
Aura yang terpancar dari ruangan itu terlihat gelap dan penuh misteri, tiga orang yang berada di sana saling menatap tajam juga sengit, seakan ada tatapan itu mengandung silet yang bisa mengiris dan melukai orang lain.
John alias Arden fokus menatap tua renta yang ada di depannya, sangat congkak dan juga sombong.
"Mengapa kau datang kesini?" tanya pria tua itu mengeluarkan suara bariton, tak lupa tatapan menyelidiknya.
"Kenapa kau mengirim Clarissa di Mansion Anderson?"
"Itu karena keinginannya yang ingin bertemu dengan ayahnya."
"Tapi aku bukanlah ayahnya, apa kalian tidak memahaminya?" tekan John yang sedang menahan emosi, dia muak setelah tahu niat dari sepasang tua renta di hadapannya, begitu terobsesi dengan uang dan uang.
"Clarissa tidak tahu kalau kau bukanlah ayah aslinya."
"Dia sudah dewasa dan seharusnya kalian memberitahukan rahasia itu padanya." Tatap John sengit.
"Dan jangan lupakan, jika bukan karena kami kau tidak akan bisa menggunakan identitas putraku. Wajahmu itu selalu mengingatkanku pada John, kalau bukan atas izinku saat itu kau sudah mati." Ungkap Rani, sang wanita tua kakek dari Clarissa, ibu kandung John yang asli.
"Apa pengorbananku ini tidak ada artinya? Aku membiayai kehidupan kalian dan juga Clarissa, apa semua itu belum cukup?" tutur John yang meninggikan suaranya, berdiri dari duduk seraya menatap sepasang tua renta.
Brak
"Turunkan pandanganmu pada kami, dimana sopan santunmu." Ronald sangat marah mendengar perkataan dari John palsu, berbicara dengan nada tinggi sama saja menginjak harga dirinya.
"Cepat kalian bawa kembali Clarissa dari Mansion ku."
"Kau tidak bisa memaksa keinginanmu, Clarissa tidak tahu sebenarnya."
"Aku tidak peduli, aku tidak ingin dia ada di Mansion Anderson."
"Sombong sekali kau."
"Terserah apapun pandangan kalian padaku. Apa kalian pikir aku bodoh?"
Sepasang suami istri yang sudah tua saling berpandangan, menelan saliva saat John mengatakan demikian. Ada sesuatu yang pasti di buka oleh pria yang memakai identitas anak mereka, namun segera menepis perasaan berlebihan.
"Aku tidak mengerti." Elah Ronald yang terlihat gugup, sedangkan John tersenyum miring melihat sepasang suami istri yang sudah tua masih saja membuat ulah tanpa memikirkan umur yang sudah lansia.
"Aku harap kalian tidak jantungan." Cibir John yang mengeluarkan semua bukti mengenai rencana dan maksud kedatangan Clarissa ke Indonesia. Sebuah rekaman CCTV yang berhasil diretas, dan juga beberapa foto lainya.
Deg
Kedua manusia lansia itu saling berpandangan sekilas, mengelap keringat yang membasahi dahi. Mereka mengira jika permainan untuk membuat sang cucu menjadi bagian dari keluarga Anderson sudah pupus tak bersisa bersamaan dengan bukti yang ada. Mereka tidak bisa berkutik dan terdiam bagai patung, perasaan yang tadinya sombong berubah menjadi raut wajah ketakutan.
"Kalian asti mengenal bagaimana seorang Arden Anderson bertindak, jika masih ingin tetap hidup, bawalah Clarissa pergi!"
"Ka-kau tidak bisa melakukan itu, atau rahasiamu pasti kami bongkar." Ancam Rani yang memberanikan melawan.
John tertawa sangat menyeramkan, jika dirinya telah di permainkan oleh dua orang tua renta. "John adalah bawahanku yang setia, tapi sangat di sayangkan jika mempunyai orang tua seperti kalian yang tamak."
"Pikirkanlah, kalau rahasiamu itu ada di tangan kami. Apa hal kecil saja tidak bisa kau turuti demi kedamaian bersama?"
"Kedamaian apa yang kalian maksud? Aku tidak ingin keluargaku di rusak oleh cucumu yang polos dan juga bodoh itu. Sebelum kalian membocorkan nya, maka jangan salahkan aku melakukan tindakan kekerasan." John yang masih berdiri segera mengeluarkan pistol kecil dari saku celana. "Di dalam pistol ini terdapat dua peluru yang bisa melenyapkan kalian, nyawa kalian ada di ujung pelatuk ini. Jika sampai mengancamku sekali lagi, maka aku lupa akan janjiku kepada John dan akan ada dua mayat yang bergelimangan darah di tempat ini bahkan tidak ada satu orang pun yang tahu. Ancamanku tidaklah main-main, sekali kalian melangkah dua kali aku berada di atas."
Ancaman itu berhasil membuat sepasang tua renta menggigil ketakutan melihat senjata api yang ditodongkan ke arah mereka.
"Kenapa kau cepat sekali tersinggung Baiklah aku akan menghubungi Clarissa dan menyuruhnya keluar dari Mansion Anderson." Ronald menyingkirkan arah pistol itu agar tidak mengenainya, walaupun dia sudah tua tapi tidak ingin mati dalam keadaan konyol.
__ADS_1
"Hem, pilihan yang bagus. Mulai sekarang aku menempatkan beberapa orang ku untuk mengawasi kalian, salah melangkah maka kalian akan di tembak." John memainkan pistolnya memutar dan memasukkannya kembali ke tempatnya. Tersenyum tipis saat melihat wajah ketakutan dari sepasang suami istri di hadapannya berani mencoba untuk mengancam seorang Arden Anderson.
Sepasang suami istri itu bernafas lega melihat kepergian John palsu dari kediaman mereka, dengan terpaksa mereka segera menghubungi Clarissa agar pindah dari Mansion Anderson namun tak merubah rencana untuk menjadi bagian dari keluarga itu.
John berjalan keluar dan kembali masuk ke dalam mobil menuju ke penginapan nya di hotel berbintang, dia tahu jika ambisi dari sepasang suami istri tadi masih tetap berjalan namun dia sudah memiliki rencana lain jika mereka berani mengancamnya lagi.
"Andai saja John tidak memiliki orang tua seperti mereka, tapi sayang kenyataan beban yang terbalik." Gumam Arden.
*
*
Hari pernikahan yang digelar tidak terlalu mewah, semua sesuai dengan budget mempelai pria yang telah disesuaikan dengan porsi yang pas. Alex tampak sangat tampan, begitupun dengan Layla yang sangat cantik menjadi mereka pusat perhatian mengalahkan kedua calon mempelai yang akan menikah.
Pernikahan dari asisten Dinu yang bisa terbilang mewah, namun tidak ada yang menandingi kemewahan dari pernikahan sang pewaris Anderson.
Layla merasa risih melihat tatapan semua orang yang mengarah kepada keluarga kecilnya. "Kau lihat itu? Semua orang kenapa tiba-tiba memperhatikan kita?" bisiknya yang memiringkan sedikit tubuh mendekati sang suami.
"Apa kau lupa kalau kita dua pewaris yang sangat di segani?" jawab Alex membanggakan diri, sementara Layla hanya mencibir kebiasaan buruk dari suaminya.
"Ck, bahkan semua harta dan properti masih atas nama kakek dan itu artinya kita belum bisa di katakan sebagai orang kaya."
"Apapun itu, asal kehidupan mu dan juga anak-anak sangat baik dalam segi ekonomi." Alex ingat betul bagaimana dirinya dulu di masa kecil yang hanya melihat mainan dari ketiga anak laki-laki keluarga Mateo dari kejauhan, dirinya tidak pernah mendapatkan apapun yang diinginkan dan hanya bisa menahannya seorang diri. Kehidupan yang begitu keras membuat mentalnya seperti baja, dan bertekad jika suatu hari nanti anaknya tidak merasakan hal yang sama dengannya.
"Oh iya, hampir saja aku lupa. Ini aneh seharusnya mereka memperhatikan kedua mempelai pengantin bukannya kita."
"Mana aku tahu, kau tanyakan pada mereka saja." Ucap Alex mengangkat kedua bahunya acuh, dia tidak peduli dan lebih menikmati makanan yang sudah tersaji di hadapan mata.
"Hah kau ini." Layla mendengus kesal seraya menikmati hidangan yang tersedia, sambil melihat acara pernikahan inti yang akan di mulai.
"Tidak disangka kalau bawahanku itu sudah resmi menikah, hanya tinggal Jimmy yang belum menarik dirinya untuk segera menikah." Gumam Alex di dalam hati, ingin sekali dia bersedih tapi buat apa, sehingga dirinya diam tak bergeming seperti batu.
Layla menyenggol lengan Alex dan mengkode untuk menghampiri kedua mempelai pengantin yang baru saja selesai mengucapkan janji suci dalam suka maupun duka. "Kita harus kesana dan mengucapkan selamat pada mereka, apa kau sudah menyiapkan hadiah pernikahan untuk mereka?" tatapan menyelidik, berharap jika suaminya itu tidak lupa memberikan kado pernikahan.
"Aku sudah menyiapkannya." Alex memperlihatkan kotak kecil hijau mengkilat.
"Kecil sekali, kau bos yang sangat pelik."
"Jangan melihat dari ukuran kotak kalau belum tahu apa isinya, walaupun kado ini terlihat sederhana tapi di dalamnya sangatlah luar biasa." Lagi dan lagi Alex merasa dirinya begitu bangga akan dirinya sendiri.
"Apa isi dari kotak itu?" tanya Layla yang penasaran.
"Aku memberikannya rumah mewah beserta isi sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, dan sebagai bentuk apresiasi ku mengenai kinerja asisten Dinu."
"Nah, itu lebih baik."
"Tentu saja." Alex menggendong kedua putrinya di kiri dan juga di kanan, menghampiri sepasang pengantin dan ikut dalam memeriahkan acara.
Asisten Dinu tersenyum lebar di saat Alex mengucapkan selamat kepadanya serta sebuah kotak hijau yang berukuran kecil, tidak peduli mengenai ukuran hadiah apapun itu yang penting dirinya bisa menghargai pemberian dari atasannya.
"Hanya ini hadiah yang aku berikan untuk kalian, selamat menempuh hidup baru dan segera memiliki momongan." Alex memeluk asistennya sementara Layla memeluk mempelai wanita.
"Apapun itu aku mengucapkan terima kasih Tuan, sudah hadir saja aku sangat senang."
"Kau adalah bawahanku yang berkompeten tentu saja aku datang dan ikut meramaikan acara ini."
Asisten Dinu mencubit kedua pipi anak dari atasannya yang begitu menggemaskan, dirinya berharap bisa memiliki anak seimut mereka. "Apa aku boleh menggendong mereka?" ucapnya dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Flo dan Fio serentak, mereka sudah nyaman dalam gendongan sang ayah dan tidak ingin terlepas.
"Mereka tidak mau kau gendong, lain kali saja."
"Tentu saja Tuan."
Mereka berfoto bersama untuk mengabadikan momen kenangan sekali seumur hidup, tersenyum dengan bahagia dan yang paling penting adalah perasaan kedua pengantin.
"Kapan acara foto ini selesai?" celetuk Fiona jengkel.
"Kau tidak ingin mengambil momen bahagia ini dengan Paman?" ucap asisten Dinu berpura-pura sedih.
"Aku ingin…tapi perutku juga ingin diisi." Kedua mata Fiona mengarah pada cemilan manis tak jauh dari mereka ingin sekali dia mencicipinya, sedangkan orang lain tertawa melihat tingkah dari anak-anak dan begitu menggemaskan.
Layla membawa kedua anaknya dan pergi meninggalkan Alex dan juga asisten Dino berdua sedangkan mempelai wanitanya mengganti pakaian terlebih dahulu.
"Ada satu hadiah lagi yang ingin aku berikan kepadamu." Alex tersenyum penuh arti seraya melingkarkan sebelah tangannya di leher pengantin pria.
Sontak saja asisten Dinu sangat terkejut dan juga bahagia mengingat sang tuannya yang begitu berambisi memiliki hadiah lain, menyambutnya dengan senyuman ramah yang dibuat-buat. "Wah…ternyata pria kejam ini berhati baik." Pujinya di dalam hati.
"Hadiah apa Tuan?" tanya asisten Dinu yang sudah tidak sabar dengan hadiah keduanya.
Dengan gerakan secepat kilat Alex memasukkan hadiah itu ke dalam kantong jas putih yang dipakai asisten Dinu, dirinya berusaha untuk menahan tawa.
"Apa ini?" Asisten Dinu berpikir itu adalah sebuah apartemen atau modal usaha, kedua matanya bersinar terang seperti empat puluh lima watt.
"Buka saja."
Asisten Dinu dengan cepat membuka dan mengetahui apa isi dari hadiah yang diberikan oleh Alex, mata yang begitu berbinar cerah namun seketika berubah buram saat melihat jika isi dari kado itu ternyata adalah tisu ajaib.
Mulutnya ternganga untuk beberapa detik, melirik Alex yang tertawa menahan geli melihatnya dan begitu bersemangat.
"Tisu ajaib? Aku tidak membutuhkannya, ambil kembali hadiahmu Tuan!" asisten Dinu menyerahkan kotak kecil itu pada Alex seraya menunjukkan wajah cemberut.
"Kau akan lebih tahan dengan durasi lama menggunakan ini, simpan saja dan sewaktu-waktu kau membutuhkannya." Alex tertawa dan kembali menyelipkan hadiah kedua.
"Maaf, tapi aku percaya dengan kemampuanku."
"Terserah kau saja." Alex terkekeh dan pergi dari tempat itu, sangat menyenangkan mengganggu pengantin pria.
"Dasar konyol, apa dia meragukan kemampuanku? Mengandalkan tisu ajaib? Heh, itu tidak akan berguna. kalau saja aku masih mengingat dia adalah bosku, mungkin sudah lama aku menampar wajahnya yang mengesalkan itu." Gumamnya di dalam hati, begitu tersinggung dengan hadiah kedua. Tidak mengira jika atasannya masih bisa bercanda, dan bersyukur karena Alex bukanlah robot tanpa ekspresi.
Layla bertolak pinggang saat dirinya juga memperhatikan kejahilan Alex, bertolak pinggang dengan mata tajam nan menyipit. "Kau sangat senang menjahili asistenmu itu, aku berpikir darimana kejahilan anak-anak dan ternyata menurun darimu. Bukan hanya dua anak yang harus aku urus melainkan tiga," cetusnya menunjukkan ketiga jarinya di hadapan sang suami.
"Kenapa kau marah, Sayang. Aku hanya bercanda saja, sesekali di perlukan." Jawab Alex santai seraya meraih pinggang istrinya, ingin mencium mulut yang cerewet itu dengan sapuan lidah. Tapi terganggu saat jasnya di tarik dan segera mengalihkan pandangannya ke bawah, dua bocah yang menatapnya jengkel.
"Apa yang Ayah lakukan?" tanya Flora yang penasaran.
"Memeluknya." Jawab Alex berkilah dan memeluk tubuh istrinya sebagai bukti dari perkataan.
"Apa pria dan wanita boleh memeluk?" tanya Fiona polos.
"Itu tidak boleh, hanya orang tertentu saja. Aku memeluk ibumu ataupun sebaliknya tak menjadi masalah." Jawab Alex, kebiasaannya memeluk sang istri menjadi sebuah pertanyaan.
Dia tidak ingin perilakunya di tiru oleh kedua putrinya agar tidak memeluk orang lain terutama anak laki-laki, kebiasaan dan pemahaman yang sangat berbeda harus bisa di satukan sebagai contoh ayah yang baik dalam melindungi keluarganya.
"Oh aku mengerti." Jawab keduanya mengangguk polos dan kembali menyuapi mulut dengan cemilan manis sebelum mereka benar-benar pulang ke Mansion sekaligus menghilangkan rasa jenuh menunggu acara hingga selesai.
__ADS_1