
Di Yogyakarta....
"Ada apa dengan Putri ku...!!"
"Ayah... ini memang salahku yang tidak mampu menjaga citra dengan baik, Citra masih dalam masa perawatan...."
"Putriku yang malang...."
"Kedatangan Reza hari ini, juga karna Reza ingin mebawa ayah ke balikpapan agar saat Citra sadar, dia akan erasa lebih baik jika seluruh anggota keluarga berkumpul...." Reza sedikit ragu untuk memberitahukan keaddan Citra yang sebenarnya masih berjuang antara hidup dan mati " Tapi ayah... saat ini citra dalam keadaan kritis.."
"Bagaimana bisa..? siapa yang tega mencelakai putriku."
"Kejadiannya sanat singkat aya, saat itu....
...((" Hari itu aku dan citra berada di kantor, karna citra sekarang adalah sekertaris pribadiku, ku fikir jika citra terus berada di sampingku maka kehidupannya akan nyaman dan aman, tapi ternyata takdir berkata lain ayah, mereka mempermainkan perasaanku, saat aku telah menemukan gadis yang aku cintai, dan selama ini telah aku cari-cari, namun sore itu saat Citra akan pulang, dengan ceroboh aku memintanga menungguku di depan pintu lobi, bukannya aku meminta dia untuk ikut bersamaku. Tiba-tiba mobil van hitam membawa Citra pergi, sesaat aku kehilangan jejak mereka, namun berkat kecerdasan jhonson, akhirnya kami menemukan jejak Citra di jalan pesisir pantai kemala. Saat aku sampai mobil citra sudah dalam posisi terbalik. dan terlihat ada vios hitam yang melarikan diri dari lokasi, para pelaku sudah Reza urus, tapi untuk Vios hitam itu aku belum menemukannya."))...
"Siapa pelakunya, dalang utama yang tega menyakiti putriku, akan ku cincang habis dagingnya, akan ku jadikan daging mereka hidangan hotpot di kedai ku?" Katanya geram
"Dia adalah ayah dari antan calon tunanganku ayah, Renata putri dari pak Tanto, Manta rekan bisnis ayah mertua dulu. Reza sudah memberi mereka pelajaran, ayah tidak harus menjadi kriminal seperti mereka."
"Tanto.... tega sekali dia, sudah ku relakan semua kekayaan itu dan perusahaanku agar mereka tidak akan menggangu keluargaku tapi..."
"Ayah... ini adalah semua sertifikat dan surat-surat saham milik ayah, sudah ku rebut kembali. Kini perusahaan properti itu telah menjadi milik ayah kembali." mengeluarkan surat -surat dari tas nya menyarahkan pada Pak darwis, ada rasa senang namun tampak wajahnya tidak begitu puas dan bahagia.
__ADS_1
"Terimakasih untuk segala kebaikanmu, tapi ini sudah tidak berarti lagi bagiku, aku sudah sangat puas dengan kehidupanku saatini." mendorong kembali surat-surat itu ke arah Reza.
"Tapi ayah...."
Ring ring ring.... suara ponsel Reza berdering. Dilihanya siapa pemanggil itu,
"Ibu...!"
"Angkatlah dahulu, mungkin itu adalah hal penting!"
"Halo ibu..."
(Anak-anak terlihat sangat lelah, jadi ibu membawa mereka pulang bersama ayah, arzana yang menemani Citra di rumah sakit)
Mentutup telpon, rasa gelisah di hatinya menyerang, "Wil... utus lebih banyak anak buah mu untuk menjaga citra." Kata Reza, jelas tampak dari sorot matanya, Pak Darwis yang melihat pun merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengurus hal lain, hal paling penting untuk saat ini adalah tentang Citra.
"Ayo berangkat malam ini!" Kata pak darwis mendadak, reza dan wiliyam sempat terkejut dengan ucapan pak darwis. Tampak jelas sekali kewibawaan laki-laki parubaya ini, betapa luas pemikirannya, beliau bisa menyampingkan hal-hal yang dia pikir belum terlalu penting.
Mereka cepat-cepat berkemas, dan malam itu juga mereka terbang kebalik papan untuk menemui Citra.
__ADS_1
Di Rumah sakit...
Malam itu begitu sunyi, arzana yang tengah sibuk dengan buku di tanganya. membaca novel untuk mengusir kejenuhan malam itu, sesekali dia mengecek keadaan citra, bercerita tentang kisah cinta dan lainnya sepanjang malam bersama citra yang tidak bergerak sedikit pun .
"Aku terlalu banyak bercerita kepadamu, sampai tenggorokanku kering, hey nyonya tukang tidur, cepatlah bangun..."
mengusap wajah Citra yang pucat pasi, menetas airmata arzana melihat sosok yang selama ini periang kini tebaring lemah di ranjang perawatan dengan banyak jarum menusuk tubuh mungil Citra. "Aku juga ingin pergi shopping denganmu lagi, ini bukan lah dirimu, Cepatlah bangun anak-anak juga ingin melihatmu ceria lagi, mereka masih menunggumu.."
Menetes air mata tampak jelas di mata Citra, hatinya bisa merasakan tapi tubuhnya tak bisa di ajak kompromi.
Tok tok tok... Suara ketukan pintu.
"Kunjungan!" Dokter yang bertugas memeriksa Citra di waktu jam malam sudah datang, lengkap dengan semua peralatan nya dan masker, wajahnya sangat tertutup.
Memang sedikit mencurigakan namun saat itu, arzana berbalik badan mengambil minum dimeja tepat di bawah kaki Citra,Tidak ada rasa curiga pada hatinya tiba-tiba....
"Bukkk...." Pukulan keras mendarat di lehernya membuat arzana seketika tidak sadarkan diri. Ternyata Bodyguard yang di perintahkan Reza menjada di depan pintu utama ruangan VVIP tempat Citra di rawatpun sudah tumbang semua.
"Maaf za,,, aku tidak bermaksud menyakiti mu, aku akan membawa Citra bersamaku."
Bergegas dokter itu mengangkat Citra dan memindahkannya ke kursi roda, membawa Citra pergi tanpa jejak seditpun. ...
"Maaf Citra, aku tidak akan menyakiti sahabatmu, aku hanya ingin membawamu pergi dari penderita ini.... percayalah dia akan baik-baik saja, jangan marah kepadaku." Sambil mendorong kursi roda Citra.
__ADS_1
...****************...
Bersambung.....