadi."
"Berbicara secukupnya, jangan kelewat batas. Aku gurumu dan pantas memukulmu jika kau sangat ceroboh dan juga bodoh." Ujar John dengan tatapan sarkas.
"Aku mengakui kecerobohanku, tapi Paman tidak mempunyai hak untuk menamparku." Balas Alex dengan tatapan sarkas.
John perlahan mengendalikan emosinya, kabar buruk yang sampai ke telinga membuatnya sangat marah dan juga kesal. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
"Untuk saat ini aku belum memikirkannya," jawab Alex asal.
"Kau harus memikirkannya sekarang!"
"Ya…ya, baiklah. Tapi, jangan mengaturku berlebihan."
Setelah pertemuan itu selesai, Alex langsung bergegas menemui pemimpin perusahaan yang datang ingin menemuinya bertatap muka secara langsung.
Alex menatap netra mata coklat di depannya, merasakan sesuatu yang tidak asing. Pembahasan mengenai kerja sama perusahaan di selingi dengan rasa penasarannya, dimana pernah melihat tatapan tajam menusuk itu.
"Seperti tidak asing." Batin Alex.
Akhirnya pertemuan berjalan dengan lancar tanpa kendala, sebagai tuan rumah yang baik, Alex menawarkan makan siang bersama di sebuah restoran berbintang.
"Aku seperti diperhatikan sedari tadi." Ucap pria yang mengenakan jas grey, tersenyum khas ke arah Alex yang tertangkap basah.
"Oh maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Alex sedikit gelagapan.
__ADS_1
"Apa wajahku mirip seseorang?"
"Entahlah, aku merasa pernah bertemu denganmu."
"Mungkin saja, banyak orang yang mengatakan hal itu dan kau orang kesekian mengatakan hal itu padaku. Mereka mengatakan kalau wajahku ini mirip dengan kenalan atau kerabat mereka, istilah kerennya wajah pasaran." Ujar pria itu sembari tersenyum.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
"Tidak masalah, lupakan itu!"
Sementara asisten Dinu hanya diam sambil memperhatikan pria itu yang tak lain Roy, pria yang mengaku sebagai kekasih Lala. "Sangat membingungkan, tempo hari pria ini menanyakan mengenai alamat Lala tapi setahuku Layla. Apa sekretaris baru itu mempunyai kembaran? Lalu, mengapa pria itu seperti tidak mengenali ku? Apa mungkin dia juga memiliki kembaran? Ya ampun, ini sangat rumit sekali." Ucapnya di dalam hati, seakan otaknya berhenti bekerja memikirkan semua itu.
Alex menepuk tangan asisten Dinu yang tampak tak bersuara bagai patung, tak mendapatkan respon semakin membuatnya kesal, dengan sengaja menarik tangan pria itu untuk duduk di sebelahnya seraya melayangkan pelototan mata.
"Ada apa denganmu?" tanya Alex.
"Bukan apa-apa Tuan." Sahut asisten Dinu, dia tidak ingin kalau Alex sampai tahu pertemuannya dengan Roy yang mencari Lala, belum yakin dengan otak dangkalnya.
Roy tersenyum sekilas, memperhatikan raut wajah asisten Dinu yang penasaran mengenai dirinya. Tapi, dirinya begitu mendisiplinkan diri untuk tidak mencampur adukkan urusan pekerjaan maupun pribadi.
Setelah selesai makan siang, Alex menjabat tangan Roy sebagai rekan bisnis, mereka tidak tahu apa yang telah di lalui.
"Aku juga mengharapkan hal yang sama." Ungkap Alex yang meraih tangan pria itu tak lupa dengan senyuman khasnya.
Setelah kepergian Roy, asisten Dinu berjalan mendekati Alex berniat untuk mengatakan sesuatu yang mengganjal di hati.
"Ada apa? Dari tadi aku perhatikan kau seperti ingin mengatakan sesuatu." Celetuk Alex tanpa menoleh.
"Sepertinya aku pernah bertemu dengannya Tuan."
"Tentu saja kau bertemu dengannya, dia pemilik perusahaan yang terkenal."
"Bukan masalah itu, Tuan. Melainkan kami bertemu saat di hotel, dia mencari kekasihnya dan memperlihatkan foto. Apa Tuan tahu? Foto itu sangat mirio dengan Layla, tapi anehnya dia menyebut nama wanita di dalam foto sebagai Lala. Wajah memang mirip tapi cara berpakaian sangatlah berbeda, apa mungkin sekretaris baru itu memiliki kembaran?" Ungkap asisten Dinu serius.
"Setahuku Layla tak punya kembaran, kau jangan mengada-ada. Mungkin saja hanya kebetulan mirip," sahut Alex tak mengambil pusing, berlalu pergi meninggalkan sang asisten.
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, Alex masih memikirkan perkataan dari asistennya mengenai Layla. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita yang menjabat sebagai sekretaris pribadi.
__ADS_1
"Sekretaris itu mengenal Layla dan mengaku sebagai kekasih?" gumam Alex di dalam hati.
Di kantor, Alex tak sengaja melihat Layla tengah berada di ruangan sekretaris, berjalan menghampiri untuk menanyakan hal lebih lanjut.
"Ke ruanganku sekarang juga!" titah Alex.
Layla mendongakkan kepala, menatap wajah tampan atasan yang bersikap dingin padanya. "Ada apa?"
"Jangan banyak bertanya, ikuti saja perintahku!"
Tidak ada pilihan selain mengikuti pria tampan itu dari belakang, berpikir apa kesalahan sehingga dirinya dipanggil ke ruangan secara langsung.
"Ada apa?" tanya Layla to the point.
"Apa kau mengenal Roy Immanuel?"
"Ini privasi, bahas saja mengenai urusan kantor saja."
"Aku hanya bertanya, dan kau hanya tinggal menjawabnya." Geram Alex.
"Ya, aku mengenalnya."
"Apa dia kekasihmu?"
"Pertanyaan macam apa itu."
"Ck, kau tinggal menjawabnya saja!"
"Tidak."
"Hem, kau masih ingat peraturan yang tertulis di daftar kontrak kerja? Tidak ada yang boleh menjalin hubungan, itu bisa mengganggu kinerja dan memperburuk keadaan perusahaan."
"Peraturan apa itu? Aku sekretaris pribadi bukan bayanganmu. Jika pun aku menjalin hubungan dengan pria, itu hak pribadi. Biar aku peringatkan, mungkin saja kau lupa, yang tertulis di kontrak itu hanya sesama rekan kerja satu kantor." Ucap Layla yang menekan nada bicaranya.
Alex tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, dan mulai membuat kiasan untuk beralasan. "Aku tak ingin jika akreditasi dari perusahaan hancur karenamu! Disaat itu pula aku memecatmu dan memasukkanmu ke dalam black list perusahaan."
Layla menatap Alex dalam, pria aneh yang mencoba mengatur kehidupan pribadinya. "Coba saja pecat aku, kau tak akan bisa." Dia berjalan keluar dari ruangan dengan perasaan kesal, dia tahu kalau Roy tak akan pernah melepaskan nya dan mencari alasan untuk bersama dengannya.
__ADS_1
"Roy sialan! Pasti dia sengaja melakukan kerja sama itu." Umpat Layla.