
Kedua pria yang terjebak dalam masalah masing-masing, baik Alex maupun asisten Jimmy yang masuk dalam dilema besar. Tapi sangat berbeda dengan asisten Dinu yang selalu tersenyum cerah setelah menikah, baginya menikah adalah suatu anugrah terindah apalagi malam romantis yang bisa di habiskan bersama dalam satu ranjang.
Alex terlihat sangat tidak bersemangat dengan berkas dan layar monitor di depannya, terlihat jelas oleh asisten Dinu yang tidak mengerti mengapa atasannya itu memiliki banyak beban setelah menikah. "Aku perhatikan Tuan banyak pikiran, apa ada masalah?" tanyanya dengan suara yang rendah.
"Setiap orang pasti memiliki masalah, memangnya kau yang hampir setiap saat tersenyum dan orang lain mengira bahwa kau itu tidak waras."
"Aku masih waras Tuan, terbukti dengan penampilanku yang rapi datang ke kantor dan lebih awal."
"Ck, itu efek kau baru menikah jadi tidak tahu bagaimana pernikahan yang sudah berjalan lima tahun." Cibir Alex yang meringis, dimana fase yang dia alami pasti di alami oleh asistennya.
"Yang penting aku menikmatinya, pantas saja Tuan selalu cuti ke kantor setelah menikah, ternyata sangat menyenangkan jika pulang ke rumah di sambut wanita yang menjadi istri dengan senyuman hangat." Asisten Dinu tersenyum sambil memikirkan istrinya membuatnya semakin rindu.
"Kau tidak akan mengerti apa yang aku pikirkan, pergi sana dan urus pekerjaanmu." Usir Alex menggerakkan tangannya, sedangkan sang asisten menghela nafas berat dan berat hati melangkah keluar dari ruangan.
Alex kembali fokus untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor yang kembali menumpuk. "Ini pekerjaan keduaku tapi mengapa sama-sama berat jika di jalani? Hah, menjadi pewaris tidak selamanya menyenangkan. Semoga saja aku mendapatkan pewaris untuk menggantikanku dalam posisi ini," gumamnya yang bermonolog dan tersenyum saat membayangkan anaknya segera lahir.
Terdengar ponsel yang berdering tak berada jauh darinya, Alex segera meraih saat melihat siapa yang menghubunginya yang tak lain adalah Arden, ayahnya.
"Halo Ayah, ada apa?"
"Kapan kau akan kembali?"
"Tentu saja seperti biasanya, mungkin saja aku akan lembur." Alex menghela nafas, pasrah akan nasibnya.
"Lembur? Apa kau tidak kasihan pada menantuku?"
"Lagipula aku harus mengurus segalanya sendirian, dan ayah hanya duduk di Mansion dan bermain dengan anak-anak. Apa itu adil untukku?" Alex mengeluarkan keluh kesahnya, sementara di tempat lain terdengar suara kekehan.
"Itu sudah menjadi nasibmu, aku yang mengelolanya dan sekarang gantian kau yang menggantikanku."
"Ayah tega sekali."
__ADS_1
"Aku tidak seburuk itu, aku pasti membantumu di perusahaan."
"Terima kasih ayah."
"Hem. Layla ingin berbicara padamu!"
Alex menggaruk keningnya yang tidak gatal, tumben sekali istrinya itu meneleponnya lewat ponsel sang ayah.
"Sayang, ini aku."
"Iya sayang, ada apa?" Alex merasakan sesuatu yang mengganjal tapi tidak bisa menebaknya apa, firasatnya yang tidak pernah salah merasakam sesuatu yang pastinya menjadikan itu sebuah bumerang untuk dirinya sendiri. "Kenapa aku merasakan ada yang tidak beres?" batinnya yang berharap jika Layla tidak minta macam-macam padanya.
"Hem, aku ingin sekali makan mangga muda."
Alex menghela nafas lega sembari mengelus dada, hanya mangga muda saja itu tak menjadi sebuah problema sulit dan sangat mudah di dapatkan. "Baiklah, aku akan membelinya untukmu."
"Tapi aku tidak ingin kau membelinya, sayang."
"Lalu?" Alex menelan saliva dengan susah payah dan terus fokus mendengarkan perkataan Layla berikutnya.
"Baiklah, besok pagi kita akan meminta mangga mereka."
"Ada satu hal yang harus kamu tahu."
"Apa?"
"Besok akan ku beri tahu secara langsung padamu, dah sayang…aku mencintaimu."
Alex meletakkan benda pipih itu di atas meja kerja, merasakan hal yang horor jika mengingat permintaan ibu hamil yang pernah dia baca sangatlah menyiksa bagi suami.
"Dia hanya meminta mangga muda plus aku harus mengambilnya langsung di atas pohon, tapi apa rasa mangga itu berbeda jika di pohon milik orang lain? Bukankah pohonnya ada di halaman belakang Mansion?" Alex berpikir mengapa istrinya itu meminta mangga muda milik tetangga yang jaraknya lumayan jauh, mengingat kawasan Mansion yang cukup luas.
__ADS_1
Alex memutuskan untuk kembali bekerja dan menyelesaikan urusan kantor, masih beruntung markas aman terkendali tanpa membuatnya harus repot ikut campur tangan jika terjadi masalah, ada asisten Jimmy yang dapat dia andalkan.
Di pagi hari yang indah dan juga cerah, seseorang masih saja berada di bawah selimut menutupi tubuh dari suhu dan udara yang terasa sejuk menyentuh kulit, masih nyaman dengan posisinya dan semakin nyaman saat memeluk seseorang di sebelah.
Alex tersenyum tanpa berniat membuka mata, rambutnya yang di elus lembut semakin membuatnya malas bergerak. Dirinya yang baru pulang di pagi buta demi menyelesaikan pekerjaan di kantor, mendapatkan sambutan hangat dan sekilas melihat senyuman penuh arti milik istrinya.
"Kau sudah bangun Sayang?" Layla tersenyum saat dirinya mengidam mangga muda dan sudah tidak sabar untuk mencicipinya.
Seketika itu pula Alex melebarkan kedua matanya, merasa suasananya sedikit horor jika di pandangi seperti itu. Lebih baik dirinya latihan menembak seharian daripada mendapatkan pandangan menusuk penuh arti dn niat terselubung yang di sembunyikan oleh istrinya itu. "I-iya, aku baru bangun tidur." Dia langsung berpura-pura menguap seraya menggeliat, mengalihkan perhatian sebentar.
"Baguslah kalau begitu, aku ingin menagih janjimu kemarin."
"Janji yang mana?"
"Ck, tidak perlu berpura-pura. Aku ingin kau memanjat pohon mangga dan mengambilkan mangga muda untukku."
"Bukankah di halaman belakang ada pohon mangga dan juga berbuah lebat?" Alex mengerutkan alisnya memikirkan permintaan sang istri.
"Tapi anak di dalam perutku hanya menginginkan mangga muda milik tetangga."
"Aduh, apa calon anakku tiba-tiba menginginkannya?"
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Sebaiknya kau petikkan satu untukku!"
"Baiklah, aku akan menghubungi tetangga kita dulu dan memintanya terlebih dulu." Alex hendak meraih ponselnya namun di cekal oleh Layla yang menggelengkan kepala padanya.
"Aku tidak ingin kau meminta izin padanya." Ujar Layla pelan.
"Jangan katakan jika kau ingin aku mencurinya."
Dengan cepat Layla menganggukkan kepala seraya mengelus perutnya penuh semangat. "Aku ingin kau mencurinya satu buah mangga muda, ini bukan karena keinginanku melainkan benihmu." Tunjuknya di bagian perut.
__ADS_1
Alex menghela nafas berat, ternyata firasat buruknya benar-benar terjadi, permintaan konyol dari sang istri yang memintanya untuk menjadi pencuri mangga. Dengan terpaksa dia mengangguk setuju, walau bagaimanapun dia tidak ingin anaknya ngeces saat tidak memenuhi keinginan saat di dalam perut.
"Baiklah, apapun demi anak kita." Alex segera beranjak dari tempat tidur dan bersiap dengan pakaian santainya, sedangkan Layla begitu bersemangat dan bertepuk tangan sambil memikirkan mangga dari hasil curian suaminya.