
Beberapa bulan kemudian..
Alex melirik jam yang melingkar di tangannya, sangat kesal dengan nasib yang mengikat. Rapat yang terasa membosankan berharap segera selesai lebih cepat, mengingat dirinya yang akan menghabiskan waktu bersama wanitanya yang tengah mengandung baby twins.
"Astaga…kenapa waktu berjalan sangat lambat?" umpatnya di dalam hati, menjadi tidak fokus dengan isi rapat yang di sampaikan.
Asisten Dinu melirik tuannya yang teris saja melirik ke arah jam tangan mewah itu, jiwa penasaran menggerogoti dirinya. "Tidak biasanya tuan Alex begitu, tapi apa yang menyebabkannya sampai tidak fokus?" gumamnya di dalam hati.
Setelah selesai rapat penting, Alex lebih dulu keluar dari ruangan, asisten Dinu berjalan mengikuti dan mengejar atasannya.
"Tuan, tunggu!" panggil asisten Dinu.
"Ck, ada apa lagi?"
"Tuan mau kemana dengan pergi tergesa-gesa?"
"Menjenguk anakku." Alex pergi tanpa penjelasan apapun, sangat bersemangat untuk menghampiri Layla. Lain halnya dengan asisten Dinu yang mengerutkan kening, berusaha mencerna perkataan dari tuannya yang sangat membingungkan.
"Menjenguk anaknya? Yang aku dengar kabar pernikahan itu sudah gagal, apa itu anak terlarangnya dan menyebabkan gagal menikah? Ini sangat rumit sekali." Gumamnya, dia berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di kediaman Yudistira, Alex mendelik kesal saat melihat sang rival yang juga berada di sana, tiba-tiba moodnya menjadi sangat buruk berpapasan dengan Roy. Tidak ada kata sapaan yang baik, mereka saling menatap sengit juga tajam. Kalau saja bukan karena Layla, sudah dipastikan mereka akan bertarung sampai mati.
"Akhirnya kalian sampai juga." Sambut Yudistira yang bahagia, bukan karena dia akan memiliki cicit kembar saja melainkan dua pria tampan, kaya raya, dan sama-sama pemimpin mafia mencintai cucu tersayangnya.
"Iya Kek, dimana Lala?" Roy menyambut pelukan David beberapa detik sembari celingukan mencari keberadaan ibu hamil kesayangannya.
"Dia ada di dalam kamarnya, mungkin sebentar lagi akan kesini." Jawab David, dia memindahkan kamar sang cucu di lantai satu demi keamanan dan kondisi Layla.
"Bagaimana keadaan Kakek?" sekarang gantian Alex yang memeluk David, berharap kalau Layla muncul di hadapannya, dan benar saja saat melihat seorang wanita yang seperti hamil sembilan bulan, padahal masih berusia enam bulan.
__ADS_1
Layla tak peduli dengan kedatangan dua pria yang mengaku ayah dari bayi yang di kandungnya, celingukan dengan barang bawaan Alex dan Roy. "Jadi kalian tak membawa apapun untukku? Pergilah dari sini!" usirnya ketus, sembari menatap kedua pria tampan dengan jengkel. Tak lupa sepiring brownies coklat yang menjadi kegemarannya, menyuapi ke dalam mulut dengan mata yang terus mengintrogasi keduanya.
"Aku membawa bunga untukmu." Ucap Alex dan Roy secara bersamaan dan menunjukkannya pada Layla.
Layla menghela nafas seraya memutar kedua bola mata jengah. "Apa bunga bisa dimakan?" geramnya dengan emosi tidak stabil.
Jangan tanya bagaimana ekspresi Yudistira saat ini, dia teramat bahagia melihat kedua pria tampan dan berkuasa, paling di takuti semua orang namun tunduk di hadapan cucu semata wayangnya. "Beberapa hari yang lalu kalian juga memberikannya bunga, apa kalian itu janjian?"
Sontak Alex dan Roy saling berpandangan, merasa jijik satu sama lain dan mengambil jarak.
"Aku sangat bosan melihat wajahmu hampir setiap saat." Tutur Roy.
"Kalau begitu tidak perlu menatapku."
Seperti biasa Layla lebih tertarik dengan cemilan manis dibandingkan perdebatan tak berujung yang akan di lerai kakeknya dengan cara mengusir keduanya.
"Apa kau yakin?" tanya pria itu tanpa menoleh, seluruh pandangannya tercurahkan melihat suasana kediaman Yudistira.
"Yakin Tuan, tidak ada yang tahu mengenai masalah ini selain keluarga mereka."
"Hem, ini terlihat sangat menarik. Kedua pria yang sangat bodoh juga malang, mereka memperebutkan seorang wanita hamil."
"Karena Alex Anderson dan Roy Immanuel merasa jika bayi yang di kandung wanita itu adalah milik mereka."
Pria itu bertepuk tangan mendengar informasi yang sangat memuaskannya, mengepalkan kedua tangan saat mengingat masa lalu. "Bukankah ini kabar bagus, kedua burung itu sebentar lagi terkena jaringku." Geramnya, mengalihkan pandangan di sebelah kakinya menggunakan kaki palsu.
"Benar tuan, kelompok mafia yang dipimpin Roy juga Alex, anda bisa menguasai keduanya setelah menyebabkan konflik di antara keduanya."
"Kau benar, kuncinya hanya satu. Mereka sangat tunduk pada wanita itu dan akan lebih mudah untuk mencapai tujuan."
__ADS_1
"Lalu, kita akan melakukan apa Tuan?" tanya sang bawahan seraya menundukkan sedikit tubuh sebagai penghormatan pada atasan.
"Aku melihat hubungan Alex dan Roy belum membaik, tapi mereka sangat kompak jika berhubungan dengan wanita itu. Aku ingin kau dan bawahan mu untuk meretak kan kembali hubungan mereka, ciptakan konflik mengadu domba. Setelah mereka lengah, kita culik wanita yang menjadi kuncinya." Dia tersenyum licik dengan rencana yang sudah di susun, sekali dayung dua tiga pulau terlewati olehnya.
"Wah, sungguh ide yang luar biasa Tuan."
"Tentu saja, mereka harus membayar mahal terutama Alex yang mematahkan kakiku hingga aku harus memakai kaki besi ini." Guratan kemarahan dan rasa dendam di hati, terlihat dari garis-garis wajahnya. Ya, dia adalah Mike Mateo, anak ketiga dari Antoni Mateo yang dibunuh oleh John dan kedua kakaknya yang di habisi Alex.
Mike kembali setelah sekian lama menghilang, membalaskan dendam pada Alex yang menghancurkan keluarganya. Dengan mengadu domba dua mafia itu, dia terpaksa mengeluarkan banyak biaya dan bersyukur Alex tidak dapat menemukan ya hingga saat ini.
"Kalian tidak pernah hidup damai setelah menyinggungku." Mike yang sudah bertekad kuat, juga membalaskan dendam kepada Roy untuk merampas organisasi mafia itu.
Baik Roy maupun Alex tetap tidak ada yang ingin mengalah, mereka sudah seperti Tom and Jerry yang selalu bertengkar jika bertemu. Keduanya duduk di samping kiri dan kanan Layla untuk mengusap perut yang membesar.
"Tidak lama lagi kau akan lahir sayang." Ucap Roy penuh kasih, dia sudah tidak sabar kedatangan bayinya.
"Daddy telah menyiapkan segalanya untuk kalian berdua." Tutur Alex yang tidak mau mengalah.
Kedua pria itu terus berbicara sambil mengelus perut Layla, mereka tersenyum saat mendapatkan respon, sebuah tendangan dari baby twins yang begitu kuat.
"Eh, dia merespons ku." Alex sangat bahagia begitupun Roy.
"Benar, aku juga merasakan tendangannya."
"Kalian tidak tahu saja bagaimana setiap malam aku tersiksa dengan sinyal cinta yang baby twins berikan padaku, sangat aktif sekali seperti keduanya bertarung." Sahut Layla yang membagi keluh kesahnya.
"Bertarung? Bagaimana adik kakak di dalam perut bertarung? Itu tidak mungkin." Ujar Alex yang di anggukkan kepala oleh Roy, kali ini mereka saling mendukung.
"Baby twins seperti kalian yang selalu saja bertengkar."
__ADS_1