
Alex yang melajukan mobil di jalanan sepi, mengejar waktu yang sudah semakin larut. Tak butuh waktu lama hingga dirinya sampai ke Mansion Anderson, bernafas dengan lega dan mengucapkan syukur karena masih diberi kesempatan hidup.
Dia segera berlari masuk ke dalam, masuk ke dalam kamar dan menemui sang istri untuk meminta maaf. Wajahnya khawatirnya berubah tersenyum hangat saat melihat wanita cantik itu tertidur, segera meletakkan tasa dan membuka jas.
Alex duduk di sebelah wanita yang tertidur, mengecup pipinya sebagai rasa barsalah.
Layla membuka kedua matanya, melihat sang pelaku yang sangat tampan.
"Kau baru pulang?" tanya Layla sedikit ketus.
"Hem, aku lembur dan lupa untuk mengabarimu. Tolong maafkan aku!" bujuk Alex dengan tatapan penuh harap.
"Heh, mudah sekali kau berbicara seperti itu. Sudahlah, sebaiknya kau bersihkan dirimu dan tidur. Kau pasti sudah makan malam, jadi aku tidak perlu mananyakannya." Layla membelakangi Alex, wajah yang cemberut saat suami seperti melupakannya.
Alex berusaha bersikap sabar menghadapi kekesalan istrinya, dia memang sangat letih usai bekerja tapi Layla jauh lebih lelah ketimbang dirinya. "Maaf, aku tidak memberitahukanmu dulu. Begitu banyak pekerjaan kantor yang terbengkalai dan aku ingin menyelesaikan, hingga mengabarimu dan makan malam saja aku lupa." Ucapnya dengan raut wajah sedih, menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi.
Layla yang enggan memaafkan sang suami, namun perkataan kalau Alex belum makan apapun membuatnya serba salah. Air mata segera dia seka dan bangkit dari ranjang, lalu menyiapkan makan malam dengan menghangatkannya. "Bersihkam dirimu dulu, aku akan menghangatkan makanan dan membawanya kesini."
"Baiklah." Alex tersenyum dan mengangguk, dia merasa pria yang paling beruntung memiliki istri perhatian seperti Layla. Walau sekeras apapun kadar rumah tangga dan kesalahan selalu saja di singkirkan dahulu dan mementingkan perutnya, memastikan jika asupan dan nutrisi terpenuhi. "Dia tidak pernah membiarkanku kekurangan." Gumamnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Layla memanaskan makanan dengan cepat, merasa bersalah mengenai sikapnya yang egois tanpa memikirkan bagaimana dan apa yang di lalui oleh suaminya.
"Ibu."
Layla tersentak kaget saat lamunanya terpecah mendengar suara yang tak asing terdengar di telinga, menundukkam pandangan dan melihat salah satu putri kecilnya memeluknya erat.
"Fio, kenapa kau bangun Sayang?" Layla berjongkok dan menoel dagu anaknya dengan gemas, memegang kedua bahu kecil itu serta menatap sepasang manik mata indah di hadapannya.
"Aku takut tidur sendirian." Rengek Fio yang mengucek kedua mata, memegang boneka taddy bear kecil berwarna krim di tangan kirinya.
"Takut kenapa Sayang? Disana ada Flo yang menemanimu tidur." Tutur Layla dengan lembut.
"Aku sudah membangunkannya, tapi Flo tetap tidak mau bangun lalu mengusirku." Ucap Fio dengan raut wajah yang sedih.
"Owh, sangat disayangkan. Fio tenang saja, ibu ada di sini untuk membantu." Layla memeluk putri kecilnya dengan erat, mulai menyadari jika kedua putrinya itu sangat bertolak belakang.
Fio cenderung bersikap sangat manja, namun sangat berbeda dengn Flo yang mandiri. Tentu saja karakter keduanya akan mewarisi dari gen ayah masing-masing mereka, dia segera menepis ingatan mengenai Roy yang sudah lama tidak berkunjung ke makam pria itu karena sudah sepakat untuk merahasiakan ini sampai kapanpun.
"Bagaimana caranya Bu?"
"Nanti Ibu tunjukkan caranya, tapi sebelum itu Ibu perlu menyiapkan makan malam untuk ayah dulu."
"Jadi Ayah baru pulang?" Fiona menatap ibunya dengan tatapan polos, sangat menggemaskan dimata orang dewasa.
"Ayah baru saja pulang."
"Hem."
"Apa makananku sudah siap?" tanya Alex dengan perut yang kelaparan, sejak tadi belum makan apapun. Dia tak sengaja melihat salah satu putri kembarnya dan tahu jika itu adalah Fiona. Banyak yang tidak bisa membedakan Flora dan Fiona, hanya segelintir orang saja yang bisa membedakan mereka.
"Ayah kenapa pulangnya sangat malam sekali?" tanya Fio yang langsung di sambut Alex dengan menggendongnya.
"Pekerjaan di kantor sangat banyak, itu sebabnya Ayah tidak bisa pulang lebih cepat."
"Bukankah ada paman Dinu yang membantu, kenapa Ayah tidak meminta bantuannya saja?"
Alex tersenyum seraya menoel pipi Fio lembut. "Karena paman Dinu akan segera menikah dan harus fokus untuk itu."
"Fio, jangan mengganggu ayahmu." Layla melarang anaknya untuk berhenti bertanya, sifat ingin tahu dari gadis kecil itu menjadikannya begitu cerewet.
"Baik Bu. Ayah, turunkan aku!"
"Sesuai dengan perkataanmu, Sayang." Alex segera menurunkan gadis kecil dan menyantap makanan yang sudah tersaji di atas meja makan, rasa lapar yang sudah tak tertahan membuatnya menghampiri sang istri.
"Aku akan menemani Fio dulu untuk tidur, kau habiskan saja makanannya."
__ADS_1
"Baiklah."
Alex menikmati hidangan dengan melahapnya, masakan sang istri yang lezat tentunya tak akan dia sia-siakan apalagi memasak dengan penuh cinta.
Ponsel berdering mengganggu aktivitasnya yang tengah mengisi perut, meraih benda pipih itu dari sakunya dan melihat siapa yang menghubunginya. "Asisten Jimmy? Mengapa dia tiba-tiba meneleponku?" gumamnya dan mengangkat telepon.
"Halo Don."
"Iya, ada apa?"
"Ada masalah yang hanya bisa Don tangani."
"Bisa kau jelaskan?"
"Senjata terbaik yang kita produksi di plagiat oleh orang yang tak di kenal dan mengenalkan rakitan itu mengklaimnya sebagai milik mereka."
"Apa?" Alex sangat terkejut jika usahanya di ambil oleh orang, selera makannya menjadi hilang dan segera memutuskan telepon. Mengambil segelas air dan meneguknya hingga gelas itu kosong.
Alex masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa, mengganti pakaiannya hendak pergi ke markas. Sebelum itu dia menyingkap pintu yang tidak terkunci, melihat Layla sedang mengkelon Fio.
Layla segera beranjak dengan sangat perlahan, menjawab kode dari lambaian tangan suaminya dan menatap penampilan serba hitam.
"Kau mau kemana dengan pakaian seperti itu?" Layla mengerutkan dahi menyusuri pandangan Alex daei ujung rambut hingga ujung kaki.
"Aku harus pergi ke markas, jaga dirimu baik-baik dan juga anak-anak."
"Ada masalah apa?"
"Ada yang mencimplak karyaku, aku harus mengatasi segera atau sistem yang aku miliki tidak memiliki kepercayaan dari beberapa pihak yang menguntungku selama ini." Jelasnya.
"Besok saja, kau baru saja pulang dari kantor."
"Aku harus menyelesaikannya, jaga dirimu dan juga anak-anak." Ucap Alex sambil mencium pucuk kepala istrinya dengan sangat lembut dan pergi dari tempat itu.
"Kenapa aku merasa takut setiap waktu jika Alex bekerja sebagai don? Di mana pun dia berada aku berharap jika semuanya baik-baik saja dan pulang dengan selamat."
Alex kembali melajukan mobil di perjalanan sepi menuju sebuah markas tempat dirinya yang selama ini memimpin, sangat kesal dan juga marah jika hasil karya yang telah dia pikirkan selama berhari-hari dengan mudahnya diakui sebagai milik orang tersebut.
Brak!
Alex memukul meja kerja dengan sangat keras, empat orang yang ada di hadapannya ditatap dengan begitu tajam dan aura yang mematikan, tentu saja dirinya melampiaskan rasa kemarahan karena lalai.
"Kalian tidak ada yang becus, bagaimana data kita bisa dibocorkan? pasti salah satu di antara kalian menjualnya dan merawat keuntungan yang besar. Kalian tahu 'kan jika aku membenci penghianatan, jika sekali saja aku mengetahuinya maka tidak akan aku ampuni orang itu." Alex sangat marah terlihat dari ekspresi di wajahnya.
"Maafkan kami, Don."
"Andai saja maaf kalian bisa merubah membagikan keadaan." Alex segera mengalihkan perhatiannya menatap pria yang ada di sebelah. "Aku ingin kau mencari akar permasalahan ini dan segera beritahu aku!"
"Laksanakan Don."
*
*
Alex sudah kembali bisa semua orang masih terlelap dan bahkan dia tidak bisa tidur walau sudah mencobanya. Dia duduk di sofa di ruang kerja, tidak ada yang tahu kepulangannya. Dirinya hanya melamun memikirkan permasalahan yang terjadi di markas, beban yang dipikul seorang diri membuatnya sangat kesulitan, hingga dirinya menatap sebuah foto yang dibingkai dengan sangat indah terpajang di kamarnya dalam ukuran yang sangat besar.
Alex berjalan menghampiri menatap ekspresi tajam dari seorang pria yang ada di dalam foto. "Bagaimana ayah menjalani semua usaha bisnis dari keluarga Anderson? Aku sangat takjub apalagi kakek pernah menceritakan bagaimana kejayaan ayah dahulu." Dia terus menatap foto itu dan meniru bagaimana pose sang ayah, yang begitu terlihat gagah berkarisma namun memiliki tatapan tajam mematikan.
Jujur saja di hati kecilnya Alex masih tidak percaya jika ayahnya telah meninggal dunia, apalagi setelah mendengar cerita dari kakek. "Bagaimana aku bisa percaya kalau ayah telah tiada? Namun kenyataan yang ada menjadikan berita Itu benar-benar nyata."
Prank!
Alex mendengar suara benda yang jatuh, segera berlari keluar ruangan dan memeriksanya jaringan kiri dan kanan tapi tidak melihat siapapun di sana. "Siapa disana?" ucapnya berharap melihat orangnya, seketika dia meningkatkan kewaspadaan mencari siapa yang menjatuhkan vas bunga.
Alex sangat terkejut di saat melihat kucing orange melompat ke arahnya, dan segera kembali masuk ke dalam ruangan mengira jika itu dijatuhkan oleh kucing.
__ADS_1
Tanpa disadari olehnya jika seseorang tengah bersembunyi dengan penuh kecemasan dan berharap agar tidak bisa diketahui keberadaannya oleh Alex.
"Hah, syukurlah dia tidak mengetahui aku." Ucap pria itu sambil mengelus dadanya dengan pelan sangat takut jika Alex menemukannya tengah menguping.
John segera pergi dari persembunyiannya menuju ke dalam masuk ke dalam kamar ingatan mengenai perkataan dari Alex membuatnya tertegun sebentar. "Apa yang harus aku katakan kepada semua orang?" gumamnya yang sangat gelisah.
Sudah lama John berada diantara keluarga itu tapi tidak ada yang tahu mengenai identitas aslinya, dia adalah Arden, ayah kandung Alex yang selama ini menyamar.
Ingatannya kembali ke puluhan tahun yang lalu, di saat dirinya mengetahui sang istri meninggal dunia. Ada beberapa orang yang ingin membunuhnya dengan merekayasa cerita yang dibuat dan tersebar saat ini jika dirinya meninggal karena kematian sang istri. Pelaku yang masih belum terungkap dan mengira jika itu adalah perbuatan Antoni Mateo, tetapi dia salah saat berhasil membuka satu persatu teka-teki di dalam hidupnya.
Ada musuh lain yang tidak dia ketahui, memang sampai sekarang dirinya tidak tahu siapa yang menjadi lawannya, dengan terpaksa tidak mengungkapkan identitas asli kepada David dan juga Alex. Wajah yang dipakai olehnya adalah asistennya yang terbaik yaitu John, pria malang itu telah meninggal saat kekacauan terjadi di mansion Anderson.
"Maafkan aku yang selama ini bersembunyi dari kalian semua, aku melakukan itu untuk mengetahui siapa musuh kali ini." Gumamnya di dalam hati.
Arden selama ini memakai identitas dan juga wajah asisten setianya yang bernama John, dia mengeluarkan sebuah liontin miliknya sebagai kenangan terakhir dari istrinya, ibu kandung Alex.
Ya, di saat hamil ke tujuh bulan. Arden mendapatkan sebuah liontin, berisi foto wajah lamanya dengan istrinya tercinta.
Demi keberhasilannya dengan semua rencana, dia bahkan rutin mengirimkan sejumlah uang pada anak perempuan John yang tinggal bersama orang tua john.
"Bukan hanya kau saja Lex, yang merasakan beban hidup dan bahkan aku lebih parah lagi. Maafkan aku yang tidak membantumu, tapi semua yang kulakukan demi kebaikan kita semua." Lirih pelannya.
Arden mulai terbiasa dengan perannya sebagai sang asisten setianya, dan dia juga berperang sebagai ayah yang baik untuk putri John. Gadis malang yang tidak tahu kebenaran jika ayah aslinya telah tiada, namun kedua orang tua John sudah tau kebenarannya.
John cukup pusing memikirkan hal ini, apalagi putri John yang berada di Paris tiba-tiba ingin kembali ke Indonesia dan tinggal bersamanya. Ingin sekali dia menolaknya, namun tak tega membuat gadis itu sedih. Di satu sisi nenek dan kakek anak John belum menceritakan kebebaran, hanya menunggu waktu untuk dirinya mengungkapkan kebenaran.
Tiba-tiba ponsel John alias Arden berdering, dia melihat tertulis nama Clarissa. "Kenapa dia meneleponku?" gumamnya yang segera mengangkatnya.
"Halo pa."
"Clarissa? Kenapa kau tiba-tiba menghubungiku?"
"Kenapa papa selalu saja seperti itu, apa aku salah menghubungi ayahmua sendiri?"
"Bukan begitu, kau tahu sendiri jika aku selalu sibuk."
"Ya, papa selalu sibuk dengan mengabdikan diri di keluarga Andeson sampai lupa jika kau juga memiliki seorang anak yang terlantar di Paris."
"Maaf, aku harap kau mengerti."
"Ah lupakan itu, bagaimana dengan perbincangan waktu itu?"
"Yang mana?" tanya John alias Arden.
"Aku ingin tinggal bersama papa di Indonesia, jangan lupa untuk menyiapkan tempat untukku disana. Aku tutup teleponnya, aku menyayangimu papa."
Arden segera melempar ponsel kesembarang arah, mengingat permintaan Clarissa anak kandung John yang asli begitu menyulitkannya. "Ya Tuhan, aku sudah tidak sanggup berpura-pura menjadi ayah orang lain sedangkan anak kandungku terlantar." Lirihnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa suami istri tua renta itu tidak mengatakan yang sebenarnya? Apa mereka lupa?"
Arden yang menyamar menggunakan identitas John kembali meraih ponselnya dan menghubungi kakek nenek Clarissa untuk menyelesaikan permasalahan mengenai kedatangan gadis itu ke Indonesia.
"Halo."
"John, kau menelepon ibumu ini? Setelah sekian tahun kau melupakan kami."
"Ku harap berhentilah bersandiwara, kau bukan ibuku."
"Menghentikan sandiwara? Bahkan kau sendiri juga tak menghentikan sandiwara mu."
"Ck, itu urusanku jangan ikut campur. Mengapa kau mengirim cucumu ke sini?"
"Dia masih tidak tahu kalau kau bukan ayah aslinya, jadi maklumi saja. Jangan lupa untuk merawat Clarissa dengan baik disana kalau kau masih ingin rahasiamu aman."
"Sial." Arden alias John memutuskan sambungan telepon, dirinya terpaksa menyetujui perkataan wanita tua itu.
__ADS_1