
Alex menatap pohon mangga yang cukup tinggi, dirinya merasakan sesuatu yang berbeda bukan karena takut akan ketinggian melainkan diri harus mencuri satu buah mangga muda demi permintaan ibu hamil, lebih tepatnya calon sang buah hati. Hal yang paling menantang adalah anjing penjaga yang terlelap tak jauh dari pohon yang akan dia panjat semakin membuat dirinya begitu miris dengan nasibnya saat ini.
"Astaga…apa gunanya uang yang aku punya?" gumam Alex di dalam hati, dia tidak mengira jika uangnya tidak di perlukan. Melirik ke arah sang istri yang sedang melambaikan tangan kearahnya, senyuman khas yang memberikan dirinya semangat membuatnya berjanji akan melakukan apapun permintaan sang istri.
Alex menghela nafas, mencuri di pagi hari? Itu sama saja membuat dirimu terjebak dalam masalah, namun dia tidak peduli dan hanya memikirkan permintaan Layla. "Semangat." Gumamnya yang perlahan melihat sekeliling yang di rasa aman, bahkan CCTV di sana sudah di matikan terlebih dahulu untuk meninggalkan jejak.
Alex yang rencananya tidak ingin di ganggu, dengan sengaja meniup srumpit yang bagian jarum telah di olesi bius bermaksud untuk membuat sang anjing penjaga tidak merusak rencananya.
Dia mulai memanjat dan meraih satu buah mangga muda dan memasukkannya ke dalam kantong yang tersedia, perlahan turun dan menghampiri sang istri yang menunggu hasil curiannya.
"Apa kamu puas?" tanya Alex yang tidak mengerti dengan permintaan aneh sang istri.
"Sangat puas sekali." Layla tersenyum bahagia dan mengambil mangga di tangan suaminya, seakan dirinya menemukan harta berharga dan tidak ingin membagikan pada siapapun."
Alex kembali masuk ke dalam mobil, diam-diam memperhatikan istrinya menjadikan sebuah prestasi yang patut di banggakan.
"Aku heran, mengapa kau tiba-tiba menginginkan mangga disana?"
"Mana aku tahu, kau tanyakan langsunh saja pada calon anakmu." Jawab Layla sekenanya.
Alex menjadi bahan tertawaan semua orang di Mansion, seorang pemimpin dari perusahaan ternama harga dirinya jatuh saat mencuri sebuah mangga. Arden menepuk pundak putranya sambil tertawa-tawa.
"Wah, aku tak menyangka kalau calon cucuku itu sangatlah pintar."
"Apa maksud Ayah mengatakan itu?" cetus Alex merasa jengkel.
Zayden yang baru pulang dari sekolah segera berlari menghampiri semua orang, ponsel di tangannya melihat sebuah berita terkini yang membuatnya sangat terkejut.
"Kenapa Ayah memanjat?" tanya Zayden pada Alex sambil memperlihatkan berita yang menjadi tranding topik utama.
Alex segera meraih ponsel, membelalakkan kedua mata saat melihat dirinya yang masuk berita.
"Seorang Alex Anderson tertangkap kamera sedang mencuri sebuah mangga di Mansion tetangga. Oh ya ampun, sepertinya namamu telah tersemar." Celetuk sang kakek tertawa sangat puas.
__ADS_1
"Siapa yang diam-diam mengambil potretku tanpa izin!" tekan Alex seraya mengepalkan kedua tangannya, geram dengan beritanya yang meluas akibat jejaringan media sosial.
"Apa Ayah benar-benar mencuri sebuah mangga?" Zayden mengerutkan dahi tidak mengerti mengapa ayah angkatnya melakukan tindakan konyol.
Alex mengarahkan pandangan pada istrinya yang seakan acuh dan lebih mementingkan buah mangga muda untuk memakannya. "Mau bagaimana lagi? Ibumu ngidam." Jawabnya yang kembali menatap putranya.
"Hem, begitu."
"Kau masih kecil, sebaiknya masuk ke kamarmu dan periksa apakah Flo dan Fio ada di kamarnya!" titah Alex yang di angguki kepala oleh anak laki-laki yang berusia dua belas tahun itu.
"Wah…wah, di dalam perut saja cicitku sudah memberimu pelajaran. Bagaimana jika dia sudah lahir nanti?" David masih terkekeh dan beranjak pergi, usianya yang tidak muda lagi selalu saja merasakan persendiannya sakit.
"Siapa pun yang memotretku akan ku beri dia pelajaran." Gumam Alex.
"Harga dirimu sudah jatuh sekarang, jadi kau tidak bisa mengelak dan menjadi bahan pembicaraan semua orang." Arden juga berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Di kantor, Alex merasa jika orang-orang menatapnya dan tahu mengapa mereka menatapnya seperti itu.
"Wah Tuan, anda sangat jago dalam hal memanjat ya!"
"Ba-baik Tuan."
Alex mengeluarkan ponsel setelah melihat kepergian asisten Dinu, mengirimkan pesan pada sang asisten Jimmy untuk segera menghapus berita buruk mengenai pencemaran nama baiknya.
Waktu terus bergulir, hingga kehamilan Layla sudah memasuki sembilan bulan dan akan segera melahirkan. Semua orang sangat cemas dan juga deg-degan terutama Alex yang akan menemani persalinan sang istri secara operasi caesar, apapun itu yang terpenting keduanya selamat.
"Kau wanita yang kuat, aku akan selalu berada di sisimu." Alex menggenggam tangan Layla dan mengecupnya dengan sangat lembut.
Semua orang menunggu di luar ruangan, perasaan yang tidak bisa di katakan untuk saat ini, terutama bagi Zayden, Flora, dan Fiona yang akan segera memiliki seorang adik. Mereka berdoa untuk kelancaran operasi sang ibu dan berharap lebih keduanya selamat.
Operasi di mulai, Alex tidak ingin meninggalkan istrinya walau sedetikpun. Layla tersenyum hangat saat melihat betapa besarnya cinta sang suami untuknya dan juga anak-anak, pernikahan yang berawal dari jebakan berbuah manis.
Alex keluar dari ruangan dan tersenyum menatap semua orang, operasi yang berjalan lancar, kondisi ibu dan anak sehat juga selamat tanpa kurang satupun.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Arden penasaran, mewakili pertanyaan semua orang.
"Mereka selamat Ayah, aku memiliki bayi laki-laki." Alex menangis dengan haru dan memeluk ayahnya erat, memberi kabar bahagia dengan memiliki anggota keluarga yang lengkap.
"Syukurlah."
Flo dan Fio saling memeluk, akhirnya mereka memiliki adik laki-laki yang begitu di dambakan.
"Kau akan menjadi kakak." Ujar Fio.
"Kau juga, kita akan menjadi kakak." Kedua gadis kecil saling berpelukan erat satu sama lain. Bahkan Zayden juga sangat bahagia, bertambah lengkap pula anggota keluarga Anderson.
Layla mengecup bayinya dengan sangat lembut, tersenyum di karuniai anak laki-laki seperti keinginan suaminya. Alex mengusap kepala bayi mungil itu seraya mengecup pucuk kepala sang istri.
"Terima kasih, kamu memberiku kebahagiaan yang tak ternilai."
"Sama-sama."
Kedua gadis kecil berbondong-bondong ingin memeluk adik mereka dan sempat berseteru, malah Zayden yang menggendongnya lebih dulu.
"Ibu sudah memiliki nama untuknya?" tanya Zayden dengan kedua mata berbinar cerah.
"Ibu akan menyerahkannya pada kakekmu," Layla mempersilahkan ayah mertuanya untuk memberikan nama pada anak laki-lakinya.
"Aku akan memberinya nama Mars Anderson."
"Mars? Seperti nama planet saja." Keluh David, kedua cucu perempuannya juga bernama aneh dan di tambah dengan cucu terakhirnya yang juga bernama aneh.
"Terdengar indah, aku menyukainya." Celetuk Alex.
"Mars?" ucap Zayden, Flora, dan Fiona serempak.
"Ayah dan anak sama-sama aneh." Lirih David cemberut membuat semua orang tertawa melihat tingkahnya.
__ADS_1
...Tamat...