
Pernikahan di gelar dengan sangat indah juga mewah, banyak bunga, lampu, dan aksesoris pelengkap menghiasi tempat itu. Semua tamu berbagai kalangan atas, pemilik perusahaan tetangga dan juga rekan kerja. Semua orang turut di undang, hanya ada beberapa orang yang tidak ikut serta meramaikan pernikahan.
Semua orang menunggu kehadiran dari kedua mempelai yang belum terlihat di manapun, bahkan David dan John juga menunggu sambil menyambut tamu yang hadir.
"Kenapa mereka sangat lama sekali?" tanya David pada John.
"Akan aku periksa." Ujar John yang berlalu pergi meninggalkan kerumunan.
Seorang pria tampan sudah rapi dengan tuxedo putih dipadu padankan warna hitam di beberapa bagian, dasi kupu-kupu berwarna hitam selaras. Rambut yang di sisir rapi, menatap dirinya sendiri di cermin besar. Dia tidak menyangka akan menikah secepat ini, bagaimana tidak? Obat perangsang yang mengendalikan tubuh nya.
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya dan segera menoleh, menangkap sosok pria paruh baya. "Paman."
"Kau lama sekali." John berjalan masuk ke dalam ruangan, melihat penampilan Alex menyeluruh sangat sempurna. "Kau sangat tampan mengenakan tuxedo ini." Pujinya seraya memegang kedua pundak pemuda itu, ada rasa kebanggaan tersendiri di hatinya.
"Aku tidak menduga kalau Paman meneteskan air mata, mengapa aku merasa kalau kau itu ayahku sendiri?" Tutur Alex yang mengangkat sebelah alisnya bingung dengan praduga di dalam pikiran.
"Jangan banyak bicara, kau ingin menikah atau tidak? Semua orang menunggu kedatanganmu."
"Aku sudah siap, ayo!"
Seseorang dengan sebuah rencana licik, dimana dirinya akan menculik sang mempelai wanita atas dasar ketidakrelaan pernikahan yang sebentar lagi akan terjadi. Menyiapkan persiapan dengan sebaik mungkin untuk melakukan penculikan di tempat acara, bukan hal yang mudah mengingat lawannya adalah Alex Anderson. Tapi dirinya juga tidak lemah, seorang mafia yang tidak takut pada siapapun.
"Jangan ada kesalahan apapun, misi ini hanya memiliki satu kesempatan dari lemahnya sistem keamanan." Ucapnya pelan seperti berbisik, memerintah anak buah sesuai dengan rencana. Alat yang ada di telinga dan di jas untuk berkomunikasi kepada pasukan khusus terlatih.
"Baik Tuan."
Roy yang sudah membaca peta mempelajari setiap sudut tempat itu, memudahkannya mencapai ruangan tempat beradanya Layla. Dia masuk ke dalam ruangan yang dijaga beberapa orang, meniupkan sumpit kecil yang berisi panah seukuran jarum di ujungnya sudah di beri obat bius.
Satu persatu dia meniup sumpit kecil mengenai semua penjaga yang langsung tertidur, masuk ke dalam ruangan dengan sangat mudah.
Layla melamun di depan cermin besar, melihat dirinya yang sudah selesai di dandani di baluti gaun putih sesuai dengan keinginan Alex. Dia sangat cemas memikirkan nasib calon suaminya, tindakan nekat Roy bisa kapan saja menghabiskan nyawa pria malang itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, nyawa Alex dalam bahaya." Lirihnya.
"Halo Baby." Ucap seseorang mengejutkan Layla dari lamunan, sangat mengenal suara siapa itu. Dan benar saja saat melihat Roy ada di hadapannya tengah menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Kau disini?"
"Ya, demi dirimu." Roy meraih pinggang Layla hendak menciumnya, namun dihalangi oleh tangan lentik. "Ayolah, sekali saja. Aku sangat merindukanmu, Baby." Kembali berusaha mencium wanita dalam kungkungannya.
"Hentikan ini, apa yang kau lakukan?"
"Menculikmu, apa lagi? Aku tidak rela kau menikah dengan Alex kaparat itu, kau hanya milikku Sayang dan tetap milikku. Tidak ada yang mencintaimu melebihi aku."
"Kau ingin membuat kakekku masuk rumah sakit? Begitu maksudmu?" cetus Layla kesal.
"Aku tidak berdaya, rencana ini lebih efektif. Masalah kakek Yudistira akan ada yang mengurusnya, kau tidak perlu cemas." Roy menatap dalam netra mata indah yang selama ini dia kagumi, terpesona saat pertama kali bertemu sampai saat ini. "Ini tidak sakit." Ucapnya.
"Apa?"
Alex melirik jam yang melingkar di tangan, sedikit khawatir karena tak melihat mempelai wanita yang turun dari tangga. "Apa dia kabur?" lirih pelannya, ekspresi cemasnya dilihat John yang mencium tidak ada yang beres.
"Ada apa?" tanya John penasaran.
"Layla belum terlihat sama sekali."
"Aku akan memeriksanya."
"Tidak, aku saja yang memeriksanya." Alex bergegas pergi dari tempat itu, mencari keberadaan mempelai wanita di ruangan khusu. "Pasti dia melarikan diri, sangat konyol." Gumamnya yang mempercepat langkah.
Beberapa penjaga pingsan di atas lantai, memeriksa salah satu dari mereka dan bergegas masuk ke dalam mencemaskan kondisi Layla. Berlari memeriksa setiap sudut ruangan dan tidak melihat siapapun disana, pikiran buruk masuk ke dalam otak mengira sang calon istri sudah melarikan diri.
"Pasti dia sudah kabur." Dengan cekatan Alex menghubungi asisten Jimmy dan juga asisten Dinu, memerintah mereka untuk mencari tahu kemana perginya sang mempelai wanita.
__ADS_1
David dan Yudistira sangat khawatir tidak melihat Alex kembali, beberapa anggota dari markas mafia berdatangan bercampur bersama para tamu undangan.
"Ada yang tidak beres." Keduanya juga pergi dari sana untuk melihat apa yang terjadi, sesuatu yang salah harus segera menemukan solusi.
Alex menampar keras para penjaga yang sudah bangun dari pingsan, memperlihatkan taring serta tatapan tajam bak harimau pemangsa. Dia sangat kesal, saat mendapatkan kebenaran jika Layla tidaklah kabur melainkan ada yang menculiknya.
"Bagaimana kalian bisa lalai seperti ini, hah?" sentak Alex meninggikan intonasi suaranya.
"Maaf Don."
"Maaf kalian tidak akan mengubah keadaan apapun, pergi cari Layla sampai ketemu. Jika tidak? Maka kalian semua mendapatkan hukuman berat!" kecamnya penuh ancaman.
"Baik Don."
Semua orang sangat khawatir mencemaskan Layla yang di culik, Yudistira tak sanggup mendengar kabar itu dan membuat dua tungka kaki lemas. Hampir saja pria tua itu ambruk ke atas lantai, beruntung Alex dengan sigap meraihnya dan membaringkannya di atas sofa.
"Minumlah ini Kek." Alex menuangkan segelas air mineral dan membantu memberikan minum ke mulut Yudistira.
"Aku tahu dimana Layla berada." Yudistira baru mengingat seseorang yang menjadi dalangnya.
"Itu berarti Kakek tahu siapa pelakunya?" tanya Alex yang mendesak, sedangkan Yudistira mengangguk pelan.
"Roy Immanuel, mantan kekasih Layla yang sangat terobsesi dengan cucuku itu. Aku tidak berani melawannya karena pria itu adalah pemimpin dari mafia." Ungkap Yudistira membuat Alex shock.
Alex menitipkan Yudistira pada David dan berpamitan menyelesaikan masalah bersama Asisten Jimmy, sementara asisten Dinu mengurus kekacauan yang terjadi.
"Pantas saja aku merasa tidak asing dengan Roy, ternyata dia musuh yang meminta umpeti itu." Batin Alex memilih beberapa senjata, mengingat lawannya yang tidak bisa di anggap sepele. "Kau sudah melacak lokasinya?" tanyanya tanoa menoleh.
"Sudah Don."
"Hem, bagus. Kelompok mafia itu sebentar lagi akan rata, mereka belum tahu dengan siapa berhadapan."
__ADS_1