Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Kabar baik dan kabar buruk


__ADS_3

Alex terus melakukan serangan, beberapa kali dia tumbang dengan luka di tubuh tak di hiraukan lagi. Hatinya begitu sakit jika pria botak yang menjadi alasan ayahnya menukar identitas hingga jauh dari keluarga, keringat yang menetes menjadi saksi bisu dirinya melakukan pengorbanan tanpa menghiraukan luka di tubuhnya terkena senjata tajam. 


"Dasar bodoh! Cepat bantu Alex." Sergah Rudra yang diletakkan secara perlahan oleh Arden dan membantu putranya. 


Arden dan Alex saling melirik satu sama lain dan keduanya mengangguk menyerang pria botak bersama-sama, serangan demi serangan di balas dengan tangkisan dan menghindar. 


"Wah, akhirnya keluarga Anderson berkumpul, dengan begitu aku bisa lebih leluasa membunuh kalian disini." Ucap pria botak yang tertawa menyeramkan, mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kepada Alex. 


Alex refleks menghindar hingga tidak melukainya, mengeluarkan shuriken hingga menancap di kaki musuhnya. Terdengar erangan dari pria botak yang berlutut karena tungkai kaki yang tak sanggup menahan bobot tubuhnya. 


"Itu balasan karena kau sudah menjauhkan ayah dari anaknya." Ucap Alex penuh dendam, kembali melempar shuriken tepat di dada pria botak dan segera mengeluarkan pistol kecepatan angin hingga peluru menebus jantung pria yang seketika mati di tangannya. 


Alex tersenyum tipis berhasil menyingkirkan musuh sekaligus beban ayah dan pamannya, tapi luka di punggung membuat dirinya tak bisa berdiri dengan sempurna dan terjatuh pingsan. 


"Alex, buka matamu Nak." Arden menepuk pipi Alex, rasa khawatir dan juga cemas berharap anaknya baik-baik saja.


Asisten Jimmy datang setelah menuntaskan yang lainnya, melihat sang atasan tergeletak di atas lantai dengan simbahan darah. "Don." Dia segera menghubungi tim medis untuk melakukan penanganan pertama dan segera melarikannya ke rumah sakit. 


Arden mengusap wajahnya kasar, dua orang yang masih berada di dalam ruangan masih mendapatkan penanganan dokter. Dirinya sangat sedih dan berharap Alex dan Rudra baik-baik saja. "Aku tidak ingin kehilangan putraku lagi." Gumamnya tampak frustasi, mengeluarkan ponsel untuk menghubungi David dan yang lainnya agar mereka datang ke rumah sakit. 


Beberapa lama kemudian, tidak terlihat tanda-tanda dokter keluarga dari ruangan semakin membuat Arden terpuruk. Saat penyerangan itu dia sangat terkejut dengan kedatangan Alex yang membantunya menuntaskan dendam lama, namun kondisi yang masih menjadi pertanyaan di dalam benak. 


Beberapa orang datang dengan berbondong-bondong, sangat khawatir saat mengetahui Alex dan Rudra ada di rumah sakit. "Apa yang terjadi?" tanya David yang menatap orang kepercayaannya.


Arden tak tahan sudah lama dia ingin menangis di bahu ayahnya, memeluk erat seraya menangis rasa yang tidak pernah di keluarkan selama ini dan bisanya memendam di dalam hati. "Ayah…maafkan aku." 


"Jangan kurang ajar John, hanya Arden dan Rudra yang boleh memanggilku ayah." David berusaha melepaskan pelukan itu, dia sangat kesal di kerjai saat usianya bisa saja jantungan kapan saja. 


John menangis saat ayahnya sendiri tidak mengenalinya selama ini, bersimpuh di kaki keriput itu dan mencium sepatunya dengan lembut diiringi air mata yang menetes. "Aku Arden, selama ini menggunakan identitas John. Aku melakukan operasi plastik agar wajahku tidak di kenali, bertujuan untuk mengelabui musuh yang sudah lama aku lacak. Tapi misiku itu memiliki efek samping melukai Alex dan juga Rudra." Jelasnya membuat David sangat terkejut dan memundurkan kakinya, tanpa berkedip dan menepis simpuhan asisten setia yang sekarang mengaku sebagai putranya. 


Sementara Layla sangat terkejut mendengarnya, namun hatinya hancur saat melihat tubuh suaminya yang terbujur lemah di atas brankar. Air mata terurai dengan sangat jelas, bibir seakan keluh dan dirinya tak sanggup melihat kenyataan hingga pingsan tak sadarkan diri, beruntung asisten Jimmy menangkap tubuh istri dari atasannya. 


"Layla." Pekik semua orang yang melupakan drama mereka, memberikan pertolongan pertama pada wanita itu. 


"Kalian tetaplah di sini, aku akan mengurus Nyonya Layla." Ucap asisten Jimmy yang menggendongnya ala bridal style dan memanggil dokter untuk membantunya. 


"Dokter…Dokter!" pekik Asisten Jimmy yang langsung di hampiri oleh wanita berbaju putih dan melakukan pemeriksaan, sementara dirinya menunggu di luar. 


"Apa yang kamu katakan itu benar?" tanya David yang sangat sedih. 


Arden menganggukkan kepala dengan pelan, menyatakan jika apa yang di ucapkan adalah kebenarannya. 


"Hanya karena musuh kau rela jauh dari keluargamu sendiri, apa kau tidak berpikir bagaimana kondisi hati pria tua ini? Aku sangat kesepian setelah kau di nyatakan meninggal setelah kematian menantuku dan Alex yang di culik. Aku pura-pura bertahan, dan ternyata kamu ada di sisiku selalu tapi aku tidak menyadarinya." 


"Maafkan aku Ayah, aku terpaksa melakukan itu untuk mengetahui keberadaan musuh dan bisa melacak mereka." Arden sangat menyesal, demi ambisinya yang ingin mengetahui musuh sebenarnya harus rela menjadi orang lain, dia memang dekat dengan David tapi tetap saja terasa jauh.


"Asal kau tahu, aku bertahan hidup dan percaya pada suatu hal yang mustahil yaitu bertemu dengan cucuku kembali. Tapi kau masih saja mempermainkanku, dan sekarang kau membahayakan nyawa cucuku itu. Apa kau lupa kalau Alex memiliki tiga orang anak yang masih membutuhkan kasih sayang." David terus memarahi Arden yang tidak memberitahukan hal yang sebenarnya, sembari melihat celah bagaimana dokter masih menangani kondisi anak dan cucunya yang kritis. 


Perlahan dia membuka kedua mata dan menyadari jika berada di rumah sakit, Layla segera beranjak dari brankar namun di tahan oleh dokter yang menemaninya dalam ruangan itu. 


"Tolong, jangan halangi aku Dok. Aku ingin bertemu dengan suamiku, dia membutuhkan aku." Rengek Layla yang tak ingin berada di dalam ruangan itu, entah bagaimana kondisi suaminya dan dirinya akan tetap berada di sisi. 


"Sebaiknya anda berbaring, kondisi tubuh sedang lemah dan membutuhkan istirahat yang cukup." Ucap sang dokter memberikan saran. 


Layla terus memaksa kehendak, namun seseorang kembali menahannya dan segera dia mengalihkan menatap siapa yang mencoba menghalanginya. 


"Sebaiknya Nyonya istirahat." 

__ADS_1


"Siapa kau yang berani memerintahkanku, apa kau tahu jika yang terluka cukup parah adalah suamiku." Ujar Layla menatap sengit. 


"Demi kesehatan anda dan juga bayi yang di kandung." 


Deg


Layla terdiam bagai patung, melirik ke arah pert dan mulai mengelusnya dengan perlahan. Air mata kembali menetes, di saat dirinya mendapatkan kabar buruk dan juga menerima kabar baiknya. 


"Anda sedang hamil, sebaiknya di rawat sampai kondisi membaik." Sambing sang dokter.


"A-apa? Aku hamil?" 


"Benar, usia kehamilan lima minggu." 


Apa yang di inginkan oleh Alex benar-benar menjadi kenyataan, tapi dia tidak mengira kalau kabar baik ini berdampingan dengan kabar buruk. Layla sangat sedih dan dengan terpaksa mengikuti perkataan dokter demi janin yang bersemayam di tubuhnya.


"Nyonya beristirahatlah, saya akan kembali nanti." Asisten Jimmy bergegas melangkah keluar dari ruangan untuk melihat kondisi Alex. 


"Aku hanya bisa berdoa agar kau baik-baik saja, berjuanglah demi anak kita." Lirih pelan Layla hampir berputus asa, apakah dia harus senang atau sedih. 


Perlahan David memberikan Arden secercah harapan, dia tidak membahas mengenai kebohongan yang di lakukan selama puluhan tahun. 


"Maafkan aku Ayah, ingin sekali aku mengatakan yang sejujurnya tapi setelah misiku di tuntaskan. Kejadian ini diluar kendaliku, dan tidak berniat untuk membuat semua orang bersedih." Ucap Arden pelan. 


"Kita bicarakan ini nanti. Aku hanya ingin fokus pada Rudra dan Alex yang sampai sekarang belum ada kabarnya."


Pintu terbuka membuat semua orang menoleh dan langsung mengerubungi sang dokter. 


"Bagaimana kondisi cucuku dan anakku?" desak David yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kondisi keduanya.


David sangat sedih seakan dunianya runtuh, dia tidak pernah memberikan kehidupan yang baik untuk Rudra hingga detik ini. dia merasa bersalah atas apa yang terjadi bahkan menganggap dirinya sebagai ayah yang gagal, luka yang begitu terpuruk hingga saat ini masih saja membekas. 


Arden segera menyambut tubuh ayahnya yang terlihat lemas setelah mendengar kabar dari sang dokter, dia cukup sedih karena kematian dari saudara tirinya itu berkat kerjasama yang mereka sepakati bersama. 


"Aku bahkan belum memulai hubungan dengan Rudra, tetapi kenapa Tuhan mengujiku saat usiaku tak lagi muda. Oh Tuhan…begitu berat cobaan yang kau berikan kepada anak malang itu, bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dariku aku sangat menyesal pernah menelantarkannya." David terus membual karena dirinya sudah tidak tahan lagi mendengar kematian, mulai dari kematian istri dan juga menantunya. Andai dirinya bisa menukar nyawanya kepada anggota keluarga agar tetap utuh, biarkan dia berkorban dan menjadi pengganti. 


"Apa kami boleh melihat jasad Rudra?" tanya Arden penuh harap. 


"Boleh, setelah di pindahkan ke kamar mayat. Saya permisi dulu!" ucap sang dokter yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu. 


Sebelum pergi Arden melihat asisten Jimmy telah berada di ruangan itu dan menanyakan kondisi menantunya. "Bagaimana kondisi Layla, apa dia baik-baik saja?" 


"Tidak ada yang perlu dicemaskan nyonya Layla baik-baik saja." 


"Jika begitu mengapa dia tiba-tiba pingsan?" tanya Arden penasaran. 


"Karena nyonya Layla tengah berbadan dua itu sebabnya kondisi tubuhnya mudah berubah." 


"Ya Tuhan, kabar baik diselingi dengan kabar buruk. Kami ingin menemui Rudra di kamar mayat, kau jaga disini sampai kamu kembali!" titah Arden. 


"Baik Tuan, laksanakan." Jawab asisten Jimmy sigap, sesekali dia melihat kondisi Layla. 


"Mengapa kabar seperti ini malah datang secara bersamaan?" asisten Jimmy memang tidak mengerti takdir apa yang menghantam keluarga Anderson, sangat rumit jika di pikirkan. 


David memberanikan diri untuk membuka kain putih penutup jasad anaknya, dadanya begitu sakit dan tangisan mulai terisi di saat melihat tubuh kaku yang tak bernyawa. Bukan jalan ini yang dia inginkan, tapi takdir yang tidak bisa diputuskan oleh manusia hanya bisa menerimanya dengan berlapang dada. 


Tubuh tuanya itu memeluk erat Rudra untuk pertama kalinya, dirinya memang bukanlah ayah yang baik dan tidak pernah memberikan identitas yang sepantasnya. "Maafkan ayahmu ini yang sangat bersalah, semua yang terjadi karena aku yang tidak mengakuimu, andai saja waktu bisa berputar aku tidak akan menyia-nyiakanmu." 

__ADS_1


"Sudahlah Ayah, jangan menyalahkan dirimu lagi ini sudah takdirnya." Arden berusaha menenangkan hati ayahnya yang terluka, dirinya juga merasakan kesedihan karena saudara tirinya tergeletak tepat di hadapan. "Jangan bersedih lagi Ayah." 


"Selamat jalan anakku, kau akan selalu dihatiku." 


Arden tidak tahu berekspresi seperti apa mengingat kondisi Alex yang terletak di ranjang rumah sakit menghancurkan hatinya, kabar gembira yang diberikan asisten Jimmy semakin mengembalikan semangat nya seakan menjadi pelipur lara dalam kesedihan saat berduka. 


Dia memutuskan untuk kembali ke ruangan di mana Alex telah dirawat. "Ayah tetaplah disini, aku akan menjenguk dan melihat kondisi Layla." macamnya saya di anggukan kepala oleh David. 


Layla yang termenung sambil mengelus perutnya yang masih rata, kesedihannya saat tahu kondisi sang suami seakan membuatnya menjadi tak bersemangat. 


Terdengar suara tapak sepatu yang berjalan ke arahnya, mata melirik dan melihat Arden atau ayah mertuanya datang menemuinya. 


"Bagaimana kondisimu?" 


"Tidak terlalu baik." Sahut Layla lesu tak bersemangat. 


"Sudahlah, jangan bersedih lagi. Alex sudah melewati masa kritisnya dan akan segera sadar." 


Seketika wajah Layla berubah berbinar cerah. "Apa itu benar?" tanyanya untuk meyakinkan diri. 


"Benar." 


"Apa aku boleh menjenguknya?" pinta Layla yang bersemangat, sedangkan Arden ragu apakah menantunya itu sudah membaik atau belum. "Aku sudah membaik, tolong antarkan aku pada suamiku." 


"Baiklah." 


Semua orang tengah berkumpul dalam ruangan yang cukup luas itu, perlahan seseorang yang memejamkan kedua mata terbuka dan mendapati semua orang berkumpul mengelilinginya. 


"Syukurlah kau sudah sadar." Ucap David bernafas dengan lega. 


Alex hanya terdiam dan menyusuri pandangan di ruangan itu, terlihat asing apalagi beberapa orang mulai mengintrogasinya. "Maaf, kalian siapa? Aku tidak mengenali kalian sama sekali."


"APA?" semua orang saling berpandangan dan terkejut. 


"Kau tidak mengenali ku? Aku kakek mu!" cerocos David. 


"Sayang…kau tidak mengingatku?" Layla sangat takut jika suaminya itu hilang ingatan. 


Kecemasan dari dua orang namun tidak bagi Arden yang merasa curiga adanya sebuah akting dan juga drama. "Tubuhmu yang terluka, bukan otakmu." Ketusnya seraya menoyor kepala putranya. 


"Auh," ringis Alex yang tertawa membuat semua orang bernafas dengan lega. 


"Kau jahat sekali, berani sekali kau menipuku. Dua bulan kedepan kau tidak boleh tidur denganku!" cetus Layla yang sensitif. 


"Apa? Kenapa kau jahat sekali?" gerutu Alex yang mana tahan harus berpuasa selama dua bulan lamanya. 


"Ck, demi kesehatan cicitku dan kau tidak boleh tidur dengannya." 


"Apa maksudnya itu? Alex mengerutkan wajahnya penasaran. 


"Aku hamil dan kau akan segera menjadi ayah." Ucap Layla tersenyum malu-malu. 


"Aku akan menjadi ayah lagi?" tanya Alex untuk meyakinkan dirinya, Layla menganggukkan kepala sambil tersenyum. 


"Di balik hikmah ini kita mendapatkan pembelajaran, dimana dendam yang menguasai hati perlahan akan menggerogoti dirinya. Dan aku mulai sadar mengenai bisnis ilegal dan juga obat terlarang, mulai sekarang kita akan menutup usaha itu." Putus David membuat semua orang tersenyum lebar. 


"Aku sangat bersyukur bisa menjalani hidup normal tanpa takut akan pekerjaan suamiku." Ucap Layla di dalam hati, mengelus perutnya yang rata dan tersenyum bahagia. 

__ADS_1


__ADS_2