
Suara yang terdengar sampai luar membuat seseorang segera masuk ke dalam kamar, mengetuk pintu untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam. Kedua alis mata saling menyatu dengan raut wajah yang mengkerut, suara yang begitu berisik bukan dari satu sumber saja melainkan dua.
"Eh, ada dua suara? Bukankah tuan Alex hanya sendiri saja? Tapi aku mendengar ada suara wanita." Gumam asisten Dinu penasaran, dia segera mengetuk pintu untuk memastikan jika di dalam kamar baik-baik saja. "Apa di dalam baik-baik saja tuan?"
"Ya, aku baik-baik saja." Alex segera berlari meraih handuk putih, menutupi benda keramat agar tidak terekspos lagi.
Layla segera berdiri, merasakan nyeri di bagian bokong saat terhempaskan ke lantai dengan sangat kasar. "Kau__." Di menunjuk Alex yang berani menyulitkan hidupnya, tapi baru saja berbicara mulutnya langsung di bekap oleh pria itu. Tentu saja dia sangat terkejut, apalagi jarak mereka sangat dekat.
"Huss diamlah, atau asisten Dinu tahu hal ini." Bisik Alex yang tak ingin kejadian ini dijadikan bulan-bulanan sang kakek, akan berimbas padanya karena sang kakek lebih bersemangat menjodohkannya.
Kembali terdengar ketukan pintu, membuat keduanya fokus pada pintu sambil menelan saliva. Alex takut ketahuan kakek sementara Layla takut ketahuan oleh Roy, keduanya malah terjebak.
"Jangan berisik." Cegah Alex yang mendapat anggukan kepala oleh Layla.
Di luar kamar, seseorang menghampiri asisten Dinu. Seorang pria tampan datang untuk bertanya, setelah mendapatkan informasi dari sang informan.
"Maaf mengganggu, apa kau melihat wanita ini?" tanya seorang pria tampan yang mengenakan pakaian formal, memperlihatkan sebuah foto ke arah asisten Dinu.
Asisten Dinu menghentikan mengetuk pintu, sebuah foto yang malah menarik perhatiannya. "Eh, ini terlihat seperti Layla, tapi tampilannya sangat berbeda. Wanita yang di dalam foto memakai pakaian seksi, sementara sekretaris baru itu selalu berpakaian sederhana juga tidak feminim." Batinnya yang pusing memikirkan hal itu, mengira kalau itu hanya kebetulan atau saudara kembar.
Seseorang menjentikkan jari memecahkan lamunan asisten Dinu. "Kau melihatnya atau tidak?"
"Tidak." Jawab Asisten Dinu, dia tak tahu dan ragu apakah itu Layla atau bukan. "Apa hubungan sekretaris baru itu pada pria tampan ini," batinnya sembari memperhatikan pria tampan di hadapannya.
"Hem. Jika kau menemukannya segera hubungi aku, dia kekasihku bernama Lala." Pria itu pergi meninggalkan kartu nama, asisten Dinu membaca kartu yang ternyata seorang pengusaha ternama.
__ADS_1
"Roy Immanuel, pria pengusaha yang cukup terkenal. Aku harus menanyakan ini pada Layla," gumam asisten Dinu.
Pintu terbuka mengalihkan pandangan asisten Dinu yang langsung menyimpan kartu nama, mungkin saja Layla adalah Lala atau mereka kembar. Terlihat Alex yang mengenakan handuk putih melilit di pinggang, tak sengaja melihat seorang wanita yang ternyata sang sekretaris baru.
"Ada apa?" ketus Alex yang menutup pintu, namun terlambat saat asistennya sudah melihat keberadaan Layla.
Asisten Dinu semakin penasaran, melihat penampilan dari atasannya. "Dua orang dalam satu kamar, dan tuan hanya mengenakan handuk saja. Apa terjadi sesuatu?" tanyanya seraya tersenyum malu, memikirkan ada hubungan intim di antara keduanya.
Pletak
Alex menjitak kepala asistennya, tampak kesal saat melihat senyuman dari bawahannya. "Berhentilah memikirkan hal aneh!" titahnya dengan tegas.
"Maafkan saya yang sudah lancang, silahkan dilanjutkan." Asisten Dinu segera pergi meninggalkan tempat itu, memikirkan hubungan dari atasan dan juga sekretaris baru. "Wah, ini sangat mengejutkan. Bagaimana kalau tuan David tahu? Aku yakin langsung di gelar pernikahan." Monolognya seraya cekikikan, melupakan ada yang harus disampaikan kepada Layla.
Layla segera keluar dari kamar, tidak ingin jika Alex kembali menodai matanya dan berpikir dirinya adalah wanita murahan.
Layla berlari masuk ke dalam kamar, mengunci pintu seraya mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. "Untung saja dia sudah pergi!" gumamnya seraya berjalan ke kamar, tapi pemandangan yang ada di hadapan mata kembali membuatnya shock.
Layla cegukan saat melihat seseorang yang ingin sekali dia hindari, seorang pria tampan yang tersenyum ke arahnya tengah duduk di atas ranjang. "Ya Tuhan, kalau tahu begini aku lebih baik menginap di kamar Alex." Batinnya seraya menyeka keringat, ingin membuka pintu dan kabur. Tapi niatnya tak berjalan dengan baik di saat Roy menutup kembali pintu kamar hotel dan mendekatinya.
"Kau mau kemana?"
"Ro–Roy, kau ada di–sini?" Layla sangat gugup, berjalan seperti kepiting untuk menjauh.
"Baby, aku merindukanmu." Roy mendekap tubuh Layla dengan sangat erat, seakan baru bertemu setelah satu abad lamanya.
__ADS_1
"Ya, aku juga sangat merindukanmu. Bagaimana kau tahu aku ada disini?" Layla membalas pelukan dengan terpaksa.
"Apa kau meragukan Roy Immanuel? Walau kau bersembunyi di sarang semut aku bisa menemukannya, apa yang kau lakukan di hotel? Dan kemana saja kau?" tanyanya dengan tatapan menyelidik, masih menganggap kalau wanita di hadapannya sang kekasih.
"Aku tidak meragukan kemampuanmu, tapi bisakah lepaskan pelukan ini?" ujar Layla sembari mendorong tubuh pria itu.
"Baiklah, tapi jangan kabur lagi dariku." Roy melepaskan pelukan dengan terpaksa, sedih karena wanita itu tetap saja menjaga jarak darinya. "Kenapa kau ada di sini?"
"Aku bekerja sebagai sekretaris."
"Sekretaris? Untuk apa kau membuang waktu bekerja, kau itu lebih cocok menjadi istriku dan menghamburkan uang." Roy menggenggam tangan Layla dengan sangat lembut, meletakkan harapan besar pada wanita itu.
Layla merasa risih dan menarik kedua tangannya. "Tidak, aku hanya ingin hidup mandiri. Lagipula aku bukan berasal dari keluarga miskin, hanya saja ini pilihanku."
"Jangan katakan kalau kau bekerja sebagai orang suruhan?"
"Aku? Mana mungkin, menjadi sekretaris jauh menyenangkan. Sebaiknya kau pergi, aku ingin beristirahat." Layla membuka pintu dan menyeret Roy keluar dari kamar hotel.
"Kenapa kau begitu tega? Aku baru saja sampai setelah pulang dari luar negeri, hanya untuk bertemu denganmu. Tapi kau malah mengusirku," keluh Roy yang menahan pintu agar tidak tertutup.
"Apa kau tega melihatku seperti ini? Aku sangat lelah." Layla terus saja mendorong pintu agar ditutup, tapi kekuatan dari seorang pria tak pernah bisa dilawan oleh seorang wanita.
"Aku ini kekasihmu, biarkan aku menginap semalam saja!" bujuk Roy dengan raut wajah memelas.
"Kekasih? Kita bahkan sudah putus dua tahun yang lalu, jadi jangan menganggap kalau aku adalah kekasihmu. Aku menganggapmu hanya sebatas teman saja dan tidak lebih dari itu. Aku berharap kau bisa mengerti dan memahami apa yang aku inginkan, sampai jumpa."
__ADS_1
Akhirnya Layla bisa bernafas lega setelah menghindari pria itu yang masih mengejar dirinya, dia tidak ingin terikat pada Roy yang selalu saja membatasi pekerjaan dan juga rutinitasnya.