
Betapa Alex sangat terkejut dengan apa yang baru dia lihat, sebuah berkas yang tulisannya sudah tak terbentuk perlahan hadir atas berkat bantuan asisten Jimmy yang bekerja lebih keras, bahkan siang dan malam itu membuahkan hasil yang cukup membuat senam jantung.
Dia kembali mengucek kedua mata, dan memukul dirinya sendiri untuk memastikan jika apa yang di lihatnya itu kenyataan yang selama ini di tutupi dari semua orang.
Tak terasa bulir cairan bening membasahi kedua pipi, saat keyakinannya berubah menjadi kenyataan. Tak menduga jika John adalah Arden Anderson yang selama ini telah di anggap meninggal dunia, tapi apa alasan pria itu menggunakan identitas John yang asli? Dia juga tidak tahu, misteri apa yang di sembunyikan oleh ayahnya yang bahkan rela menjadi orang lain.
Sepintas kenangan John saat menjadi gurunya kembali terngiang di dalam pikirannya, bagaimana pria itu selalu mengaturnya ini dan itu, pernah sekali dirinya di nasehati layaknya seorang ayah. Sudah banyak clue yang di perlihatkan oleh pria itu, tak satupun yang dia mengerti.
"Kenapa ayah mengganti identitasnya?"
"Mungkin saja karena tragedi di masa lalu, mengecoh musuh dan memantau pergerakan musuh." Tutur asisten Jimmy yang mempraduga.
"Anehnya dia akan menjalin kerjasama dengan Rudra, saudara tiri yang diam-diam menikamnya dari belakang dan berjanji akan memberikan kebebasan dengan memalsukan kematian. Apa menurutmu itu alasan logis? Dia tidak mungkin memberikan penawaran sebesar itu." Ucap Alex seraya berpikir dan mencoba untuk mengingat perkataan ayahnya dan juga Rudra.
Alex terdiam beberapa saat dan mulai menyadari sesuatu. "Aku sangat yakin jika mereka akan menyerang musuh yang sama, itu pertanda musuh besar yang membuat ayahku berganti identitas."
"Kurang lebih seperti itu Don, apa yang ingin kita lakukan?"
"Membantu mereka diam-diam."
"Itu berarti anda memberikan kebebasan pada Rudra, bagaimana jika pria itu kembali mengancam."
"Anggap itu sebagai imbalan untuknya dan jangan sampai mereka tahu kalau kita ikut campur dalam misi itu."
"Baik Don."
Di pagi hari yang indah, seperti biasa semua orang akan berkumpul dan menjadi momen bahagia saat mereka bersama. Alex diam-diam memperhatikan gerak gerik Arden yang menggunakan identitas John selama puluhan tahun, berharap pria itu mengatakannya kepada semua orang.
"Bagaimana dengan perkembangan bisnis kita?" tanya David melirik Alex sekilas dan kembali fokus menyuapi mulutnya dengan makanan yang sangat lezat itu buatan dari cucu menantu.
"Baik, seperti biasanya."
"Benarkah? Aku pikir kau akan kesulitan, jika ada masalah jangan sungkan untuk bertanya pada John."
"Kenapa harus padanya? Aku tahu apa yang aku lakukan." Ucap Alex sombong, bukan tanpa alasan dia mengatakan itu untuk mengetahui reaksi yang akan dia lihat nanti.
John mengundurkan niatnya menyuapi makanan ke dalam mulut, kembali meletakkannya di atas piring seraya menatap Alex dengan pandangan tidak suka. "Kau itu baru dan pengalamanmu di dalam bisnis masih saja dangkal, kau perlu bertanya padaku."
"Memangnya kau siapa? Sampai aku harus bertanya padamu, jangan meragukan kemampuanku Paman." Ujar Alex yang menatap John sengit.
Layla segera menghentikan perdebatan itu dengan memegang lengan suaminya, tidak tahu apa yang terjadi namun itu bukanlah hal yang baik. "Ada apa dengan Alex?" gumamnya di dalam hati.
"Kenapa kau bicara seperti itu? Dia itu Pamanmu dan sudah aku anggap seperti anakku sendiri."
"Andai kakek tahu jika John itu adalah ayah, bagaimana reaksinya setelah di tipu puluhan tahun." Ungkap Alex yang tidak akan menyampaikan kebenarannya, dia ingin jija Arden sendirilah yang mengaku pada semua orang. "Tapi dia bukanlah ayahku." Ucapnya seraya pergi meninggalkan meja makan, menjadi sorotan dan perhatian semua orang.
"Ada apa dengannya?" guman David menautkan kedua alisnya, tak mengerti pikiran anak muda jaman sekarang.
"Ada apa dengan Alex? Apa aku tidak berarti baginya?" John juga beranjak dari meja makan, selera makannya menjadi hilang. "Aku harus pergi."
Layla tersenyum kaku melihat suasana yang sedikit tidak terkendali, mengalihkan nya pada ketiga anaknya yang makan dengan lahap dan sesekali menatap keluar.
Alex tidak menyangka jika ayahnya menutupi hal sebesar ini dan bertahan di dalam tekanan Rani dan Ronald, kakek dari Clarissa yang begitu tamak. Dia juga tahu tujuan dari anak kmasli John yang tempo hari menginap di Mansion, dan juga kepergiaan ayahnya ke Paris untuk memberikan ancaman pada sepasang suami istri yang sudah tua itu.
"Jika sepasang suami istri itu masih nekat menekan ayahku? Maka aku tak segan-segan untuk menghabisinya." Gumam Alex di dalam hati sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Kau kenapa Sayang?" tanya Layla yang memeluk dari belakang.
Alex tersentak kaget namun menyukai pelukan hangat itu. "Aku hanya banyak pikiran saja."
"Benarkah? Lalu, mengapa kau terlihat menunjukkan ketidaksukaan mu pada paman John?"
__ADS_1
"Ketika waktunya tiba kau akan mengerti apa yang aku lakukan ini. Oh iya, apa anak-anak sudah siap?" Alex berbalik seraya membalas pelukan itu.
"Ya, mereka masih ada di meja makan."
"Baiklah, minta mereka untuk masuk ke dalam mobil karena hari ini aku yang akan mengantarkan mereka."
"Lalu apa tugasku?" seketika Layla melepaskan pelukan itu, takut jika anak-anak melihat mereka bermesraan dan menjadikan itu sebagai contoh.
"Tugasmu hanya satu yaitu melakukan perawatan diri dan juga melayaniku terutama di kamar, kau selalu saja sibuk di dapur. Apa kau lupa bagaimana dulunya ingin sekali menekuni karir wanita bayaran!"
"Aku bahkan sudah menguburnya sejak kelahiran Flo dan Fio, berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi ibu rumah tangga."
"Masih ada pelayan, sesekali berliburlah di dapur."
"Baiklah, sesuai dengan perkataan mu."
Alex tersenyum dan celingukan, mengambil kesempatan dengan mencium bibir Layla sekilas. Rasanya dia menginginkan hal itu, namun pekerjaan yang tidak bisa di tinggal terpaksa melupakan hasratnya untuk bercinta.
"Pergilah sebelum ada yang melihatnya." Bisumik Layla yang juga takut ketahuan oleh anak-anak.
Alex menghela nafas berat. "Hah, padahal kita sudah sah menjadi suami istri tapi mengapa melakukan hal kecil saja sudah seperti dosa saja," keluhnya.
"Aku tidak ingin anak-anak mencontoh hal yang belum sepatutnya mereka lakukan. Pergi lah ke kantor!" bujuk Layla yang mendorong tubuh suaminya.
Alex tersenyum seraya menarik pinggang istrinya yang sekarang sudah berada di dalam dekapan. "Jika kita bermesraan, kapan akan memiliki anak lagi." Bisiknya seraya mengecup daun telinga.
"Tapi kita sudah ada Zayden, untuk apa memiliki anak lagi?"
"Aku menginginkan pewaris asli sesuai dengan permintaan kakek."
"Tapi Alex." Layla sedikit sedih jika Zayden tak di anggap.
"Jangan menganggap aku tidak adil Layla, aku mengatakan hal ini bahkan jauh sebelum Zayden datang. Kau bahkan sudah tahu apa yang di inginkan kakek, kita tidak akan kekurangan uang juga kasih sayang untuk anak-anak kita." Jelas Alex yang tak ingin kalau istrinya salah paham dengan keinginannya. "Aku pergi dulu, minta anak-anak untuk bersiap cepat. Aku mencintaimu." Alex mengecup kening istrinya lembut dan berlalu pergi.
"Aku sudah mempersiapkannya, kau bisa hidup di manapun yang kau inginkan asal bersembunyi dari semua orang."
Rudra melihat berkas itu dan tersenyum, mendapatkan lima belas persen harta dari keluarga Anderson membuatnya sangat senang, setidaknya dia tak menghabiskan banyak waktu di sel dingin. "Hanya lima belas persen saja? Harusnya aku mendapatkan lima puluh persen, separuh harta Anderson menjadi milikku."
"Masih untung kau mendapatkan lima belas persen daripada terus terkunci di ruangan ini, tubuhmu akan membusuk dan kau mati dengan sangat mengenaskan." Ancam John.
"Ck baiklah, yang terpenting aku memiliki sedikit harta untuk bertahan hidup. Aku sangat heran dengan tujuanmu itu, kau bahkan tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Anderson. Bagaimana kalau mereka tahu jika kau diam-diam mengkhianati mereka terutama bocah sialan itu juga pria tua itu." Ujar Rudra tersenyum sambil mencibir.
"Itu bukanlah urusanmu, aku yang akan bertanggung jawab nanti."
"Baiklah, lagipula aku juga ingin melenyapkan pria botak itu." Rudra meraih berkas dan menandatangani kesepakatan mereka. "Aku sudah menandatanganinya, bagaimana caramu membawaku keluar dari markas kalian ini? Alex pasti menjaga tempat ini dengan sangat ketat."
"Kau tidak perlu memikirkan itu, bagaimanapun juga aku lebih ahli daripada dirinya." Maksud dari perkataan John yaitu dirinya tahu seluk beluk markas dan jalan rahasia yang tidak di ketahui Alex. "Kita hanya punya waktu dua jam sebelum pemeriksaan tawanan, aku ingin kau tidak membuat kesalahan atau hukumanmu pasti lebih mengerikan daripada ini." Kecam nya berambisi.
"Baiklah, jangan lupakan persenan ku."
"Aku sudah mengurusnya. Dua hari lagi kita akan bertindak, jadi persiapkan tenaga mu."
"Tentu."
*
*
Alex bersiap dengan persiapan yang penuh, senjata yang melekat di tubuh dan dirinya tampak gagah dengan semua itu. Ambisinya kali ini ingin membantu John dan Rudra secara diam-diam, dan berpamitan dengan istri tercintanya di tengah malam.
"Jaga dirimu Sayang, aku pergi dulu!" pamit Alex mencium kening Layla.
__ADS_1
"Bisakah kau tidak pergi? Aku sangat takut jika kau mengenakan baju hitam itu." Ujar Layla serata menunjuk letak senjata disana.
Alex membelai rambut istrinya dengan sangat lembut tersenyum hangat untuk meyakinkan wanita itu jika dirinya akan baik-baik saja, tahu bagaimana setiap kali Layla cemas jika dirinya akan berperan menjadi seorang Don.
"Kau tidak perlu takut, ini sudah menjadi profesiku sejak lama. Aku akan berhati-hati dan menjaga diriku sendiri, aku mohon untuk menjaga anak-anak sampai aku kembali."
"Tetap saja aku sangat cemas, kau selalu saja bermain dengan senjata api dan juga senjata tajam, bergelimangan darah setiap pulang dari berperang. Apa kau berhenti saja dari profesimu sebagai Don!"
"Ini bukanlah keinginanku, tapi yang jelas aku hanya ingin meminta doamu jika aku pulang dengan selamat."
"Pasti aku mendoakan keselamatanmu, cepatlah pulang! Aku dan anak-anak menunggumu."
Alex tersenyum seraya menganggukkan kepala, masuk ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada asisten Jimmy. Dirinya melambaikan tangan sebelum benar-benar pergi, sedangkan Layla membalas lambaian itu dan menyeka air matanya, berharap jika suaminya baik-baik saja. Dia selalu saja cemas jika pria itu selalu bermain dengan darah dan juga senjata takut anak-anak akan terpengaruh dan menyeret mereka suatu saat nanti.
"Kenapa tidak ada yang mau mengerti baik kakek ataupun Alex, mereka tidak tahu jika bahaya akan terus mengancam keluarga ini jika mereka masih saja tetap mendirikan bisnis di dunia bawah. Ya Tuhan…memikirkannya saja aku sudah takut," ucap Layla di dalam hati.
Di dalam mobil, asisten Jimmy mulai menjelaskan para pasukan yang akan mereka bawa yang dipastikan tidak akan diketahui oleh Rudra maupun John, mereka sudah sepakat untuk membantu hanya ingin mengetahui rencana dari Arden yang selama ini rela merubah identitasnya menjadi orang lain.
"Aku ingin semuanya berjalan dengan sangat baik, jangan sampai mereka tahu mengenai identitas kita!" tekad Alex.
"Tidak ada yang perlu Don khawatirkan, aku sudah mengatur segalanya."
"Bagus, kau selalu bisa di andalkan." Puji Alex.
Sesampainya di lokasi, mereka bersembunyi di semak-semak dan melihat penyerangan dari John dan juga Rudra di sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat sebuah organisasi Lembah Hitam, di mana pria botak yang menjadi pemimpin adalah musuh yang sama bagi keduanya. Alex hanya memantau dari teropong begitu banyak pasukan yang sudah bersiap dan tak lupa juga tim medis.
Serangan demi serangan antara dua kubu yang berbeda, Alex memberikan kode kepada asistennya untuk menembak beberapa penghalang menggunakan senjata peredam.
John tidak mengira jika mereka masuk dengan mudah ke dalam markas, mencari pria botak yang menjadi musuhnya selama ini yang ingin melenyapkan keluarga Anderson satu persatu.
"Akhirnya kita bertemu lagi." Ucap pria botak yang membalikkan kursi, menatap dua orang yang menjadi musuhnya.
"Wow, tak aku sangka kedatangan dua tamu sekaligus."
"Ck, berhentilah membual." Rudra menyerang pria botak itu dengan menendangnya, namun refleks dari lawan begitu gesit.
"Ini menarik…benar-benar menarik. Aku pernah membunuhmu menggunakan tanganku, lalu mengapa kau tiba-tiba ada di hadapanku?" tanya pria botak yang cukup terkejut dengan kedatangan John, berpikir tadinya Arden.
"Banyak bicara!" ucap John yang langsung menyerang pria botak.
Serangan demi serangan mereka lakukan hingga akhirnya Rudra tak sengaja tertancap berlatih di bagian dadanya, John segera menghampiri dan mencabut belati itu.
Pria botak itu tersenyum seraya membidikkan senjata api ke arah John, namun tembakannya meleset saat seseorang mencoba untuk mengelabuinya.
Mendengar ada suara tembakan lain dan seketika menoleh ke sumber suara betapa terkejutnya dia saat melihat Alex yang ikut campur dalam pertempuran mereka.
"Kau membawanya juga?" Rudra sangat terkejut kehadiran Alex, dada yang semakin sakit akibat darah yang terus mengalir keluar.
"Aku tidak membawanya."
"Siapa kamu yang mengganggu kesenanganku, bocah keparat." Tekan pria botak yang menjadikan Alex sasaran baru dan keduanya saling menyerang satu sama lain.
"Berani kau menyakiti paman dan ayahku, habis kau!" geram Alex yang memukul wajah pria botak bertubi-tubi.
Sementara Rudra dan John sangat terkejut mendengar pengakuan Alex.
"Jadi kau adalah Arden?" tanya Rudra yang menatap John dengan penuh tanda tanya, sedangkan pria yang ada di hadapannya terdiam seribu bahasa.
"Apa kau Arden?" pekik Rudra tak percaya.
"Ya, aku Arden Anderson."
__ADS_1
"APA?"